
Asifa sedang duduk di ruang tamu, dia jenuh di rumah seorang diri. Karena suatu yang sepi, membuat dirinya teringat masa-masa bersama Ardi.
Di mana setiap hari minggu mereka pergi jalan-jalan bersama keluarga Dinata. Kasih sayang yang bu Gina dan pak Arya sama dengan mama papanya.
Dari masa dia masih kecil hingga dia SMP kelas VIII. Asifa dan Ardi memang sudah seperti kakak beradik. Dimana dirinya sering bersama dengan Ardi, dan harus terpisah karena Ardi harus pergi melanjutkan kuliah keluar negeri. Dan saat Ardi kembali dirinya di minta menjadi istrinya.
Sekarang dirinya harus cerai karena tak bisa memberikan keturunan dan tidak mau di madu. Namun dirinya juga tidak bisa bebas, layaknya pasangan lain yang sudah bercerai. Maka mereka tidak lagi perduli dengan mantan pasangannya. Hal itu lah yang membuat Asifa merasa di permainkan oleh keluarga Dinata.
Tidak dapat dia pungkiri jika keluarga Dinata sungguh sangat berjasa untuk nya. Karena keluarga Dinata pula Aisyah dan Asifa bisa mengeyam pendidikan di sekolah yang bagus. Dan universitas ternama di Jakarta hingga jadi sarjana. begitu pun Aisyah, karena Aisyah dan Ardi hanya berbeda satu tahun. Ardi lebih muda dari Aisyah, kemana pun Asifa di bawah keluarga Dinata maka aisyah pun di bawahnya.
Air mata Asifa mengalir begitu saja saat dirinya teringat masa-masa indah itu. Kita dia harus merasakan sakit dan luka mendalam hingga sampai dasarnya. Yang rasakan sangat sakti namun tidak terlihat lukanya, ya itulah yang namanya sakit tak berdarah. Hingga Asifa tak sadar ada yang mengetuk pintu rumah berkali-kali. Sampai dia kaget ketika ponsel lama yang berada dalam genggaman itu berdering.
"Astaghfirullah" lalu dia lihat siapa yang menelepon dirinya. Tertera nama si penelepon yaitu Lira, segera di angkatnya.
"Ya halo...."
"Kakak buka pintu" langsung mematikan ponselnya.
tok tok tok
Asifa segera lari menuju pintu utama dan membutuhkan pintu lira dan Rendi. Sambil mengusap wajah yang basah dengan air mata.
"Assalamualaikum"ucap Rendi dan Lira.
"Wa'alaikumsalam, maaf tadi kakak tidak dengar kalian ketuk pintu.
__ADS_1
Lira melihat sepupunya matanya sembab bahkan masih basah. Sudah bisa menebak pasti habis nangis meratapi nasibnya.
"Ya kak tidak apa-apa, ayo masuk sudah malam aku capek berdiri terus."Ujar Lira, sambil menarik tangan Asifa masuk rumah.
"Eh ini yang tamu siapa ya..., kenapa jadi aku yang diajak masuk."membalas candaan Lira.
"Akulah tamunya kelamaan sih kakak, aku ketuk pintu berkali-kali sampai pegel nunggu pintu buka. Tidak tahu kakak lagi mikirin orang yang tidak penting lagi dalam hidup kakak."Kata Lira yang sudah mendapatkan bokongnya di sofa.
"Sayang kamu ini ya" tegur Rendi pada Lira "maafkan Lira ya kak. kalau ngomong sudah tidak di filter dulu."Rendi merasa tidak enak pada kakak iparnya itu.
"Maaf kak, kalau kata-kata membuat kakak tambah sakit."kata Lira, menunduk dan merasa bersalah. Jika apa yang di katakan membuat sepupunya tersinggung dan sakit hati.
"Tidak apa-apa, lagian apa yang Lira katakan ada benarnya. Jika aku terus memikirkan dia yang ada aku bisa gila. Karena aku terbelenggu dalam hidupnya yang sudah membuat aku seperti ini. Percuma dia berusaha untuk melindungi ku, sampai kapan pun tidak bisa mengembalikan kaca yang sudah pecah seperti semula." Kata Asifa, dengan menatap kearah jendela dengan tatapan kosong.
Lira langsung memeluk kakak sepupunya untuk menyalurkan rasa sayangnya. Dia tidak ingin sepupunya terpuruk lagi dan berdampak buruk.
"Aamiin" jawab Asifa.
"Aamiin, apa yang bisa kami bantu kak untuk persiapan sebelum pergi?"tanya Rendi.
"Ini tolong kirim melalui jasa pengiriman atau ojek online juga terserah. Tapi jangan dari rumah ini jika pakai ojek online."kata Asifa, sambil memberikan kotak kecil.
"Dan ini nanti kamu nanti kamu jual, dan yang suruh transfer ke rekening kak Aisyah. Tolong semua besok, karena lusa kakak akan blokir nomor rekening ini. Dan cincin pernikahan itu kamu kirim lusa sore saja." Pesan Asifa, untuk antisipasi.
"Baik kak, kami usahakan nanti. Kakak berangkat kapan, sudah makan belum?"tanya Rendi.
__ADS_1
"Beberapa menit lagi, jam sepuluh mungkin, nunggu cctv-nya pulang kandang. Aku makan tadi jam lima sekarang lapar makan apa ya yang enak apa kalian sudah makan?"tanya balik.
"Belum makan lagi kak, kalau di ajak makan mau aja. Biar aku pesan sekarang, supaya kakak makan, biar cepat, kakak mau makan apa?"tanya Lira.
"Aku pengen makan yang pedes tapi tidak boleh sama mama dan papa, pesan nasi sama ayam kremes aja deh."Kata Asifa.
"Oke kak di tunggu pesanannya."Ujar Lira sambil tersenyum manis.
"Baik terima kasih mba."membalas senyuman Lira.
Rendi berjalan ke arah saklar lampu, lalu dia matikan. Dan segera menutup gorden, tapi tetap berdiri di jendela itu. Lalu mengintip di seberang jalan yang sudah di ceritakan oleh pak Herman. Dan benar seberang jalan nampak orang di taman, ada yang terus menghadap ke rumah pak Herman.
Ya rumah pak Herman tepat di depan taman untuk bermain anak-anak dan keluarga komplek. taman lumayan luas 100 meter persegi, ada kursi di setiap sudut permainan anak-anak.
Jika hari minggu ramai ada yang lari pagi dan menemani anak-anak mereka. Maka dari orang yang memantau Asifa duduk di taman dengan berpura-pura main ponsel, catur atau ngobrol. Karena ya di tempati oleh orang tersebut adalah gazebo. Sudah tentu nyaman baik itu saat hujan atau panas sekali pun.
Tak lama dari itu mereka pergi karena melihat rumah pak Herman sudah tidak aktivitas. Ya mereka akan pergi jika lampu di ruang tamu atau kamar sudah mati. Maka mereka menganggap bahwa tugas nya selesai.
Beberapa menit kemudian makanan datang dan mereka makan bersama dengan hikmat.
Setelah makan Asifa menelpon pak Herman dan mengabari bahwa dia siap berangkat dan pak Herman mengirimkan alamat tujuan. Dan segera memesan ojek online, selang beberapa menit ojek online pun datang.
Asifa sudah siap di depan karena sudah malam. Jam menunjukkan pukul 22:05 maka suasana komplek sudah sepi.
"Kakak hati hati di jalan ya? salam buat kak Aisyah dan keluarga."Ujar Lira.
__ADS_1
"Ya, itu ponsel lama ku terserah mau kamu kasih siapa karyawan yang butuh nanti."pesan Asifa, karena dia sudah mengambil kartu cart nya.
*****Bersambung....