Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MENGALAHKAN DONG XI


__ADS_3

Pada sore hari yang cerah, Zike diajak oleh Mei Lan untuk berjalan-jalan di sekitar kediaman untuk melihat-lihat keadaan tempat tersebut. Dia dengan lincahnya melangkah di atas jalanan sambil mengekor gurunya. Rupanya, selain dilatih olah vokal, Zike juga harus belajar ilmu bela diri. Tentu saja, hal tersebut belum diberitahukan kepadanya secara langsung.


"Kita akan ke mana, Nu Jiaoshi?" Zike bertanya sambil sesekali berloncatan seperti anak kecil yang sedang bermain-main di belakang ibunya.


"Ke tempat yang menyenangkan tentunya," jawab Mei Lan sambil terus melangkah memasuki sebuah pintu gerbang kecil sebagai jalan satu-satunya dari bangunan yang dikelilingi oleh tembok tinggi nan kokoh.


"Tempat yang menyenangkan?" Zike bergumam kecil sambil menebarkan pandangannya ke setiap sisi bangunan. Baru kali ini dia memasuki tempat yang menurutnya sangat mirip dengan tempat latihan jurus-jurus kungfu di film-film China yang terkadang dia tonton.


Mei Lan hanya tersenyum kecil melihat tingkah gadis yang sudah menjadi muridnya ini. Sekarang penampilan gadis ini juga sudah banyak berubah. Wajah Zike semakin terlihat cerah dan manis, dipadu dengan kulit yang ternyata berwarna kuning langsat. Sebuah warna kulit yang membuat Mei Lan terkadang merasa iri jika melihat detail kulit sang murid yang begitu menawan.


"Nu Jiaoshi, ke manakah shifu pergi?" Zike bertanya mengenai Ye Kai yang semenjak tadi pagi tak terlihat sama sekali.


"Oh itu?" Mei Lan malah bertanya. "Shifu kamu sedang berada di tempat yang tidak terlalu jauh. Nanti juga pasti kembali."


"Pantas saja aku tidak melihat shifu semenjak tadi pagi." Zike mengerti dengan posisi gurunya yang harus selalu siap kapan saja jika ada perintah dari atasannya.


"Untung saja ada Nu Jiaoshi, jadi aku tidak terlalu khawatir apa pun." Zike menyambung ucapannya sambil terus berjalan mengikuti Mei Lan.


Akhirnya, mereka sampai di sebuah tempat pelatihan ilmu bela diri yang cukup luas dengan berbagai macam peralatan dan benar-benar sangat mirip dengan seperti pada film dan drama-drama dari Negeri Tirai Bambu. Tentu saja ini adalah sebuah pengalaman yang bagus untuk Zike.


Mereka berjalan memasuki ruangan tersebut dan melihat ada banyak orang yang sedang berlatih. Tempat tampak sepi di luar, ternyata cukup ramai di dalamnya. Zike sampai berdecak kagum dengan pemandangan di depan matanya. Arena pertandingan, samsak berbagai ukuran, senjata-senjata bermacam jenis dan bentuk. Bagi gadis itu, ini adalah tempat yang sangat menarik.


"Tempat apa ini?" Zike bertanya-tanya dalam hati sambil melihat ada banyak alat-alat olah raga berbentuk aneh terbuat dari kayu dan bambu.


"Nu Jiaoshi, tempat apakah ini?" Zike akhirnya bertanya secara langsung.


"Ini adalah tempat khusus untuk berlatih seni bela diri," jawab Mei Lan sambil membelai sebilah tombak pendek yang terpasang pada tempatnya.


"Oooh, jadi memang begini suasananya?" Zike menyahut sambil masih melihat-lihat suasana tempat yang langsung disukainya. Matanya kini tertuju pada sebuah benda besar dan gendut dengan wajah yang membuat kesal.


"Dan ini untuk apa?" Zike menyentuh sebuah boneka besar setinggi dirinya dan bisa bergerak jika tersentuh.


"Itu adalah boneka untuk media berlatih juga dan selama ini, sangat jarang ada orang yang bisa mengalahkan dia." Mei Lan menjawab pertanyaaan itu sambil melihat-lihat keadaan ruangan.


"Jarang ada orang yang bisa mengalahkan dia?" Zike terlihat tertarik kepada boneka aneh ini.


"Kami bisa memulai latihan denganya." Mei Lan lalu tersenyum dan berseru dari tempatnya saat ini. "Coba kamu kalahkan dia!"


"Mengalahkan dia?" Zike dibuat tidak mengerti akan maksud Mei Lan.

__ADS_1


"Ya, kalau kamu bisa memukul atau menyerangnya dengan caramu sendiri dan dia tak berhasil membalasmu, maka kamu dianggap menang darinya. Tapi jika dia masih bisa mengenai bagian tubuhmu, itu artinya kamu masih kalah." Mei Lan seperti dengan sengaja memancing rasa penasaran muridnya yang sekarang terlihat berjalan memutari boneka aneh sambil berkacak pinggang.


"Hanya begitu saja, Nu Jiaoshi? Tak ada yang lain?" Zike merasa itu adalah hal yang sangat mudah, hingga dia pun meremehkan kemampuan boneka aneh di hadapannya.


"Kamu bisa mencobanya." Mei Lan berkata sambil mengambil alat berlatih lainya yang bernama ruyung atau tongkat ganda atau disebut juga nunchaku. "Setelah kamu kalahkan dia, kamu baru diperbolehkan menggunakan alat yang lainnya.


"Baiklah, Nu Jiaoshi!" Zike dengan bersemangat menyiapkan tinjunya.


"Hei, boneka jelek! Kamu harus tahu, kalau tinjuku ini sudah sering kali membuat para preman terkapar di pinggir jalan." Zike berbicara kepada boneka yang akan ia jadikan samsak tentu saja. "Kecuali yang terakhir itu ... itu tidak terhitung, ya? Karena mereka main keroyokan."


Mei Lan hanya tertawa kecil dan merasa geli pada tingkah muridnya ini, hingga dia pun bergumam sambil memainkan ruyung dengan gerakan ringan. "Dasar anak itu, pantas saja suamiku memilih dia jadi murid kami. Ternyata dia memang lucu."


"Nu Jiaoshiiii! Aku akan mengalahkannyaaaa!" Zike berteriak sambil memukulkan tinjunya ke wajah boneka dengan gerakan cepat dan kuat. Namun, gadis itu dibuat cukup kaget hingga jatuh terduduk, karena ternyata boneka itu pun segera membalas secepat dan sekuat dia memukul boneka tadi.


"Aaaaww!" Zike terpekik sambil meringis kesakitan.


"Bagaimana, Zike?" Mei Lan harus bersusah payah menahan tawa yang hampir saja terbuncah. "Mengapa kamu terjatuh?"


"Nu Jiaoshi, dia membalasku dan memukul wajahku juga!" Zike dengan wajah polos namun penuh kekesalan menunjuk ke arah boneka yang masih bergerak-gerak sendiri tanpa henti.


"Nah, itu artinya kamu masih belum bisa mengalahkannya," sahut Mei Lan sambil berbalik menghadap ke arah lain guna melepaskan tawanya secara diam-diam.


"Tidak mungkin!" Zike beringsut dari jatuhnya.


"Baiklah. Berjuanglah untuk mengalahkan Dong Xi itu!" Mei Lan melanjutkan permainan ruyungnya yang terhenti.


"Jadi, namamu adalah Dong Xi?" Zike yang masih terlihat emosi tampak menyeringai. "Aku Zain Kamila dan aku adalah orang yang akan mengalahkanmu selanjutnya."


"Humph!" Zike mengusap keringat yang mengaliri pelipisnya. "Aku pasti akan mengalahkanmu, Dong Xiiiii!"


Zike kembali melancarkan pukulan demi pukulan yang akan berakhir dengan balasan dari Dong Xi, bahkan tendangan demi tendangan juga ia lancarkan secara bertubi-tubi. Sepuluh kali pukulan ia lancarkan, maka sepuluh kali pula Dong Xi membalasnya dan begitu seterusnya.


"Benda ini benar-benar membuatku maraaaah!" Zike masih belum menyerah meski dia sudah merasa cukup kelelahan. "Tapi aku harus mengalahkannya!"


"Boneka jelek saja benar-benar membuatku kesal!" Zike menendang dengan cukup keras benda yang membuatnya jatuh berkali-kali dan kali ini, dia sudah tidak ingin melawannya lagi.


"Nu Jiaoshiiii! Aku menyeraaaaah!" teriakan Zike berhasil menarik perhatian orang lain yang ternyata ada di sana.


Tanpa gadis itu sadari, ada sepasang mata tajam dari balik paralatan latihan tak jauh dari Zike berada, sedang mengawasi setiap pergerakannya yang secara membabi-buta menyerang Dong Xi. Pemilik sepasang mata berbulu lentik dengan alis hitam dan tegas tersebut tampak cukup serius memperhatikan tingkah laku Zike.

__ADS_1


"Siapa dia?" Seseorang itu bertanya dalam hati sambil terus memperhatikan wajah Zike. "Sepertinya dia orang baru di sini."


Pemilik sepasang mata itu kemudian keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri boneka samsak yang baru saja mengalahkan Zike. Tentu saja kehadiran sosok bertubuh tinggi semampai tersebut, membuat Zike merasa harus menggeser tubuhnya. Gadis itu memperhatikan dari belakang orang yang baru saja datang itu dengan saksama.


"Bukan begitu cara mengalahkannya." Sosok tersebut ternyata bersuara pria yang masih sangat muda belia. "Kamu hanya akan menjadi lelah hanya karena melawan boneka ini."


"Siapa kamu?" Zike merasa heran dengan kemunculan sosok yang tidak dia kenal.


"Aku?" Pria muda itu malah bertanya.


"Ya kamu. Memangnya siapa lagi yang bisa menjawabku?" Zike menjadi semakin kesal dengan orang yang dianggapnya mengganggu kesenangannya tersebut.


Pria muda itu hanya menjawab, "Aku adalah orang yang akan mengalahkannya!"


"Bagaimana caranya?" Zike bertanya dan sudah tidak ingin menanyakan lebih banyak lagi, perihal pria muda yang sekarang terlihat mengepalkan tinjunya dan bersiap untuk menyerang Dong Xi.


"Ingin tahu caranya?" Pria muda itu justru juga balik bertanya tanpa menoleh sedikit pun. "Apakah gurumu tidak memberitahukan caranya?"


"Tidak. Nu Jiaoshi hanya mengatakan, kalau aku harus mengalahkannya." Zike menjawab dengan hati diliputi keheranan.


"Nu Jiaoshi?"


"Nu Jiaoshi adalah guruku dan beliau hanya memintaku untuk mengalahkannya," jawab Zike lagi sambil merapikan rambutnya yang menjadi cukup berantakan.


"Pantas saja sejak tadi kamu gagal. Itu karena gurumu tidak memberi tahu caranya padamu." Pria muda itu tersenyum tanpa diketahui oleh gadis yang sekarang sedang berusaha untuk bangkit dari duduknya. "Atau ... Jangan-jangan kamu tidak menanyakan pada gurumu, bagaimana cara mengalahkan boneka ini?"


"Bagaimana kamu tahu?" Zike menjadi kian merasa penasaran pada pria ini. "Kamu mendengar pembicaraan kami?"


"Tidak. Aku baru saja datang dan ingin bertemu dengan bibi juga pamanku. Tetapi karena di rumahnya sepi, jadi aku mencarinya ke sini," sahut pria muda tersebut sambil membetulkan posisi Dong Xi.


"Oohh kalau begitu ... dari mana kamu tahu, jika guruku tidak memberitahukan cara untuk mengalahkan Dong Xi?" Zike kembali bertanya.


"Itu tidak penting. Tetapi aku sudah sangat hafal dengan kebiasaan mereka." Pria muda itu kemudian memutar tubuhnya hingga wajah keduanya berhadapan.


Zike sampai terperangah, ketika beradu pandang dengan pria tak dikenalnya sama sekali. Ternyata wajah pemilik tubuh tinggi semampai ini sangat tampan dan terlihat memiliki kemiripan dengan Mei Lan. Sikap ramah pria berbola mata biru lembut dengan bulu mata lentik dan alis hitam tebal, membuat Zike bertanya-tanya.


"Ka-kamu siapa?"


...Bersambung...

__ADS_1



JING XUAN


__ADS_2