
"Mereka bahkan tidak memberikan kompensasi kepada Kita dan terutama kepada Anda, Tuan Muda?" Segara merasa tidak terima. Bagaimanapun juga, dua wanita tadi sudah mempermalukan Alexi dan seluruh anggota kelompoknya secara terang-terangan.
"Itu hal yang mudah, Segara. Tapi, apakah kamu pikir Alexi Nata Praja menyukai makanan dan tempat tinggal gratis?" Alexi bertanya sambil memainkan pisau makan, sedangkan mulutnya masih mengunyah makanannya.
"Tentu saja tidak!" Segara segera menjawab.
"Baguslah kalau kamu mengerti." Alexi merasa senang.
Segara balik bertanya, "Mengerti apa?"
"Danny, apa kau bisa jelaskan padanya sekarang?" tanya Alexi sambil memotong-motong siomay dengan geram.
"Berani mempermalukan Tuan Muda, itu sama artinya dia juga berani untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." Danny Hendrat berkata dengan nada tenang. "Mereka akan mengalami hal yang sangat sial kali ini."
Terlebih lagi, dua wanita sialan itu tidak mau meminta maaf secara pribadi. Sombong sekali mereka!" Segara adalah orang yang paling mudah merasa marah dan acap kali bertindak tergesa-gesa.
"Akulah yang akan memaksa mereka untuk meminta maaf pada tuan muda!" geram Segara dalam hati. "Apalagi dia mengatakan kami kaum pelangi!"
"Tinggal kita tunggu saja kabar tentang mereka besok." Danny Hendrat menyambung ucapannya.
"Maka, aku akan dengan senang hati menunggunya!" sahut Segara dengan penasaran.
"Baguslah." Alexi pun terlihat senang dengan apa yang dipikirkan dan direncanakan oleh Danny Hendrat.
Alexi dan rombongannya segera menyelesaikan santap malam yang diwarnai sedikit kekacauan oleh ulah Jean dan Merry. Lagi pula, Alexi tidak ingin terus menjadi pusat perhatian oleh banyak orang yang lalu lalang dan selalu mendaratkan pandangan mereka ke arahnya.
"Ternyata lebih tenang dan menyenangkan makan di tempat tertutup daripada di tempat umum seperti ini." Alexi menggerutu sembari berjalan menuju ke kamar khusus yang telah dipesan untuknya.
"Saya akan mengaturnya untuk Anda, jika Tuan Muda tidak ingin terulang lagi kejadian tadi," ujar Danny Hendrat sambil terus mengekori tuan mudanya.
"Baiklah!"
__ADS_1
Pada saat yang sama, dua rombongan mobil mewah lainnya berhenti secara bersamaan di pelataran parkiran hotel. Hal tersebut membuat area parkir menjadi semakin sempit dengan berjejalannya banyak kendaraan beroda empat yang baru saja tiba. Banyak orang yang menjadi cukup tercengang pada pemandangan malam hari ini yang tidak seperti pada hari-hari sebelumnya.
Hal tersebut juga membuat pihak pengelola hotel menjadi kebingungan. Cukupkah persediaan ruangan kosong untuk para pengunjung yang luar biasa kali ini?
Sekelompok orang yang juga berpakaian serba hitam terlihat turun dari dalam mobil-mobil mewah tersebut. Meskipun pakaian mereka dengan warna yang sama, akan tetapi corak dan modelnya pun berbeda.
"Jadi, kita putuskan untuk bermalam di sini?" tanya seorang pria berambut panjang dengan wajah yang tak kalah tampan dari Alexi Nata Praja. Dia menatap menyusuri bangunan hotel yang tidak semegah dan semewah miliknya.
"Hanya hotel ini saja yang bisa kita jadikan tempat bermalam di perbatasan ini, Gong Zi." Erick Martin menjawab sembari membuka kacamata hitamnya. "Walaupun tidak sebagus dan sebesar hotel kita, tetapi hanya ini yang bisa kita temui di wilayah perbatasan. Bagaimana, Gong Zi?"
Jessey Liu masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia seperti memikirkan sesuatu yang juga terpikir oleh Chriss dan juga Rubby.
"Dengan hotel sekecil ini, mungkinkah cukup untuk menampung kita semua?" bertanya Rubby dengan nada sangsi.
"Mana kita tahu kalau kita tidak mencobanya?" Erick Martin balik bertanya.
"Baiklah, kita pilih tempat ini!" Jessey Liu yang malam ini terlihat sangat gagah dengan jas panjang coklat kopi susu segera melangkahkan kaki hendak menuju lobby hotel tanpa ragu. "Mintalah semua orang untuk beristirahat. Mereka juga pasti lelah dan lapar."
Pada saat bersamaan, mereka mendengar bunyi kendaraan yang saling bertubrukan satu sama lain disusul teriakan histeris dan hiruk-pikuk menambah keributan. Kepanikan dan ketegangan pun seketika meliputi area parkiran yang tidak seberapa luas. Para satuan keamanan pun tampak berlarian menuju sumber suara benturan keras tersebut.
Rupanya, telah terjadi sebuah insiden pada salah satu mobil dari rombongan lain. Pertengkaran antar pria pun tak bisa dihindari lagi. Hal tersebut lagi-lagi mengundang perhatian banyak orang untuk menyaksikan kecelakaan yang menimpa dua mobil dari kelompok yang baru saja tiba.
"Ada apa di sana?" tanya Chriss sembari memperhatikan keramaian dari arah area parkir tak jauh dari keberadaan mereka saat ini.
"Cari tahu ada kejadian apa di sana!" Jessey Liu memberi perintah pada salah seorang pengawalnya.
"Baik, Gong Zi!" Sang pengawal segera bergegas menuju arah yang ditunjuk oleh Jessey Liu.
"Aku khawatir kalau-kalau orang-orang kita yang terlibat," ujar Jessey Liu dengan raut wajah sedikit cemas. "Daripada menunggu, bukankah lebih baik kita ke sana sekarang juga?"
Jessey Liu berkata sambil bergerak cepat berjalan ke arah keributan. Erick Martin dan Chriss mau tak mau segera mengikuti sang tuan. Langkah-langkah panjang para pria gagah itu pun menerobos masuk ke dala keramaian.
__ADS_1
"Lihatlah! Mobil ini tergores akibat dari kecerobohanmu!" bentak seorang pengawal dengan pakaian serba hitam dengan berapa corak warna merah pada pakaiannya. Di dada kiri pria itu juga terdapat logo seekor ular sanca berwarna keperakan. Sudah bisa dipastikan itu dari kelompok mana.
"Itu hanya tergores dan masih tidak seberapa kalau dibandingkan dengan kerusakan pada mobilku!" Pengawal dari pihak lain terlihat sangat marah. "Dasar kamunya saja yang asal main seruduk!"
"Enak saja ya, ngatain orang asal main seruduk? Bukannya kamu juga yang ndadakan bareng-barengin berhenti di sini?" Pengawal dari Sanca perak berkata sambil berkacak pinggang. "Ayo ganti rugi!"
"Ganti rugi?" sang lawan tak terima dengan tunttan ganti rugi yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Kerusakan pada mobilku ini bahkan lebih parah dari hanya goresan saja. Bagaimana bisa hal sekecil itu dibandingkan dengan kondisi pintu depan mobilnya yang penyok.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! Kamu ganti rugi atau kita selesaikan ini secara pria?" Pengawal Sanca Perak menyingsingkan lengan bajunya dan bersiap untuk melakukan perkelahian.
"Benar sekali! Kalau majikan kami tahu kalau mobilnya rusak, maka nyawa kami pun tidak bisa selamat!" teriak pengawal lainnya.
"Hei, bukankah kita punya masalah yah sama saja? Ini juga bukan mobil milikku pribadi!" sahut pengawal dari pihak Jessey Liu.
Pertengkaran terus berlangsung hingga menimbulkan baku hantam karena mereka tak juga menemukan titik penyelesaian yang jelas. Suasana benar-benar menjadi kacau dan sangat ramai. Hal itu membuat seorang gadis cantik dengan pakaian bak artis Korea merasa penasaran.
Gadis cantik itu turun dengan gemulai dari dalam mobilnya dan lngsung bertanya kepada salah seorang pengawal yang membukakan pintu mobil untuknya. "Ada apa ini?"
"Celaka, Nona!" seru pengawal tersebut dengan wajah panik.
"Ada kejadian apa di sana?" Gadis cantik merasa pengawalnya ini terlalu lama menjawab.
"Nona Alexa! Mobil kita berserempetan dengan mobil salah satu dari mereka!" Seorang pengawal melaporkan perihal kecelakaan yang menimpa salah satu mobil dari kelompoknya.
"Berserempetan?" Alexa merasa terkejut mendengar berita itu.
Sang pengawal menyahut, "Benar, Nona!"
"Kalau begitu, ayo kita lihat ke sana!"
...Bersambung...
__ADS_1