Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KAKAK PELIT


__ADS_3

Alexa tiba-tiba memeluk sang kakak dari belakang dengan hati senang atas pujian tersebut. "Terima kasih, Kakaaaak!"


"Sama-sama," sahut Alexi sambil tersenyum manis. "Lalu ...."


"Lalu?" Alexa merasa penasaran.


"Lalu aku ingin tahu ... Pria mana yang telah membuat Alexa-ku ini tiba-tiba saja jadi seperti ini?" Alexi mengernyitkan kedua alis matanya, kemudian ia membawa Alexa untuk kembali duduk di sofa.


"Itu ... itu masih sangat rahasia, Kak." Alexa kembali tersipu malu hingga tak berani bertatapan dengan sang kakak. "Nanti juga Kak Ale akan mengetahuinya."


"Dia ada di sini?" Alexi terkejut hingga tanpa sadar pria muda itu melotot.


Alexa menganggukan kepalanya dengan pelan. "Mmhh."


"Hmm ... kira-kira, seperti apa sosok orang yang sudah berhasil membuat adikku jadi seberubah ini?" Alexi bertanya dalam hati. "Dia pasti bukan orang yang biasa saja."


"Baiklah. Kita akan lihat seperti apa dia dan apakah dia layak untuk Alexa-ku ini." Alexi berkata dengan nada santai, sambil mengeluarkan ponselnya untuk melihat pesan yang baru saja masuk.


"Jadi ... Kak Ale tidak marah?" tanya Alexa masih tidak yakin atas sikap sang kakak.


"Mengapa harus marah? Bukankah itu adalah hal yang wajar?" Alexi balik bertanya.


"Aaaah, Kakaaaaak!"


Demi melihat Alexi tidak memarahinya, gadis itu kemudian bangkit dari duduknya untuk kembali mematut diri di depan cermin. "Kalau begitu, aku akan melanjutkan merapikan rambutku!"


"Dasar wanita!" Alexi hanya sedikit menggerutu sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Apa kabar, Sayang?" Alexi tersenyum saat menatap wajah kekasihnya pada layar ponsel.


"Sayang?" Alexa membalikkan badan dan menatap dengan keheranan ke arah sang Kakak. Timbullah niat menggoda dan kejahilannya pun ikut terbangun. "Sayang siapa, yaaa?"


Alexa melongokkan kepalanya untuk melihat


"Apaan sih kamu? Mau tau aja!" Alexi menyembunyikan ponselnya karena tidak ingin Alexa melihat foto Zike yang menjadi wallpaper pada layar utama.

__ADS_1


"Coba lihat!" Alexa memaksa sang kakak dengan berusaha merebut ponsel kakaknya. Tentu saja, Alexi segera menjauhkannya dari jangkauan tangan sang adik.


"Liat dong, Kaaaak!" Alexa merajuk dan merasa kesal, karena Alexi masih tidaj memberikan ponselnya. "Cuma lihat saja! Dasar peliiiit!"


"Bukannya pelit, tapi kakak cuma khawatir kalau kamu nanti jadi minder sehabis liat pacar kakak." Alexi balik menggoda sang adik. Dia memang paling tahu, jika Alexa tidak akan suka kalau ada orang yang lebih cantik darinya.


"Jadi, dia lebih cantik dariku?" Alexa memelototi kakaknya.


"Tentu saja!" Alexi mencibirkan bibirnya.


"Aku tidak percayaaaa!" Alex merasa kesal. "Pokoknya tidak boleh ada gadis yang lebih cantik dariku, titik!"


"Tapi kenyataannya, pacar kakak lebih cantik dari kamu!" Alexi juga tetap tidak mau kalah. "Mau tidak mau, kamu harus menjadi yang nomor dua setelah dia!"


"Tidak bisaaaaaaaa!" Alexa menjerit sambil menutup telinganya sendiri.


"Diam kamu!, lebay amat sih


Percek-cokan terus berlangsung lama dan seru. Tentu saja tidak akan ada yang berani melerai mereka berdua. Mereka berdua sama-sama ngotot dan ngeyelnya serta tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Alexi tetap tidak ingin memperlihatkan wajah Zike kepada adiknya, karena dia khawatir dengan suatu hal yang bisa saja mencelakai kekasihnya itu. Hal tersebut mengingat, jika Alexa juga cukup dekat dengan Garnis.


"Sudahlah, sebentar lagi kita harus segera menghadiri pertemuan itu!" seru Alexi sambil menyimpan ponselnya.


"Exaaaa, itu karena kakak ingin memberimu kejutan kelak." Alexi mencoba mencari alasan yang mungkin masuk akal. "Sudaaah! Kapan-kapan dia akan kakak pertemukan denganmu. Okay?"


"Humph!"


Tepat pada pukul. 11 siang, acara pertemuan akan segera berlangsung. Danny Hendrat sudah terlebih dahulu berada di tempat pertemuan dan bertemu dengan Erick Martin. Keduanya adalah sama-sama orang kepercayaan majikan mereka. Para pria tersebut saling bertegur sapa dengan sikap ramah, sebagaimana layaknya para kaum elit berbasa-basi.


"Selamat siang, Tuan!" Danny Hendrat memilih menyapa terlebih dahulu, saat keduanya berhadapan.


Erick Martin segera membalas sapaan tersebut. "Selamat siang juga, Tuan ...."


"Danny Hendrat, panggil saja Danny, Tuan!" Danny Hendrat segera tanggap akan maksud dari lawan bicaranya ini.


"Oh baiklah, Tuan Danny. Perkenalkan, saya Erick Martin yang ditugaskan untuk mencari tahu lokasi pertemuan ini oleh tuan saya." Erick Martin berkata seraya membungkukkan sedikit badannya.

__ADS_1


"Baguslah. Semoga acara kita ini akan berjalan lancar dan menemukan jalan keluar yang baik," ujar Danny Hendrat dengan sikap santai.


"Karena semua pengaturan di sini sudah beres, maka saya akan langsung menghubungi majikan saya." Erick Martin meminta undur diri dari hadapan Danny Hendrat. "Permisi, Tuan Danny!"


"Oh silakan, Tuan Erick!" Danny Hendrat mengangkat tangan kanannya untuk mempersilakan Erick Martin mengundurkan diri.


Erick Martin hanya mengulas senyum tipis, untuk kemudian segera berlalu dari hadapan Danny Hendrat. Pria itu segera menghubungi sang tuan guna melaporkan kesiapan ruang pertemuan tersebut. Rupanya, Manager Robert telah dengan sengaja menyiapkan sebuah ruangan khusus yang biasa digunakan rapat oleh para staf Hotel Van Houten tersebut.


Begitu pula dengan Danny Hendrat yang segera menghubungi Alexa, untuk mengabarkan tentang kesiapan acara yang akan segera dibuka. Sepertinya kali ini adalah acara yang sangat dinantikan oleh gadis itu, bagaimana tidak? Dia sungguh penasaran ingin melihat dengan jelas seperti apa wajah dari sosok yang membuatnya sangat penasaran.


"Bagaimana kalau ternyata wajahnya jelek dan tidak sesuai bayanganku?" Alexa merasa gelisah di dalam kamarnya hingga berjalan hilir mudik selayaknya setrikaan. Suara sepasang sepatu high heels yang dia pakai berhasil membuat Alexi merasa pusing.


"Exaaaaa! Tidak bisakah kamu tenang dan tidak membuat berisik?" Alexi berseru seraya memakai sabuk pada celana yang sedang ia kenakan. Wajahnya terlihat sangat kesal dengan tingkah adik kembarnya ini. "Kakak pusing mendengar suara sepatu jelekmu itu!"


"Hiiiihh! Kakak ini apa-apaan sih?" alexa menghampiri kakaknya dan mendaratkan pukulan kecil pada lengan Alexi. "Aku ini sedang gelisah, tau gak sih?"


"Aku sedang membayangkan pertemuan kami nanti daaaaan ... bagaimana kalau ternyata dia tidak seperti bayanganku?" Alexa harus jujur kali ini, meskipun mungkin akan di tertawakan oleh kakaknya. "Bagaimana kalau ternyata dia jelek?"


Alexi yang mendengar pertanyaan adiknya merasa kaget, kemudian tertawa lepas karena merasa geli dengan anak gadis yang ternyata belum melihat wajah orang yang sedang disukainya. Maka timbullah niat menggoda dalam hati Alexi, hitung-hitung membalas godaan adiknya beberapa waktu yang lalu.


Alexi mendekati adiknya dan berbisik di sisi telinga Alexa. "Percayalah ... dia sangat jelek dan kamu akan merasa kecewa."


"Kaaaaak!" Alexa berteriak keras. "Kakak menggodaku lagiiiiiii!"


Alexi kembali tertawa setelah selesai membuat adiknya semakin kesal. Alexa sendiri langsung berbalik dan menghujani kakaknya dengan puluhan tinju kecil yang tidak menyakitkan. Alexi berkelit menghindari serangan dari Alexa hingga membuatnya jatuh di atas tempat tidur, akan tetapi sang adik tidak juga menghentikan aksinya.


"Ampuuuun!" Alexi berteriak meminta ampun karena penampilannya yang sudah rapi menjadi kembali berantakan oleh ulah adiknya.


"Enak saja minta ampun!" Alexa masih tidak mau menyerah dan terus membuat kakaknya terpojok. "Bukannya memberi semangat, tapi malah menjatuhkan mental adikmu!"


"Yaa kan kita tidak tahu seperti apa dia." Alexi berusaha membela diri. "Kamu juga sih, asal main taksir aja!"


"Hiiiiiihhh!"


Terdengar suara pintu diketuk dari luar. "Tuan Muda! Nona! Sudah saatnya berangkat!"

__ADS_1


"Ya sebentaaaar!" Alexi menyahut dan merasa terselamatkan kali ini.


...Bersambung...


__ADS_2