
Gadis itu tak bosan-bosannya menatapi wajah Alexi yang memiliki bentuk alis bak bulan sabit, hidung mbangir, bibir tipis merah muda dan juga dagu bak lebah bergantung. Yang paling menarik lagi adalah bola mata Alexi. Pria muda itu memiliki sepasang bola mata sedikit lebar, bulat, berbulu lentik dan bola mata berwarna biru kehijauan. Terlebih lagi, Alexi memiliki rambut hitam berkilau, lurus dan panjang selayaknya para bintang iklan shampo yang sering terlihat di berbagai media.
"Mata orang ini sangat indah dan terlihat cukup langka. Apa dia memakai softlens?" tanya Suri dalam hati dengan perasaan heran. Memang tidak mustahil jika bola mata cantik itu hanyalah softlens yang banyak dijual saat ini.
"Pasti wajahnya ini hasil operasi bedah plastik dan bukan wajah yang asli dari lahir." Suri menerka-nerka. "Tapi, kok Nona Zike mau ya sama orang begini?"
"Aaahh! Itu bukan urusanku, jadi mengapa harus kupusingkan?" Suri meletakkan kembali ponsel milik Zike di atas nakas dan dia kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda.
Tak seberapa lama kemudian, Zike keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Wajahnya sekarang terlihat berbeda jika dibandingkan saat baru pertama kali dia menginjakkan kaki di tempat ini. Rupanya semenjak menjadi murid dari Mei Lan, dia telah banyak belajar bagaimana cara merawat kulit. Selama ini dia memang tidak begitu peduli pada keadaan dan penampilan dirinya sendiri.
Suri menatap gadis yang diketahui telah diangkat sebagai murid oleh tuannya ini dengan pandangan sedikit heran. Dia sangat tahu saat Zike baru saja datang, penampilannya tidak seperti sekarang ini. Secara diam-diam pula. Suri merasa sedikit iri pada perubahan gadis ini.
"Nona Zike semakin cantik saja. Padahal baru beberapa hari di sini," ujar Suri yang memuji dengan setulus hati sembari menyapu lantai.
"Tapi, tetap saja masih jauh lebih cantik guruku," sahut Zike sambil mengeringkan rambutnya yang sedikit basah dengan menggunakan handuk. Gadis itu dengan santainya duduk di dekat jendela.
"Kalau nyonya sih, jangan ditanya lagi. Dia memang sangat cantik sejak dulu. Pantas saja Tuan Ye sangat tergila-gila padanya." Suri memang kerap melihat para majikannya bermesraan di mana saja.
Membayangkan hal tersebut, membuat gadis gemuk itu membatin, "Kapan ya, aku bisa seperti mereka?"
"Tentu saja shifu akan sangat mencintai Nu Jiaoshi." Zike tersenyum sendiri saat membayangkan dua gurunya yang memang sangat serasi. Tiba-tiba saja, dia pun teringat kepada Alexi yang tadi meneleponnya. "Ale! Aaaahh, ada apa dengannya?"
Zike menyambar ponsel yang masih di atas nakas dan segera men-dial nomor Alexi. "Hallo, Ale."
__ADS_1
"Hallo, Zike." Alexi yang dihubungi oleh Zike pun dengan gembira menjawab panggilan dari kekasihnya. "Bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Tentu saja aku baik. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa meneleponmu," sahut Zike dengan nada santai. Entah sudah berapa kali Alexi akan menanyakan hal itu padanya dan dia juga harus menjawab sesuai dengan keadaannya saat ini.
"Oh, tidak! Aku sedang merasa sangat buruk." Zike tiba-tiba berkata dengan maksud ingin mengerjai Alexi. Dia ingin tahu, seberapa peduli dan apakah kekasihnya itu akan mencemaskan dirinya jia dia sakit.
"Mengapa kamu merasa sangat buruk?" Nada suara Alexi terdengar cemas. "Apa kamu sakit?"
"Mmh." gumaman kecil singkat yang dia buat lesu semakin membuat Alexi merasa khawatir.
"Kamu sakit apa, Sayang? Perlu ke dokterkah?" Alexi benar-benar sangat cemas kali ini. Bahkan di seberang sambungan telepon pun pemuda itu berjalan hilir mudik dengan gelisah tanpa diketahui oleh Zike tentu saja.
"Darah?" Alexi terpekik dalam hati saat matanya tiba-tiba melihat aliran darah keluar dari dalam handsock yang sedang dia pakai. "Apakah jahitan lukaku sobek?"
"Aku hanya sedang tidak enak badan saja. Mungkin kebanyakan makan." Zike menjawab sekena hati saja dan suaranya berhasil membuyarkan kebingungan Alexi yang sekarang sudah berada di kamar mandi guna melepas handsock dan membersihkan darah yang hampir mengental di pergelangan tangannya.
"Ooh ... kalau begitu, kamu istirahat yang cukup. Jangan lupa minum obat dan kurangi begadangnya," ujar Alexi sambil mencuci tangannya setelah menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya.
"Apakah tadi nenek melihatnya?" Alexi bertanya dalam hati saat teringat dia juga telah memeluk sang nenek. Terlebih lagi Ni Sendari hari ini mengenakan
Suri hanya mendengarkan dengan perasaan tidak menentu hingga dalam hati berucap, "Alangkah bahagianya kalau sudah bertemu dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita. Ya Tuhaaaan! Kapankah aku bisa merasakan seperti mereka? Dipedulikan oleh seseorang, alangkah baiknya."
Suri menundukan wajahnya dan berpura-pura tidak mendengarkan percakapan mereka. Walaupun dalam hati dia sungguh menjerit. "Tuhaaaan! Aku pun ingin seperti merekaaaa!"
__ADS_1
"Tapi ada yang lebih sakit, Sayaaang!" Zike berseru dengan nada rengekan manja.
"Apa lagi yang sakit?" Alexi tentu saja tidak suka jika kekasihnya ini merasa tak nyaman. "Coba kalau dekat, pasti aku pijitin kamu."
Alexi tersenyum-senyum sendiri sembari melangkahkan kaki ke almari tempat penyimpanan obat-obatan. Dia harus segera mengatasi sendiri jahitan luka robek tanpa bantuan siapa pun. Pemuda itu berjalan menuju meja dan duduk di atas atas kursi kayu kuno berukir motif tumbuhan.
Pria berwajah tampan nan cantik itu lalu meletakkan kotak obat dan mengatur posisi ponsel agar jika mereka melakukan panggilan video, maka sang kekasih tidak melihat proses pembalutan luka di tangan kanannya. Dia tidak ingin Zike tahu akan hal buruk yang menimpanya.
"Bahkan jika itu adalah hal yang tersakit yang sedang kualami pun, dia tidak boleh mengetahuinya!" gumam Alexi dalam hati sambil berusaha keras membalut kembali lukanya.
"Aleee! Aku sakiiiit," jawab Zike sambil mengacak-acak rambutnya yang masih terasa dingin. "Aku sakit karena masih tidak bisa ketemu kamuuu."
"Kupikir kamu sakit betulan. Bikin cemas saja." Mendengar hal itu dari gadisnya, tentu saja membuat Alexi pun bagai tak bisa lagi membendung keinginannya. "Kalau begitu, bisakah kita video call saja? Aku juga kangeeeen banget sama kamu dan ingin melihatmu sekarang juga."
"Video Call?" Zike bertanya sembari menoleh ke arah Suri yang masih asyik melakukan sesuatu di tempatnya saat ini.
"Bagaimana? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan kekasihmu ini?" tanya Alexi dengan sedikit curiga.
"A-aku ... ssstt!" Zike berbisik. Ada seseorang di sini.
"Siapa?" tanya Alexi dengan sangat penasaran.
"Dia ... dia adalah ...."
__ADS_1
...Bersambung...