Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MENANGKAP PENCURI 3


__ADS_3

"Ada apa ini? Bukankah aku menyuruh kalian untuk mencari hewan milik Master Liu?" Mei Lan bertanya dari arah belakan kerumunan. "Mengapa kalian semua malah berkumpul di sini dan bersenang-senang?"


Orang-orang segera menghentikan tawa mereka dan segera membalikkan badan secara serentak. "Nyonya!"


"Maaf, Nyonya! Kami semua memang sedang mencari binatang peliharaan Master Liu dan belum juga kami temukan." Pelayan pria bertubuh gempal berkata sambil membungkukan badan.


"Lalu mengapa kalian semua malah berkumpul di sini, kalau memang hewan itu belum kalian temukan?" Mei Lan merasa heran sekaligus kesal kepada para pekerjanya.


"Karena kami baru saja menangkap seorang pencuri!"


Pelayan berbadan kurus segera maju selangkah di hadapan sang nyonya seraya memberi hormat. "Maaf, Nyonya! Itu karena kami baru saja memergoki seorang pencuri yang sedang menyambangi dan menyatroni kediaman ini."


"Pencuri?" tanya Mei Lan sambil berpikir.


"Benar, Nyonya!" sahut pria berbadan gempal.


"Kalian menangkap seorang pencuri. lalu mana orangnya?" Mei Lan merasa sangat penasaran dengan ucapan para pelayannya.


"Itu dia orangnya, Nyonya!" Pria berkumis meminta kawan-kawannya menyibakan diri agar Mei Lan melihat orang yang mereka tuduh sebagai pencuri. "Minggir kalian!"


Orang-orang segera menyingkir dan menampakan Jessey Liu yang masih berdiri di tempatnya bersama dengan Suri. Mata wanita itu seketika melebar dan terpekik, "Master!"


Para pelayan pria seketika merasa sangat terkejut dan ikut terpekik, "Master?"


"Minggir kalian semua!" Mei Lan bergegas menghampiri Jessey Liu yang menatapnya dengan sorot mata tajam. Tentu saja MeI Lan memiliki ketakutan dalam hati saat mendapatkan pandangan yang memendam sebuah ancaman baginya.


"Master! Apa yang sudah mereka lakukan padamu?" Mei Lan terlihat sangat khawatir kepada orang yang menjadi atasan suaminya.


"Bukankah kamu sudah dengar sendiri, apa yang mereka sebutkan untukku?" Jessey Liu balik bertanya.


"Pencuri?" Mei Lan mengernyitkan dahi hingga beberapa garis kerutan tampak di sana, lalu dia menepuknya dengan perasaan yang tidak menentu. Wanita itu pun segera berbalik dan menatap orang-orangnya satu-persatu dengan wajah marah.


"Kalian semua! Segera berkumpul di aula utama!" Mei Lan memerintahkan dengan nada membentak sambil berkacak pinggang dan mata melotot kepada para pelayannya.


"Tapi, Nyonya! Ada apa?" Pria kuris berkumis tipis bertanya dengan sangat heran.

__ADS_1


"Jangan banyak bertanya. Cepat kalian semua yang terlibat kejadian hari ini segera ikuti perintahku!" Mei Lan menjadi semakin geram. "Apa lagi yang kalian tunggu?"


"Baik, Nyonya!" Para pelayan menyahut secara serentak dan segera mengikuti perintah majikannya dengan penuh pertanyaan.


Pria kurus bertanya pada kawannya. "Ada apa ini? Mengapa nyonya kita jadi semarah itu?"


"Entahlah. Aku mana tahu?" sahut yang ditanya.


"Apakah jangan-jangan orang itu benar-benar Master Liu?" bertanya pelayan jangkung sambil sesekali menoleh ke arah Mei Lan yang sekarang tampak tengah berbicara dengan Jessey Liu. 


"Kalau iya bagaimana?" bertanya kawan yang lain dengan perasaan cemas. "Bisa gawat kita semua!" 


"Iya juga, ya? Bisa-bisa kita semua kena hukuman." 


"Tapi, bagaimana mungkin kalau dia adalah Master Liu? Bukankah menurut kabar dia adalah orang yang menyeramkan?" Pelayan pria berbadan gempal tak habis pikir dan mulai dijalari oleh perasaan cemas. "Matilah kita semuaaaa!"


Sementara itu, Mei Lan berhadapan dengan Jessey Liu yang masih tak menunjukan ekspresi apa pun. Suri sedikit menyingkir ke belakang saat dua orang tersebut berhadapan. Mei Lan terlihat khawatir dan merasa bersalah atas tindakan para pelayannya yang telah asal menuduh tanpa mencari tahu hal yang sesungguhnya terjadi. 


"Master. Maafkan atas kelalaianku karena tak bisa medisiplinkan mereka! Aku akan mengurus mereka semua nanti." Mei Lan berucap dengan kepala tertunduk. "Tapi, mengapa bisa ada kejadian semacam itu?" 


Jessey Liu mengaggukan kepala sebagai rasa hormat sekaligus berpamitan pada Mei Lan, kemudian pria dingin itu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Mei Lan hanya bisa menarik napas panjang hingga beberapa kali dan melangkah pergi menuju ke aula utama. Suri sendiri mendapat perintah untuk mengikuti Jessey Liu yang sedang terlihat tidak baik-baik saja.


"Tolong kamu awasi dia! Barangkali Master membutuhkan sesuatu nantinya. Ingatlah, kamu jangan terlalu banyak bicara atau bertanya pada Master Liu. Jika dia ingin kamu pergi ataupun tetap tinggal, maka turuti saja." Mai Lan berpesan pada Suri. 


"Baiklah, Nyonya! Saya akan mengikutinya." Suri berpamitan dan mengikuti Jessey Liu tengah bergegas untuk kembali ke kamarnya tanpa menghiraukan apa pun lagi. Wajahnya terlihat sedikit muram, meski tetap tidak mengurangi ketampanannya.


Tak seberapa lama dia berjalan. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggilnya. Pria itu berhenti tanpa menoleh sama sekali ke sumber suara tersebut. "Masteeeer!"


Sikap orang yang dipanggil oleh pelayan gendut kali ini sudah menjadi sangat jauh dari sebelumnya. Jessey Liu kemudian kembali melangkah setelah pelayan gendut tak jauh dariya.


"Master Liuuu!" Pelayan gendut yang merasa dirinya Cinderella berseru dengan wajah cemas. "Saya mencari Master ke mana-mana tadi!"


"Oh." Jessey Liu hanya menyahut dengan dua huruf saja sembari terus melangkah dan tidak memedulikan pada orang yang masih terus mengejarnya.


"Master tidak apa-apa, kan?" Gadis gendut bertanya.

__ADS_1


"Tidak." Hanya satu kata yang keluar dari bibir Jessey Liu.


Pelayan gendut merasa aneh dengan sikap Jessey Liu yang menjadi sangat berbeda. "Lalu, apakah anak harimau milik Master ...."


"Sudah ditemukan. Sekarang kamu kembalilah dan terima kasih!" Jessey Liu tidak memerlukan sahutan dari gadis pelayan gendut yang masih ingin terus mengikutinya. Pria itu dengan lebih cepat berjalan menuju ke kamarnya.


"Hallo, Chriss!" Jessey Liu menghubungi Chriss melalui ponselnya. "Jangan dicari lagi. Kau kembalilah segera!"


Sementara itu ....


Ye Kai telah berada di depan pintu paviliun dan segera melakukan pengetukan secara perlahan. Zike yang masih asyik bermain dengan harimau kecil menjadi terkejut. Dia segera mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan anak bulu tersebut.


"Ada yang datang!" Zike dengan cepat meraih bayi harimau untuk dipeluknya. "Tygra, kamu harus sembunyi! Aku tidak ingin ada yang jadi ketakutan saat melihatmu!"


"Bagaimana ini?" Zike menengok ke sana dan ke mari guna mencari tempat persembunyian untuk harimaunya. Ketukan pintu kembali terdengar dan kali ini jelas lebih keras dari sebelumnya. Gadis itu pun semakin merasa bingung. "Di mana aku harus sembunyikan dia?"


Zike akhirnya hanya bisa menyembunyikan hewan itu di dalam kamar mandi. "Sstt, jangan bersuara ya?"


"Semoga dia aman di sana." Zike segera menutup pintu kamar mandi dan bergegas pergi ke pintu lainnya, di mana seseorang masih menunggu gadis itu membukakan pintu.


Pintu utama paviliun terbuka dan menampakan Ye Kai yang menunggu Zike sembari melihat-lihat bunga anggrek bulan. Pria itu tampak tengah meneliti tiap tangkai bunga hanya untuk menghilangkan kebosanannya.


"Shifu!" Zike cukup terkejut saat mengetahui siapa yang datang kali ini.


"Mengapa lama sekali?" Ye Kai bertanya tanpa mengubah posisinya yang sedang membelakangi sang murid.


Zike segera membungkukan badan. "Shifu, maafkan murid yang membuat Shifu menunggu terlalu lama!"


"Hmm. Apa yang sedang kamu lakukan di dalam sana?" bertanya Ye Kai sambil menyentuhi setiap kelopak anggrek bulan yang cantik.


"Eeehh ... aku-aku ... aku baru saja dari kamar mandi, Shifu." Zike menjawab dengan sedikit gugup dan bingung.


Ye Kai membalikan badannya dan berkata, "Cepat ambil dia ke mari!"


"A-ambil?" Zike menjadi gugup. "A-mbil si-siapa?"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2