APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
85.Dasar emak-emak


__ADS_3

"Insya Allah dek, saya tidak akan mengulangi lagi." Ucap pak Edi, ia sungguh malu mendengar nasehat Asifa.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya pak, bu, dek Asifa, cepat sembuh ya."Kata bu Rossidah, karena ini sudah agak siang. Dan merasa urusannya sudah selesai.


"Yah bu kok buru-buru saja sih?" Kata bu Hafsah.


"Soalnya ini anak-anak juga mau pada kuliah bu, suami dan saya juga sudah waktunya mau mengunjungi kafe."Jawab bu Rossidah.


"Oh ya, nanti malam minggu kami mengundang pak Edi sekeluarga untuk acar barbeque an di rumah ini. Acaranya setelah isya sampai selesai." Ucap Asifa dengan spontan, tanpa ada keraguan.


Karena Asifa ingin berbagi Asifa bisa makan bersama dengan tetangga sekitar. Sekalian acara perkenalan dengan warga komplek perumahannya.


"Waaah... sepertinya seru ya kak, boleh ikut ajak teman saya tidak saya takut tidak punya teman nyobrol."Kata Sarah.


Belum juga Asifa menjawab, sudah di samber duluan oleh papanya.


"Saya akan undang warna sekitar, intinya satu RT. Itu semua atas permintaan Asifa, karena ingin mengenal warga komplek ini. Jadi kalau kamu mau ajak teman atau sahabat boleh. ini untuk semua kalangan, semoga nanti acaranya lancar tidak ada halangan apa pun."Jawab pak Herman.


Sarah yang mendengar jawaban pak Herman senang secara tidak langsung akan melihat lelaki pujaan hati. Dan bisa berbaur dengan warga komplek perumahan ini. Karena ulah bapaknya, Sarah tidak pernah di sapa oleh warga sekitar.


Pak pun sama ia merasa senang karena di undang. Padahal dirinya berbeda RT, tapi tetap di undang. Dengan begitu ia dapat berbaur dengan warga komplek perumahan. Dan ia akan memanfaatkan kesempatan untuk meminta maaf pada warga. Dengan begitu ia tidak akan di cap sebagai orang yang meresahkan lagi.


Bu Rossidah pun ikut senang, berharap akan ikut membaik hubungan dengan warga sekitar. Sebab selama ini dia pandang rendah oleh warga sekitar. Itu juga karena ulah suaminya, sehingga warga juga sering mencibirnya.


"Bu Hafsah kalau butuh bantuan persiapan saya siap bantu."Bu Rossidah menawarkan diri, karena dari rumah niatnya baik. Ternyata Alhamdulillah orang yang di tuju sangat welcome.

__ADS_1


"Terima kasih atas tawaran nya bu, kebetulan saya sudah meminta pada orang pasar. Untuk sup play ayam, ikan, jagung, untuk acara barbeque. Nanti mungkin kalau perlu tidak hanya ibu yang akan saya butuhkan. Maaf bukan maksud menolak, tapi ibu di undang sebagai tamu." Ucap bu Hafsah, takut menyinggung perasaan tamunya.


"Benar itu masak tamu ikut terjun dalam persiapan. Nanti saya punya panitia untuk acara ini. Karena nanti ada yang muda untuk acara barbeque. Kita hanya acara intinya saja, untuk yaitu acara santunan."Timpal pak Herman.


"Oh begitu, turut senang karena di undang untuk hadir di acara dek Asifa."Kata pak Edi.


"Ya sudah, nanti anak telat maka dari itu kami pamit."Timpal bu Rossidah.


"Benar juga, kalau ngobrol memang waktu suka tidak tidak terasa berlalu begitu saja."Ucap bu Hafsah.


Akhirnya Sarah dan bu Rossidah bersalaman dengan Asifa tidak dengan pak Edi dan Jaka. Bu Hafsah dan pak Herman mengantar pulang tamu. Asifa masih duduk di ruang tamu, menunggu kedua orang tuanya masuk kembali.


"Assalamualaikum," Ucap pak Edi sekeluarga.


"Wa'alaikumsalam."Jawab bu Hafsah dan pak Herman.


Dan pak Edi sekeluarga menjadi menghentikan langkah dan melihat dengan tatapan ingin tahu. Siapa perempuan yang bersama cucunya pak Herman. Tapi mereka tetap harus pulang karena waktu mereka sudah mepet.


"Kakek, nenek .... ,"kedua bocah itu sambil berlari menghampiri pak Herman dan Bu Hafsah.


"Eh cucu-cucu kakek sudah pada cantik."Pak Herman tanggapi kedua bocah, yang sudah memeluk kaki pak Herman.


"Sudah kek," jawab keduanya.


"Tadi Ifah habis jalan pagi sama tente Diana kek. Seruuu banget, tapi nanti tante nya kalau pulang Ifah tidak punya teman lagi." Ucapnya dengan raut wajah sedihnya.

__ADS_1


Bu Hafsah mensejajarkan dengan cucunya "Memang tante saja yang jadi teman Atifah Tante Diana aja. Kakek dan nenek juga mau jadi teman Atifah kok, iya kan kek." kata bu Hafsah, menoleh pada pak Herman.


"Kakek juga mau tapi untuk saat ini sama tante Diana dulu ya. Karena kakek dan nenek sibuk, untuk persiapan barbeque yang berbeda hari lagi. Nanti di sini juga akan di adakan tenda, yang besar dan luas sampai ujung jalan sana."Ujar pak Herman pada cucunya sambil menunjuk ujung jalan.


Karena rencana pak Herman sekalian acara ulang tahun Asifa. Namun Asifa tidak tahu kalau acara itu merangkap hari ulang tahunnya. Sebab masih kurang satu hari lagi, namun menuju jam 12 malam hari itu sudah masuk hari ulang tahun Asifa. Hal itu tadi malam di bahas dengan sang istri.


Jadi belum ada yang tahu, tapi secara diam-diam nanti akan di bahas dengan Diana dan Aisyah. Bahkan rencananya akan sekalian pertunangan Asifa dan Fahmi. Maka dari itu butuh persiapan matang, yang nanti akan di di bahas oleh pak Daryanto selaku calon besan.


"Diana biar anak mu serahkan pada om dan Asifa. Kamu bantu tante yuk, lanjutkan masak. Kasihan kalau harus mondar-mandir juga biar kakinya cepat sembuh nanti mau di urut saja. Ayo ," langsung jalan ke dapur.


"Iya tante nanti Diana nyusul, princess kamu tidak keberatan jagain anak ku?" tanya Diana dengan senyum mengejek.


"Memang nya ada princess jaga anak ya? Setahu ku itu baby sitter deh yang jaga anak."Jawab Asifa dengan candaan.


"Hehehehe, ya juga sih. Tapi kamu gak cocok kalau author jadi kan baby sitter. Katanya lebih pantas princess saja. Makanya aku tanya apakah princess tidak keberatan."Kata Diana sambil cengengesan.


"Dasar emak-emak kalau ngomong suka pas banget. Kalau ada baby sitter kaya aku ini, yang ada nanti di cap pelakor. Soalnya itu majikannya tidak bisa berpaling, kalau sudah ada di hadapannya baby sitter. Apakah anda mau memiliki madu seperti aku ini nyonya?" tanya Asifa sambil menarik turunkan alisnya.


"Ih amit-amit Asifa, kamu ini."Kata Diana langsung memukul lengan Asifa.


"Aku pun tak mau jadi madu mu kali. Ada yang meminta aku jadi istri satu-satunya. Ngapain aku terima laki orang, dan juga tidak mau kamu merasakan apa yang aku rasakan. Menjanda ternyata tidak enak tahu."Kata Asifa.


"Hahahaha" mereka berdua tertawa bersama. Pak Herman hanya menggeleng kepala, melihat dan mendengar candaan putrinya dengan sahabatnya.


Diana langsung pergi ke dapur menyusul bu Hafsah. Karena sudah siang juga mereka biasanya sudah sarapan hari belum.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2