
"Sayang harusnya kamu bilang ke papa jadi tidak harus begini."Langsung mengambil alih koper tersebut dari tangan putrinya.
"Asifa tidak ingin merepotkan papa terus, ini juga sekalian keluar."Kata Asifa pada papanya.
Pak Djohar sebenarnya juga tidak terlalu tua, usianya tidak terlalu dari Aisyah. Namun sudah kepala 4, dan kini sudah menikah lagi dengan Lasmi. Setelah bercerai dengan istri pertama, yang sudah memilih berpisah. Yang mana kisah cintanya sudah di nodai oleh orang ketiga, yaitu Lasmi Kemala.
Tapi memang Pak Djohar Herlambang ini adalah laki-laki, yang suka bosan dengan satu perempuan. Faktanya ketika sudah memiliki istri malah selingkuh dengan Lasmi. Yang saat itu juga masih menjalin pernikahan dengan Fahmi.
Lasmi sangat kesal dengan suaminya yang menatap Asifa dengan tatapan lapar. Sebagai istri Lasmi tidak ingin kehilangan suaminya yang kaya raya ini. Karena ia tidak mau hidup miskin seperti saat belum menikah dengan Fahmi.
"Awas saja mas Djohar sampai mendekati Asifa ini. Maka aku akan meminta hak anakku, sekaligus semua usaha menjadi milik ku. Aku akan mengikat dia kalau macam-macam, karena aku sudah tahu, kalau dia yang mata keranjang itu."Kata Lasmi dalam hati.
"Selamat siang Nona Asifa," Sapa Djohar, dengan tatapan penuh damba.
"Selamat siang pak, ibu, maaf jika kalian menunggu lama. Langsung saja ya pak ini semua, yang ingin saya tawarkan pada pak Djohar." Asifa menoleh pada papanya "Papa tolongin Asifa ya buka dan keluarkan barangnya."Pinta Asifa.
"Siap princess papa."Ucap pak Herman dengan candaan, namun di balas dengan senyum manis oleh Asifa.
Pak Herman membuka koper yang besar di depannya. Matanya Lasmi membelalak melihat perhiasan milik Asifa. Lebih tepatnya milik mendiang ibu mertua sekaligus ibu angkatnya.
"Ini silahkan di minum dan di cicipi kuenya" Bu Hafsah memberikan minuman dan cemilan untuk tamunya.
"Terima kasih bu, maaf sudah merepotkan." Ucap pak Djohar dan Lasmi.
"Tidak ada yang repot, Monggo bapak, bu."langsung duduk di sebelah pak Herman.
__ADS_1
"Astaghfirullah sayang ini punya mendiang ibu mu?"tanya pak Herman, Asifa hanya mengangguk.
"Apa nona yakin ingin menjual perhiasan ini?"tanya pak Djohar.
"Iya pak kalau saya pakai, saya akan terus ingat ibu. Saya tidak sanggup untuk itu, sekalian untuk investasi saja."Jawab Asifa dengan senyum tapi tetap menunduk kan pandangan.
"Begini saja ini saya bayar sebagai, sesuai uang saya. Dan sisanya saya akan tawarkan pada pelanggan saya. Untuk itu nona bisa stay di rumah saja nanti uang masuk rekening. Dan saya juga akan mengaju surat kontrak yang harus di tandatangani. Sertakan ini barang harus tertera, apa nona bersedia?"tanya pak Djohar pada Asifa apa ia setuju.
"Dengan senang hati pak, untuk itu kapan saya bisa tandatangani kontrak kerjasama tersebut."Jawab Asifa.
"Untuk surat kontrak nya sudah saya siapkan, Kebetulan tadi saya sudah konfirmasi dengan tuan Arya. Dan ini semua di serahkan pada anda Nona, apa betul?"memastikan bahwa ini memang sudah menjadi milik Asifa.
"Memang ini di berikan oleh mendiang ibu, tapi saya tidak pernah memakai perhiasan. Hanya akan saya jadikan tabungan atau investasi."Jawab Asifa.
"Baiklah asal nona percaya pada saya dan bekerja dengan saya. Untuk perhiasan ini yang tidak sedikit nona, apa lagi ada yang dari luar negeri ini. Dan tiga perhiasan yang spesial ini harganya cukup fantastis. Bahkan terbilang baru tiga bulan di tangan mendiang nyonya besar."Kata pak Djohar yang sudah memeriksa satu persatu dengan detail.
"Kisaran 15 M. Kalau kamu mau jangan yang itu, mas nanti tidak ada modal lagi. Untuk masa depan anak-anak dan kita, tapi kalau kamu rela hidup sederhana kita beli ini."Yang sudah tahu sifat istrinya, ia juga mau ngetes istrinya. Apa masih ngeyel untuk memiliki perhiasan tersebut.
Karena secara tidak langsung ia kagum dengan hidup sederhana Asifa. Yang tidak silau harta, bahkan ia menyesal memilih hidup dengan Lasmi dari pada dengan mantan istrinya.
"Tidak mas aku hanya ingin tahu saja, lagian aku sayang kalau nanti beli terus takut pakai nya. Tapi mau kalau di belikan berlian yang paling murah itu berapa?"malah sibuk sendiri, mengganggu waktu bisnis yang menguntungkan ini.
Asifa sendiri santai yang penting perhiasan ini laku. Maka ia bisa salurkan pada orang yang membutuhkan. Asifa tersenyum saat Lasmi menatap dirinya dengan tatapan sinis.
Baiklah nona ini permintaan ibu negara ini satu set berlian kalung dan anting. Harga 1,5 M, saya bayar cash ya." Langsung membuka koper yang berisi uang.
__ADS_1
"Ini total ada 5 M nona, sisanya nanti jika sudah ada yang peminatnya. Semoga lancar dan cepat selesai juga, ini saya punya target bulan. Kalau misalnya lewat dari tiga bulan maka saya akan langsung bayar sisanya. Silahkan di hitung lebih dahulu nona."Menyerahkan koper uang, pada Asifa.
Dan hal itu membuat Lasmi menelan ludah. Karena tidak pernah melihat uang sebanyak itu, sehingga membuatnya membelalak.
"Enak banget sih jadi Asifa, bisa pulang uang banyak begitu. Mana itu warisan dari mertuanya, aku boro-boro mau dapat warisan. Bahkan mertua ku tidak sebaik ibu Fatimah, selalu lembut penuh ketulusan." Kata Lasmi dalam hati.
Asifa sendiri baru kali ini melihat uang di tangan sebanyak ini. Tapi ia tidak mau memperlihatkan keterkejutan nya. Jadi tampak biasa saja, di depan pak Djohar dan Lasmi.
"Saya terima ya pak, saya pikir yang kes tidak akan sebanyak ini pak. Terima kasih sebelumnya sudah mau bekerjasama dengan saya. Berarti secara tidak langsung saya menanam saham pada anda ya pak?" Asifa bertanya guna memastikan bahwa barang miliknya kini jadi pasok toko pak Djohar.
"Maka dari itu saya mengajukan surat kontrak kerja sama dengan nona. Ini bisa non tanda tangani, setelah itu baru saya." Pak Djohar menyodorkan berkas kerja samanya pada Asifa.
Asifa tidak langsung menandatangani berkas tersebut, tapi ia dan pak Herman mempelajari nya lebih dahulu. Setelah itu ia langsung menandatangani surat kontrak kerja sama. Dan bergantian dengan pak Djohar, yang menandatangani surat kontrak tersebut.
Asifa tidak mau berburuk sangka pada pak Djohar, yang di rekomendasikan oleh ayah angkat sekaligus mertuanya.
"Baiklah kalau begitu saya sangat berterima kasih. Bapak sudah sudi menerima tawaran saya ini. Ini juga kalau bukan bantuan dari ayah, saya tidak tahu harus cari pemilik lahan toko perhiasan berlian di Yogyakarta." Kata Asifa.
"Saya pun sangat berterima kasih, karena secara tidak langsung nona Asifa menjadi investor toko saya. meski hanya beberapa bulan, tapi jika nona mau jadi investor sungguhan. Nanti kita bahas lagi setelah yang ini selesai"Kata pak Djohar.
"Coba nanti lihat kedepannya pak, Saya tidak bisa janji. Sebab saya ingin menginvestasikan ke tempat-tempat orang yang membutuhkan."Kata Asifa.
Dret dret dret
Suara getar ponsel Asifa tertera nama ayah.
__ADS_1
******Bersambung.....