
"Di antara kita tidak akan ada yang saling mengkhianati dan tidak akan saling menjatuhkan!" seru Segara sambil mengarahkan telapak tangannya kepada Danny Hendrat.
"Sepakat!" Danny Hendrat juga berseru dengan suara mantap dan tegas, lalu menjabat tangan Segara.
Danny Hendrat dan Segara saling berpandangan sekali lagi, lalu melepaskan genggamannya dan kembai menikmati acara santai mereka yang hampir saja rusak oleh kabar berita kedatangan Alexa. Mereka melanjutkan dengan saling bercerita dan mengatur rencana yang akan mereka lakukan dalam misinya mendampingi Alexi Nata Praja menangani kasus hilangnya ratusan keramba tiram mutiara milik sang majikan.
Alexi merebahkan tubuh lelahnya dan ingin segera terlelap dalam mimpi tentang kekasihnya yang sangat dia rindukan. Sudah berapa bulan lamanya dia sama sekali belum pernah lagi menyentuhnya. Pemuda itu tersenyum dalam kesendirian saat membayangkan sebuah pertemuan yang manis dengan kekasihnya itu.
"Tunggu saja, Zike! Aku akan membalaskan rindu dendam ini sampai kamu tidak berdaya di hadapanku!" Alexi tertawa sendiri dan berucap dalam hati meski matanya terpejam dengan tangan kiri yang masih menggenggam ponselnya. "Pasti wajahnya akan memelas dengan sangat lucu dan makin menggemaskan!
Angan-angan kian melambung tinggi selaras pikiran yang terus memikirkan gadis yang selalu bersemayam dalam hatinya. Semakin lama bayangan demi bayangan itu menimbulkan rasa kantuk yang membuatnya jatuh tertidur. Dia pun terlelap sangat dalam hingga tak menyadari sama sekali, akan kedatangan seorang wanita yang memasuki kamar itu dan langsung membuka pakaian yang dikenakannya, lalu menghampiri Alexi, ikut berbaring di tempat tidur setelah mencium beberapa kali pipi pemuda itu.
"Aku rindu kamu," bisik gadis itu sambil menatap dalam-dalam wajah Alexi. "Jangan tinggalkan aku lagi!"
"Eh, mengapa kakak masih memakai hand sock saat tidur, ya?" Alexa memperhatikan sarung tangan hitam berbahan kulit binatang yang masih menempel di tangan kanan sang kakak. "Mungkin ini kebiasaan barunya. Biarkan saja."
Alexa tidak terlalu ingin mencampuri urusan gaya apa pun yang diterapkan sang kakak. Bahkan saat Alexi dengan sengaja menindik bibir bawahnya pun, dia tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Namun, jikalau Nata Praja mengetahui polah tingkah anak-anaknya yang di luar hal umum. Bisa jadi itu juga akan membuat sang ayah marah besar.
Bagi Alexa Nata Praja, apa pun penampilan Alexi itu tidak pernah jadi masalah. Toh dirinya tetap menyukai penampilan sang kakak. Keduanya bukan hanya kembar yang lahir dari satu orang ibu, mereka bahkan hampir memiliki kemiripan wajah, gaya, kebiasaan dan sifat.
Malam kian merambat hingga menuju tengah malam. Kepenatan dan kelelahan telah melelapkan sebagian para penghuni hotel, sedangkan yang sebagian lagi mungkin tengah asyik melakukan hal lain.
Alexi terjaga dari tidurnya saat merasakan ada sesuatu yang berat menimpanya. Pergerakan tangannya pun terasa terkunci dan tak bisa berkutik sama sekali. Pemuda itu membuka matanya secara perlahan untuk memastikan apa yang terjadi saat ini.
"Apa ini?" Alexi berusaha keras menyingkirkan benda berat yang terus menempel di tubuhnya, akan tetapi sesuatu itu bergerak dan semakin merapat.
"Rambut panjang?" pekik Alexi dengan mata terbuka seketika dan dada berdebaran. "Si-siapa ini?"
"Siapa ini yang berani-beraninya masuk ke kamar ini dan tidur bersamaku?" seru Alexi yang menjadi terkejut, saat mendapati seseorang tengah memeluknya dengan erat saat tertidur.
__ADS_1
Alexi masih belum berani memalingkan wajah kepada sosok yang terus membuat tubuhnya terasa dihimpit. Sepertinya, dia juga seorang yang sedikit percaya pada cerita tentang hantu hingga perasaan mrinding disertai keringat dingin pun seketika menyerangnya.
"Tapi, hantu mana yang berani mendekati seorang Alexi?" Pemuda itu berusaha menghibur diriya sendiri.
"Seorang wanita!" Alexi meraba-raba bagian punggung dan kepala orang yang sedang memeluknya. Pria muda itu berpikir keras. "Tapi, wanita mana yang berani masuk ke mari dan tidur bersamaku tanpa melewati Abraham atau Segara?"
"Tak mungkin dia, kan?" Dia mencoba mengamati dengan saksama wajah yang membenam di lengannya dan memalingkan sedikit wajah itu agar dia bisa memeriksa secara jelas. Alangkah lebih kagetnya pria muda itu, karena ternyata gadis ini adalah seseorang yang sangat dia kenali.
"Exaa?" Alexi merasa kaget karena ternyata gadis itu adalah saudara kembarnya. "Mengapa jadi kamu yang ada di sini?"
Alexi sungguh tak mengerti dengan maksud kedatangan adik kembarnya ini. Tetapi itu juga bukanlah suatu hal yang perlu dipusingkan. Hanya saja, tentu dia harus menjaganya dengan baik selama sang adik berada bersamanya.
"Yah, sudahlah. Tanyakan saja padanya besok." Alexi akhirnya membiarkan saja gadis yang merupakan saudara mudanya itu tetap pulas di dalam pelukannya. Dia pun kembali terlelap dan jatuh ke alam mimpi yang indah, meski hal tersebut tidak sama dengan kenyataan yang ada.
Sementara itu di ruangan khusus yang menjadi tempat tinggal pemilik Hotel Van Houten. Terlihat beberapa orang pria tengah mengepung dua orang wanita. Salah seorang wanita tak berdaya dalam cengkeraman seorang pria bertubuh tinggi besar dengan kulit putih dan rambut pirang.
"Lancang!" seru pria berkemeja putih dengan kemarahan yang telah menggunung. "Jadi benar dengan laporan Manager Robert itu?"
Merry yang berdiri di samping Robert merasakan ketakutan hingga tubuhnya menggigil. Dia dan Manager Robert saling berpandangan, lalu Robert memberi isyarat agar gadis itu menjawab pertanyaan dari pemilik hotel.
"Itu-itu ... itu benar, Tuan," jawab Merry dengan jujur sambil menangis dan suara bergetar.
"Dan kamu, Jean. Benarkah kamu sudah menghina mereka dengan mengatakan hal yang tidak sepantasnya kamu katakan?" bertanya pria asing berambut pirang itu dengan mata melotot.
"Ma-maafkan a-aku, Tuan Albert!" Jean tak bisa mengelak lagi akan semua perbuatannya.
Plak! Plak! Plak!
"Aaaah! Tuaaaaan!" jeritan demi jeritan dari mulut Jean tidak bisa meluluhkan pria yang sedang dalam keadaan emosi tingkat tinggi. Wjah Jean benar-benar sudah selayaknya topeng monyet akibat mendapatkan banyak tamparan dari dua orang pria sekaligus.
__ADS_1
"Kawannya ini bersalah dan dia juga tidajk mencegah. Maka tampar dia juga, Robert!" perinta Pemilik hotel yang bernama Edler Van Houten.
"Baik, Tuan Edler!" Manager Robert segera melakukan perintah dari atasannya tanpa ragu-ragu. Meskipun dia juga menyukai dua wanita yang selalu menemaninya setiap dia membutuhkan, akan tetapi kedudukan dan jabatan tetap yang paling penting baginya. Soal wanita, bukankah masih banyak wanita cantik yang akan bersedia ia tiduri?
Beberapa kali tamparan keras dari Manager Robert segera mendarat di pipiMerry yang saat ini harus berhadapan secara langsung dengan sang pemilik hotel. Pria berwajah tampan meskipun usianya sudah memasuki empat puluh tahunan itu terlihat sangat marah atas apa yang baru saja dia dengar dari Robert bawahannya.
"Jadi kalian berdua melakukan hal itu kepada Tuan Muda Alexi dan rombongannya?" bertanya pria pemilik hotel yang ternyata sudah cukup mengenal Alexi.
"Ampuni kami, Tuaaaaan!" Jean menjerit keras saat lehernya dicengkeram oleh seorang pria. "Kami sungguh tidak tahu tentang siapa orang itu. Kami hanya ingin menawarkan diri seperti biasanya."
"Bodoh kalian berdua!" bentak pria tersebut. "Seharusnya kalian lihat-lihat dulu, siapa orang yang akan menjadi target kalian itu!"
"Sekali lagi, ampuni kami Tuan Edleeeer!" Merry seketika bersimpuh di atas lantai dan berkali-kali menjura memohon ampunan kepada atasan dari orang yang telah mempekerjakan mereka ini.
"Berani sekali kalian bertindak hal yang bisa mengancam semua usahaku ini!" bentak pria berkemeja putih itu dengan suara keras sembari menghempaskan tubuh Jean hingga terlempar menabrak meja kecil di sudut ruangan.
"Aaaaa!" Jean menjerit kesakitan sekali lagi saat tubuh kurusnya menimpa meja dengan banyak tumpukan buku milik Edler Van Houten.
"Tapi, Tuaaan! Kami sungguh tidak tahu tentang merekaaa!" Merry menangis sambil memegangi pipinya yang lebam di sana-sini. Wajah cantik keduanya seketika lenyap dan berganti dengan wajah serupa zombie wanita yang sangat buruk menyeramkan.
"Kami sungguh tidak tahu siapa mereka." Jean berkata sambil menangis. Keangkuhannya sekarang bagaikan sirna begitu saja.
Jean masih memohon. "Ampun, Tuan Edleer!"
"Benar, Tuan Edler! Kami berjanji untuk tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini." Merry menyambung ucapan Jean.
"Tuan Edleeeer!"
...Bersambung...
__ADS_1