
Andik membukakan pintu untuk pak Daryanto, lalu ia pun ikut ke ruang rawat inap Fahmi. Mereka tidak bicara sama sekali, hingga sampai di ruang rawat Fahmi.
"Assalamualaikum,"ucap Andik dan pak Daryanto.
"Wa'alaikumsalam," jawab Radit, halitu menyadarkan Fahmi yang sedang kalut dalam kesedihan nya.
Fahmi menoleh pada tamu yang mengucapkan salam, ternyata itu bapaknya dan kakak angkat istrinya.
Pak Daryanto mendekati putranya, yang sedang bersedih memikirkan istrinya. Ketika sudah sampai di samping Fahmi, Radit minggir. Memberikan ruang untuk bapak dan putranya, untuk berbicara dari hati ke hati.
Pak Daryanto memeluk putranya dengan penuh kasih sayang orang tua pada putranya. Apa lagi putra kesayangannya plus satu satunya, yang berada di sisi terus. Sebab sang putri kesayangannya kini bersama sang suami. Sekarang ia harus bisa memberikan semangat pada putranya yang sedang kalut itu.
Cukup lama dan sudah lebih baik dari sebelumnya, pak Daryanto mengendurkan pelukannya. Kemudian mengusap air matanya yang membasahi pipi putranya. Pak Daryanto seperti sedang menenangkan anak kecil yang sedang mengadukan masalah nya.
Sesungguhnya setiap orang tua tidak ada yang menganggap putra putrinya itu orang yang sudah dewasa. Melainkan menganggap mereka anak kecil, hanya saja sudah tidak bisa di gendong atau di timangnya.
"Nak, sekarang kamu sudah dewasa bahkan sudah jadi seorang ayah. Putra putri mu membutuhkan mu, bukan kah mereka yang sudah lama kamu nanti kan selama ini. Sebagai orang tua sudah seharusnya menjadi pelindung untuk putra putrinya. Kalau kamu seperti ini terus bagaimana dengan putra putri mu. Kasihan mereka nak, sebelum keluar di nanti-nantikan. Setelah keluar malah di abaikan, kalau sang ibu masih harus berjuang. Seharusnya sang ayah jadi penyemangat bagi ibu dan anaknya. Buktikan bahwa kamu mencintai mereka, jangan lemah nak. Karena kelemahan mu ini hanya akan membuat kamu menyesal." Nasehat pak Daryanto pada putranya itu.
Fahmi mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut bapaknya. Apa yang di katakan oleh bapaknya itu semua benar. Kini ia baru sadar bahwa dirinya selama ini sudah menjaganya sepenuh hati. Namun setelah lahir dirinya malah hanya memikirkan sang istri yang terbaring lemah di ruang ICU.
__ADS_1
Secara tidak langsung ia menyalakan putra putrinya yang sudah membuat sang bunda berada di ruang ICU karena mereka. Fahmi menarik nafas panjang dan dalam lalu membuangnya. Kemudian ia menatap wajah bapaknya yang sudah tua itu. Ia bersyukur bapaknya datang dan memberikan nasehat padanya. Sehingga ia tidak larut dalam kesedihan, karena tanggung jawabnya masih banyak.
"Pak Ami mau ketemu mereka, tapi Ami mau ketemu dek Zahra dulu." Pintu Fahmi pada bapaknya.
"Iya sayang, nah ini baru putra kesayangannya bapak." Kata pak Daryanto, sambil tersenyum dan mengusap dan memberikan kecupan di kepala putranya. Fahmi tersenyum senang karena setiap ia terpuruk bapak dan ibunya selalu ada masukan untuk nya.
"Nanti kalau ketemu nak Zahra jangan sampai menangis, supaya nak Zahra tidak semakin rapuh. Biar dalam keadaan tidak sadar, pasti ia bisa mendengar. Kamu ajak dia bicara yang indah-indah dan bahagia. Dengan demikian ia akan ada semangat untuk terus berjuang untuk bersama kalian. Ingat nak Zahra memiliki mental yang sensitif, maka itu akan ia fikirkan. Jika kamu bersedih maka hal itu membuat fikirkan nya selalu menghambat kesehatan nya."Kata pak Daryanto panjang lebar menasehati putranya.
"Insya Allah pak, terima kasih atas dukungan bapak dan semua nasehat nya untuk Ami."Ucap Fahmi yang memeluk bapaknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Itu sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk putra-putri. Bapak harap Ami juga bisa menjadi sandaran untuk istri dan putra putri mu. Kita sebagai laki-laki tidak boleh lemah, karena lemah hanya di miliki seorang perempuan. Apa mau kamu di bilang ba*ci karena sudah lemah bak seorang perempuan. Apa lagi seorang ayah hanya menjadi contoh bagi putranya, supaya nanti putra mu juga akan menjadi pelindung seorang wanita. Apa lagi putra mu itu di kelilingi perempuan, yaitu bunda dan adiknya." Kembali memberikan nasehat untuk putranya itu.
"Tidak perlu kamu minta, setiap orang tua pasti mendoakan putra putrinya. Ya sudah ayo kalau mau ke ruangan nak Zahra, kita ke sana." Ajak pak Daryanto.
Belum di beritahu pun Radit dengan cepat menarik kursi roda menuju branker Fahmi. Lalu membukanya, agar Fahmi bisa segera duduk. Sebab Fahmi benar-benar drop kondisi nya yang perlu istirahat yang cukup.
Andik mendorong kursi roda Fahmi, Radit memegang botol infusnya. Pak Daryanto berjalan mengiringi langkah Andik dan Radit yang mendorong kursi roda Fahmi. Mereka menuju ruang ICU di mana Asifa di rawat.
Banyak pengunjung rumah sakit, yang heboh dengan ke datangan keluarga Dinata. Tambah heboh lagi dengan melihat Fahmi yang berada di kursi roda. Terlihat raut wajahnya yang tampan itu kini berubah putih pucat. Apa lagi di dorong oleh pengawal Asifa menuju ruang ICU.
__ADS_1
Sudah jadi kebiasaan para pencari berita, demi keuntungan mereka sendiri. Sebab berita yang mereka unggah bakal ramai komentar dari para netizen. Di berbagai berita sosmed, dengan berita keluarga Dinata dan keluarga Hermansyah mau pun keluarga Daryanto. Mereka bertanya pada dokter atau perawat, yang tahu tentang ketiga keluarga tersebut.
Fahmi melihat pak Herman bersama keluarga Dinata, matanya melihat sekitar mereka. Takut bahwa sang mantan istrinya itu ikut, atau bahkan masuk di ruang ICU. Ada perasaan tidak rela ketika melihat keluarga Dinata menemui istrinya.
Namun ia sadar jika istrinya sudah di anggap putri kesayangannya keluarga Dinata juga. Sebab mereka sering bersama sejak sang istri masih bayi. Ia berusaha berlapang dada, yang penting baginya kehidupan mereka sudah masing-masing. Kalau pun ada pertemuan itu karena mereka menjalin silaturahmi agar tidak putus.
Bahkan bulan lalu pak Herman dan Bu Hafsah pergi ke Jakarta untuk menjenguk Salsa yang baru saja melahirkan. Dan bayi nya mengalami kejang-kejang, dan berdampak buruk untuk perkembangan otak bayi laki-laki tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Fahmi dengan suara yang lemah.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua yang ada di depan ruang ICU itu.
"Sayang gimana keadaan mu, baik bukan?" tanya pak Herman saat melihat wajah menantunya itu pucat sekali.
"Mending pa, saya ketemu dek Zahra dulu ya." Pamit pada mertuanya.
"Iya sayang, mudah mudahan princess semangat kembali saat mendengar suara mu." Ucap pak Herman.
Yang tadi terlihat sedih, kini tidak di tampakkan di depan Fahmi. Sebab ia juga ingin Fahmi semangat untuk kesehatan dan keselamatan putrinya yang di dalam ruangan ICU itu.
__ADS_1
*****Bersambung.....