
"Istighfar sayang, papa sudah sampai kan dengan ayah. Untuk pernikahan ini kita tidak akan gegabah. Bagaimana jika kita sholat istikharah dulu, minta petunjuk pada Allah SWT. Karena Allah sebaik-baiknya tempat meminta jalan petunjuk." Ujar pak Herman.
Asifa mendongak menatap papa, dengan mata sembabnya. Apa yang di katakan papanya, benar adanya kenapa baru sadar. Selama ini dia tidak bisa melupakan Ardi, dan kenangan manisnya bersama Ardi.
Harusnya ia melakukan istikharah, untuk minta petunjuk pada sang khalik. Karena sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk sang maha pemilik hati.
"Iya pa, tapi aku mau keluar dulu dari sini. Sudah gak betah, aku ingin main dengan anak-anak."Keluh Asifa.
"Sabar sayang, besok pagi kita lihat perkembangan mu ya. Apakah besok sudah bisa pulang atau belum. Sama papa juga kangen sama anak-anak, karena papa juga belum sempat ketemu mereka. Karena tadi pagi mereka belum keluar kamar."kata pak Herman.
"Mama ketemu mereka pas sarapan tadi pagi, tapi belum sempat main hanya menyapa saja. Apa lagi si Amir harus berangkat sekolah, jadi begitu lah. Ya sudah sekarang kamu harus istirahat, supaya besok pagi lebih baik lagi. Siapa tahu nanti dokter langganan kasih izin pulang ya." Timpal bu Hafsah.
"Baik ma, tapi aku boleh ya tidur dengan papa?" tanya Asifa pada mamanya.
"Ih mana bisa begitu, kamu itu dewasa. Bahkan sudah pernah punya suami, mana boleh tidur dengan papa. Kecuali kamu itu masih segede Amir, masih mama bolehkan."kata bu Hafsah, merasa tidak pantas lagi. Jika Asifa tidur dengan papanya, hal bu Hafsah ada rasa tidak rela.
"Apa yang kata mama itu benar sayang. Papa sendiri merasa punya istri muda. Kalau papa khilaf bagaimana?"tanya pak Herman sambil tersenyum menggoda.
Dan akhirnya mendapatkan cubitan dari istri dan anaknya.
"Aaak.... Aduh.... Iya ya ampun sayang, papa kan cuma bercanda."Ujar pak Herman.
"Bercanda gak lucu pa, ini kan lagi serius."Kata bu Hafsah yang masih kesal.
"Asifa juga masih waras kali pa. Kayak di dunia ini tidak ada lagi laki-laki lagi. Sampai aku mau berc*mbu dengan papa sendiri."Kata Asifa dengan cemberut.
"Lah papa kan ngomong apa adanya. Coba kamu bayangkan, bagaimana jika papa beneran peluk kamu. Dalam posisi rebahan, meski pun kamu itu anak papa. Tapi kamu sudah biasa di peluk sama seorang lelaki berstatus suami. Lalu apa bedanya papa peluk kamu, sama saja papa seperti menc*mbu anak sendiri. Karena itu papa bilang, bagaimana jika papa khilaf. Karena orang tidur biasa peluk istrinya, ini anaknya bukan tidak mungkin kan itu tidak terjadi."Terang pak Herman panjang lebar pada Asifa.
"Iya juga sih. Tapi kan ada mama, mana mungkin mama rela papa melupakan mama. Kan mama tidak mungkin membiarkan perbuatan, yang tidak sedap di pandang mata."Kata Asifa tetap tidak mau kalah dengan papanya.
"Sayang boleh ya, mas peluk princess. Tidak akan menang kita, kalau ingin princess kita cepat sehat."Bisik pak Herman pada istrinya, dengan tangan merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
"Ya sudah lah. Tapi awas mas macam-macam sama princess. Maka mas tanggung akibatnya sendiri, hukuman dari ku."Ancaman bu Hafsah.
"Iya mas tau, makanya kamu duduk di kursi ini dulu. Sampai princess tidur, kamu ini kayak tidak tau aja sama putrinya sendiri. Tidak akan tidur itu nanti, masih terbayang sama masa lalunya."Kata pak Herman dengan berbisik.
Ya yang pak Herman pikirkan, mungkin Asifa ingin mengalihkan pikirannya dengan tidak dengan papanya. Memang Asifa sangat lah manja dengan papa dari pada mamanya. Bahkan selama depresi beberapa minggu lalu Asifa selalu bersama papanya.
"Baiklah mas kalau sudah tidur, mas harus segera turun."Pinta bu Hafsah dengan manja pula.
"Iya sayang,"ujar pak Herman dan memberikan ciuman di kening istrinya.
"Princess, papa sudah dapat izin dari mama tercinta. Ayo kita tidak, tapi ingat selalu perbanyak istighfar ya sayang. Hanya boleh ingat Allah tidak boleh pikirkan yang lain." pak Herman langsung naik ke branker Asifa.
Dan untungnya pak Herman kemarin pesan ruangan VVIP. Sehingga branker untuk Asifa juga yang agak besar. Apa lagi dokter yang menangani Asifa, sudah hafal dengan penyakit Asifa. Sudah faham bagaimana menghadapi A
"Ya, sekarang mama kasih pinjam papa malam ini. Tapi jangan lama-lama ya, kamu juga jangan macam-macam ya."Kata bu Hafsah, dengan tatapan mengancam.
"Ya mah gak macam-macam kok. Cuma satu macam saja, yaitu peluk papa hehehe."Kata Asifa dengan terkekeh.
"Eh tidak boleh hari ini papa punya Asifa pokoknya."Kata Asifa dan langsung ambil posisi tidur nyaman dalam pelukan nya.
Nah kebayang dong dengan Asifa yang manja, dan merasa seperti anak-anak kembali.😅😅😅😅😅
...****************...
"Abi tante Ara kapan pulang, Ifah sudah kangen?"tanya Atifah pada Abi nya.
"Belum tau saya, coba besok Abi pulang kerja mampir ke rumah sakit. Dan lihat tante Zahra sudah bisa pulang apa belum ya." Jawab Taufiq.
"Yah Ifah pengen ikut."Rengek Atifah.
"Tidak boleh saya, lagian percuma Atifah ikut. Nanti Atifah mau jadi teman pak satpam rumah sakit. Atau mau main sama om Andik, pengawal tante Zahra?"tanya Taufiq pada putrinya.
__ADS_1
"Ha....? Tante plincess sekalang punya pengawal ya Bi?" tanya Atifah.
"Punya, kan opa yang kasih pengawal. Supaya tante princess aman, tidak ada yang ganggu."Jawab Taufiq.
"Oh.., biar tante plincess cepat sembuh dan pulang ya Bi?"tanya Atifah.
"Betul, princess Abi pintar ya."Puji Taufiq pada putrinya.
"Sudah malam sekarang princess tidur ya." Lanjut Taufiq.
"Iya Abi, Ifah juga sudah ngantuk." kata Atifah
Tidak lama Atifah sudah tidur dengan pulas. Lalu Taufiq berbalik badan menghadap pada istrinya. Mengangkat kepala Aisyah kemudian menjadikan lengannya sebagai bantal. Lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu ia menyusul istrinya dalam mimpi, karena sudah sangat mengantuk.
...****************...
Pagi ini Fahmi sudah berada di kampus, tepatnya di ruang kerjanya. Taufiq datang melihat Fahmi lagi sibuk, dengan tumpukan kertas di mejanya.
"Assalamualaikum pak Fahmi."Sapa Taufiq dengan formal, karena saat di kampus harus profesional. Tetapi jika hanya berdua mereka seperti saat di rumah.
"Wa'alaikumsalam pak Taufiq."Jawab Fahmi dengan formal juga.
"Sibuk banget ya pak?"tanya Taufiq, sambil melihat sekeliling ruangan yang ada beberapa dosen lainnya.
"Lumayan pak memeriksa materi kemarin pak. Eem apa ada yang mau bapak sampai ke saya?"tanya Fahmi.
"Sebenarnya ia sih, tapi nanti saya chat saja ya."Kata Taufiq, memberi kode dengan melirik sekitar.
"Oh baiklah, saya tunggu."Kata Fahmi yang paham dengan kode Taufiq berikan.
*****Bersambung.....
__ADS_1