
Lagi-lagi Ye Kai menggantung ucapannya. Cangkir porselen ia regam dengan perasaan sedih. Begitu pula Mei Lan yang hanya bisa menundukan wajah disertai perasaan luar biasa pedih dalam hati. Betapa sakitnya mereka saat mengetahui jikalau harapan untuk memiliki seorang anak sangat kecil. Hal itu dikarenakan Mei Lan yang memiki masalah pada kandungannya.
Sebagai wanita yang kurang sempurna, Mei Lan telah menyatakan kerelaannya untuk menikahi siapa pun yang Ye Kai inginkan, tetapi Ye Kai tidak menggubris ucapan istrinya. Dia hanya menjawab, "Bukankah masih ada Ah Xuan? Masih Ada Lu'er? Mengapa harus menikah lagi?"
"Tapi, Ye Geee!"
"Aku tidak peduli! Aku tidak ingin anak-anak lagi! Cukup Ah Xuan dan Lu'er saja!"
Itulah selalu jawaban dari Ye Kai jika Mei Lan mengungkit tentang anak. Jing Xuan dan Ye Lu adalah para keponakan yang mereka rawat sejak masih kecil. Tentu saja mereka mendapatkan limpahan kasih sayang dari keduanya.
"Maka, aku memintamu untuk menjadi orang ketiga ...." Ye Kai menggantungkan lagi ucapannya karena merasa tak kuasa untuk melanjutkan.
Zike sangat terperanjat dan kaget atas ucapan pria ini. "Menjadi yang ketiga?"
"Benar!" Ye Kai berdiri dan berjalan menghadap ke jendela ruangan yang terbuka. "Menjadikanmu yang ketiga itu adalah pilihanku sendiri. Aku hanya ingin punya alasan untuk melindungimu dan juga agar kamu bisa melindungi diri sendiri."
Zike sangat terperanjat dan kaget atas ucapan pria ini. "Menjadi yang ketiga?"
"Benar!" Ye Kai berdiri dan berjalan menghadap ke jendela ruangan yang terbuka. "Menjadikanmu yang ketiga itu adalah pilihanku sendiri. Aku hanya ingin punya alasan untuk melindungimu dan juga agar kamu bisa melindungi diri sendiri."
Mei Lan melirik ke arah Zike dengan perasaan tak menentu tentu saja. "Zike, apakah kamu bersedia?"
"A-aku ... aku ...."
"Zike, kami ingin memiliki penerus ilmu kami. Meskipun di Elang Emas juga banyak murid, tapi belum ada yang benar-benar kami pilih untuk menjadi penerus kami." Ye Kai berkata sambil menatap pekat malam.
"Setelah melihatmu saat itu, hatiku berkata bahwa kamulah orang yang tepat. Terlebih lagi sejak kamu dikejar-kejar oleh mereka. Tidakkah kamu juga ingin bisa menghajar orang-orang semacam itu?"
"Tentu saja aku ingin sekali!" Zike tiba-tiba berdiri dengan wajah geram.
Ye Kai tersenyum tipis entah ditujukan ada siapa. "Kalau kamu inginkan hal itu, maka itu akan sangat mudah."
Zike bergumam, "Sangat mudah?"
"Geee, segera saja!" Mei Lan merasa Ye Kai terlalu mengulur waktu.
"Apa maksud mereka ya?" Zike semalin tidak paham hingga menatap kedua orang itu secara bergantian.
Ye Kai berbalik dan menatap Zike. "Tentu saja sangat mudah. Bukankah kamu sudah melihatnya sendiri saat itu?"
"Master Ye benar. Itu sangat mengagumkan," ucap Zike sambil membayangkan peristiwa mengerikan itu. "Alangkah bagusnya kalau bisa memiliki kemampuan seperti itu."
"Bisa! Kau pasti bisa. Setidaknya untuk melindungi dirimu sendiri." Ye Kai menimpali ucapan gadis itu. "Asalkan kau mau belajar dengan giat. Itu tidaklah mustahil!"
"Aku mau!" Zike bersreu tanpa pikir panjang. "Aku mau belajar, apa pun syaratnya!"
__ADS_1
"Benarkah?" Kali ini Mei Lan yang bertanya.
"Mmmhh!" Zike menganggukan kepala dengan mantap disertai gumaman dan kembali berseru, "Zike bersedia! Sangat bersedia!"
"Baiklah, kalau kau memang bersedia. Mulai sekarang, kamu adalah murid kami bedua!" ucap Ye Kai yang disambut rasa gembira bagi Zike, sedangkan Mei Lan merasa sungguh terharu.
"Mu-mu ... murid?"
"Ya. Selain dua keponakan kami, maka kamulah orang ketiga yang akan belaar secara langsung dari kami," jawab Ye Kai.
"Be-be benarkah?" Zike sekarang mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan kata 'Menjadi Yang Ketiga'
"Ya. Dan dengan dirimu berlutut di hadapan kami menyatakan diri sebagai murid, maka sejak saati itu kamu harus memanggilku shifu dan Nu Jiaoshi kepada istriku." Ye Kai mempertegas ucapannya.
"Shifu? Nu Jiaoshi?" Zike merasa tidak percaya dan tidak begitu paham dengan kata-kata ini.
Tetapi gadis itu tidak begitu ingin dibuat ambil pusing. Dia pun segera bangkit dan menjatuhkan kedua lutut di atas dinginnya lantai sambil mengacungkan telapak tangan kanan sejajar dengan telinga.
"Master Ye! Nyonya Mei Lan! Demi langit dan bumi yang akan menjadi saksinya Demi udara dan air yang menjadi sumber vitalitalitas bagi kehidupan makhluk bumi. Juga demi seluruh alam semesta raya. Mulai malam ini, jam ini dan detik ini! Saya, Zain Kamila alias Zike menyatakan diri menjadi murid dari Master Ye dan juga Nyonya Mei!" gadis itu tiba-tiba membusur hingga beberapa kali sebagai tanda penghormatannya.
"Baguslah! Baguslah!" Ye Kai terlihat sabgat gembira sekali, begitu pula dengan Mei Lan hingga mata wanita itu berkaca-kaca.
"Jadi ... sekarang aku punya seorang murid?" Mei Lan bertanya. "Aku sungguh tidak percayaaa!"
"Mmhh, Nu Jiaoshi!" Zike menganggukan kepala. "Shifu!"
Gadis itu bangkit dan mengusap matanya yang menjadi berair. Mei Lan pun segera menggenggam kedua tangan gadis itu dan berucap, "Mulai sekarang, kami tak ubahnya seperti orang tuamu. Jadi, janganlah merasa di sini adalah tempat yang asing bagimu."
"Dan mulai besok juga, Nu Jiaoshi-mu yang akan membantu dalam banyak hal. Ingatlah, kau harus bisa mengubah dirimu menjadi lebih baik!"
"Baiklah, Shifu!" tegas Zike dengan penuh kemantapan. "Aku akan menuruti semua yang Shifu dan Nu Jiaoshi arahkan dan perintahkan!"
"Selamat datang, Muridku! Selamat menjadi bagian dari Sekte Elang Emas!" seru Ye Kai sembari mengambil sebuah plat giok tipis berwarna kuning mengkilat lengkap dengan gantungan benang sutra kuning keemasan. "Terimalah ini, Muridku!"
"Apa ini?" Zike menerima benda tersebut dengan keheranan sekaligus merasa kagum. Benda tipis persegiempat itu memiliki lebar tidak lebih dari setengah telapak tangan orang dewasa dengan detail ukiran bergambar seekor burung elang.
"Itu adalah sebuah tanda khusus jikalau kamu sudah resmi menjadi murid pribadi Master Kedua Sekte Elang Emas," jawab Ye Kai dengan tenang. Ya! Dengan mengangkat gadis ini menjadi murid pribadinya, maka secara otomatis pula Zike telah resmi menjadi
"Terima kasih banyak, Shifu!" seru Zike sambil mendekap benda itu di dadanya.
"Sama-sama, Zike. Jagalah dengan baik benda itu! Suatu saat kamu juga akan mengetahui kegunaannya." Ye Kai merasa teramat terharu dengan sebutan barunya ini dan karena niatnya sudah tercapai, maka pria ini bermaksud untuk segera pergi dari tempat itu.
"Tentu saja! Shifu jangan khawatir!"
"Baguslah. Jadilah muridku yang patuh dan baik dan mulai sekarang, istriku ini yang akan mengatur apa saja yang harus kamu lakukan," ucap Ye Kai sambil memberi isyarat pada istrinya.
__ADS_1
Mei Lan pun mengerti akan maksud Ye Kai dan wanita itu pun segera berkata pada murid barunya. "Zike. Karena semua niat kami sidah terlaksana, maka kami akan kembali. Beristrahatlah dengan baik agar kamu bisa melakukan banyak hal esok hari."
"Baiklah, Nu Jiaoshi!"
"Selamat tinggal dan selamat malam, Zike!" Mei Lan berucap seraya menepuk bahu Zike dengan lembut dan menggamit lengan Ye Kai. "Ayo, Ge!"
Ye Kai mengangguk seraya berbalik untuk kemudian melangkah dan beruca, "Selamat malam, Muridku!"
"Selamat malam juga, Shifu dan Nu Jiaoshi! Terima kasih banyak atas semuanya!" Zike berkata sambil berlutut, meskipun Mei Lan dan Ye Kai tidak melihatnya.
Sepeninggalan kedua orang berhati emas tersebut, Zike segera menutup pintu dan meraih kembali ponselnya. Dia segera menghubungi Alexi dan mengatakan apa yang baru saja dia alami.
"Elang Emas?" Alexi terpekik saat membaca pesan dari Zike. Saat ini dia baru saja selesai pelatihan bersama sang kakek dan berniat untuk membersihkan diri dari peluh dan keringat yang sedang membanjiri tubuhnya.
Melihat kalimat Elang Emas, telah membuat pemuda itu tanoa sadar memukul dinding luar kamar mandi. Dia memang baru saja hendak masuk dan menjadi terurung karena ponselnya bergetar. "Jadi, selama ini dia berada di Sekte Elang Emas? Dan sudah menjadi murid Master Ye Kai?"
"Aaaaahh! Kalau saja aku tahu, aku akan menariknya untuk menjadi murid kakekkuuuuu!" Alexi merasa sangat frustrasi. Bagaimana tidak dia merasa sangat terpukul?
Sekte Elang Emas adalah saingan terberatnya saat ini. Terlebih lagi dengan kabar akan keistimewaan tuan mudanya yang membuat Nata Praja begitu terobsesi untuk menjadikan anaknya memiliki kekuatan dan nama seperti Berlian Jessey Liu sang penerus sekte tersebut.
"Apa yang harus kulakulan sekarang ini?"Alexi bermonolog dalam kebingungannya. "Satu masalah baru saja usai dan sekarang timbul masalah baru lagi. Kekasihku bahkan telah menjadi bagian dari sekte sialan ituuuuuu!"
"Elang Emas!"
"Jessey Liu!" Alexi merasa sangat geram sekarang. "Memangnya apa bagusnya dia?
"Apa bagusnya sekte itu? Hingga gadisku pun tertarik ke sana dan akan berdiri sebagai lawan di ring pertandingan!" Alexi sungguh tak mengerti dan bagai dipermainkan oleh takdir langit yang tidak dia duga sama sekali.
"Aaaaah! Pusiiiiiiing!" Alexi membanting dengan keras ponselnya dan meninggalkan benda itu tanpa membalas pesan dari Zike. Pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur seluruh badannya dengan masih berpakaian.
"Elang Emas! Elang Emas! Elang Emaaaaaas!"
"Mengapa sekte itu harus memiliki tuan muda sebagus dia?"
"Mengapa juga Sanca Perak tidak sebagus sekte itu?"
"Mengapa juga aku lahir sebagai tuan muda Sanca Perak?"
"Mengapa aku tidak seberuntung orang itu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh membuat kepalanya terasa pening. Guyuran air pada tubuhnya pun terasa lebih menyakitkan daripada hukuman cambuk. Alexi merendam tubuhnya dalam bak mandi guna meredam perasaan panas dalam dada dan kepala yang bagai membakar hangus impian indah selama ini.
Namun bagaimanapun juga, pemuda itu berusaha mengatur jalan napas dan menetralkan isi kepalanya dengan mencoba berpikir secara jernih. Tiba-tiba dia berpikiran lain dan membuatnya tersenyum sendiri. "Tapi, bukankah itu bagus juga?"
"Zike, kali ini aku mendukungmu!"
__ADS_1
...Bersambung...