
"Merry, lihatlah pemuda yang memakai penutup wajah itu! Apa kamu tahu siapa dia?" tanya seorang gadis berpakaian mini dress hitam yang begitu ketat membalut tubuhnya.
Wanita lain yang ditanya oleh sang kawan segera menoleh ke arah Alexi dan para pengawalnya. Para gadis cantik bermake up tebal itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Tetapi kalau menilik dari pakaian dan penampilannya, sepertinya dia cukup diistimewakan. Bukankah begitu, Jean?"
Jean memperhatikan dengan saksama penampilan para pria yang bersikap acuh tak acuh pada keadaan di sekelilingnya. Seolah-olah bagi mereka, orang lain tidak terlihat dan tidak terlalu penting.
"Benar sekali. Aku jadi penasaran ingin tahu siapa dia. Tampaknya mereka bukanlah orang-orang kalangan biasa saja." Jean berbisik dengan suara penuh kelicikan. "Sudah lama kita tidak mendapatkan makanan berat sejak lama dan makanan kecil terlalu membosankan!"
"Sepertinya, kita akan mendapatkan mangsa empuk hari ini," bisik wanita bergaun merah yang bernama Merry dengan seringaian penuh misteri.
"Ayo, kita dekati dia!" Merry mengajak Jean untuk mendekati pemuda bercadar syal yang tampak sangat diistimewakan oleh rombongannya. Keduanya segera bangkit dan berjalan dengan gemulai ke arah para pria yang bersikap dingin pada orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Aku sungguh penasaran sekali dengan orang-orang ini." Jean berbisik dalam hati sambil melewati meja-meja yang telah dipenuhi para pria berpakaian serba hitam. "Sayangnya mereka bersikap dingin dan angkuh.'
"Hmm ... sepertinya mereka cukup menantang untuk ditaklukan," ucap Merry dalam hati. "Benar-benar barang bagus!"
Sementara itu di meja tempat Alexi berada, pemuda itu masih belum membuka cadarnya. Dia terlalu enggan untuk membuka diri di depan publik. Baginya itu bukanlah hal penting atau mencari kesempatan untuk dikenal orang lain.
Salah seorang pelayan datang membawa beberapa kaleng minuman bersoda dan juga jus buah kesukaan Alexi tentu saja. Tak ada seorang pun dari para pengawalnya yang diijinkan memesan wine atau minuman keras lainnya.
"Silakan, Tuan!" ujar pelayan hotel mempersilakan tamunya untuk menikmati sajian minuman dengan sikap hormat.
"Terima kasih!" balas Abraham sembari menata minuman untuk.
"Silakan juga Tuan-Tuan memeriksa daftar menu kami hari ini." Pelayan hotel menyodorkan beberapa buku menu kepada para tamunya.
__ADS_1
"Tuan Muda ingin memesan menu santap malam apakah? Silakan Anda memilihnya!" Abraham berkata seraya menyodorkan sebuah buku yang memuat daftar makanan dan harga semua menu andalan di hotel tersebut. "Anda ingin western food atau yang lainnya?"
Alexi tanpa ragu membuka-buka buku menu tersebut. Hingga halaman terakhir dia tidak menemukan makanan yang diinginkannya. Buku pertama menampilkan sajian masakan eropa. Alexi menggelengkan kepalanya. "Adakah buku menu yang lain? Aku tidak ingin western food."
Segara menyodorkan dua buku menu lainnya "Mungkin di buku yang ini ada menu kesukaan Tuan Muda."
Alexi Nata Praja lagi-lagi hanya menggelengkan kepala saat selesai memeriksa daftar menu tersebut. Hal itu membuat Segara dan Abraham merasa bingung hingga keduanya saling berpandangan satu sama lain. Danny Hendrat memberi isyarat pada segara untuk menanyakan lagi apa yang diinginkan oleh sang tuan muda, karena dia tidak mengurusi keperluan sehari-hari Alexi dan membuatnya tidak mengetahui makanan apa yang disukai oleh Alexi.
"Tuan Muda menginginkan masakan yang bagaimana? Biar kami yang akan memnita pada pihak hotel untuk membuatkannya." Segara bicara dengan sangat berhati-hati.
"Sebentar aku pikirkan." Alexi berkata sambil mengingat-ingat sesuatu. "Kalian semua jangan menungguku untuk memesan makanan. Pesanlah apa saja yang kalian inginkan!"
Danny Hendrat dan yang lainnya terlihat lega mendengar perkataan Alexi yang membebaskan mereka untuk mendahului memesan menu makanan. Tanpa basa-basi pula, para anak buah Alexi Nata Praja pun segera memesan makanan yang mereka inginkan, sedangkan Alexi masih bergeming di tempatnya dan belum juga memberi jawaban.
"Baiklah, kami menunggu. Saya harap jangan terlalu lama Anda memikirkannya, Tuan Muda," ujar Abraham yang telah menentukan menu hidangan untuk dirinya sendiri dan juga secara diam-diam telah memesan makanan yang lain.
Alexi Nata Praja masih disibukkan dengan memikirkan , saat itulah dua wanita berpakaian seksi hampir mendekati meja tempat sang tuan muda berada. Namun untuk mendekati seorang Alexi, tentu saja itu tidak semudah seperti apa yang dipikirkan oleh para wanita penggoda ini. Mereka tidak tahu dengan siapa saat ini berhadapan.
Danny Hendrat yang melihat dua orang wanita mendekati tempatnya berada saat ini, segera memberi isyarat rahasia kepada para anak buahnya agar segera melakukan pencegahan. Hampir semua anak buahnya tahu, jika tuan muda mereka sangat tidak menyukai para wanita semacam itu.
"Singkirkan para wanita kotor itu sebelum mereka tiba di hadapan tuan muda!" Danny Hendrat memberi perintah kepada salah seorang pengawal yang duduk paling dekat dengannya.
Pengawal tersebut segera menyahut, "Siap, Ketua!"
"Hummph! Ingin menyentuh tuan muda kami? Jangan harap!" rutuk Danny Hendrat dalam hati dengan perasaan geram.
__ADS_1
"Berhenti!" Terdengar suara teriakan keras disertai gerakan beberapa orang pria pengawal dengan sigap menghadang langkah kedua wanita yang berjalan mengarah ke meja di mana Alexi Nata Praja, Abraham, Danny Hendrat dan Segara tengah sibuk memilih menu makanan untuk santap malam.
Para tamu yang masih sibuk menyantap hidangan pun serentak menoleh ke arah sumber suara bentakan. Mereka hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat dua wanita yang terkenal sebagai wanita penghibur, tetapi mereka hanya mau melayani para pria tajir saja. Tentu saja banyak yang menduga, jikalau perempuan-perempuan itu pastilah sedang mengincar pimpinan kelompok ini.
"Dasar wanita murahan!" bisik salah seorang pengunjung wanita yang tengah bersantap malam bersama rekan-rekan kerjanya. "Benar-benar sangat tidak tahu malu ya mereka?"
"Bukankan urat malu mereka berdua memang sudah putus?" Wanita yang lain menimpali. "Demi uang, bahkan menjual tubuh dan harga diri itu sudah biasa bagi mereka."
"Hiiihh, amit-amit!" Wanita berambut keriting bergidik. "Jangan sampai kita seperti mereka."
"Tentu saja tidak akan pernah. Kita ini kaum terhormat yang masih memiliki sedikit harga diri dan rasa malu," ucap kawan si wanita berambut keriting. "Kita lihat saja. Apakah mereka bisa mendapatkan mangsa empuk kali ini atau sebaliknya?"
"Benar sekali. Mari kita menonton pertunjukan yang sangat menarik ini!" seru gadis berbaju coklat dengan antusias. "Dasar para pengganggu!"
Jean dan Merry yang tengah berlenggak-lenggok menggoda pun, mau tidak mau segera menghentikan langkahnya secara mendadak. Merry bertanya dengan wajah tanpa rasa bersalah. "Ada apa, Tuan-Tuan? Mengapa menghentikan kami?"
Salah seorang berkata dengan suara dingin dan tegas. "Nona-Nona! Sepertinya Anda berdua salah jalan. Area ini sudah kami bayar untuk tempat khusus selama kami semua ada di sini."
"Mereka bahkan membayar tempat ini untuk mereka secara pribadi?" Jean bertanya daam hati sambil memikirkan betapa kayanya kelompok ini. Pikiran tamak akan harta pun segera berkeliaran dalam benak para wanita penghibur tersebut. "Aku harus bisa mendapatkannya!"
"Maaf, Tuan-Tuan. Meskipun demikian, bukankah tidak ada salahnya kalau kami berdua berkenalan dengan para Tuan-Tuan yang gagah ini?" Merry yang cantik gemulai mulai melancarkan jurus rayuannya dan dengan nakal pula dia meliukan tubuhnya bak cacing kepanasan. "Tuan-Tuan semua bisa bersenang-senang dengan kami yang akan melayani segala kebutuhan Anda. Bagaimana?"
"Dan khusus untuk pria muda yang di sana itu ... kami akan memberikan tips lebih yang special dan sangat memuaskan." Merry menyambung ucapannya masih dengan tingkah genitnya yang menggoda.
Salah seorang pengawal dengan marah membentak, "Lancang!"
__ADS_1
...Bersambung...