APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
112.Laki-laki tidak peka


__ADS_3

"Dek Zahra, jika tidur saja, perjalanan masih jauh."Ujar Fahmi, saat melihat Asifa menguap. Beberapa kali, membekap mulutnya karena menguap.


"Tapi Zahra, tidak enak masak tidur sendiri."Kata Asifa, masih dengan menatap pemandangan yang tampak dari kaca jendela mobil.


"Tidak apa-apa dek, kalau mau mas temani. Mas temani tapi tetap seperti ini, kan kita belum halal. Kalau sudah halal pasti beda caranya dek."Gombal Fahmi, dengan senyum manis menatap Asifa. Yang sejak tadi tidak mau menoleh ke arah nya sama sekali.


Asifa menoleh sekilas "Ih, mas Fahmi ini. Malah gombalin Zahra, kan lagi serius juga." Terlihat wajahnya yang sudah merona kemerahan.


"Kok di bilang gombal sih, mas serius dek. Tanya tu sama kak Taufiq dan kak Andik, kalau sudah halal pasti tidak ada jaga jarak lagi di antara kita."Sengaja menggoda Asifa, sebab ia senang dengan rona pipinya Asifa.


"Untung ada kami kalau cuma berdua, maka yang ketiganya syaitan. Aku tau Mi, kamu sudah tidak tahan kan ingin segera halal? Makanya ngeyel ikut, supaya bisa dekat-dekat dengan Asifa. Modus mu kayak anak ABG labil saja." Ejek Taufiq, yang sudah mengenal Fahmi sejak remaja.


"Kakak pikir aku sudah gila apa, tidak mungkin juga aku mau berdua saja dengan dek Zahra. Sebab aku tidak mau kecolongan, karena syaitan punya seribu cara untuk menggoda iman kita. Makanya aku selalu ajak kakak, setiap pergi kemana pun." Ucap Fahmi dengan senyum mengejek.


"Eem, bocah gemblong (gila) orang tua di jadikan obat nyamuk. Untung kamu duduk di sebelah Asifa, kalau tidak ....." belum selesai.


"Kalau tidak kenapa kak?"tanya Asifa, sedangkan Fahmi tersenyum penuh kemenangan.


"Kalau tidak kakak sudah turunin Fahmi di jalanan. Dengan cara menendangnya keluar dari mobil ini."Jawab Taufiq, dengan raut wajah datar.


Niatnya bercanda dengan Fahmi untuk menarik perhatian Asifa yang dari tadi anteng menatap keluar jendela mobil.

__ADS_1


"Ist kakak itu ustadz, kenapa punya pikiran jahat begitu sih. Tidak kebayang saja jika Asifa jadi murid kakak. Untung aku dulu beda pondok pesantren, dengan kakak."Kata Asifa, sambil membayangkan jika jadi murid Taufiq salah sedikit langsung di hukum di lapangan.


Fahmi yang sudah tahu karakter Fahmi saat mengajar pun, tidak kapok malah menirukan cara mengajar Taufiq. Melihat raut wajahnya Asifa yang terlihat sedang memikirkan sesuatu pun tersenyum.


"Memang kenapa dek? kalau kakak jadi guru mu? Setahu kakak murid perempuan kebanyakan malah senang kalau mendapatkan hukuman dari kakak."Kata Taufiq, memang perempuan lebih sering melakukan kesalahan sehingga Fahmi membawa hukuman.


"Ih, dasar laki-laki tidak peka. Di mana-mana itu perempuan jadi grogi, saat menghadapi guru killer. Apa pun yang di kerjakan akan terasa sulit, tanpa sengaja melakukan kesalahan. Lain soal dengan itu perempuan naksir dengan kakak. Sehingga ia sengaja membuat kesalahan, sehingga lebih sering berinteraksi dengan guru nya tersebut."Ucap Asifa, membuat Taufiq dan Fahmi saling tatap, lewat kaca spion depan.


Dan mereka sempat berfikir, mungkin ada benarnya ucapan Asifa. Akhirnya mereka mengingat, ada beberapa mahasiswi yang sering melakukan kesalahan. Ada yang dengan raut wajah tegang ada pula raut wajah yang tidak dapat di artikan.


"Dan kalau dosen atau guru yang yang suka dengan mahasiswa/i atau murid nya. Akan punya banyak trik supaya bisa dekat-dekat dan sering bersama, dengan mahasiswa/i atau murid nya." Lanjut Asifa.


"Sayangnya mahasiswi nya mas, tidak ada lebih cantik dan mengemaskan dari adek Zahra seorang. Jadi mas tidak perduli, sebab adek yang selalu ada di pikiran dan mata ini."Ucapan Fahmi terkesan menggombal pada Asifa.


"Aku mengatakan yang sebenarnya dek, bukan seperti yang di katakan kakak ipar."Kata Fahmi dengan senyum dan tatapan penuh makna pada calon istrinya. Karena ia mengatakan yang sesungguhnya bukan menggombali Asifa.


"Dek kok kamu tahu? Apakah kamu termasuk perempuan yang di sukai para dosen dan guru? Secara kamu itu cantik, imut dan menggemaskan ya kan Fahmi?"Andik yang bertanya pada Asifa dan Fahmi. Fahmi hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan Andik.


"Pengalaman saat kuliah dulu, dan dari baca novel kak. Kalau Asifa, mana ada yang berani deketin dulu. Secara semua orang tahu jika cctv-nya keluarga Dinata di mana-mana."Jawab Asifa, menyindir Andik yang mana saat itu ia yang menjadi cctv-nya langsung.


Andik pun jadi tidak enak menanyakan hal itu pada Asifa. Belum sempat ia minta maaf pada Asifa, Fahmi sudah buka suara.

__ADS_1


"Eem..., ada yang bernostalgia rupanya." ucap Fahmi.


Yang melihat Asifa termenung, memikirkan kisah hidupnya beberapa tahun lalu. Hidup mewah dan serba terpenuhi segala sesuatu yang di butuhkan. Namun Asifa tak ayal seperti burung, hidup bagaikan di sangkar emas.


Mendengar ucapannya Fahmi, ia yang mengingat kisah hidupnya. Jadi tidak enak hati, pasti Fahmi jadi berpikir yang tidak-tidak tentang diri nya.


"Zahra tidak sedang bernostalgia mas," ucap Asifa, dengan wajah cemberut. Kesal jika di bilang sedang bernostalgia, karena faktanya tidak.


Andik dapat melihat Fahmi, ada rasa cemburu ketika mereka membahas masa lalu Asifa. Sedangkan Asifa menjawab sindiran Fahmi dengan cemberut. Ia tahu apa yang di pikirkan Asifa, apa yang di katakan memang benar. Karena yang namanya bernostalgia itu, mengenang hal indah. Sedangkan yang Asifa tentang kisah hidupnya yang terkekang dengan peraturan keluarga Dinata.


Taufiq melihat Asifa, Andik, dan Fahmi yang tiba-tiba seperti ada jarak. Karena pembicaraan mereka menyerempet di masa lalu Asifa. Dan yang tahu hal itu hanya lah Andik saja. Meski pun ia sudah lama dan tahu tentang Asifa. Semua itu yang ia tahu hanya luarnya saja. Sementara Fahmi salah paham, dengan ucapan Andik.


"Sudah tidak perlu di ingat dek, yang ada nanti adek terpuruk kembali. Lihat itu di depan, tempat yang kita tuju sudah terlihat. Adek bisa kubur semua perasaan itu ketika bersama anak-anak."Taufiq menenangkan Asifa, dan menunjukkan yayasan panti asuhan yatim piatu di depan jalan sana.


Tidak menjawab, tapi apa yang di tunjukkan Taufiq. Membuatnya langsung berbinar, Asifa sangat bahagia ketika bisa datang ke pantai asuhan ini.


Kini mereka sudah sampai di halaman panti asuhan. Dan semua turun dari mobil, yang langsung di sambut dengan anak-anak yang berada di halaman rumah.


"Assalamualaikum anak-anak." Ucap semuanya.


"Wa'alaikumsalam Tante, Om." Jawab mereka semua.

__ADS_1


Dari dalam yayasan keluar ibu panti, dan seorang perempuan cantik. Dan langsung tatapan matanya tertuju pada Asifa yang dan yang lainnya. Kemudian tatapan mata itu berhenti pada Candra. Yang tidak lain tangan kanan Andik, bukan pada Fahmi.


*****Bersambung.....


__ADS_2