
Alexi menerima kertas biru mudanya dengan hati tak menentu, sejujurnya dia sangat kecewa atas sikap Zike yang bagai tak mempedulikan perasaannya.
"Mungkin, aku bukanlah orang yang disukainya, mungkin dia hanya menganggapku sebagai teman," gumam Alexi dalam hati.
Rasa-rasanya Alexi ingin meremas dan membuang saja kertas itu, akan tetapi Zike segera memapah Alexi untuk kembali ke kamarnya. Alexi berjalan dengan sedikit terbungkuk-bungkuk karena kesakitan masih menjalari pinggang dan sikunya akibat jatuh di atas halaman penginapan Cheng Feng yang terbuat cor beton tadi. Zike dengan sabar membantu Alexi menaiki anak tangga secara perlahan. Meskipun beberapa pelayan penginapan memperhatikan mereka. Namun, Zike dan Alexi bersikap cuek dan hanya mengangguk kecil kepada mereka.
"Lihat! Mereka semakin akrab saja ya?" bertanya salah seorang pelayan pria kepada temannya.
"Iya, tapi bukankah Zike memang supel dan baik kepada siapa saja," ujar yang ditanya.
"Siapa tahu kali ini lain," bisik pelayan pria itu. Mereka sama-sama mengangkat bahu secara bersamaan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Alexi dan Zike telah tiba di depan kamar yang dihuni oleh Alexi selama ini. Anak muda berambut panjang itu lalu mengambil kunci untuk membuka pintu kamar, lalu masuk tanpa harus dipapah lagi oleh Zike. Meskipun dengan tertatih-tatih Alexi melangkah masuk dan meletakan semua barang bawaannya di atas meja. Zike hanya berdiri di depan pintu kamar. Gadis cantik bergaya sedikit tomboy itu seperti tak berniat masuk ke dalam kamar Alexi.
"Kau tak ingin masuk?" tanya Alexi dengan masih memegangi pinggangnya seraya meringis. Sebetulnya Alexi sudah merasa lebih baik, dia hanya mencari akal agar Zike tak meninggalkannya. Melihat Alexi masih meringis kesakitan, mau tak mau Zike masuk dan menghampirinya dan duduk di sisi pemuda tampan itu.
"Masih sakit?" tanya Zike dengan wajah cemas. Alexi menggangguk kecil.
"Perlu kucarikan obat atau kupanggil tukang urut?" tanya Zike lagi.
"Tidak usah! Nanti juga sembuh dengan sendirinya," jawab Alexi. Sebagai tuan muda, mana mungkin dia suka jika kulitnya disentuh oleh sembarang orang.
Zike menuangkan segelas air putih dari sebuah poci dan memberikannya kepada Alexi yang lamgsung menerimanya dengan senang hati. Perasaannya sungguh berbunga-bunga karena merasa Zike cukup perhatian padanya. Gadis itu lalu bertanya, "Ale, mengapa kau tadi sepertinya terburu-buru sekali?"
"Eh, aku ... aku menghindari Mei." Alexi berkata jujur. "Sejak aku di sini dia terus mengejar dan memaksaku agar mau pergi bersamanya."
Zike tertawa kecil mendengarnya keterusterangan Alexi. "Dia menyukaimu, apa kau tidak tahu?"
"Dan demi dia jugalah, aku harus menghindarimu, aku harus menjauhimu Ale! Semua demi menjaga persahabatanku dengannya," bisik Zike dalam hati.
"Aku tak suka padanya!" sahut Alexi.
"Mengapa? bukankah dia ...."
"Tak suka ya tak suka, itu saja!" Alexi meletakan gelas yang masih dipegangnya di atas meja. Kekesalan jelas tersemburat di wajahnya.
"Baiklah, itu masalah perasaan dan memang tidak bisa dipaksakan. Semoga saja Meilia mengerti." ujar gadis itu sambil memainkan kedua kaki lencirnya yang menjuntai.
"Zike ... aku mungkin tak akan bisa berlama-lama lagi di sini. Aku harus pulang," ucap Alexi lirih. Ada kesedihan di raut wajahnya.
"Kau memang harus pulang! Kasihan orang tuamu, mereka pasti cemas sekali memikirkanmu."
"Setelah aku pulang, apakah kita masih bisa berteman?" Alexi bertanya dengan kesenduan di raut wajahnya. Dia sungguh sangat takut kehilangan gadis ini.
"Tentu saja masih. Kenapa memangnya?" tanya Zike yang memang tak mengetahui identitas tuan muda yang ada di sampingnya.
"Oh, baguslah! Aku hanya takut setelah aku pulang nanti, lalu kita lama tak bertemu ... kau sudah tidak mengenaliku dan tidak mau berteman denganku lagi." Alexi berkata dengan hati sedih. Terbayang hukuman apa yang akan diterimanya nanti saat bertemu sang ayah yang sangat keras hati.
__ADS_1
"Kau ini aneh! Jadi, kau pikir aku akan semudah itu melupakan seseorang?" Zike memukul bahu Alexi yang menanggapinya dengan seulas senyum kecil. Alexi tampak bahagia mendapat perlakuan apa pun dari gadis cantik yang telah merampas ketenangan hatinya sejak awal pertemuan mereka.
"Zike ...." Alexi memanggil dengan suara lembut namun terdengar ada sedikit keraguan
"Mmh." Hanya sebuah gumaman kecil yang keluar dari bibir merah muda milik Zike.
"Kau sudah melihat catatan tadi. Apakah menurutmu, itu aneh dan konyol?" tanya Alexi ingin mengetahui tanggapan Zike.
"Tidak, itu hal biasa dan wajar saja menurutku." Zike menjawab dengan tenang. "Ale, jujur saja ... aku terkejut membacanya. Aku tak tahu harus bagaimana." Zike berbisik dalam hati.
"Zike, kalau boleh aku jujur. Aku juga menuliskan semua tentangmu di buku itu," ucap Alexi. Entah kekuatan dari mana yang membuatnya bisa berucap seperti itu.
Zike kembali terkejut, hatinya merasa bagai ditumbuhi ribuan bunga yang bermekaran dengan tiba-tiba. Namun, gadis itu segera menepis perasaan bahagia itu. Zike teringat Meilia sahabatnya yang sangat menyukai Alexi. Meilia bahkan seperti begitu tergila-gila kepada pria berwajah tampan nan cantik itu.
Mereka berdua sama-sama terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing. Suasana hening menguasai keadaan kamar itu, hingga suara detikan jarum jam pun terdengar dengan sangat jelas. Namun, keheningan pun tidak bertahan lama. Getaran ponsel di saku celana Zike merusak kesyahduan yang sedang berlangsung.
"Maaf Ale, aku terima dulu ya?" Zike berjalan ke arah jendela yang terbuka, Alexi menganggukan kepalanya.
"Hallo, Kevin!" sapa Zike.
"Kevin?" Alexi bertanya dalam hati. Alexi menatap sayu ke arah gadis yang sedang berbicara dengan seseorang yang disebut Kevin itu, hatinya merasa tak suka melihat dari kejauhan Zike tampak tertawa-tawa dengan lawan bicaranya.
"Mengapa di sini terasa sakit sekali?" Alexi bertanya dalam hati sambil memegangi dadanya sendiri. Desir kecemburuan bagai sabetan-sabetan pedang yang tengah mencabik-cabik hatinya tanpa ampun. Ini terasa lebih sakit dari hukuman cambuk yang sering dia terima dari ayahnya.
"Aku tak bisa berdiam diri saja seperti ini! Jika tak berterus terang padanya sekarang, mungkin aku akan lebih menyesal nantinya." Alexi masih bicara dalam hati. Dia sungguh tak ingin menyesal atas kepengecutannya itu.
"Bagaimana jika ternyata dia sudah punya pacar dan menolakku?" tanya Alexi sambil terus menatap punggung Zike. Tiba-tiba dia merasa kecewa dan sangat takut jika gadis itu ternyata telah menjadi milik orang lain.
"Sudah selesai rupanya," ucap Alexi seraya mendongakan wajahnya. Kesenduan terlihat di matanya.
"Kau kenapa lagi, Ale?" Zike menjadi cemas saat melihat tubuh Alexi sedikit bergetar disertai keringat membasahi dahi dan tubuhnya.
"Entahlah Zike! Aku tiba-tiba merasa sakit sekali," jawab Alexi. Sakit itu ada di dalam dadanya yang tengah terjejali oleh deburan badai cemburu pada orang yang tak jelas.
"Kalau begitu, berbaringlah! Katakan di mana yang sakit? Atau ... aku antar kau ke dokter?" Zike kembali merasa cemas dan segera membaringkan tubuh Alexi.
"Mana ponselmu, Ale? Biar kuhubungi keluargamu. Ale, ini masalah seriuus!" seru Zike. Gadis itu bergerak untuk mencari ponsel milik pemuda itu.
"Tidaak! Tidak usah, Zike!" Alexi menjadi panik atas niat gadis itu, dengan cepat Alexi menyambar tangan Zike dan memegangnya erat-erat.
"Ale, tanganmu dingin sekali!" pekik Zike dengan wajah panik. Serta merta gadis itu meraih selimut dan segera menutupi tubuh Alexi.
"Ale, aku harus bagaimana untuk menolongmu?" Zike bertanya seraya menggenggam kedua tangan Alexi. Gadis cantik itu menggosok-gosokan telapak tangannya pada tangan Alexi. Kecemasan yang tersirat di wajah cantik gadis itu, membuat Alexi terharu dengan kebahagiaan yang terselip di hatinya.
"Zike, terima kasih atas perhatianmu," bisik Alexi sambil tersenyum.
"Tak masalah, selama kau baik-baik saja. Aku sudah senang," sahut Zike masih menggenggan tangan berkulit putih, bersih dan lembut milik pria yang sudah merajai hatinya.
__ADS_1
Alexi membiarkan tangannya digenggam dan digosok-gosok oleh Zike. Tak ada penolakan seperti yang biasa dia lakukan kepada gadis-gadis lain. Pemuda itu bahkan berharap Zike tak akan melepaskan genggamannya.
"Alangkah manisnya! Kau terlihat lucu sekali," bisik Alexi dalam hati sembari menikmati kecantikan Zike masih terlihat begitu mencemaskannya.
Setelah beberapa saat lamanya saling terdiam, Alexi mencoba memberanikan diri untuk bertanya tentang status dan kejelasan gadis di hadapannya. Pria muda itu merasa akan lebih baik jika mendengar secara langsung pengakuan dan kejujuran Zike, meski mungkin akan sangat menyakitkan baginya.
"Zike ... apa tadi itu pacarmu?" tanya Alexi setelah dia menguasai perasaannya. Apa pun jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Dia sudah menyiapkan hatinya untuk kecewa.
"Bukan, aku tak punya pacar," jawab Zike seketika membuat Alexi merasa luar biasa lega.
"Benarkah? Tapi, tadi kulihat kau sangat senang. Jadi, aku pikir itu pacarmu." Alexi berkata sambil menatap mata gadis cantik itu.
"Bukankah aku juga senang saat bicara denganmu? Apakah itu berarti kau pacarku? Aneh sekali!" Zike bersungut-sungut dan segera melepaskan genggamannya karena tangan Alexi sudah terasa hangat.
"Oh, kau benar dan akulah yang bodoh," ujar Alexi yang hampir lupa pada sifat supel gadis itu.
"Bodoh? Apanya yang bodoh?" tanya Zike dengan nada merasa aneh.
"Ya, aku memang bodoh! Aku selalu saja mengira siapa pun pria yang bersamamu itu adalah pacarmu." Alexi berkata dengan wajah memerah.
Zike tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal hingga tubuhnya berguncang. Alexi mengernyitkan kedua alis matanya yang hitam legam hingga bagaikan hendak bertautan. Secara perlahan, pemuda tampan itu bangkit dan duduk bersandar pada dinding.
"Kau ini lucu dan aneh, Alexiii," ujar Zike sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berair. "Mengapa kau tanyakan hal itu?"
"Itu ... itu-itu karena ... Zike, aku menyukaimu!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Alexi yang berwarna pink lembut. Mendengar ucapan Alexi yang begitu mengejutkan, seketika Zike menghentikan tawanya. Gadis itu menoleh dengan mata membulat dan mengira dia baru saja salah dengar.
"Zike, apakah kau marah, kalau aku bilang menyukaimu?" bertanya Alexi. "Zike! Apa kau membenciku sekarang?"
Zike masih terpaku karena masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. dalam hati Zike menjerit, "Mimpikah ini?"
"Zike, kau tak perlu menjawabnya! Aku juga tidak akan bertanya tentang perasaanmu padaku. Aku ... aku hanya mengutarakan perasaan yang sejak awal telah ada di hatiku," ucap Alexi dengan suara lirih. "Aku menyukaimu dan selalu merindukanmu. Bahkan, aku merasa kalau aku telah mencintaimu," kata Alexi seraya menundukan wajahnya semakin dalam.
"Aleee!" Zike masih tak percaya.
"Zike, maafkan aku!" Rasa malu melanda Alexi, justru setelah dia menyatakan perasaan cinta kepada gadis manis yang sudah sejak awal merampas hatinya.
"Ale, Meilia menyukaimu. Kalau pun aku juga menyukaimu. Aku bahkan tidak berani untuk menerima cintamu," ucap Zike lirih.
"Meilia lagi!"
"Aku sudah bilang kalau aku tidak menyukainya, gadis yang aku sukai adalah kau Zike! Entah kau suka kepadaku atau tidak. Aku tak peduli!" Alexi merasa bosan sekali mendengar nama Meilia disebut-sebut.
"Ale, maafkan aku ...." Zike berucap lirih.
Alexi memberanikan diri untuk duduk lebih dekat dengan gadis pujaannya. Tangannya membelai rambut panjang Zike yang lembut berkilau. Zike tiba-tiba merasa tak menentu, dadanya terasa berdebaran lebih cepat dari biasanya, tubuhnya terasa gemetar dengan tangan dan kaki yang terasa sedingin es.
"Aahh! Apakah aku terkena virus? Bukankah tadi Alexi juga seperti ini?" tanya Zike dalam hati. "Virus apakah ini?"
__ADS_1
"Zike ... ich liebe dich," ucap Alexi sangat lembut.
...Bersambung...