Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
CEWEK KAMPUNGAN


__ADS_3

"Pulang?" Ye Kai bertanya sambil membuka pintu ruangan pribadinya yang tidak dijaga oleh siapa pun selain adanya seorang pria yang beberapa tahun lebih tua darinya. "Pulang secepat ini. Apa kamu mau kalau aku dipecat oleh owner sialan itu?" 


"Sialan-sialan juga dia atasan Ye Ge, kan?" 


"Iya, iyaaa!" Ye Kai memilih untuk tidak membicarakan tentang orang nomor dua di perusahaan ini. "Kamu masuk saja dulu!"


"Ada apaan sih, Geee?" Mei Lan ingin bertanya, akan tetapi suaminya malah menghampiri Henry Tan. Akhirnya wanita itu memilih untuk masuk ke dalam ruangan kerja suaminya.


"Selamat siang, Henry!" Ye Kai menyapa Henry yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya


"Selamat siang juga, Tuan!" Henry Tan selaku asisten sekaligus sekretaris Ye Kai segera berdiri dan membungkukkan badan guna menyambut kedua majikannya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?" 


"Semua lancar, Tuan. Anda tenanglah!" ujar Henry Tan dengan sikap ramah sraya memperlihatkan beberapa buah berkas laporan.


"Baguslah." Ye Kai terlihat cukup senang setelah meneliti hasil kerja asistennya ini. "Okay, kau lanjutkanlah!" 


"Baik, Tuan!" Henry Tan kembali duduk seraya merapikan lembaran kertas yang baaru saja diperiksa oleh Ye Kai. 


Ye Kai bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya yang selalu tertutup tanpa siapa pun berani memasukinya tanpa seijin darinya. lelaki itu segera menemui sang istri. "Bagaimana, Mei Lan istriku?" 


Mei Lan sangat terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya kali ini. Ye Geeee! Apakah aku ini sedang tidak salah lihat?" 


"Tentu saja tidak! Tidak ada yang salah, kan?" 


"Tapi, Ye Geee! Apakah itu tidak berlebihan sekali?" Mei Lan masih tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya kali ini. "Dia itu masih seorang gadis kecil yang bahkan tubuhnya terlihat rapuh dan tidak sekuat yang Ye Ge pikirkaaan!" 


Ye Kai memilih duduk di atas sofa sembari menyalakan televisi. Dia tak menjawab pertanyaan istrinya ini. "Apakah kamu sedang merasa cemburu?"


"Ye Geee!" Mei Lan berjalan ke arah suaminya dan segera duduk di sebelahnya. "Sejak kapan kamu memikirkan hal itu?" 


Mei Lan sungguh tak mengerti mengapa suaminya bertindak seperti sekarang ini dan bahkan merencanakan ha yang terlalu jauh untuk seorang gadis yang bau saja dia kenal belum lama ini. Wanita itu duduk sambil membaca beulang kali tulisan pada selembar kain yang menerakan nama suaminya dan seorang gadis bernama Zain Kamila. 


Dia sungguh merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat hingga sepasang matanya masih membulat lebar. Ini jelas membuatnya termangu-mangu dan tak habis mengerti. Bagaimana bisa seorang Ye Kai langsung berpikir demikian?


"Sudahlaaaah!" Ye Kai segera merebut kain coklat muda yang telah dia tulis sendiri dengan rangkaian kalimat yang akan membuat siapa saja terkejut. Lelaki itu meletakan benda tersebut di atas meja kecil, lalu dia memeluk istrinya. 


"Apa kamu tidak rela dan merasa kalau perhatianku padamu akan berkurang?" Ye Kai membelai kepala istrinya dan mengecup puncak hitam berbau harum itu dengan lembut. 


Mei Lan hanya menggelengkan kepala dan merebahkannya di dada suaminya yang masih memiliki keringat bercampur debu. "Tidak, Ye Ge. Aku tahu kalau Ye Ge tidak akan mengurangi segalanya padaku, meskipun Ye Ge akan membaginya kepada setiap orang. Tapi perhatian Ye Ge padaku pasti akan tetap sama. Iya kan, Ye Ge?" 

__ADS_1


"Kamu percaya pada suamimu ini?" 


"Mmmh," gumam Mei Lan dengan lirih. 


"Kalau begitu ... kamu tidak keberatan dengan keputusanku itu, kan?" bertanya Ye Kai sambil menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah wanita cantik yang telah membuatnya mabuk kepayang ini. 


"Kalau itu sudah menjadi keputusan dan tekad bulat Ye Ge, maka aku hanya bisa mengijinkannya tanpa membantah lagi," ujar Mei Lan sambil balas menatap wajah Ye Kai yang sekarang tersenyum manis padanya.


"Terima kasih, Lan'er. Maka tolong bantulah aku sekali lagi untuk meluruhkan hati Zain Kamila itu!" Ye Kai mencium lembut wajah istrinya dengan segenap rasa sayangnya. 


"Baiklah, semua demi kita semua." Mei Lan sudah tak membantah lagi apa pun prlakuan suaminya sekarang ini. Bahkan seandainya Ye Kai berniat mengajaknya bertarung dan saling melawan pun, dia akan tetap mengikuti semua kemauan pria dengan segala kenakalannya ini.


Pada malam harinya, Zike langsung berkemas-kemas guna keperluan kepindahan yang harus segera dia lakukan. Nestin hanya bisa merasa sedih saat sahabatnya ini menceritakan tentang rencana dan pekerjaan baru yang sudah dia terima hari ini. 


"Zikeee, mengapa secepat ini?" Nestin terlihat merasa keberatan akan kepergian sahabatnya ini.


"Iya, Nes. Makanya aku sekalian pamitan sama kamu sekarang aja." Zike berkata sambil membuka tas ransel hitam miliknya dan memasukan benda-benda apa saja yang dia miliki. Tidak banyak memang, akan tetapi ada benda penting yang akan selalu dia bawa ke mana pun dia pergi. Yaitu sebuah syal merah berbahan sifon milik ibunya. 


"Kok pamit sih, Zikeee?" Nestin terlihat tidak menyukai pekerjaan yang baru saja diperoleh sahabatnya ini.


"Iya, Nes. Karena aku sudah terlanjur menandatangani kontrak tersebut. Lagi pula ... aku memang ingin mengejar mimpiku."


"Bukan begitu, Nestin sayaaang! Aku sangat kerasan tinggal di sini, tapi pekerjaanku yang baru mengharuskan aku tinggal di sana biar gak bolak-balik." Zike berkata sembari melipat pakaiannya yang hampir kesemuanya sudah sedikit lusuh dan kumal. "Akan sering menemui kamu kalau aku ada waktu luang."


"Takutnya nanti setelah kamu terkenal dan sukses, kamu udah lupain akau dan gak mau berteman denganku lagi." Nestin berucap sambil memasang wajah cemberut.


"Ya ampun, Neees! Masa sih aku bakal gitu sama orang yang sudah sebaik ini sama akuu?" Zike meletakan barang yang sedang dikemasnya. Gadis itu memilih duduk di tepi tempat tidur dan langsung memeluk sahabatnya. "Nestiiin, kamu adalah satu-satunya sahabat yang mengerti aku. Selain kamu dan Yi Xie, aku sungguh tak memiliki teman yang benar-benar tulus padaku."


"Zikeeee!" Nestin terisak dipelukan temannya dengan perasaan sedih.


Zike melanjutkan ucapannya yang tmasih belum semua dia ungkapkan. "Aku pergi juga demi masa depanku dan bukan untuk bersenang-senang semata. Aku ingin bangkit dari keadaanku yang menyedihkan ini. Terlebih lagi ...."


Gadis itu tak kuasa menahan perasaannya saat teringat apa yang pernah dia alami bersama dengan Meilia yang sangat membencinya, hanya karena mereka menyukai satu orang pemuda. Dalam hati dia pun sesungguhnya telah merelakan, andai saja Alexi menyukai Meilia, mungkin itu juga lebih baik daripada harus saling menjauh dan membenci.


Namun, ternyata Alexi telah memilihnya dan bahkan dengan jujur mengungkapkan cinta kepada seorang gadis miskin yang tak memiliki latar belakang istimewa. Seorang gadis yang melarikan diri dari rumah karena tidak ingin dipaksa menikah terlalu muda. Zike sungguh merasa ngeri saat membayangkan dirinya ada dalam daftar janda di desanya, atau menjadi seorang ibu muda dengan banyak anak yang sangat merepotkannya.


"Nestiiin, mengapa jadi sesedih ini? Bukankah kita masih bisa bertemu lagi?" 


"Tapi aku pasti merasa sangat kesepian di siniii, kamu kan tahu kalau aku sendirian. Trus kalau kamu pergi, aku sama siapa?" Nestin merengek sekali lagi. "Zike, alangkah baiknya kalau kita terus bersama."


Zike memahami akan persaan gadis ini. akan tetapi untuk membawanya pun dia merasa tidak mungkin dan jaan satu-satunya adalah memberi pengertian kepada Nestin. "Nestin, aku juga berat ninggalin kamu. Tapi di sana pun aku masih belum mengetahui aku akan ditempatkan di mana, bagaimana suasananya, orang-orangnya dan juga lingkungannya. "

__ADS_1


"Tapi aku janji, aku akan membawamu ke tempat baruku itu, kalau aku sudah memiliki tempat yang layak." 


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja." 


"Aku pegang kata-katamu itu. Dan kalau kamu ingkar suatu saat nanti, maka aku akan menjadi orang yang sangat dan paling membencimu!" Nestin menatap mata sahabatnya.


"Baiklah, Tuan Putri. Anda juga bisa menghukumku saat itu juga." Zike hanya berniat menghibur gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya ini. 


"Huh! Aku pasti akan menghukummu dengan seberat-beratnya!"


"Baik-baiiiiik! Semoga hukuman darimu bukanlah hukuman yang konyol," ujar Zike sembari melanjutkan pekerjaaannya. 


Mereka pun tidak lagi mempermasalahkan tentang rencana kepergian Zike dari rumah kost tersebut, kecuali saat mereka membuka paper bag yang siang tadi diberikan Mei Lan. Para gadis itu merasa tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. 


"Zikeeeee!" Nestin menjerit histeris saat membuka sebuah bungkusan ber-lable 'The Rockies Style'. Gadis itu sungguh merasa tak percaya hingaa matanya terbelalak lebar saat memegang beberapa setelan kaos dan celana jeans serba hitam. "Ini betulan dari The Rockies Style?" 


Zike menoleh ke arah temannya yang asyik menjajali pakaian tersebut. "Memangnya kenapa kalau itu dari The Rockies Style? Apa bagusnya?"


"Zikeeeeee! Kamu kok masih tetep kek cewek kampungan aja siih?" Nestin merasa kesal dengan sahabatnya yang tidak tahu dengan trend anak muda jaman sekarang ini. "Selain baju-baju pedagang emperan toko dan tukang loak, apa kamu sama sekali gak tahu tentang baju mahal, out fit keren dan barang bagus lainnya?"


Zike hanya menggelengkan kepala. Dia bahkan sama sekali tidak keberatan ataupun marah dikatakan sebagai cewek kampungan. "Tidak tahu. Aku jarang berbelanja di toko-toko besar atau di mall karena di sana harganya lebih mahal, tetapi bahan, model dan kualitasnya sama saja."


"Ya enggaklah dong, Sayaaaang! Harga juga menentukan nilai sebuah barang. Aaaah, kamu ini bener-bener keterlaluan sekali sih?" Nestin lalu meraih ponselnya dan mulai melakukan browsing untuk merek dagang yang sedang trend di masa kini. Gadis itu memperlihatkan harga tas yang sedang digandrungi oleh para selebriti dunia. "Lihat! Ini adalah tas Kermez yang luar biasa mahal. Harganya saja yang kecil ini bisa sampai dua milyar." 


"Dua milyar? Tas jelek gini?" Mata Zike sampai terbelalak melihat daftar tas yang tertera di layar ponsel Nestin. 


"Tas bagus gini dibilang jelek? Daripada tas bulukan kamu itu, diloakin juga kagak ada yang minat." Nestin merasa kesal juga pada gadis satu ini.


"Aku lebih gak minat lagi sama benda-benda mahal. Lagian itu modelnya kayak tas emak-emak kondangan." Zike tak berminat sedikit pun dengan barang-barang di pasar online tersebut. Dia malah beralih untuk membuka paket lain yang menurutnya cukup menarik.


"Apa ini?" Zike menimang-nimang kotak kardus bersampul kertas kado batik yang tak menarik sama sekali.


"Dasar cewek ini! Bisa-bisanya tidak tertarik barang bagus." Nestin masih tak habis pikir sambil melakukan browsing untuk melihat harga kaos dan perlengkapan di The Rockies Style online shop dan mata gadis itu terbelalak lebar disertai pekikan dari mulutnya.


"Tu-tujuh ratus ribu?"


"Apanya yang tujuh ratus ribu?" Zike terbengong sambil melongo.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2