Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
SYARAT?


__ADS_3

"Kau benar juga, mungkin itu juga lebih baik. Aku hanya tidak ingin mama dan pengasuhku tahu, kalau aku habis kecelakaan. Bisa ditutup sekteku dan mama tidak pernah kan mengijinkan aku mengikuti pertandingan apa pun."


"Maka dari itu, aku tawarkan tempat untukmu. Kalau kamu tinggal di hotel atau apartemen juga nanti orang-orang mamamu tahu, kan?" tanya Ye Kai sambil mengupas buah jeruk dan memberikan isinya kepada Jessey Liu. "Kecuali kalo kamu ke luar negeri dan tinggal di sana selama masa penyembuhan."


Lagi-lagi Jessey Liu kembali terdiam dan memikirkan jalan yang terbaik. Hanya sebuah luka kecil saja, tetapi bisa berakibat yang fatal jikalau Jennie Liu ibunya mengetahui. Pria itu sungguh tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Masih terngiang dan terbayang dengan jelas perdebatan dengan sang ibu mengenai sekte kebanggaannya tersebut.


"Pokoknya mama mau minta Tetua Wan yang menjalankan kelangsungan Elang Emas atau kita tutup saja perguruan itu dan kamu cukup mengurusi semua bisnis mama!" Jennie Liu berkata sambil berkacak pinggang di depan sang anak.


"Maaa! Tapi Jessey lebih suka Elang Emaas! Jessey suka bela diri dan lagi pula itu adalah perguruan yang murni milik keluarga kitaaa! Aaww!" Jessey Liu berkata dengan nada tak kalah kerasnya namun segera terpekik kecil saat luka di kepala bagian belakang terasa nyeri dan sakit. "Maaaa, jangan tutup perguruan kitaaa, Jessey mohon!"


"Tapi lihat! Anak mama ini harus berapa kali terluka? Secara diam-diam juga sering ikut kompetisi liar dan beberapa kali terlibat perkelahian dengan organisasi gelap hanya untuk menunjukan kehebatan kamu, begitu?"Jennie Liu kemudian memegangi kepala anaknya yang dibalut perban. "Dan ini! Berapa banyak kepala yang kamu punya?"


"Maaaa!" Jessey Liu lagi-lagi hanya bisa meringis sekali lagi sambil memeluk pinggang ibunya. "Maaaf! Maafkan Jessey!"


Namun, Jennie Liu sepeti tidak mau tahu dan kembali meneruskan omelannya. "Maaf? Berapa kali kamu minta maaf? Berapa kali mama maafin kamu? Dan berapa kali juga kamu melanggar lagi dan melakukannya lagi?"


"Tapi Jessey senang melakukannya, Maaa! Jessey hanya menyalurkan hobi dan bakat dan juga kalau bukan Jessey yang meneruskan sekte kita, siapa lagi?"


"Dan lagi, peraturan dibuat bukankah juga untuk dilanggar." Kali ini Jessey Liu menggerunyam lirih setengah tak terdengar.


"Apa kamu bilang?" Jennie Liu yang mendengar samar-samar suara gerunyaman anaknya langsung membentak.


"Aturan dibuat untuk dilanggar! Eeehh, bukan!" Jessey Liu menutup mulitnya sendiri akibat keceplosan. "Maksud Jessey, maksud Jessey adalah ...."


"Aturan tidak selamanya harus dituruti. Dan boleh juga kadang-kadang kalau kita melanggar."


"Sudah berani kamu ya sama mama?" Jennie Liu melepaskan pelukan Jessey Liu dan dengan kesal menjewer telinga anaknya. "Sudah pinter ya anak mama ini membantah mama?"


"Aaaww! Sakiit, Maaaaa!" Jessey Liu merimgis kesakitan akibat jeweran ibunya. Meskipun bukan tidak mungkin bisa melawan, tetapi wanita ini adalah ibunya. Seorang yang tidak aka pernah dia sakiti sampai kapan pun. "Maaaa, lepasiiin! Ampuun! Jessey salah ngomong tadiii ... aww!"


Jennie Liu melepaskan jewerannya dan Jennie Liu memegang dahinya sendiri akibat merasa sedikit pusing sambil menggelengkan kepalanya dan bergumam dalam hati. "Ya Tuhaaaaan! Anak ini benar-benar!"


Jennie Liu lalu duduk di tepi tempat tidur sambil membetulkan letak selimut anaknya. "Jessey, Jessey! Berapa lama lagi mama harus merasa cemas setiap waktu, saat tahu kamu pergi atau terlibat pertarungan?


"Maafin Jessey, Ma!" Jessey Liu kembali duduk di tepi tempat tidur dengan wajah cemberut sambil memegangi telinganya yang sakit dan memerah.


Melihat hal itu, hati Jennie Liu merasa tidak sampai hati dan sedih. Wanita itu duduk di samping anaknya dan meraih kepala sang anak, memeluknya serta membelai rambut hitam, panjang nan lembut berkilau milik sang pria muda yang sekarang sudah tidak kecil lagi.

__ADS_1


"Jessey, kamu anak mama satu-satunya dan mama tidak bisa untuk terus-menerus merasa cemas siang dan malam hanya untuk memikirkan kamu," ucap Jennie Liu sambil mengusap air matanya. "Mama tidak ingin kehilangan anak mama lagi. Setelah kepergian Jackie kakakmu, mama jadi sangat takut."


"Maaf sekali lagi, Maaa!" Jessey Liu menoleh dan menatap wajah sang ibu dan menghapus jejak air mata di pipi wanita yang merupakan cinta pertamanya. "Lalu menurut Mama, Jessey harus bagaimana?"


Tak bisa menjawab tanpa memikirkan jawabannya terlebih dahulu, membuat Jennie Liu mendesahkan napas panjang secara perlahan. Dia pun sebenarnya tidak ingin Sekte Elang Emas yang didirikan oleh leluhurnya sejak ratusan tahun silam itu hilang atau terhapus begitu saja. Namun, dunia bela diri adalah tempat penyiksaan paling kejam tanpa belas kasih saat berada di hadapan musuh.


Seperti halnya Jessey Liu yang baru saja mengalami perdarahan di kepala, akibat dari salah pendaratan saat berlatih jurus-jurus milik sektenya. Betapa dilemanya seorang putri pendiri sekte ini saat melihat darah dari kepala sang putra bertumpah ruah di atas lantai perguruan dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Jennie Liu yang selalu mengingat hal mengerikan itu, spontan membuat wanita ini langsung menutup Sekte Elang Emas hingga saat ini. Sampai akhirnya berbagai desakan dari berbagi pihak memaksanya agar membuka kembali perguruan seni bela diri tersebut.


"Jessey ... kamu boleh tetap menjalankan Elang Emas, tapi dengan satu syarat," ucap Jennie Liu dengan nada lirih. Bagaimanapun juga dia merasa bersalah jika sekte Elang Emas sampai tidak ada yang meneruskan. Kemungkinan para leluhur akan mengutukinya dari tempat mereka saat ini.


"Syarat?" bertanya Jessey Liu dan merasa penasaran dengan syarat apakah yang harus dia setujui.


"Ya. Dan syarat itu adalah ...."


Jennie Liu lalu merinci berbagai macam syarat kepada Jessey Liu yang salah satunya sangat mengejutkan pemuda itu. "Apa?"


"Tidak bisa secepat itu, Maaaaaa!"


"Pokoknya mama tidak mau tahu!" Jennie Liu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Sesampainya di depan pintu, wanita itu beucap, "Mama berharap secepatnya!"


"Selamat malam, Jessey!"


Jennie Liu menutup pintu kamar dan pergi meninggalkan Jessey Liu yang masih merasa keberatan dengan salah satu syarat yang terlanjur dia setujui karena terpaksa. "Mamaku ini!"


"Mama pikir itu mudah? " Jessey Liu meraih bantal guling dan menjadikanya samsak guna melampiaskan kekesalannya. "Minta vila, kek! Minta Jet pribadi atau kereta api bareng relnya sekalian aja, pasti bakal aku turuti. Lah ini?"


"Aaaaaaarrrgg!"


Jessey Liu mendesah sekali lagi saat mengingat semuanya. Betapa beratnya menjadi seorang yang tampak terhormat dan disegani oleh siapa pun. Alangkah tidak menyenangkannya hidup dengan kedua orang tua yang saling bertentangan. Masalah dengan Teddy Chen saja sudah membuat kepalanya kembali berdenyut dan jikalau teringat akan tuntutan sang ibu, juga semakin menambah kepusingan.


"Bagaimana?" Ye Kai ingin memastikan kesediaan Jessey Liu.


Pertanyaan Ye Kai kembali mengejutkan pria muda itu, akan tetapi dia adalah Jessey Liu yang akan selalu bersikap datar tanpa menyiratkan kebimbangan di wajahnya.


"Udah Jess, trima ajaaa!" Heldevi menengahi karena dia tidak ingin dua orang ini bertengkar lagi. "Cuma beberapa hari doang, kan?"

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan orang-orangku yang terluka? Bukankah nanti mereka bisa saja mengatakan hal yang sebenarnya pada mamaku?" tanya Jessey Liu sambil menerima suapan siungan jeruk dari Ye Kai.


"Kau ini!" Ye Kai merasa sedikit kesal dengan pria ini. "Jesseeeeey!"


"Kamu ini kan pemimpin merekaaa! Tinggal kamu perintahkan saja mereka semua untuk tutup mulut atau suruh mereka semua untuk cuti selama satu atau dua minggu dengan alasan pemulihan. Kamu punya banyak cara untuk membungkam mereka!"


Jessey Liu kembali merasa bodoh karena tidak berpikir sejauh itu. "Benar juga."


"Haiiissh! Mengapa Elang Emas memiliki ketua sebodoh ini?" Ye Kai bangkit dari duduknya. "Terserah kamu. Kamu mau ikut saranku atau kembali. Dan lagi, kamu juga baru saja bertengkar dengan ayahmu tentang dia, kan?"


Jessey Liu tertegun, lalu menyahut, "Benar. Aku juga gak mau mamaku tahu tentang penyebab pertengkaranku itu."


"Kalau gitu gue juga saranin lu ikut Ye Kai aja dah, Jess!" ujar Heldevi sambil duduk seenaknya di atas meja sambil menggigit sebutir apel.


"Mmmh. Demi kebaikan sekte kita, gue bersedia. Kamu atur aja, Ye Kai!" ucap Jessey Liu yang akan selalu mudah terpikat oleh bujukan Ye Kai. Bahkan andai saja kawan sedekat itu meminta semua hartanya, mungkin Jessey Liu akan menyerahkannya tanpa berpikir panjang. Beruntungnya, Ye Kai bukanlah seorang yang tamak dan suka menjilat. Bagi pria itu, kedudukannya saat ini adalah hal yang sangat memuaskan dan tak memerlukan hal lain lagi.


"Okay. Jadi fix kamu ikut ke rumahku aja. Kecuali kalo kamu mau mama kamu tahu kejadian tadi malam, terserah kamu." Ye Kai segera mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri. "Bagaimana, Jessey?"


Jessey Liu akhirnya hanya menganggukan kepala tanda menyetujui. Bagi pria muda itu, kepentingan sekte lebih di atas segalanya. Bahkan kadang dia berharap, jika saja dia memiliki seorang saudara untuk meneruskan bisnis sang ibu. Maka dia pun akan dengan sangat senang hati memberikan posisinya. Sesungguhnya seorang Jessey Liu hanya ingin bisa sepenuhnya fokus meneruskan kejayaan Sekte Elang Emas, akan tetapi bisnis ibunya juga membutuhkan sebuah perhatian khusus.


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu," ucap Jessey Liu seperti orang yang sedang pasrah.


"Okay. Kalau begitu, sekarang aku bisa menghubungi Mei Lan agar menyiapkan tempat untukmu." Ye Kai segera menghubungi sang istri. "Sebentar, aku bicara dengan istriku dulu."


"Halo, Lan'er!" Ye Kai kemudian keluar ruangan untuk berbicara dengan Mei Lan.


Agustin segera masuk setelah Ye Kai sedikit menjauh dari ruangan serba putih tersebut. Beberapa orang suster pun terlihat mengikutinya sambil membawakan nampan berisi makanan. Wajah para suster seketika menjadi berubah ceria saat melihat ketampanan pasien khusus ini.


"Silakan, Tuan!" Suster cantik langsung bertingkah sedikit genit saat meletakan nampan di atas meja yang ada di samping tempat tidur.


Jessey Liu hanya melirik sekilas tanpa sedikit pun mengubah posisi duduknya. "Mmh, terima kasih."


"Huh! Dingin sekali dia!" Suster cantik menggerutu dalam hati atas sikap dingin Jessey Liu. "Dokter dan pasien sama saja!"


"Ya sudah, silakan dinikmati hidangannya! Kalau ada hal lain yang Anda butuhkan, Tuan bisa memanggil saya," ujar suster yang sebenanya masih merasa sangat penasaran dengan sososk pasien dari atasannya ini.


"Baiklah."

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2