
Alexi nampak ragu-ragu. Dia tidak ingin melukai kakeknya. "Kek, bagaimana jika ...."
"Aaaaaahh!" Alexi terkejut saat seekor ular sanca lainnya datang menyerang ular miliknya. Ular yang penyerang ular milik Alexi terlihat lebih besar dan berkali lipat ganasnya dari ular sanca milik pemuda itu.
"Ale, kendalikanlah ularmu untuk melawan ular Kakek! Jika tidak, ularmu akan mati oleh ular Kakek, dan kau bisa terluka dalam karenanya!" teriak Ki Surya Praja.
"Terluka dalam? Bukankah itu sangat mengerukan? Kalau begitu, aku harus mengerahkan segenap kemampuanku!" pikir Alexi. Alexi mulai mengerahkan kekuatan tenaga dalam pada tangan kirinya. tangan itu bergerak dengan cepat bagai liukan seekor ular yang sedang menyerang lawannya.
Sementara itu, Ki Surya Praja sama sekali tak menggerakan tubuhnya. Namun, ular semu martial soul miliknya bergerak dengan sangat ganas menyerang ular semu milik cucunya. Alexi mulai merasa kewalahan dan kelelahan, hingga dengan terpaksa Alexi menarik kembali kekuatan tenaga dalamnya. Ternyata penarikan secara paksa itu telah membuat tenaga dalamnya kembali secara tiba-tiba dan menghantam dirinya sendiri.
"Aaaaaaahhh!" Alexi terpekik keras. Pemuda itu merasa tubuhnya terlempar dengan cukup keras dari tempat dia berdiri. Dadanya terasa panas dan sesak akibat hantaman dari serangan balik tenaga dalamnya sendiri. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Wajah Alexi terlihat pucat.
Tubuh Alexi limbung akibat tidak kuasa menahan rasa sakit dalam dadanya. Dia memang tidak terlalu memperhatikan dan kurang begitu memahami tentang resiko dari ilmu yang dilatihnya selama ini. Hal itu juga akibat dari kenakalannya, karena dia selalu mengabaikan perintah sang ayah.
"Mengapa aku seperti tidak terjatuh?" Alexi merasa bingung karena tubuhnya seperti mengambang di udara. Pemuda itu membuka matanya dan menjadi terkejut saat mendapati muka seekor ular sanca semu yang besar tengah menatap serta membelit tubuhnya sambil sesekali menjulurkan lidah menjilati wajah Alexi.
"Ini?" tanya Alexi dengan perasaan heran.
"Alexi, Alexi." Ki Surya Praja hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kau masih saja ceroboh!"
"Maaf, Kek!"
Dengan lembut ular sanca perak itu melepaskan belitannya hingga Alexi bisa kembali berdiri. Ular itu pun menghilang secara perlahan. Ki Surya Praja mendekati Alexi dan mengajaknya untuk duduk. Alexi duduk bersila sambil memegangi dadanya yang masih terasa sangat sakit. Ki Surya Praja segera duduk bersila di belakang cucunya sembari meletakan kedua telapak tangannya di punggung Alexi.
Alexi merasakan hawa dingin memasuki tubuhnya secara perlahan melalui telapak tangan sang kakek. Kesejukan itu terus menjalar ke dalam nadi hingga ke pusat aliran darahnya yang semula terasa panas. Ki Surya Praja berkata, "Sekarang, kau coba aturlah pernapasanmu, Ale!"
__ADS_1
Tanpa menyahut, Alexi segera melakukan apa yang diperintahkan oleh kakekna. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya saat menarik napas dan menurunkannya saat dia mengembuskan napasnya. Hal itu dilakukannya berulang kali hingga dia merasa lebih baik.
"Cukup, Ale!" Ki Surya Praja berseru. Pria tua itu pun mengakhiri penyaluran hawa murni pada tubuh cucunya. Ki Surya Praja segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke sebuah almari kayu. Pria tua itu tampak membuka pintu almari guna mengambil sesuatu.
Setelah mendapatkan hal yang diinginkannya, pris tua itu kembali kepada Alexi yang sedang mengenakan kembali pakaiannya. Ki Surya Praja membawa sebuah kotak kayu berukir dan menyerahkannya kepada sang cucu. Alexi menerima kotak kayu itu dengan penuh tanda tanya.
"Apa ini, Kek?" Alexi bertanya sembari memperhatikan item kotak kayu yang terlihat aneh.
"Bukalah! Kau akan segera mengetahuinya." Sang kakek menjawab tetap dengan nada lembutnya.
Alexi sejenak menatap kakeknya, kemudian pemuda itu membuka kotak kayu sebesar kardus pembungkus ponsel itu secara perlahan. Alexi mendapati lima butir pil sebesar bola bekel berwarna coklat tua dalam kotak kayu itu.
"Kelihatannya enak! Kek, ini seperti hadiah valentine saja." Alexi tiba-tiba merasa geli atas pemberian lelaki tua ini.
"Pil kultivadi? obat semacam apa ini, Kek?" bertanya Alexi sambil mengangkat salah satunya dan mendekatkan ke ujung hidung. Aroma rempah-rempah yang kuat membuatnya seketika bersin hingga beberapa kali.
"Itu adalah ramuan khusus yang baru Kakek buat sore tadi. Pil ini Kakek buat dengan menggunakan bahan-bahan paling langka yang kebetulan Kakek miliki sejak lama." Ki Surya Praja meminta cucunya untuk memakan pil tersebut sembari mengusap jenggotnya. "Makanlah satu, Ale!"
"Aku? Makan pil ini, Kek?" Alexi yang selalu takut dengan rasa pahitnya obat sungguh ingin menolaknya. "Baunya sangat tidak enak! Bagaimana aku bisa makan pil semacam ini?"
"Jangan banyak bertanya lagi, Ale! Makan saja sekarang dan kau akan mengetahui hasilnya!" Ki Surya Praja berkata sembari mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil dari saku celananya. "Kalau itu terasa pahit, kakek sudah siapkan ini untuk menghilangkan rasa pahitnya."
Alexi terharu saat melihat sebungkus manisan buah cherry merah berkilatan yang sangat menggodanya. Dia sungguh tak menyangka, jika sang kakek masih ingat dengan manisan buah cherry kesukaannya sejak kecil. Saking sukanya dengan manisan itu, dia sering diolok-olok oleh Alexa dengan sebutan Sweet Cherry Boy. Sebuah sebutan yang sangat menyebalkan baginya.
"Kakek, obat apa ini? Mengapa tubuhku terasa panas sekali, Kek!" Alexi merasakan sebuah aliran kekuatan yang membawa aliran hawa panas di setiap nadinya.
__ADS_1
"Kakeek! Aku tidak kuat lagii!"
"Bertahanlah sebentar lagi Ale!" Ki Surya Praja terus mengalirkan kekuatan tenaga dalamnya guna membantu penyerapan eliksir yang telah berada di dalam tubuh cucunya.
Tubuh Alexi tiba-tiba terasa lemas akibat energi dalamnya yang telah terkuras. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Rasa-rasanya, ada sesuatu yang bertarung di dalam perutnya. Pemuda itu memegangi perut bagian pusar yang terasa bergolak hebat. Entah kekuatan macam apa yang sedang bertarung dalam perutnya saat ini.
"Keeek ... aku tidak kuaaat!" Alexi mengerang sembari terus menggeliat. Tubuhnya telah jatuh di atas lantai berlapis permadani nan lembut.
"Bertahanlah, Ale!" Ki Surya Praja kemudian duduk bersila dan memusatkan pikirannya. Lelaki itu kemudian menempelkan telapak tangannya guna menyalurkan tenaga dalam ke dalam perut sang cucu.
Secara perlahan-lahan, rasa sakit dalam perut Alexi sedikit mereda. Cucuran keringat membasahi wajah tampannya yang masih memucat. Kedua mata pemuda itu terpejam dengan tubuh lemas terkulai dalam pelukan sang kakek.
"Apakah dia pingsan?" Ki Sura Praja meraba kening sang cucu. "Sepertinya, tubuh Ale memang belum bisa menerima pil tingkat tinggi ini." Pria tua itu mendesah. "Apa boleh buat? Semua memang harus dilakukan secara bertahap dan tidak bisa tergesa-gesa."
"Pelayan!" Ki Surya Praja berteriak memanggil para pelayan pria yang berjaga di depan pintu. Dua orang pelayan segera masuk dan memberi hormat.
"Bawa tuan muda kembali ke kamarnya!" perintah Ki Surya Praja pada dua pelayan pria tersebut.
"Baiklah, Ki!"
Mereka pun segera mengambil alih tubuh Alexi untuk dibawa ke kamar pribadinya. Tiba-tiba saja, mulut Alexi berucap lirih menyebut nama seseorang meskipun matanya masih terpejam. Hal itu cukup membuat Ki Surya Praja tertegun dan bertanya-tanya dalam hati.
"Zike ... siapa dia?"
...Bersambung...
__ADS_1