Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
SIASAT JAHAT


__ADS_3

"Kakang betul sekali. Alexi kita sangat mencintai gadis itu dan dia bahkan menyebutnya dengan panggilan sayang." Ni Sendari memang kerap mendengar Alexi bicara dengan nada manja dengan Zike melalui saluran telepon.


"Kalau begitu, aku akan mencari informasi tentang dia," ujar Ki Surya Praja.


"Mencarinya?" Ni Sendari bertanya.


Seseorang dari balik pintu yang mendengarkan pembicaraan keduanya juga merasa terkejut. "Mencarinya?"


"Ya, mencari tahu tentang siapa gadis itu. Bukankah kita harus mengetahui latar belakangnya?" bertanya Ki Surya Praja dengan nada heran. "Apakah kamu mau, kalau cucu menantu kita nanti adalah orang yang tidak jelas asal-usulnya?"


Ni Sendari bukan tidak tahu apa maksud suaminya. Wanita itu hanya menjadi sedikit bingung dengan keadaan rumit ini. Bagaimana caranya untuk mengatasi Garnis?


Sementara itu di balik tirai.


"Siapa gadis yang dimaksudkan oleh mereka itu, ya?" Seorang pria dari Sekte Sanca Perak yang tak sengaja mendengarkan pembicaraan tersebut bertanya dalam hati. "Aku harus melaporkannya pada paman!"


Pria itu segera pergi dari tempatnya berada saat ini dengan sebuah senyum senang dan licik. Tentu saja itu karena dia membayangkan betapa pentingnya berita ini bagi seorang Nata Praja. "Alexi Nata Praja! Lihat saja nanti bagaimana nasib yang akan kau alami. Aku yakin sekali, kali ini kau akan mengalami nasib yang lebih sial dari sebelumnya!"


Pria misterius yang terlihat sangat tidak menyukai tuan muda Sekte Sanca Perak yang sejak kecil menolak untuk belajar ilmu-ilmu dari ayahnya. Pada saat semua anak di dalam sekte ahli racun itu disibukkan dengan berbagai macam pelatihan, justru Alexi hanya bermain-main dan mengganggu jalannya latihan.


Sebagai tuan muda dari sekte tersebut tentu saja tidak akan ada yang berani melawan atau menghukumnya. Terlebih lagi, ke mana pun Alexi pergi maka dia akan senatiasa diikuti dan dijaga oleh para pengawal. Diah Ningsih istri dari Nata Praja memang memperlakukan kedua anaknya sebagai suatu hal yang sangat istimewa. Tidak ada yang boleh melukai atau membuat tuan dan nona mudanya merasa tak senang.


Hal itu pula yang membuat salah seorang anak muda sebaya dengan Alexi merasa cemburu. Dia juga termasuk salah seorang keturunan dari Keluarga Praja, akan tetapi kedudukannya tetap tidak bisa sejajar dengan Alexi dan pemuda itu adalah Harvey Van Praja.


"Memangnya hanya kau saja yang istimewa, Alexi?" Harvey Van Praja menggerutukan kekesalannya hanya dalam hati sambil bergegas pergi mencari Garnis. "Lihat saja, Ale! Bukan saja kamu akan tersingkir dari posisimu sekarang ini, bahkan calon istri cantikmu itu juga akan aku ambil."


Pria muda tampan berambut keemasan dengan bola mata biru itu menyusun rencana sambil berjalan. Rasa iri hati dan dengkinya kepada Alexi telah benar-benar menimbun rasa persaudaraan yang seharusnya dia jaga. Meski Alexi tidak pernah sekalipun bermusuhan dan menganggunya, akan tetapi hak istimewa sebagai calon ahli waris Sekte Sanca Perak telah benar-benar membuatnya membenci sang sepupu.

__ADS_1


Pada saat Harvey Van Praja melihat Alexi dari kejauhan dia pun berniat untuk berpura-pura baik dan berlagak seolah dia adalah seorang saudara lelaki yang sangat memedulikan dan mengasihi sepupunya. Semua hanya demi sebuah misi penghancuran yang harus dia laksanakan demi mendapatkan sebuah kedudukan penting.


"Aleeee! Tungguuu!" Harvey berteriak.


Baru saja Alexi hampir tiba di pelataran, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang memanggil namanya. Pemuda itu segera menoleh da mendapati Harvey berlari-lari kecil ke arahnya. "Harvey?"


"Aleeee! Bagaimana bisa kamu tidak menemuiku untuk mengucap selamat tinggal?" tanya Harvey dengan napas yang tak beraturan. Namun, walau muutnya bertanya dengan nada manis tetapi hatinya berucap penuh kebencian. "Ucapkan saja selamat tinggal pada kebahagiaan dan kedudukanmu sendiri Alexi! Setelah kamu pulang dari pulau itu, maka kau juga akan melihat kehancuran di depan matamu!"


"Maaf, Hervey! Aku bukan melupakanmu, tetapi aku dengar kamu tadi sedang pergi." Alexi sebenarnya juga tidak begitu peduli pada sepupunya ini. Dia merasa tidak boleh terlalu dekat dengan pria ini. Nalurinya mengatakan ada hal yang kurang baik tentang saudara sepupunya ini. "Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, Ale." Harvey Van Praja memperhatikan Alexi Nata Praja dari atas hingga bawah. Pria itu mau tak mau memang harus mengakui akan penampilan saudaranya ini yang semakin terlihat elegan dan tampan. Meski dirinya pun juga tampan dengan darah belanda dari sang ibu, akan tetapi Harvey Van Praja tetap merasa minder dengan ketampanan Alexi.


"Saudaraku ini semakin tampan saja." Harvey memuji sang sepupu dengan setulus hati meskipun pujian itu juga untuk menutupi keburukan dalam hatinya. Bagaimanapun juga dia harus berakting sempurna.


"Kamu ini selalu saja berkata begitu setiap kali bertemu denganku. Bukankah kamu sendiri juga sangat tampan?" Alexi menepuk dengan lembut beberapa kali pipi Harvey yang bertingkah lugu di hadapannya.


"Tentu saja aku ingin. Tetapi kali ini aku ada sesuatu yang harus aku selesaikan," jawab Alexi dengan nada santai. "Kamu tunggulah kepulanganku. Setelah itu kita bisa beradu taoulu bersama, bagaimana?"


"Baiklah! Aku tunggu kau kembali dan pasti akan aku patahkan bilah taolumu itu!" Harvey berseru seraya mengepalkan tinjunya.


"Okay! Siapa takut?" Alexi melakukan hal yang sama dan memukulkan kepalan tangannya ke kepalan tangan Harvey. Pemuda itu lalu berbisik, "Kuharap yang terjadi tidak sebaliknya."


Harvey tertawa dengan suara yang seperti meremehkan. Pemuda itu lalu berseru, "Baik. Kita buktikan saja nanti!"


"Pasti!" Alexi menatap lekat-lekat sepupunya seakan sedang menyelami apa yang ada dalam kedalaman pikiran pemuda itu. Kemudian keduanya tertawa bersama hingga menimbulkan banyak pertanyaan bagi orang-orang yang hadir di sana.


Pada saat dua pemuda yang bersaudara namun berlawanan itu tengah asyik membicarakan hal lain, seorang gadis cantik muncul dari balik pintu dan berlarian seraya memanggil salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Kak Ale!"


Alexi tidak menoleh ataupun menyahut sama sekali. Dia sudah tahu siapa yang memanggilnya dan mengumpat dalam hati. "Gadis sialan!"


Harvey Van Prajalah yang segera menoleh dan terpesona oleh kecantikan gadis yang telah lama dia impikan, akan tetapi kenyataan berkata lain. Gadis itu ternyata telah memilih Alexi yang tidak menyukainya sama sekali.


"Garnis!" bisik Harvey dalam hati. "Dia semakin cantik saja!"


"Harvey, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik!" Alexi menepuk bahu Harvey dan melanjutkan langkahnya.


"Selamat jalan, Kak Ale!" Garnis berseru dengan nada sedih, tetapi yang membuatnya sedih tidak menghiraukannya sama sekali.


Alexi terus melangkah dan masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Hati sang tuan muda dipenuhi kekesalan yang teramat sangat pada gadis yang terus mengejar cintanya dan selalu berusaha menarik perhatian Alexi dengan berbagai cara.


"Kak Aleeee!" Garnis berseru sambil menangis pilu saat melihat mobil Alexi dan para pengikutnya meninggalkan pelataran kediaman Ki Surya Praja. Hati gadis itu sungguh sangat hancur atas sikap Alexi padanya.


Harvey yang melihatnya segera menghampiri dan bertanya, "Garnis, apakah kamu baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal ini." Garnis menjawab sambil mengusap air matanya dengan lengan bajunya. "Terima kasih atas perhatiannya, Harvey. Aku mohon diri!"


Garnis segera berbalik masuk ke dalam kediaman sambil masih menangis, sedangkan Harvey masih tertegun dengan perasaan kecewa. "Tunggu saja kamu, Garnis! Aku akan mengejarmu sejauh kamu berlari!"


"Kamu dan Sekte Sanca Perak harus menjadi milikku!" gumam Harvey dalam hati. "Dan kau, Alexi. Selamat menikmati sebuah permainan baru di sana!"


"Aku ingin tahu, apakah kamu bisa selamat hidup-hidup dan kembali ke Sanca Perak dalam keadaan utuh?" Seulas seringaian sinis dan licik mengembang kecil di sudut bibir pria muda yang telah merencanakan sebuah siasat jahat untuk menjebak saingannya ini.


Siasat apakah yang telah disusun oleh Harvey untuk mencelakai Alexi?

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2