Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
RINDU DENDAM


__ADS_3

Segara sangat merasa heran, saat melihat kawannya seperti tengah bersiap-siap hendak pergi lagi. Pemuda itu memperhatikan sang teman secara saksama. Jelas sekali pada sorot mata dan raut wajah Danny Hendrat memancarkan kegelisahan yang teramat sangat.


"Ada apa, Danny?" Segara bertanya seraya meletakkan dua cangkir kopi panas. "Kenapa kamu seperti mau pergi lagi?"


"Roy baru saja mengirimkan pesan dan mengatakan kalau nona di sini da ada insiden dengan salah seorang anak buahnya. Bagaimana aku bisa tenang?" Danny Hendrat balik bertanya sembari menghampiri tempat penggantugan pakaian. Pria itu menyambar dengan cepat dan memakai kembali jaket hitamnya.


Segara tak tampak terkejut atas apa yang dikatakan oleh Danny Hendrat. "Ooh, Nona Alexa."


"Ya! Siapa lagi memangnya yang bisa memaksa dan mengejarku sepanjang waktu?" bertanya Danny Hendrat sambil menyambar ponselnya. "Aku akan menjemputnya!"


"Tidak perlu." Segara berkata sambil duduk dengan santai dan mulai membuka kantong plastik yang dibawanya. Pria muda itu menata sajian makanan dan minuman yang dibawanya dengan hati-hati. "Duduk dan minum saja kopimu!"


"Minum kopi katamu?" Danny Hendrat menoleh dengan cepat ke arah Segara dan bertanya, "Bagaimana dengan nona?"


"Dia sudah aman sekarang." Segara lagi-lagi terlihat begitu santai. "Mungkin juga sekarang nona sudah sampai di kamar tuan muda."


Mendengar perkataan sang kawan, Danny Hendrat merasa lega pada akhirnya. "Sudah sampai?"


"Oh, baguslah!" Sekarang dia tidak perlu repot-repot lagi untuk mengurusi kedua orang yang harus dia jaga sepanjang waktu.


"Apakah tadi Tuan muda belum tidur?" Danny Hendrat bertanya seraya membuka kembali jaket hitam dan menggantungkan benda itu kembali ke tempat semula, lalu ia menjatuhkan pantatnya di atas sofa empuk bersampingan dengan Segara. Pria itu tanpa ragu segera menyambar gelas yang masih menguapkan asap putih tipis beraroma harum kopi arabica hitam.


"Belum." Segara menyahut setelah menyeruput kopi panas segar miliknya. "Sekarang dia jadi tidak bisa tidur tanpa suara seseorang yang menidurkannya."

__ADS_1


"Ooohh?" Danny Hendrat bukan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Segara. Dia hanya merasa heran saja, mengapa tuan mudanya bisa seberubah itu akhir-akhir ini. Namun, justru hal itulah yang membuat dia merasa lega. "Akhirnya dia bisa merasakan juga, bagaimana menyukai seorang wanita."


"Mmhh, kamu benar. Semenjak kembali dari pelariannya beberapa bulan yang lalu, tuan muda menjadi banyak berubah. Tapi, aku merasa itu juga bukan hal yag baik untuknya." Segara berniat untuk menyampaikan isi hatinya. "Aku justru menjadi semakin mengkhawatirkan keadaannya, Danny."


"Itu karena Tuan Nata terlalu ketat dan keras padanya, bukan?" bertanya Danny Hendrat sembari membuka sebungkus cheese ball snack.


Segara meluruskan kakinya dan duduk bersandar sembari menyalakan layar televisi dengan sebuah remote kontrol. "Ya. Itulah yang aku pikirkan."


"Bukankah akan sangat berbahaya bagi tuan muda da kekasihnya, kalau Tuan Nata mencium hubungan mereka," ujar Segara sambil masih asyik mencari-cari channel yang biasa dia tonton.


"Kamu tenang saja! Masalah istri untk Tuan Muda Alexi ... bukankah dia bisa memiliki lebih dari satu istri?" tanya Danny Hendrat sambil tersenyum. "Yang satu istri pilihan orang tuanya, sedangkan yang lain adalah istri pilihan hatinya. Eh! Menurutmu ... apakah tuan muda kita akan sanggup melakukannya?"


"Melakukan apa?" Segara melotot ke arah Danny Hendrat yang dia kenal sebagai penggemar wanita. "Melakukan bersama-sama biar adil, begitu?"


"Tentu saja melakukan pernikahan mereka! Apa kamu pikir tuan muda akan dengan mudah menerima orang yang tidak dia sukai?" tanya Danny Hendrat lagi. "Aku juga khawatir kalau nanti tuan muda benar-benar akan menentang ayahnya dan berhadapan sebagai musuh hanya karena hal itu."


"Kamu benar, Danny. Itu juga yang selalu aku pikirkan." Segara kembali mendesahkan napas panjang saat mengingat bagaimana kedua pria yang menjadi atasannya itu selalu berlawanan dan tidak pernah akur sama sekali.


Pemuda yang menjadi pendamping Alexi semenjak mereka masih sama-sama bersekolah ini memang sudah tahu banya tentang penderitaan sang tuan muda. Dia jugalah yang kerap menyaksikan dengan kedua matanya, saat Alexi mendapat hukuman dari ayahnya jika diketahui berbuat kesalahan besar maupun kecil.


Sosok Nata Praja sendiri sungguh menakutkan bagi para anak didiknya. Pria itu tidak akan segan-segan memberikan hukuman berat kepada siapa saja yang melanggar aturannya, termasuk anak-anaknya sendiri. Hal itu sungguh sangat jauh berbeda dengan sifat Ki Surya Praja yang lebih penyabar dan sangat mengasihi para anak didiknya.


Hal itu jugalah yang membuat Alexi lebih memilih untuk tinggal bersama kakek dan neneknya, daripada bersama kedua orang tuanya. Karena meski sang ibu juga sangat menyayanginya, akan tetapi dia hanyalah wanita lemah yang tidak memilki daya dan kekuasaan di tempat tinggalnya.

__ADS_1


Jika mengingat semua hal itu, maka orang-orang yang dekat dengan Alexi pun akan lebih memilih tetap bersama sang tuan muda walau apa pun yang menjadi kendalanya. Segara kemudian berseru dengan mantap. "Dan jika hari itu ada, maka aku akan tetap di sisi tuan muda!"


"Aku juga!" seru Danny Hendrat tanpa ragu sama sekali. "Seperti halnya kamu dan Abraham. Aku juga telah memutuskan untuk bersamanya sampai dia berhasil dan bahkan sampai napas ini masih ada dalam ragaku!"


"Sepakat!" seru keduanya sambil saling bertatapan satu sama lain dengan keteguhan yang sudah mereka tetapkan dalam hati masing-masing. Mengikuti Alexi Nata Praja adalah pilihan mereka semenjak lama.


"Di antara kita tidak akan ada yang saling mengkhianati dan tidak akan saling menjatuhkan!" seru Segara sambil mengarahkan telapak tangannya kepada Danny Hendrat.


"Sepakat!" Danny Hendrat juga berseru dengan suara mantap dan tegas, lalu menjabat tangan Segara.


Danny Hendrat dan Segara saling berpandangan sekali lagi, lalu melepaskan genggamannya dan kembai menikmati acara santai mereka yang hampir saja rusak oleh kabar berita kedatangan Alexa. Mereka melanjutkan dengan saling bercerita dan mengatur rencana yang akan mereka lakukan dalam misinya mendampingi Alexi Nata Praja menangani kasus hilangnya ratusan keramba tiram mutiara milik sang majikan.


Di dalam ruang kamar hotel eksklusif tempat Alexi sedang beristirahat dengan berbaring saja di atas tempat tidur nan hangat. Pria muda itu masih menunggu pesan balasan atau panggian dari Zike yang sudah sejak tadi dia tunggu-tunggu. Namun sampai beberapa lama dia menanti, hanya kesia-siaan belaka yang didapatkannya.


"Semarah itukah dia padaku?" Alexi merasa sedih atas sikap Zike yang masih tidak mau menghubunginya. "Maafkan aku, Sayang! Aku tidak mengatakan apa pun padamu, itu karena aku tidak ingin kamu merasa sedih melihat keadaanku yang sesungguhnya."


Alexi merebahkan tubuh lelahnya dan ingin segera terlelap dalam mimpi tentang kekasihnya yang sangat dia rindukan. Sudah berapa bulan lamanya dia sama sekali belum pernah lagi menyentuhnya. Pemuda itu tersenyum dalam kesendirian saat membayangkan sebuah pertemuan yang manis dengan kekasihnya itu.


"Tunggu saja, Zike! Aku akan membalaskan rindu dendam ini sampai kamu tidak berdaya di hadapanku!" Alexi tertawa sendiri dan berucap dalam hati meski matanya terpejam dengan tangan kiri yang masih menggenggam ponselnya. "Pasti wajahnya akan memelas dengan sangat lucu dan makin menggemaskan!"


Angan-angan kian melambung tinggi selaras pikiran yang terus memikirkan gadis yang selalu bersemayam dalam hatinya. Semakin lama bayangan demi bayangan itu menimbulkan rasa kantuk yang membuatnya jatuh tertidur. Dia pun terlelap sangat dalam hingga tak menyadari sama sekali akan kedatangan seorang wanita yang memasuki kamar itu dan langsung membuka pakaian yang dikenakannya, lalu menghampiri Alexi, ikut berbaring di tempat tidur setelah mencium beberapa kali pipi pemuda itu.


"Aku rindu kamu," bisik gadis itu sambil menatap dalam-dalam wajah Alexi. "Jangan tinggalkan aku lagi!"

__ADS_1


...Bersambun...


__ADS_2