Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MAPLE BERDARAH


__ADS_3

Alexi Nata Praja beralih menatap lukisan kesayangannya dan tiba-tiba saja menjerit, "Abraham! Bagaimana bisa lukisan ini berdarah?"


"Lukisan Berdarah! Lukisan ini berdarah!" Alexi menjerit histeris saat menyadari lukisan kesayangannya telah ternoda oleh darah yang belum dia sadar dari mana asalnya. "Abrahaaaam! Dari mana datangnya darah ini?"


"Tuan Muda tenanglah! Noda darah itu bisa diatasi nanti. Sekarang yang terpenting adalah mengobati luka Tuan Mudaaa!" Abraham memegangi tangan Alei yang terluka


"Luka? Jadi darah ini dari lukaku?" Alexi Nata Praja memandangi luka dan lukisannya secara bergantian. "Darah ini telah menodainya! Maafkan aku ... maafkan aku!"


"Apa maksud Anda, Tuan Muda?" Abraham sungguh tidak mengerti dengan sikap Alexi yang sangat membingungkannya. "Mungkin Anda terluka akibat tanpa sengaja tergores serpihan kaca dari bingkai itu, Tuan Muda!"


"Mungkin saja, Abraham. Dan darah ini membuat lukisannya rusak." Alexi berucap seraya merentangkan lukisan kesayangannya. "Abrahaaaam, apa yang telah aku lakukan sampai-sampai benda paling berhargaku ini rusaaaaak?"


"Sebentar saya akan mengambil kotak obat." Abraham hendak beranjak dari sisi tuan mudanya, tiba-tiba tangannya telah disambar oleh Alexi. "Tuan Muda, ada apa lagi? Luka Anda harus segera diobati, bukan?"


Alexi menatap Abraham dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. "Abraham, bagaimana dengan lukisanku ini? Dia sudah rusak dan ternoda oleh darahku."


Abraham menghentikan niatnya dan berbalik menatap Alexi. "Tuan Mudaku, seberapa penting lukisan itu jika dibandingkan dengan kesehatanmu? Lihatlah! Darah Anda masih mengalir dan Tuan Muda, apakah tidak merasa sakit ataupun cemas sama sekali?"


"Lukisan ini lebih penting, Abrahaaaam!" Alexi terlihat sangat marah kali ini. "Aku sudah tidak merasakan apa pun dengan luka gores sekecil ini dan bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan seratus kali hukuman cambuk dari ayahku!"


Mata Alexi seketika bagaikan menyala akibat kemarahan yang meluap. Wajah pria muda itu merah padam, saat teringat berbagai macam siksaan dari ayahnya. "Melihat lukisan ini rusak, hatiku terasa lebih sakit jika dibandingkan terkena hukuman cambuk lalu berendam di dalam kolam beracun sebelum luka-lukaku mengering seperti tahun lalu!"


"Maaf, Tuan Muda!" Abraham seketika belutut dan merasa bersalah, karena telah menjadi penyebab bangkitnya kenangan buruk Alexi di masa lalu. "Bukan maksudku untuk menyinggung tentang masa pahit itu. Abraham ini hanya tidak ingin Tuan Muda terluka sekecil apa pun goresan itu."


Alexi berusaha meredakan amarahnya dengan menarik napas hingga beberapa kali, wajahnya yang semula merah padam pun berangsur kembali berubah ke warna semula. Pemuda itu kemudian memanggil asisten pribadinya dengan suara lemah.


"Abraham ...."


"Ya, Tuan Muda." Abraham sudah bisa merasa lega sekarang. "Apa yang harus saya lakukan?"


"Obatilah lukaku ini!" ujar Alexi sambil memandangi luka gores memanjang pada telapak tangannya. "Ini hanya luka kecil tak berarti, tapi aku tidak ingin menimbulkan masalah lain di kediaman ini. Bagaimana kalau kakek dan nenek menjadi panik karena hal sepele ini?"

__ADS_1


"Anda benar, Tuan Muda. Tuan dan nyonya besar akan sangat cemas nantinya."


Alexi mendesahkan napasnya yang terasa sefukit tidak nyaman. "Aku hanya tidak ingin kakek dan nenek melihatnya dan menjadi cemas."


"Baiklah, Tuan Muda. Anda tunggulah sebentar!" Abraham bangkit, dia membungkukan sedikit badannya serta segera beranjak pergi untuk mengambil peralatan medis. Meskipun dia hanya seorang asisten untuk tuan mudanya, tetapi Abraham juga memiliki ketrampilan pengobatan yang cukup bagus. Hal itu karena dirinya telah menjalani berbagai macam pelatihan di Sekte Sanca Perak.


Setelah kepergian Abraham, beberapa orang pelayan datang untuk membersihkan kamar Alexi yang kacau oleh bingkai lukisan kesayangan tuan mudanya. Terdengar beberapa kali suara ketukan pintu dari luar kamar. Suara seorang pria pun segera terdengar.


"Permisi, Tuan Muda! Kami datang karena diperintahkan oleh tuan Abraham untuk membersihkan kamar Tuan Muda!" Salah seorang pelayan pria berseru.


"Masuklah, buka saja pintunya!" sahut Alexi dengan nada malas.


"Baiklah, Tuan Muda!"


Dua orang pelayan pria datang sambil membawa peralatan kebersihan. Mereka terkejut saat melihat banyak darah yang berceceran di lantai. Salah seorang pelayan menoleh ke arah tuan mudanya yang sekarang beralih duduk di dekat jendela kamar sambil menggelar lukisan daun maple di atas meja.


"Tuan Muda, ini darah siapa?" bertanya pelayan bertubuh kurus dengan perasaan cemas.


"Oooh! Baik, Tuan Muda!" Pelayan itu melanjutkan pekerjaannya tanpa banyak bertanya lagi. Mereka memang sudah sangat hafal pada sikap tuan mudanya yang tidak begitu suka jik ada orang lain yang ingin mencari tahu tentangnya.


"Oh ya, jangan kalian ributkan tentang hal ini pada kakek dan nenek. Kalau mereka sampai mendengar dan mereka menjadi terkejut lalu jatuh sakit, maka kalianlah yang akan kuhukum seberat-beratnya!" Alexi sengaja mengancam dua pelayan pria yang pastinya hanya akan menurut saja karena takut. Cucu lelaki kesayangan Ki Surya Praja ini memang merasa khawatir, jikalau luka itu akan membuat cemas kakek dan neneknya.


Alexi merasa sedikit pening akibat pikirannya yang kacau dan masih tertuju pada Zike. Pria itu berpindah tempat ke atas pembaringan sambil menutup lukanya dengan sehelai handuk.


"Ada apakah dengannya?" Alexi bertanya dalam hati. Dia masih saja gelisah kala teringat gadis yang tak bisa hilang dari ingatannya. Perasaan khawatir begitu kuat mencengkeram dalam hati bagai tak memberikan sedikit saja celah untuk berhenti sejenak dari memikirkannya. "Semoga dia baik-baik saja dan tidak ada hal yang buruk terjadi padanya.


Tak seberapa lama kemudian, pria muda itu datang bersama Segara dengan membawa peralatan medis. Demi melihat tangan tuan mudanya berlumuran darah, Segara hampir saja menjerit dan segera menghampiri Alexi. Untung saja, Abraham telah memberitahukan sebelumnya tentang rusaknya bingkai lukisan milik Alexi.


"Tuan Mudaaa! Anda terluka begini paraaah?" Segara tidak bisa untuk tidak panik dan segera meraih tangan kanan tuan mudanya. Hatinya terasa sakit saat melihat luka yang cukup dalam pada telapak tangan Alexi. "Tuan Muda, bagaimana bisa ini terjadi?"


Alexi hanya tersenyum dan berkata, "Ini cuma luka kecil dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penyiksaan dari ayahku."

__ADS_1


"Meski demikian, aku tetap merasa sangat khawatir. Tuan Muda!"


"Segara, bisakah kau berpindah tempat? Biar kutangani dulu luka tuan muda." Abraham meminta Segara untuk berpindah tempat.


"Silakan, Abraham!" Segara akhirnya menyingkir dari hadapan tuan mudanya.


"Hanya sebuah goresan kecil saja, sudah membuat kalian sepanik ini." Alexi berkata sembari mengulurkan tangannya yang terluka. "Bagaimana kalau kalian menyaksikan sendiri saat aku mendapatkan hukuman demi hukuman dari ayah?"


"Tentu saja kami akan memohon, agar hukuman itu jatuh kepada kami untuk mewakili Anda!" Segara langsung menyahut.


"Kalian mungkin bersedia, tapi apakah kau pikir aku juga akan membiarkan hal semacam itu terjadi pada kalian?" Alexi tentu saja mengetahui akan kesetiaan dua orang ini.


"Saat itu aku bahkan merasa kalau hari itu adalah hari terakhirku hidup di dunia ini. Mungkin ayah menyebutnya ujian sebagai calon ketus sekte. Tapi aku menganggapnya itu hanyalah hukuman!"


"Sudahlah, terlalu menyakitkan saat mengingatnya." Alexi meringis menahan sakit saat Abraham membersihkan lukanya.


"Tahanlah sedikit, Tuan Muda. Setelah ini saya akan menjahit lukanya." Abraham berucap sembari terus melakukan pekerjaannya.


"Hati-hati, Abraham!" Segara memang orang yang paling tidak suka melihat Alexi menderita.


"Tentu saja." Abraham menyahut dengan nada tenang. "Apa kamu pikir aku suka melihat tuan muda menderita?"


"Sudahlah, jangan berdebat lagi!" Alexi kembali merasa pening mendengar semuanya. "Segara, kau carilah cara untuk membersihkan noda-noda darah pada lukisan itu!"'


"Baiklah, saya akan mencari cara agar lukisan ini kembali menjadi bersih kembali seperti semula." Segara pastinya harus berpikir mencari cara agar cat air tidak memudar akibat proses pencucian.


Segara kemudian berjalan mendekat ke arah lukisan daun maple dan memperhatikan secara saksama gambar daun-daun yang berserakan dengan noda darah yang menghiasinya. Pria itu melihat keunikan yang justru membuat lukisan itu terlihat sangat menarik baginya.


Segara mulai memikirkan sesuatu tentang lukisan hasil karya Zike. "Hmm ... maple berdarah."


"Maple berdarah?"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2