Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MIMPI BURUK


__ADS_3

"Dasar cewek ini! Bisa-bisanya tidak tertarik barang bagus." Nestin masih tak habis pikir sambil melakukan browsing untuk melihat harga kaos dan perlengkapan di The Rockies Style online shop dan mata gadis itu terbelalak lebar disertai pekikan dari mulutnya.


"Tu-tujuh ratus ribu?"


"Apanya yang tujuh ratus ribu?" Zike terbengong sambil melongo hingga dia mengurungkan niatnya untuk membuka kotak yang sudah hampir terbuka.


"T-shirt kamu ituuuu!" Nestin menunjuk ke arah kaos hitam yang terlihat biasa saja.


"Cuma kaos begini tujuh ratus ribu? Mahal amat!" Zike menimang kaos hitamnya dan mendapati namanya ada di bawah sebuah logo. "Bahkan ini juga ada namaku?"


"Coba lihat!" Nestin merasa penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Zike. "Aah, iya. Bisa jadi ini memang sengaja dipesan khusus buat kamu."


"Kamu kok bisa seberuntung itu sih, Zike?"


"Nah ini!" Kali ini Zike-lah yang terpekik dengan suara cukup keras.


"Ponsel?" Nestin tak kalah kaget dengan penampakan sebuah ponsel keluaran terbaru yang baru saja keluar dari kotak bersegelnya. "Waaahh, ponsel bagus iniiii!"


"Masak sih?" Zike merasa tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Ponsel yang kini berpindah di tangan Nestin ternyata juga adalah jenis merk ternama dengan harga yang terbilang fantastis.


"Naaaah, makanya jadi cewek tuh liat-liat barang-barang yang lagi trend. Ponsel ini nih, harganya kisaran tujuh atau delapan jutaan, tau gak?" Nestin kembali harus menjelaskan tentang ponsel yang lumayan mahal bagi orang-orang di kalangan mereka.


"Mahal juga ya? Gaji Yi-Yi di bengkel aja sebulan paling-paling cuma satu juta lima ratus ribuan." Lagi-lagi gadis itu dibuat menggelengkan kepala berulang kali. "Mereka benar-benar orang kaya. Hotel yang mereka kelola juga sangat bagus, ck ck ck ck."


"Hotel?" Nestin merasa kaget. "Jadi kamu sebenarnya kerja di hotel atau jadi vokalis?"


"Jadi vokalis band-nya pemilik hotel itu. Sebentar, namanya adalah ... Master Liu."

__ADS_1


"Master Liu?" Nestin seperti pernah mendengar nama yang disebutkan oleh Zike.


"Iya. Kenapa? Memangnya kamu tahu tentang orang itu?" bertanya Zike dengan penasara.


"Enggak sih." Nestin cengengesan karena memang tidak mengenal sosok yang diceritakan oleh sahabatnya ini. "Aku mana mungkin kenal sama orang sekelas mereka."


"Iya juga siih. Aku aja nanti belum tentu deket eh maksudnya ... menurutku dia tuh orangnya udah bapak-bapak gitu." Zike memang menduga jikalau Master Liu adalah seorang pria yang sudah memiliki istri dan anak.


"Kenapa musti kupikirin tentang kehidupan mereka? Toh yang penting sekarang aku sudah ada ponsel ini." Zike berkata sembari tersenyum membayangkan sosok seseorang yang sangat dia sukai. Jujur saja, dalam hati Zike merasa sangat bahagia. Karena itu artinya dia bisa menghubungi Alexi lagi. Bagi gadis itu, bukanlah merk atau harga barangnya yang membuat dia merasa berbunga-bunga. Yang terpenting adalah dia akan bisa berkomunikasi dengan pria yang sudah dia akui sebagai kekasihnya itu.


"Aleeee! Aku tak sabar ingin menghubungimuuu!" jerit Zike dalam hati. Hampir saja dia melompat kegirangan, akan tetapi dia cukup kuat untuk menahan gejolak jiwanya. "Alhamdhulillah, Ya Allaaah! Akhirnya ada sedikit jalan untuk menemukan kembali cowok gantengku ituuu!"


"Zikeee, aku betulan iri banget sama kamu deh. Kok kamu bisa sih, ketemu orang setajir ini? Ati-ati aja loh, Zike dengan orang macam itu. Pikirin aja deh! Masa baru dua kali ketemu langsung kasih barang-barang mahal?"


"Mungkin karena aku sudah menandatangani kontrak dengan mereka, jadi mereka memberikan semua hadiah ini untukku?" Zike pun berpikir karena merasa tak masuk akal dengan kebaikan Ye Kai dan Mei Lan padanya. "Aahh! Selama mereka tidak berbuat yang merugikanku, sepertinya aku tidak perlu takut apa-apa lagi."


"Ya udahlah, aku mau rampungin beresin ini dulu. Setelah itu aku mau pasang nomor baru buat ponselku." Zike berniat menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda akibat terlalu banyak berbicara tentang barang-barang mahal.


Malam masih belum terlalu larut, akan tetapi gadis itu telah terlelap di antara tumpukan barang-barang yang akan dibawanya esok hari. Nestin sendiri justru yang menjadi gelisah memikirkan dengan siapa dia tidur esok malam. Dia sungguh merasa takut jikalau harus seorang diri di dalam rumah tanpa seorang pun kawan.


Zike bahkan sampai melupakan, jikalau dia masih belum mengaktifkan ponsel barunya. Dia pun terlanjur terbawa oleh mimpi yang membuat bahagia pada awalnya. Namun, mimpi itu menjadi sangat buruk hingga membuatnya ketakutan setengah mati.


"Ale ... benarkah itu kamu?" Zike melihat sosok pria yang dicintainya berdiri di tengah kabut tipis dengan senyuman yang terkembang sedemikian manisnya. "Aleeeee!"


Zike hendak berlari menyongsong sang kekasih hati yang bagaikan sedang menunggunya sembari melambaikan tangan. Namun, Alexi berteriak dengan suara keras yang terdengar berpantulan. "Zikeee, jangan mendekaaat! Kalau kau nekat maka kita hanya akan sama-sama jatuh ke bawah sana! Tetapi jika kamu kita mundur, maka kita akan selamat."


"Alexiii! Apa maksud ucapanmuuu?" Zike balas berteriak.

__ADS_1


"Zike pergilah! Pergilah dan bawa semua kenangan kitaaa! Jangan mendekat ataupun menungguku lagi!" Alexi berteriak bersamaan dengan tubuhnya yang bagaikan ditarik oleh beberapa orang secara paksa.


"Zike pergilaaah! Jangan bahayakan dirimu dengan terus bersamakuuu!"


Alexiiiii! Aku tidak tahu apa maksudmuuuuu!"


"Aku akan tetap menunggumu dan mencarimuu!"


"Alexiiiiii!"


"Alexi tungguuu!" Tiba-tiba Zike terjaga dari mimpinya dengan napas tersengal-sengal bagai baru saja berekejaran dengan para preman Skull Head. Wajah gadis itu menegang disertai keringat yang telah membanjirii wajah dan tubuhnya.


Gadis itu sampai tertegun dan kebingungan yang teramat sangat hingga lidah terasa kelu untuk mengucap kata-kata. Tak ada suara lain yang terdengar lebih keras dari deru napasnya. Tak ada gerakan yang lebih cepat daripada debar jantungnya.


Sampai beberapa waktu, Zike hanya bisa berusaha menguasai dan mengendalikan perasaannya. Bayangan demi bayangan itu terasa nyata dan terus berlayangan di pelupuk mata hingga derai embun hangat pun luruh tanpa kendali. Mereka jatuh berguguran menimpa tas ransel yang dipakai sebagai bantal.


"Ternyata aku hanya bermimpi!" desis gadis itu sambil kembali menjatuhkan kepalanya di atas tumpukan pakaian. Tubuhnya terasa lemas dengan perasaan sedih dan gelisah yang teramat sangat. "Mimpiku buruk sekali!"


"Tapi itu hanya mimpi, kan?" Zike bertanya dalam hati sambil membalikan tubuhnya menghadap ke semua arah yang dia inginkan dan berharap menemukan kenyamanan. "Mengapa ini sangat terasa nyata?"


"Ale ... siapakah kamu ini sebenarnya? Dan siapa orang-orang yang menyeretmu dalam mimpiku?"


"Mengapa kamu menyuruhku pergi darimu, sedangkan kita juga begitu jauh terpisah?"


"Apakah sekarang kamu sudah bersama dengan Meilia dan bahagia?"


"Apakah kamu benar-benar memang sudah melupakan aku? Hingga dalam mimpi pun kamu menyuruhku pergi." Tentu saja, semua pertanyaan itu hanya terucap dalam hati tanpa ada jawabannya.

__ADS_1


"Benar-benar sebuah mimpi yang terlalu buruk!"


...Bersambung...


__ADS_2