Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PENYERGAPAN


__ADS_3

Heldevi masih sibuk dengan pikirannya sendiri, karena Chriss belum tampak ingin membuka suara perihal kejadian tersebut. Menunggu jawaban setelah pengawal pribadi Jessey Liu itu menjadi lebih tenang, mungkin adalah hal yang paling baik.


Chris akhirnya membuka suara dan memulai cerita tentang kejadian semalam. "Semalam, di dalam perjalanan pulang ...."


FB (Flash Back)


Awan membayangi bulan sepertiga purnama. Gelap dan terang akibat pergerakan benda-benda angkasa tersebut, membuat suasana syahdu, seram dan terkadang menimbulkan aura mistis yang berhasil meremangkan bulu kuduk makhluk bergelar manusia. Desir hawa iblis pun bergerak liar seperti ingin menguasai setiap jiwa hidup serta berhasrat membawa musuh ke alamnya untuk diperbudak.


Serombongan pengendara motor berarakan di tengah malam buta membelah kegelapan. Mereka melalui medan dengan rute berkelok, melingkar serta naik turun pada area perbukitan. Iring-iringan tersebut melaju di atas jalanan beraspal nan lengang dan sepi. Kesan angker begitu terasa, terlebih lagi gerumbul semak belukar serta pepohonan liar menghiasi tepian jalan hingga menimbulkan bayang-bayang menyeramkan serupa lambaian kelebat jubah hantu.


Rombongan itu tak begitu memedulikan suasana mistis yang sanggup mengoyak mental para pengelana. Mereka semua adalah orang-orang terlatih dan tak gentar hanya karena dengan mendengar sebuah rumor belaka. Justru bagi mereka, hal yang paling menakutkan adalah bahaya dari sesama manusia berhati dengki. Namun, serombongan orang berpakaian serba hitam tersebut tetap melesat menembus kepulan uap basah yang terkadang terlalu sulit dipecahkan oleh lampu penembus kabut.


Suara bising mesin enam buah motor besar itu, tiba-tiba diusik oleh bunyi lain yang terdengar berderuan dari arah belakang rombongan Jessey Liu. Mereka bisa menangkap dengan jelas, ada lebih dari tiga atau empat buah nyala lampu penembus kabut yang mengikuti rombongan tersebut. Perasaan tak enak pun mulai menghantui seluruh anggota rombongan Jessey Liu.


Sepertinya tak hanya mereka saja yang tengah melewati jalanan pada area perbukitan tersebut. Karena lampu-lampu di belakang rombongan Jessey Liu terus melaju bagai sengaja mendekat dan menyusul dengan kecepatan cukup tinggi. Kecurigaan pun semakin kuat dalam hati mereka. Rombongan Jessey Liu merasa sedang dimata-matai dan diikuti oleh sekelompok kawanan orang bermaksud kurang baik.


"Sepertinya mobil-mobil itu sedang mengikuti kita!" Seorang anak buah Jessey Liu berseru setelah menoleh untuk memperhatikan pergerakan para pengendara mobil di belakang rombongan mereka. Jarak antara mereka pun sudah semakin dekat tidak lebih dari sepenembakan senjata berapi.


"Benar sekali! Ini terlalu mencurigakaaan!" sahut chriss dengan teriakan pula.


Chriss yang membonceng pada salah satu kendaraan anak buahnya itu segera meminta sang pengendara untuk melaju beriringan dengan Jessey Liu. "Cepat mendekat ke sisi Gong Zi! Aku ingin bicara dengannya. Ada yang tak beres di belakang sana."


"Baik, Ketua!" Sang pengendara pun segera mematuhi perintah Chriss. Dia segera melesat melalui beberapa kendaraan kawannya. Secara diam-diam pula, Chriss meraba senjata yang tersembunyi di balik seragamnya.


"Gong Ziii! Ada yang mengikuti rombongan kitaaa!" Chriss harus berteriak karena suara bising mesin kendaraan terlalu memekakan telinga.


"Aku tahu, Chriss! Segera perintahkan yang lain untuk bersiap-siap. Aku khawatir ini adalah sebuah rencana penyergapan!" Jessey Liu pun menjawab sambil berteriak.


"Siap, Gong Zi!"


"Kalian semua! Segera siapkan senjata masing-masing untuk berjaga-jaga!" Chris memberi perintah melalui pesan suara kepada semua orang yang mengenakan headset wireless dalam helm mereka. Secara serentak pula, para anggota pasukan elit Sekte Elang Emas segera menyiapkan senjata masing-masing guna berjaga-jaga jikalau ada penyergapan yang tak mereka duga sebelumnya.


"Siapa mereka?" Jessey Liu bertanya dalam hati sambil melihat ke arah belakang melalui kaca spion. "Sepertinya ini memang sebuah rencana penyergapan yang sudah dirancang dengan baik oleh seseorang!"


"Kalian semua segera ikuti aku!" Jessey Liu memberi perintah kepada para anak buahnya melalui pesan suara dan kemudian, Jessey Liu pun mempercepat laju motornya hingga kendaraan itu melesat kencang menembus jalanan yang sebenarnya masih cukup asing bagi mereka.


Sembari terus melaju, ketua Sekte Elang Emas itu memberi arahan dan strategi guna balik menjebak lawan. Sepertinya, kali ini para penyergap bertemu dengan lawan yang harus mereka perhitungkan dan tidak bisa diremehkan begitu saja.

__ADS_1


Di dalam rombongan pengejar.


"Cepat susul merekaaa!" Seorang pria bertubuh kekar yang berdiri di atas jeep terbuka sambil mengarahkan senjata berupa busur pendek dengan panah ganda yang diarahkan ke arah rombongan buruannya.


Pengemudi mobil jeep dan para pengikutnya segera menambah kecepatan laju kendaraan mereka guna menyusul rombongan pengendara motor yang melesat secepat angin dan bagai menghilang begitu saja di sebuah tempat yang tentu saja sudah melenceng dari jalan beraspal.


Kejar-mengejar antara enam kendaraan roda dua dan empat buah mobil jeep terbuka pun terjadi. Tentu saja pergerakan motor lebiih unggul dalam hal menyelinap dan menikung. Terlebih lagi, para pengendara juga orang-orang yang sudah terlatiih dengan baik. Tanpa memerlukan arahan yang rinci pun, mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Siaaal! Mengapa jadi kita yang dipermainkan oleh mereka?" Sang pimpinan merasa kesal karena buruannya bak hilang di telan bumi. Pria bertubuh kekar dengan banyak tatto di tubuhnya itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tersebut hingga beberapa kali. "Kita kehilangan jejak! Padahal jarak kita tadi tidak terlalu jauh, kan?"


"Bos! Mereka menghilang di sini kan tadi?" bertanya salah seorang anak buah komplotan penyergap yang sudah bersiap menembakan senjata panahnya. Mereka memang lebih memilih menggunakan panah daripada senjata api, karena panah tidak menimbulkan suara letusan saat membidik.


Pimpinan kawanan melompat turun guna memeriksa sendiri keadaan tempat itu.


"Sepertinya memang mereka hilang di sekitar tempat ini. Tapi, kendaraannya pun tidak tampak sama sekali!" Salah seorang wanita berpakaian ketat berkata sembari melompat turun dari atas mobil jeep. Di tangannya menggenggam sumpit bambu berisikan jarum-jarum kecil sebagai pelurunya. Sebuah senjata rahasia yang sangat berbahaya tentu saja, terlebih lagi jika jarum-jarum tersebut dilapisi racun atau obat-obatan berbahaya lainnya.


"Tetaplah waspada. Siapa tahu kitalah yang bisa-bisa balik disergap oleh mereka!" ujar si wanita dengan suara datar dan tajam.


Tiba-tiba, wanita itu mendengar suara yang cukup mencurigakan. Dia pun segera membidikan beberapa buah anak panah ke suatu arah dengan harapan akan mengenai salah seorang dari yang sedang mereka buru. Sekitar sepuluh batang anak panah melesat menembus kegelapan hutan di sekitar mereka.


"Angie! Apa yang kamu lakukaaan?" Ketua kawanan penyergap merasa sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.


"Dasar kau ini! Apakah kau pikir Jessey Liu akan sebodoh itu dengan bersembunyi di sembarang tempat?" Ketua kawanan terlihat kesal. "Ingatlah! Dia bukanlah seseoang yang mudah dikalahkan."


"Baiklah, aku juga ingin lihat. Apakah dia dikabarkan sangat hebat itu, akan tahan dengan senjataku ini." Wanita yang disebut Angie menyeringai sinis dan licik di balik keremangan cahaya bulan. Bahkan hantu sungguhan pun, mungkin tidak akan selicik wanita ini. "Jessey Liu ... berani menolakku adalah hal yang sangat buruk bagimu!"


Sang ketua kawanan tidak memedulikan ocehan wanita licik ini. Prioritas utamanya adalah menangkap Jessey Liu hidup-hidup sesuai dengan perintah atasannya. Maka dia pun kembali meneliti keadaan sekelilingnya yang hanya terbantu oleh cahaya bulan saja. Karena jika menggunakan senter, itu sama saja dengan mengeskpos keberadaan mereka kepada musuh.


Suasana hening saat pencarian pun terpecah oleh suara salah seorang dari mereka yang melihat sebuah penampakan benda-benda aneh di kejauhan. Pria itu memperhatikan dengan keheranan pada cahaya-cahaya kuning terang terpancar dari tepi hutan.


"Ketua, lihat!" Salah seorang dari kawanan penyergap mengarahkan pandangannya ke arah lampu-lampu yang menyala di kejauhan. Dia pun segera memberitahukan kepada sang pimpinan. "Bukankah itu lampu-lampu kendaraan?"


"Benar sekali. Tapi mengapa mereka ada di sana?"


"Salah satu dari kalian. Coba kalian periksa!"


"Bagaimana kalau ternyata itu jebakan, Ketua?"

__ADS_1


"Kalaupun itu jebakan, kita tetap harus memeriksanya!" Ketua menjawab dengan tegas. "Kau! Cepat periksa!"


"Tapi, ketua!"


"Kalau masih membantah, maka kaulah yang akan aku binasakan!" Ketua kawanan mengarahkan busur yang telah siap dengan panahnya.


"Benar-benar tidak ada pilihan." Anak buah yang ditunjuk tadi mengeluh dalam hati. "Maju mengantarkan nyawa. Mundur juga binasa."


"Baik, Ketua!" Anak buah Ketua kawanan terpaksa menuruti perintah sang atasan demi keberhasilan misi mereka.


Tentu saja sang ketua tidak akan membiarkan begitu saja anak buahnya tersebut dalam bahaya. Dia pun segera memerintahkan anak buahnya yang lain untuk mengikuti kawan mereka. "Beberapa orang ikuti dan lindungi dia dari kejauhan!"


"Siap, Ketua!" Tiga orang pun segera mengikuti kawan mereka.


Mereka pun segera menuju ke arah di mana lampu-lampu itu berada dengan cara mengendap-endap dengan tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan. Keempat anggota kawanan itu bersembunyi di balik pepohonan dan batu besar untuk mengintai sinar-sinar aneh yang sesekali berkedipan. Mereka mulai mencurigai, jikalau benda-benda yang menyala tersebut bukanlah kendaraan yang sedang mereka buru.


"A-apa itu?" Salah seorang anggota kawanan penyergap bertanya dengan suara berbisik.


"Aku juga tidak tahu. Tapi, sepertinya itu benda-benda aneh." Kawannya menjawab.


"Mungkinkah itu kawanan Jessey Liu?"


"Entahlah. Ayo kita selidiki mereka!"


Keempatnya maju dengan sangat hati-hati agar tidak membuat keributan. Namun saat jarak mereka semakin dekat, para pria anggota kawanan penyergap merasa terkejut dengan penampakan sekawanan binatang dengan mata-mata yang menyala.


"Sepertinya bukan tubuh manusia ataupun lampu-lampu dari motor orang yang kita buru!" bisik salah seorang.


"Benar. Itu terlihat seperti ... tubuh binatang!"


Pria paling belakang terkejut dan menjadi ketakutan. "Binatang?"


"Coba saja perhatikan!" Pra paling depan mencoba menajamkan penglihatan dan pendengarannya.


Geraman lirih terdengar dari arah mata-mata yang menyala. Sinar bulan pun berhasil menampakan tubuh para hewan berkaki empat dengan jumlah yang tidak sedikit. Aa sekitar lima belas pasang mata yang bergerombol di hutan kecil tersebut.


"Itu seperti suara geraman harimau?"

__ADS_1


"Harimau?"


...Bersambung...


__ADS_2