Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
BERLATIH


__ADS_3

Pintu kamar terbuka. Mata Ni Sendari terbelalak lebar melihat keadaan kamar Alexi yang berantakan. Wanita tua itu menatap dengan heran ke arah cucunya yang masih berdiri dengan celana basah.


"Ale! Kamu?"


"Aku tidak apa-apa, Nek," kata Alexi sambil cengengesan. Untungnya dia sempat menyambar selimut untuk menutupi celananya yang basah.


Ni Sendari memperhatikan seluruh kamar itu dan melihat bantal guling yang berada di bawah meja.


"Maaf, Nek. Tadi aku sedang tidur dan mimpi berlatih dengan Guru. Mungkin, tanpa sadar aku telah melempar bantal itu, Nek." Alexi berbohong kali ini.


"Maaf, Neeek! Maaf!" seru Alexi dalam hati. Dia tak mungkin berkata dengan jujur, jika dia baru saja bemimpi yang menyebabkan celananya menjadi basah oleh cairan sp*rma. (Alexi udah dewasa ya sekarang ... hmm)


"Ya sudah, biar nanti Bibi yang bereskan," ujar sang nenek tanpa curiga sedikit pun. Ni Sendari kemudian memanggil salah seorang pelayan untuk membereskan pecahan poci keramik di kamar Alexi.


"Syukurlaaaah! Nenek tidak melihatnya!" Alexi jatuh terduduk di atas tempat tidur dengan perasaan lega.


"Sialnya, aku harus melakukan mandi wajib sekarang! Zike, Zike ... hanya karena kangen saja, aku sudah seperti ini!" gumamnya dalam hati.


Alexi segera beranjak ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan keramas akibat mimpi basahnya. Pemuda tampan itu berendam di dalam bath tube sambil masih memikirkan mimpinya.


"Meskipun hanya bertemu denganmu di dalam mimpi. Tapi, aku sudah merasa sangat bahagia ... di mana kau sebenarnya, Zike sayang?" Alexi bertanya dalam hati.


"Sial! Baru di dalam mimpi saja aku sudah dibuat basah begini!" gerutu Alexi dan lebih sialnya lagi, karena miliknya juga kembali menegang saat teringat mimpinya.


"Ya Tuhaaaaaan! Jangan kau siksa aku dengan perasaan iniiiii!" Alexi memegangi kepalanya sendiri. Rambutnya yang panjang telah basah dan dipenuhi busa shampo.


"Tidak akan! Aku tidak mau melakukannya, lebih baik tersiksa dari pada berbuat bodoh!" Pemuda itu bertahan untuk tidak melakukan suatu hal yang biasa dilakukan para pria normal saat hasratnya bergelora.

__ADS_1


"Mengapa yang kuingat hanya hal yang mesum saja? Sebentar, kuingat lagi! sepertinya ada hal yang mungkin bisa jadi petunjuk tentang keberadaannya." Alexi terus berpikir hingga beberapa saat lamanya.


"Aahh! Mengapa aku tidak ingat hal lain?" tanya Alexi dalam hati.


Akhirnya, pemuda itu pun memilih untuk menyudahi kegiatan membersihkan diri dan segera keluar dari kamar mandi. Alexi memanggil seorang pelayan pribadinya yang bernama Abraham.


Abraham adalah salah seorang murid utama dari Ki Surya Praja yang sudah tidak memiliki orang tua dan saudara akibat sebuah bencana alam yang melanda tempat tinggalnya. Abraham adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarganya. Karena pada saat bencana alam itu terjadi, dirinya sedang berada di Sekte Sanca Perak untuk berguru kepada Ki Surya Praja.


Abraham mengetuk pintu kamar Alexi dengan hati-hati. "Tuan Muda, ini saya ... Abraham."


"Masuklah!" seru Alexi yang sudah duduk menghadap sebuah cermin.


Abraham melangkah masuk dan segera mengambil sebuah alat pengering rambut. Pria yang usianya empat tahun lebih tua dari Alexi itu sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


"Apakah kau tadi sedang sibuk, Abraham?" tanya Alexi tanpa menoleh kepada pelayan pribadinya itu.


Abraham memang sangat patuh kepada tuan mudanya, karena dia sudah terikat sumpah setia di hadapan Ki Surya Praja dan Alexi beberapa tahun yang lalu bersama sekelompok orang lainnya. Bagi Abraham, hidup dan matinya sudah diperuntukan hanya kepada Alexi.


"Kalau begitu, tolong kau keringkan rambutku!"


"Baiklah, Tuan Muda." Abraham segera melakukan perintah Alexi tanpa banyak bicara lagi. Pria itu selalu serius dalam menjalankan setiap tugas yang diberikan tuan muda dan gurunya. Bagi Abraham, tidak boleh ada kesalahan apapun jika itu berkaitan dengan Alexi.


Pada malam harinya, Alexi memutuskan untuk menemui sang kakek yang sedang bersemedi di ruangan pribadinya. Tempat itu memang sengaja dibuat terpisah dari tempat lain agar memiliki ketenangan guna bermeditasi dan menenangkan diri. Alexi mengetuk pintu ruangan sambil berseru. "Kakek, ini aku!"


"Masuklah!" sahut Ki Surya Praja. Alexi segera mendorong pintu dan melangkah mendekati kakeknya yang sedang duduk bersila di atas sebuah petilasan.


kau datang juga, Ale," Ki Surya Praja seraya membuka matanya. "Ke marilah! Duduklah di depan Kakek!"

__ADS_1


Alexi lalu duduk bersila di hadapan sang kakek. Ki Surya Praja memperhatikan cucu lelakinya dan berkata. "Ale, bukalah bajumu! Kakek ingin melihat sejauh mana perkembangan kultivasimu."


"Baik, Kek." Alexi segera membuka pakaian atasnya. Tampaklah kini, pola ular sanca berwarna putih keperakan bergurat di lengan hingga bahu kiri Alexi. Ki Surya Praja menyusuri guratan-guratan itu dengan jarinya.


"Tahap tiga, sejak kapan itu?" tanya pria tua itu sembari mengernyitkan alis putihnya.


"Belum lama ini, Kek. Aku melatihnya secara terus menerus saat berada di penginapan." Alexi menjawab sambil tersenyum kecil. Tentu saja, senyum itu muncul tanpa disadari oleh Alexi saat terbayang wajah Zike.


"Baguslah, kau sudah menunjukan kemajuan yang cukup mrngejutkan. Kalau begitu, coba tunjukan kepada Kakek!"


"Siap, Kek!" Pemuda tampan secantik bunga itu memejamkan matanya untuk sesaat lalu mulai memusatkan pikiran untuk membangkitkan kekuatan martial soul ular sanca perak miliknya.


Alexi mengatur jalan napasnya sambil mengucapkan beberapa kalimat tanpa bersuara. Hanya mulutnya saja yang tampak berkomat-kamit membacakan kalimat mantera. Tak lama kemudian, seberkas sinar putih muncul dari guratan pola ular sanca di lengan Alexi. Secara perlahan pula, cahaya putih keperakan itu membias di sekitar tubuh pemuda itu dan membentuk seekor ular sanca raksasa.


Ki Surya Praja merasa sangat senang atas apa yang disaksikannya. Pria tua itu bangkit dari duduknya dan berjalan mengelilingi cucunya. "Kekuatan jiwa Sanca Perak ini, adalah sebuah kekuatan yang bisa digerakan dengan suatu niat."


"Dan kau harus menguasai pengendaliannya dengan baik. Agar kekuatan jiwa ini tidak berbalik menyerang dirimu sendiri," ujar Ki Surya Praja. "Sekarang, cobalah kau gerakan ular itu sesuai keinginanmu!"


"Baik, Kek!" Alexi segera melakukan perintah kakeknya. Alexi bangkit dari duduknya, pemuda itu berdiri sambil memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menunjukan kemampuannya, Alexi berusaha menggerakan ular sanca perak kekuatan jiwa miliknya. Ular sanca semu itu bergerak secara perlahan mengikuti apa yang saat ini dipikirkan oleh Alexi.


Ular sanca berwujud sinar putih keperakan yang berpendar-pendar menyilaukan mata itu bergerak secara perlahan mengikuti apapun yang diinginkan oleh tuannya. Ular itu berjalan, melingkar-lingkar di bawah kendali sang pemilik.


"Ale, sekarang arahkan ular itu agar menyerang Kakek!" seru Ki Surya Praja.


"Tapi, Kek!"


"Lakukan sekarang!"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2