Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KESAL


__ADS_3

Abraham akhirnya hanya bisa termangu-mangu di tempatnya berdiri sambil masih menggenggam alat pengering rambut. Pria itu merasa bingung. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Menyusul tuan muda ke kamarnya juga tidak mungkin, karena di sana ada Nona Alexa," gumamnya dalam hati.


"Selamat pagi, Tuan Muda!" Segara yang baru saja selesai berpakaian rapi berniat menyapa sang tuan muda.


Abraham segera menoleh dan berkata, "Tuan Muda sudah kembali ke kamarnya. Tak perlu dicari lagi."


Segara merasa heran. "Ada apa tuan muda ke mari? Apa ada kepentingan yang mendadak?"


"Tidak ada. Tuan muda hanya minta dikeringkan rambutnya, sedangkan aku tidak bisa ke kamarnya karena ada Nona Alexa." Abraham menjawab sambil menyimpan kembali hair dryer ke dalam tasnya. "Tapi, sepertinya ... akan ada hal yang kurang baik."


"Apa maksudmu, Abraham?" Segara bertanya sambil merapikan lagi pakaiannya. Pagi ini ada rencana sebuah pertemuan besar dengan orang-orang dari Sekte Elang Emas, seperti yang telah dia bicarakan dengan Roy dan Jay.


"Tuan Muda sepertinya marah pada Nona Alexa," jawab Abraham dengan suara berbisik.


Segara kaget. "Marah?"


"Apakah Tuan Muda baru mengetahui perihal kecelakaan itu?" Segara kembali bertanya.


"Mmhh. Dan itu juga aku yang bercerita padanya." Abraham merasa sedikit bersalah dan khawatir akan terjadi apa-apa dengan nonanya.


"Celaka!" Abraham mendadak menjadi kebingungan dan takut, kalau-kalau Alexa akan mendapat marah besar dari Alexi. Hal itu bukan tidak mungkin, karena Alexi melarang untuk mengungkap identitas mereka.


"Aku juga khawatir dengan nona. Akhir-akhir ini tuan muda emosinya sering berubah-rubah tidak menentu." Segara berucap sembari menatap ke arah pintu. "Apa yang akan dilakukan oleh mereka, ya?"


"Entahlah. Itu urusan mereka, kan?" jawab Abraham sambil menyimpan kembali tasnya ke dalam nakas.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bertanya Segara dengan nada cemas. Dia sungguh khawatir pada keadaan keduanya.


Abraham hanya mengangkat bahu tanda tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya dengan kedua orang saudara kembar tersebut. Keduanya lalu sepakat untuk mengikuti Alexi ke kamarnya, meskipun jelas-jelas mereka tidak akan bisa masuk dan melihat apa yang dilakukan oleh tuan muda mereka selanjutnya.


Alexi membuka pintu kamar dengan kasar. Bahkan salah seorang petugas kebersihan pun dia usir dari kamarnya. Petugas kebersihan wanita lebih memilih menyingkir untuk menyelamatkan diri, begitu melihat penghuni kamar yang tampak terlihat marah.


"Exaaaaaa!" Alexi berteriak memanggil adiknya yang baru saja berpakaian. Gadis itu terkejut melihat sang kakak muncul dari pintu dengan wajah marah.


"Ada apa, Kak?" Alexa menyongsong kakaknya. Namun, gadis itu segera mundur ke belakang karena Alexi melototinya sambil melangkah maju dengan wajah memerah.


"Kenapa kakakku ini?" tanya Alexa dalam hati dengan perasaan sedikit takut. Baru kali ini dia melihat Alexi seperti marah padanya.


"Apa yang terjadi semalam dan mengapa tidak ada yang bercerita apa pun padaku?" tanya Alexi sambil mencengkeram bahu adiknya. "Apa yang sudah kamu sembunyikan dari kakakmu ini, haaa?"


"Kaaaak, Lepaskan dulu! Ini sakit!" Alexa meringis menahan sakit di bahunya, tapi hal itu tidak membuat Alexi melepaskan cengkeramannya. "Me-memang ada yang terjadi, Kak. Maafkan aku, karena belum memberitahukannya pada Kakak!"


"Keterlaluan!" Alexi menghempaskan tubuh adiknya ke atas tempat tidur dan berjalan mendekati Alexa yang jatuh terduduk. "Cepat ceritakan apa yang terjadi pada kalian semalam!"


"Baik!" Alexi Nata Praja langsung duduk di samping adiknya. "Ceritakan sekarang!"


"Mmhh." Alexa lalu menceritaka apa yang terjadi terhadap dia dan rombongannya, tanpa dikurangi atau ditambah lagi.


"Jadi hanya karena kecelakaan seperti itu saja, anak buahmu sampai baku hantam dengan kelompok itu?" tanya Alexi dengan sangat heran. "Dan juga, orang-orang kita mengalami luka cakaran?"


"Bodoh!" Alexi Sungguh menyesalkan tindakan rombongan Alexa. Terlebih lagi, para anak buah dari adiknya ini ternyata memakai ilmu yang sebenarnya tidak boleh digunakan secara sembarangan. "Bodoh sekali merekaa! Itu sama saja dengan memberitahukan pada publik tentang identitas kitaaa!"


"Maafkan aku, Kak! Akulah yang tidak bisa mengendalikan mereka dengan baik!" Alexa merasa bersalah atas kejadian tersebut.

__ADS_1


"Hanya sebuah kecelakaan kecil saja, sampai-sampai berlaku ceroboh seperti itu!" Alexi sungguh menyesalkan tindakan anak buah Alexa yang menggunakan ilmu pukulan beracun secara sembarangan.


"Biar kuberi pelajaran saja mereka semua!" Alexi bangkit dan berjalan keluar kamar dengan wajah merah padam.


"Kaaaak!" Alexa juga ikut bangkit dan segera menyambar lengan kakaknya untuk mencegah, jikalau Alexi akan menghukum para anak buahnya. "Kak! Mereka sudah menderita luka-luka, jadi tolong jangan hukum merekaaa!"


Alexi segera menepis pegangan tangan adiknya dengan sangat kasar, hingga tubuh Alexa hampir saja terjatuh. Pria muda itu lalu berkata dengan suara keras. "Kamu juga! Mengapa kamu harus jauh-jauh menyusulku ke mari? Kalau hanya karena pesan itu, seharusnya kau cukup mengirimkannya melalui messenger!"


Alexa akhirnya tidak bisa iuntuk tidak menangis. Gadis itu merasa jikalau kakak kembarnya ini memang sudah sangat berubah. Dahulu jangankan membentak apalagi mendorongnya, sedangkan melihat adiknya menangis saja Alexi tidak akan rela. Namun sekarang, semua sudah sangat berubah dan Alexi yang ada di hadapannya kini seperti orang lain.


"Tetap diam di tempatmu atau kakak akan menyuruhmu pulang!" Alexi menutup pintu kamar dengan kasar dan membiarkan adiknya menangis sendiri.


"Abrahaaaam!"


"Ya! Tuan Mudaa!" Abraham dengan tergopoh-gopoh datang ke arah Alexi. "Ada apakah, Tuan Muda?"


"Antar aku ke tempat mereka!"


Abraham menyahut, "Ke mana, Tuan Muda?"


"Bodoh!" Alexi memukul lengan Abraham karena merasa kesal. "Ke mana lagi? Ya ke tempat anak buah Alexa!"


Abraham meski bertubuh tinggi besar namun jika sudah berhadapan dengan Alexi, maka dia pun bagaikan mati kutu. Pukulan itu memang seperti kibasan telapak tangan kiri yang biasa saja, akan tetapi jika Alexi dalam keadaan marah maka kekuatannya bisa menjadi tiga kali lebih besar. Hal tersebut dikarenakan tanda lahir Alexi berada di tangan kirinya dan jika terkena sesuatu yang bersifat panas pola bergurat keperakan itu akan memancarkan sinar serta kekuatan yang sangat kuat.


"Oh, silakan Tuan Muda ikuti saya!" Abraham tidak lagi membantah ucapan Alexi. Dia tahu secara pasti tuan mudanya ini dalam keadaan sangat marah. Tentu saja itu karena kecerobohan para pengikut Alexa.


Abraham memandu Alexi menuju ke ruangan di mana para anak buah Alexa berada dan kebetulan juga, Danny Hendrat, Jay dan Roy juga ada di sana meski di kamar yang berbeda. Demi melihat kedatangan Alexi, mereka serentak memberi penghormatan.

__ADS_1


"Tuan Muda Alexi!"


...Bersambung...


__ADS_2