Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
SEMAKIN CANTIK


__ADS_3

"Kupikir kamu sakit betulan. Bikin cemas saja." Mendengar hal itu dari gadisnya, tentu saja membuat Alexi pun bagai tak bisa lagi membendung keinginannya. "Kalau begitu, bisakah kita video call saja? Aku juga kangeeeen banget sama kamu dan ingin melihatmu sekarang juga." 


"Video Call?" Zike bertanya sembari menoleh ke arah Suri yang masih asyik melakukan sesuatu di tempatnya saat ini.


"Bagaimana? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan kekasihmu ini?" tanya Alexi dengan sedikit curiga.


"A-aku ... ssstt!" Zike berbisik. Ada seseorang di sini.


"Siapa?" tanya Alexi dengan sangat penasaran.


"Dia ... dia adalah ...."


Zike mengarahkan kameranya pada Suri secara diam-diam. "Gadis cantik lainnya."


Alexi merasa lega sekarang dan bertanya, "Tidak masalah, kan? Ayolah, Sayaaang! Aku kangen kamuuu!"


"Baiklah!" Zike menyetujuinya. Tentu saja karena dia pun sudah sangat merindukan Alexi. Meskipun seharian mereka bertatap muka, akan tetapi keduanya tidak pernah merasa bosan sama sekali. 


Sekarang mereka beralih menggunakan panggilan video untuk berkomunikasi jarak jauh. Zike bisa melihat dengan jelas wajah Alexi yang selalu membuatnya merindukan pria muda yang lebih pantas disebut Kumbang Seindah Bunga. Zike tersenyum manis menyambut sang kekasih yang juga membalas senyumnya.


"Sayang, kamu semakin cantik." Alexi memuji Zike yang memang mulai sedikit berubah. "Aku jadi tambah kangen sama kamu."


Mendapat pujian seperti itu dari kekasihnya, wajah Zike pun menjadi bersemu merah. Tetapi dia adalah Zike yang tidak suka menunjukkan wajah terbawa perasaan. Gadis itu tetap berusaha tenang. Terlebih lagi, wajah Alexi juga tidak kalah cantik daripada seorang wanita. Walaupun tubuh Alexi cukup tinggi dan atletis, akan tetapi banyak orang yang terkadang salah menyangka pada pemuda itu.


"Terima kasiiih, tapi sepertinya kamu hanya ingin membuatku senang." sahut Zike yang sebenarnya ingin menjerit bahagia. Gadis itu berteriak dalam hati. "Dia memujiku! Ale sungguh memujiku, kan? Aatauuu ... dia hanya sedang membuatku senang dan merasa terhibur, tapi sebenarnya kata-katanya tidak benar?" 


"Zike!" Alexi memanggil Zike yang tampak melamun. "Zikeeee!" 


"Zain Kamilaaaaa!" Alexi terpaksa berteriak menyebut nama asli kekasihnya. 


"Eh, ya!" Zike terkejut saat Alexi memanggil nama aslinya. "Kok kamu tahu namaku?" 


"Tentu saja Alexi tahu," jawab Alexi dengan bangga. " Bagaimana? Kamu kaget, kaaan?" 


"Ya, aku kaget." Zike mencoba menebak dari mana Alexi mengetahui namanya. "Apa itu dari Meilia?" 

__ADS_1


"Bukan," jawab Alexi singkat.


"Dari Ah Liong pasti!" Kali ini tebakanya tidak mungkin meleset. "Benar, kan?" 


Alexi tiba-tiba memutar posisinya saat ini dan mengambil latar lukisan daun maple yang baru saja diperbaiki untuk dirinya sendiri berpose di depannya. "Dari ini!" 


Mata Zike melebar saat melihat lukisan hasil karyanya. "Lukisanku! Mengapa ada bersamamu?" 


"Aku membelinya." Alexi menjawab dengan bangga, lalu dia berbisik di dekat mikrofon ponselnya. "Aku bahkan berencana untuk membeli pembuatnya juga." 


"Apa?" Zike terkejut dan tidak paham dengan ucapan Alexi. "Membeliku?" 


"Ya. Pada orang tuamu tentu saja. Apakah kamu tidak ingin jadi istriku?" bertanya Alexi tanpa memedulikan bagaimana meronanya wajah Zike. 


"Ka-kamu!" Zike melengoskan wajahnya ke arah lain dan berpura-pura melihat ke arah Suri yang masih sibuk membereskan pakaian-pakaian milik Zike yang baru saja diangkat dari jemuran baju. Gadis itu berkata tanpa menatap Alexi. "Tidak semudah itu kalau kamu mau menjadikanku istrimu!" 


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Alexi yang menjadi merasa tertantang oleh ucapan kekasihnya. 


"Kamu ... kamu harus bisa mengalahkan aku terlebih dahulu," ujar Zike pada kekasihnya tanpa peduli bagaimana hasilnya kelak.


Bertanya Alexi dengan sangat penasaran. "Mengalahkanmu? Dalam hal apa?"


"Mengalahkan dia?" Alexi teringat pertemuan yang membuatnya babak belur karena ketidakmampuannya melawan Hardman.


"Baiklah! Aku akan mengalahkannya untukmu!" Alex menyanggupinya tanpa berpikir panjang.


"Jadi kamu setuju?"


"Ya. Demi mendapatkanmu!" Alexi terlihat bersemangat.


"Ih kamu ini!" Zike merasa sangat tersanjung tentu saja. "Itu baru yang pertama dan tentu saja masih ada yang lainnya."


"Masih ada lagi?" Alexi merasa heran dan penasaran hingga dia mengernyitkan alisnya. "Apa itu? Apakah aku juga harus mengalahkan ayahmu?"


"Bukan itu saja. Selain ayahku, kamu juga hraus bisa mengalahkan aku." Zike menantang kekasihnya ini. "Aku ingin kamu menjadi lebih kuat dan bisa melindungiku kelak."

__ADS_1


"Benar juga dia. Aku memang harus bisa menjadi lebih kuat agar bisa melindunginya kelak. Alexi berkata dalam hati. "Sekarang dia adalah murid Elang Emas. Jadi, suatu saat kami akan berhadapan sebagai lawan di ring pertandingan. Bukankah itu sesuai rencanaku?"


"Baiklah. Aku setuju!" seru Alexi dengan bersemangat. "Apa pun akan aku lakukan untukmu!"


"Jadi kamu setuju dengan semua syaratku?" Zike merasa heran dengan sikap Alexi yang seperti tidak keberatan sama sekali dengan syarat tersebut.


"Mengapa tidak? Menurutku itu sangat bagus dan menarik," ujar Alexi sambil melihat ke arah jam dinding. "Oh ya, aku ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu."


Zike merasa penasaran dan bertanya, "Apa itu?"


"Mmhhh ... selain aku kangen sama kamu. Aku juga ingin meminta doa darimu." Alexi memberanikan diri untuk berterus terang akan kepergiannya kali ini. "Aku ada masalah dengan bisnisku, jadi aku akan pergi dalam beberapa hari."


"Doa dariku?" Zike menjadi bersedih hati atas ucapan Alex. Gadis itu bertanya dengan nada lesu. "Jadi kamu akan pergi jauh?"


"Ya cukup jauh, tepatnya di seberang pulau. Mungkin aku tak bisa terlalu sering meneleponmu, karena di pulau itu sangat sulit sekali mendapat sinyal," jawab Alexi yang juga dengan nada tak kalah sedih. "Kamu tidak apa-apa, kan?" 


"Tapi, Aleeee! Bagaimana kalau aku kangen kamu?" Zike merasa keberatan dengan kepergian Alexi. "Tempat yang susah sinyal. Bukankah itu artinya kita akan kesusahan untuk terhubung?"


"Susah sinyal, tapi bukan tidak ada sama sekali. Mungkin aku bisa menghubungimu hanya bisa sekali-kali saja," jawab Alexi guna menenangkan hati kekasihnya, meskipun dia mengetahui secara pasti keadaan pulau terpencil tersebut.


"Baiklah, kalau begitu. Tapi ... bagaimana kalau nanti kamu lupa padaku? Bagaimana kalau nanti kamu bertemu cewek cantik?" tanya Zike sambil membayangkan kekasihny dikerubuti banyak wanita.


Mau tak mau Alexi tertawa terkekeh-kekeh. Betapa senang hatinya mendengar pertanyaan Zike yang jelas-jelas menyiratkan sebuah rasa kecemburuan yang nyata untuknya. Dia bahkan baru saja menyelesaikan pembalutan luka yang terlalu sulit dia kerjakan.


"Akhirnya selesai juga!" seru Alexi dalam hati dan merasa cukup senang atas hasil kerjanya. "Tapi, tetap saja tidak serapi jika Abraham yang melakukannya."


Zike justru menjadi kesal atas tingkah Alexi yang justru mentertawakannya, sedangkan dirinya tengah merasa bersedih hati. "Sayaaang! Kenapa malah mentertawakanku?"


"Kamu lucuuu," jawab Alexi masih dengan derai tawanya yang terdengar renyah penuh kesenangan. 


Suri yang mendengar percakapan tersebut hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Jelas sekali jikalau Zike dan Alexi sangat saling mencintai. Gadis berbadan gemuk itu berkata dalam hati. "Andai aku bisa menemukan pasanganku sendiri dan saling berbicara seperti mereka."


"Apanya yang lucu? Aku hanya sedang mengingatkanmu saja!" Zike berkata dengan kesal. "Apa aku salah, kalau aku mencemaskan keberadaanmu di sana? Aku sering melihat dan mendengar berita tentang perselingkuhan. Jadi wajarlah, kalau aku takut itu akan terjadi pada hubungan kita!


"Oohh, jadi sayangku ini sedang merasa cemburu?" Alexi bertanya di sela derai tawanya. "Baguslah. Aku suka itu."

__ADS_1


Zike semakin merengut. "Siapa bilang aku sedang cemburu?"


...Bersambung...


__ADS_2