Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
SIAPA MEREKA?


__ADS_3

Manager hotel, Jean dan Merry telah tiba di tempat tersebut. Pria gendut segera menghampiri Alexi, sedangkan dua wanita berhenti tak jauh di belakangnya dengan perasaan sangat penasaran. Mereka sungguh sangat ingin tahu apa yang akan menimpa orang-orang yang telah mempermalukan mereka dengan cara menolak keduanya.


Keduanya memang baru pernah mengalami ditolak secara terang-terangan di depan umum oleh lawan jenis. Selama ini hampir tidak ada satu pun laki-laki yang sanggup menahan pesona para wanita penghibur ini. Keberadaan mereka di hotel tersebut juga sebagai daya tarik agar banyak orang datang dan menjadi pelanggan tetap.


Sepertinya, tempat itu adalah sebuah rumah hiburan yang tidak lagi terselubung karena wanita penghibur semacam mereka tidak cuma ada satu atau dua saja. Hanya saja kebetulan saat Alexi datang, Jean dan Merry juga sedang makan malam di restoran hotel tersebut. Tentu saja dengan keadaan Alexi yang begitu dijaga, itu cukup menunjukkan jikalau pria muda itu bukanlah dari kalangan orang biasa saja.


"Jean, apa kira-kira yang akan dilakukan oleh si gendut itu, ya?" bertanya Merry dengan suara berbisik.


"Aku berharap, si gendut jelek itu akan memberi pelajaran yang bagus untuk para pria yang meremehkan kita!" Jean menjawab masih dengan nada angkuhnya.


Entah mengapa, Merry sendiri menjadi ragu dan merasa sedikit takut saat melihat di sekelilingnya orang-orang bertampang sangar menatap keduanya dengan sorot mata bagai hendak menelanjangi keduanya. Jelas sekali kilatan pada mata-mata itu bukanlah keinginan pada kecantikan atau kemolekan tubuh mereka, melainkan lebih seperti ingin menelan hidup-hidup atau melenyapkan keduanya dari muka bumi.


"Tapi ... mereka menakutkan sekali!" seru Merry masih dengan bisikan disertai ketakutan.


"Selamat malam, Tuan-Tuan semua. Selamat malam Tuan Muda Praja." Manager gendut menyapa dengan sesopan mungkin. Tentu saja karena dia sudah tahu akan identitasa Alexi yang merupakan tuan muda satu-satunya dari Keluarga Praja.


"Selamat malam juga, Tuan. Silakan!" Danny Hendrat menyambut dengan ramah meskipun dia terlihat cuek dan memasang sikap dingin. "Ada hal peting apakah yang membuat Anda sampai turun tangan sendiri untuk menemui kami?" tanya Danny Hendrat sambil berdiri.


"Maafkan saya, Tuan! Saya tidak bermaksud untuk menganggu acara santap malam Tuan-Tuan semua." Manager Robert membungkukkan badan sebagai permintaan maaf. "Saya hanya ingin meluruskan dan meminta mereka untuk meminta maaf kepada Tuan Muda Alexi atas keributan yang mereka timbulkan."


"Oooh?" tanya Alexi sambil memainkan garpu yang ada di tangan kirinya dan tiba-tiba menancapkannya pada sepotong daging sapi panggang dengan gerakan cepat dan kuat hingga menimbulkan suara dentingan antara garpu dan piring yang saling berbenturan disertai seruan, "Kalau begitu cepatlah, Robert! Aku tidak suka dengan acara basa-basi yang terlalu lama!"


"Ba-baik-baiklah, Tuan Muda!" Manager gendut yang bernama Robert itu sangat terkejut hingga tubuhnya sedikit menggigil karena ketakutan. "Saya akan segera mengatasi mereka berdua!"


"Dasar pengganggu!" Robert menggeram marah kepada para wanitanya.


Pria itu harus mengamankan suasana sebelum atasannya turun tangan sendiri mengatasi masalah ini. Tentu saja sang pemilik hotel akan menyalahkan Manager Robert dan bisa berakibat pemecatan atas dirinya karena kecerobohan para wanita yang menjadi bawahan dari pria tersebut.


"Jean, sepertinya ada yang salah dengan Tuan Robert," bisik Merry sembari merapatkan badan ke tubuh Jean. "Aku jadi sedikit takut, Jean."


Jean memperhatikan dari jarak tiga meter di belakang Manager Robert, sedangkan di belakangnya berdiri para pengawal yang tak mereka tahu dari mana kelompok orang-orang ini berasal. Karena tidak satu pun di antara mereka yang mengenakan atribut resmi Sekte Sanca Perak.


"Sebenarnya, siapakah orang-orang ini?" Jean mulai bertanya-tanya dalam hati. "Mereka semua terlihat dingin dan seperti tidak tertarik pada wanita."


Wanita yang sudah menyandang status janda itu merasa semakin tertantang untuk mengetahui siapakah para pria ini. Terlebih lagi dengan penampilan Alexi yang dengan sengaja menutup wajahnya hingga tidak ada satu pun dari para pengunjung restoran dapat melihat seperti apa rupa wajahnya.


"Jean, sepertinya kali ini kita telah ceroboh," ucap Merry yang mulai merasa ketakutan. "Sebaiknya kita berhati-hati dan jangan membuat masalah lagi."


"Jadi kamu takut?" tanya Jean sedikit melirik ke wajah sahabatnya. "Mereka hanya para tamu di sini. Bahkan jika tuan kita mengusirnya, apa yang mereka bisa perbuat?"

__ADS_1


Merry tidak menjawab pertanyaan Jean. Baginya untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bedebat dengan Jean yang dia ketahui mmemilki sifat keras kepala. Bisa jadi sahabatnya ini justru akan menambah masalah lain lagi dan itu aka semakin menyulitkan keduanya.


Manager Robert menghadapkan dirinya kepada Jean dan Merry yang sekarang merasa aneh dengan sikap manager hotel yang terlihat bagai mati kutu di hadapan para pria berbaju serba hitam tersebut.


"Jean dan kamu, Merry. Ke marilah!" seru Manager Robert dengan suara keras namun terdengar sedikit bergetar.


Kedua wanita itu saling berpandangan satu sama lain dan masih tetap mematung di tempatnya berdiri. Hal itu membuat manager hotel menjadi gusar hingga harus mengulangi pertanyaannya. "Apakah kalian berdua tidak dengar panggilanku?"


"Oh, maaf!" Merry menyambar tangan Jean dan bergegas mendekat ke arah Manager Robert.


"Ya, Tuan Manager!" sahut Merry.


Jean juga menjawab panggilan dari bos mereka dengan sedikit enggan. "Saya, Tuan!"


"Cepat minta maaf pada tuan muda ini!" Manager Robert berseru dengan nada memerintah kepada Jean dan Merry yang seketika menjadi terkejut. 


"Meminta maaf?" Jean terkejut saat mendengar Manager Robert memerintahkan dirinya untuk meminta maaf pada pria bercadar yang tidak menghiraukannya sama sekali.


Segara bangkit, lalu berjalan sambil bersedekap dengan santainya dan berkata, "Kalian telah membuat suasana tidak nyaman pada acara santap malam Tuan Muda kami. Tentu saja kalian harus meminta maaf atas kelancangan kalian beberapa waktu yang lalu kepada para pengawal kami."


"Itu karena mereka menghalangi kami dan menolak kami!" seru Jean membela diri. "Bukankah kami berhak mendekati siapa saja yang berkunjung ke tempat ini?"


"Mereka saja yang tidak tahu dan mungkin tidak menyukai wanita seperti kami!" Jean berucap sembari melengoskan wajahnya. "Dasar pelangi!"


Manager Robert mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Jean disertai bentakan keras. "Tutup mulutmu!"


"Tuaaaan!" Jean menjerit seraya memegangi pipinya yang menjadi  merah dan panas akibat tamparan keras tersebut. Wanita itu menangis dan merasa tidak terima. "Mengapa Tuan menamparku?"


"Kamu pantas mendapatkannya, karena kamu tidak bisa menjaga mulutmu dengan baik! Kamu memang terlalu kotor meskipun hanya sekedar mendekati Tuan Muda Alexi!" bentak Manager Robert dengan sangat marah.


"Memangnya kenapa kalau dia adalah Tuan Muda Alexi? Apa istimewanya orang itu?" tanya Jean sembari menangis dan menunjuk ke arah Alexi yang terlihat santai.


"Tuan Muda! Biar aku hajar saja dia!" bisik Segara dengan suara bergetar. Dia sangat tidak terima atas ucapan Jean yang mengatakan jikalau mereka adalah kaum pelangi. "Dia mengatai kita semua sebagai kaum tidak waras!"


Sang tuan muda hanya menyeringai sinis ke arah tiga orang yang sedang bersi tegang sambil berucap dalam hati. "Aku sangat ingin mengetahui, sejauh mana laki-laki gendut itu menghukum para wanita sampah itu."


Sementara itu, Segara terlihat gusar dengan perkataan Jean dan masih menunggu perintah tuan mudanya. "Bagaimana, Tuan Muda?"


"Boleh saja menghajarnya, bahkan akan lebih baik jika kita yang menanganinya," sahut Alexi dengan tenang. "Tapi ... itu kalau kamu tidak merasa malu karena menghajar seorang wanita di depan umum." 

__ADS_1


"Kecuali jika lawannya adalah kekasihku," seru Alexi dalam hati disertai senyuman yang terulas di balik syal hitam. Alexi tertawa jahat sembari membayangkan wajah Segara babak belur akibat dihajar oleh Zike, "Aku ingin melihatmu dihajar olehnya."


"Lalu, apa rencana Tuan Muda?" Abraham bertanya kali ini.


"Rencanaku?" Alexi tersenyum sambil menatap hidangan yang sudah sejak tadi menunggu hingga kepulan uap panas semakin menghilang. "Mengisi perutku tentu saja."


Segara berseru, "Tuan Mudaaaa!"


Alexi mengangkat tangan kanannya yang menyembunyikan perban di balik hand sock hitam dari kulit binatang dan meminta Segara juga para pengikut lainnya untuk melanjutkan apa yang seharusnya mereka lakukan.


"Lakukan urusan kita saja sedangkan urusan mereka, biarkan menjadi tanggung jawab pemilik hotel ini," ujar Alexi dengan tenang. "Sudahlah, kita lanjutkan!"


Di dalam hati Alexi berucap, "Aku juga sedikit memiliki kekuasaan di sini dan aku bisa saja menggulung tempat ini kapan saja. Untung saja pemilik hotel ini sudah tahu siapa aku."


"Aku bisa saja melapokan pada paman tentang praktek prostitusi di sini dan tentu saja paman akan sangat berterima kasih padaku, bukan?" Alexi bertanya sendiri dalam hati yang tentunya harus dijawabnya sendiri.


Alexi dan yang lainnya tidak lagi menghiraukan Robert yang masih menangani para wanitanya. Walaupun baik Segara, Abraham atau Danny Hendrat sangat ingin menghabisi para wanita penghibur tersebut. Namunt tanpa perintah dari tuan mudanya, mereka juga tidak berani bertindak gegabah.


Sementara itu ....


"Lancang!" Manager Robert kembali melayangkan beberapa kali tamparan keras hingga membuat wajah Jean babak belur dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tamparan terakhir berhasil membuat tubuh wanita itu terjengkang ke belakang hingga jatuh terduduk. 


Isak tangis Jean terdengar sungguh menyayat hati, tetapi Alexi dan rombongannya terlihat senang dengan pertunjukan kali ini. Sementara itu Merry hanya bisa menjerit dan memeluk tubuh sang kawan seraya memohon ampun kepada Manager Robert yang masih berdi


"Bagus!" Alexi tertawa senang melihat sang manager bertindak demikian.


"Tuan Muda tenang saja! Saya akan memberi pelajaran kepadanya!" seru Manager Robert dari tempatnya saat ini.


"Tuan Muda, bagaimana kita bisa makan dengan tenang?" Segara sungguh merasa mual melihat pertikaian antara bos dan anak buah di hadapan mereka.


"Kalau begitu usir saja mereka! Katakan padanya kalau aku tidak tertarik menyaksikan drama semacam ini," sahut Alexi dengan santai.


"Kita ke mari hanya ingin melepas lelah selama perjalanan dan tidak beniat untuk mencari kesenangan dengan para wanita rendahan semacam mereka." Alexi berkata seraya membuka cadar dan menyimpan kain syal hItam itu di saku jasnya.


"Kalian bertiga!" Alexi berseru kepada Robert, Jean dan Merry yang segera beralih melihat ke arahnya.


Sekarang wajah tampan pemuda itu terekspos nyata dan membuat orang-orang yang baru melihatnya menjadi terperangah. Namun, pria itu menggerutu dengan kesal "Kalian ini benar-benar mengganggu saja! Pergilah dari hadapanku jika masih ingin melanjutkan pertikaian kalian itu!"


Para pengunjung saling berbisik-bisik satu sama lain, saat melihat dengan cukup jelas akan ketampanan wajah Alexi Nata Praja meski mereka hanya bisa memandang dari jarak jauh. Begitu pula dengan Jean dan Merry yang dibuat sungguh terpana hingga tanpa sadar mulut mereka sampai ternganga.

__ADS_1


Alexi tetap tetap acuh tak acuh dan tak memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, pemuda itu mulai menyantap makanan yang susah mendingin.


...Bersambung...


__ADS_2