
"Saat ini Asifa berada di rumah sakit xxx Yogyakarta yah."Jawab Asifa.
"Siapa yang sakit kalian baik-baik saja kan sayang?"tanya pak Arya, terdengar panik dan cemas.
Belum sempat Asifa menjawab Ardi langsung menyambar.
"Saya dan Asifa baik yah, saya harap ayah tenang dulu. Saya juga minta maaf atas nama ibu yah, karena ini semua penyebabnya adalah saya. Ayah doakan kami baik-baik saja sampai Jakarta. Ayah siap di rumah sakit saja jangan kemana-mana. Saya aku minta Haris dan dokter untuk pindah ke Jakarta."Ujar Ardi panjang lebar pada ayahnya.
"Apa yang sakit ibu lagi Ar, jawab ayah?"tanya pak Arya dengan nada tinggi.
"Iya yah, Ardi mohon ayah tenang ya. Dan saya akan segera bawa ibu pulang, ke Jakarta."Jawab Ardi.
"Baiklah. Ayah tunggu, kamu hati-hati ya. Assalamualaikum," pak Arya langsung menutup telponnya.
"Wa'alaikumsalam" Jawab semua yang lang dengar telpon itu.
Ardi menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Kemudian menatap Haris dan Asifa, secara bergantian.
"Kenapa kamu berdua tidak minta pendapat saya lebih dulu. Jika ingin memberitahu ayah, kalian tahu kan. Ayah itu bagaimana jika menyangkut ibu, dan kamu kenapa menuruti permintaan tanpa sepengetahuan Ayah dan saya?"tanya Ardi pada asistennya itu.
"Maaf tuan muda, nyonya besar tidak ingin memberi tahu anda dan tuan besar. Karena nyonya bilang kalian sedang marah. Dan nyonya selalu bilang jika saya juga sudah di anggap anak sendiri." Berhenti sejenak.
"Pernyataan nyonya besar, mengingatkan saya, bahwa saya berhutang budi pada keluarga Dinata tuan. Maafkan saya, bukan maksud menyembunyikan. Jika saya memang menyembunyikan, kenapa saya memberitahu anda secara diam-diam."Kata Haris panjang lebar.
Ardi tidak bisa berkata apa-apa lagi, mungkin ini adalah takdir. Yang tidak mungkin bisa mereka pungkiri atau hindari.
Ardi melangkah ke arah Haris yang menunduk, karena tidak berani menatap tuan mudanya. Yang tidak lain sahabatnya sejak mereka masih SD. Kemana pun selalu bersama, kuliah bersama, meski Haris Kurniawan hanya anak tukang kebun di rumah nya.
__ADS_1
Langsung Ardi memeluk Haris, dan menumpahkan kesedihan nya. Haris membiarkan tuan mudanya memeluk dirinya. Namun ia juga membalas pelukan itu, ia tahu tuan mudanya kini sedang rapuh.
Ardi menangis dalam diam namun terdengar sesenggukan dan pilu. Haris membiarkan kemejanya basah karena air matanya tuan mudanya. Setelah tenang baru ia berkata dengan suara lembut dan rendah setengah berbisik.
"Tuan harus kuat, sabar dan ikhlas, siapa nanti yang menguatkan tuan besar. Ini sudah menjadi kehendak Allah SWT, memberikan ujian pada keluarga Dinata."Haris menguatkan tuan mudanya.
Ardi yang sudah tenang pun, hanya menjawab singkat. "Terima kasih, kamu selalu ada untuk saya."Itulah yang di katakan Ardi. Lalu melepaskan pelukannya, dan berbalik badan.
"Asifa ini sudah malam, kamu bisa pulang. Terima kasih sudah ikut mengantar ibu ke sini. Dan terima kasih sudah mau memeluk ibu sesuai permintaan ibu. Saya mewakili keluarga besar Dinata, Terutama saya pribadi. Tolong maafkan mas juga keluarga."Ucap Ardi.
"Saya sudah memaafkan semua, karena itu semua sudah menjadi bagian dari masa lalu."Kata Asifa dengan lembut tanpa beban.
"Ardi yang sabar ya, semoga ibu baik-baik saja. Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan tidak kurang suatu apa pun."Ujar Taufiq, sambil memeluk Ardi memberikan support. Sebagai kakak iparnya dan laki-laki ia tahu jika Ardi membutuhkan dukungan.
"Kamu harus sabar dan ikhlas, yakin lah di balik ini semua ada hikmahnya." Lanjut Taufiq sambil menepuk pundak Ardi.
"Iya kak, terima kasih atas supportnya. Titip dek Asifa, karena saya tidak bisa mengantarkan pulang. Sampaikan salam saya pada mama dan papa. Maafkan saya sudah merepotkan kalian."Ucap Ardi.
"Sama-sama mas, saya juga hanya sekedar membantu saja. Tapi saya di. juga karena di ajak sama mas Taufiq. Justru saya yang merepotkan mas Ardi dan anggota nya hehehe." Ya itu Fahmi orang supel, ramah mudah berbaur.
"Hehehehe, saya titip bidadari nya mama dan papa ya, tidak boleh lecet sedikit pun."Ucap Ardi dengan candaan, melihat perilaku Fahmi. Kini ia tahu jika Fahmi orang baik juga ramah.
"Baik siap laksanakan tuan muda."Balas candaan Ardi, lalu mereka berjabat tangan dan berpelukan. Sebagai tanda mereka berteman sekarang, dengan begitu maka tidak ada permusuhan.
"Bisa saja kamu, kita teman sekarang." menyambut baik uluran tangan dan membalas pelukan Fahmi.
Sedangkan Asifa memilih memalingkan wajahnya ke arah lain, dengan wajah bak kepiting rebus. Kenapa mendengar ucapan mantan suaminya. Yang di sambut baik oleh Fahmi, yang siap menjaga dirinya.
__ADS_1
"Dek, kamu di antar Antonio dan Irgi, mereka sudah siap di bawah. Ini sudah malam pasti kalian lelah, perlu istirahat."Ujar Ardi, dengan nada lembut, berusaha untuk tenang dan ikhlas melepas perempuan yang sangat ia cintai dari masih kecil.
"Iya mas, terima kasih. Kami pamit pulang ya, assalamualaikum," ucap Asifa, sambil tersenyum tipis.
"Kak ayo kita pulang aku sudah ngantuk."Kata Asifa, memang sudah ngantuk, karena sekarang sudah malam sudah jam 22:30.
"Baiklah, Ar, kami pulang ya, assalamualaikum." Ucap Taufiq, di ikuti Fahmi.
"Ya, Wa'alaikumsalam" jawab Ardi, Haris dan kedua bodyguard nya.
"Haris kabari Antonio dan Irgi, suruh kawal mereka sampai rumah."Perintah Ardi namun matanya terus menatap Asifa hingga tak terlihat lagi.
"Baik tuan muda."Yang langsung menghubungi Antonio.
Tak lama Asifa sudah sampai lobi rumah sakit. Antonio sebagai pengemudi, dan Irgi yang melihat ada dua laki-laki. Maka berinisiatif jika nyonya muda harus duduk di depan. Karena ia tahu aturan keluarga Asifa yang agamis, harus menjaga jarak jika berbeda jenis.
Irgi langsung membuka pintu depan,"Silahkan duduk di depan nyonya, karena di belakang untuk laki-laki."Ujarnya.
Asifa melihat sekelilingnya adalah laki-laki, akhirnya ia duduk di depan. Setelah Asifa duduk dan aman barulah Irgi membuka pintu belakang. Dan Fahmi naik di susul Taufiq dan Irgi, duduk di jok belakang.
Setelah beberapa menit mereka sampai di rumah Asifa. Dengan cepat Irgi membuka pintunya dan keluar langsung membuka pintu depan untuk Asifa.
"Silahkan nyonya," dan memperhatikan langkah Asifa, setelah Asifa berada di luar dan agak jauh baru Irgi Pamit.
"Saya langsung kembali ke rumah sakit nyonya."Ucap Irgi.
"Baiklah terima kasih Irgi, Anton, terima kasih hati-hati ya di jalan.
__ADS_1
"Baik, sama-sama nyonya, kami permisi."Ujar keduanya, lalu Antonio melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
*****Bersambung......