Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PERJANJIAN


__ADS_3

Para anak buah dua saudara kembar itu akhirnya bisa menarik napas lega dan tidak terlalu khawatir lagi. Alexi memang mudah sekali marah, akan tetapi dia juga mudah memaafkan. Mereka semua mengikuti dengan pandangan mata, bayangan tubuh keempat orang itu yang segera menghilang setelah melewati pintu.


"Jay, apa yang kamu rasakan tadi?" tanya Roy yang merasa penasaran. Dia juga merasa ngeri dengan apa yang dia lihat tadi.


"Tadi aku merasa tersengat oleh energi listrik tingkat tinggi yang dahsyat!" Jay menjawab seraya menggelengkan kepala hingga beberapa kali. "Tuan muda sungguh luar biasa dan guru kita pasti akan sangat senang dengan peningkatan yang di alami oleh tuan mudanya."


"Ternyata kekuatan semacam itu memang benar-benar ada dan tidak bohong." Roy sungguh merasa takjub pada Alexi.


"Benar sekali. Aku sudah sangat ketakutan tadi!" seru orang yang mendapatkan hadiah tendangan dari Alexi sambil memegangi dadanya yang masih terasa cukup nyeri.


"Ini juga akibat dari kecerobohanmu. Coba saja kalau kamu mengemudikan mobil itu dengan baik, pastinya tidak akan ada insiden yang memalukan seperti tadi malam!" Salah seorang kawannya merasa kesal.


"Mengapa kamu malah menyalahkan aku?" bentak orang yang dituduh melakukan kecerobohan.


"Jelas aku menyalahkan kebodohanmu itu!" seru kawannya sambil melotot. "Gara-gara keteledoranmu, kami semua mendapatkan celaka bersama-sama!"


"Sudah cukup! Apakah kalian akan terus bertengkar?" Roy menengahi perang mulut antar anak buah Alexa. "Kita harus segera bersiap-siap untuk sarapan pagi.


Hari itu juga, Danny Hendrat menfhubungi Erick Martin melalui sambungan telepon untuk rencana pertemuan kedua belah pihak. Atas kesediaan Jessey Liu pula, Erick Martin mengatur acara pertemuan pada jam makan siang.


Di pagi itu juga, Edler Van Houten selaku pemilik hotel mendatangi Alexi dengab diiringi Manager Robert. Mereka meminta maaf secara pribadi atas kesalahan para wanitanya dan memohon agar tuan muda Sekte Sanca Perak itu tidak melaporkan perihal adanya praktek prostitusi gelap di hotel tersebut.


Alexi menyetujui permohonan tersebut dengan suatu perjanjian, dia bersedia menutup mulutnya dengan catatan yang tentunya harus menguntungkan pihak Alexi. Pria muda itu meminta kepada pengusaha hotel tersebut, untuk selalu mendukung apa pun tindakan yang akan dia lakukan ke depannya. Namun yang lebih mencengangkan lagi, karena Alexi meminta keuntungan bisnis milik Keluarga Van Houten sebanyak 40% setiap tahunnya.

__ADS_1


Rupanya, Alexi juga sudah mulai berpikir sedikit licik dan tidak mau dirugikan sama sekali. Dia hanya bisa memberi sebuah alasan yang baginya cukup masuk akal. Anak muda itu hanya mengatakan, jika dirinya ikut menutup mulut atas tindakan yang sangat dilarang oleh pihak pemerintah maka dia pun bisa ikut menjadi tersangka. Edler Van Houten akhirnya hanya bisa menyetujui perjanjian itu atau bisnisnya akan hancur tanpa sisa.


Hari itu juga Alexi merasa cukup senang, karena akhirnya bisa merekrut satu pendukung yang sudah bersumpah setia padanya. Anak muda itu benar-benar sudah memiliki niat untuk memisahkan diri dari sekte milik ayahnya. Walaupun demikian, Alexi masih tetap merahasiakan semua rencananya sampai jalan keluar bisa ia dapatkan.


"Hanya bisa terus maju dan tak ada kata berhenti!" gumam Alexi sambil menatap kepergian Edler Van Houten dan Manager Robert yang pergi meninggalkan kamar yang ia tempati.


Sementara itu di ruang kamar Jessey Liu. Saat itu Ye Kai masih tertidur pulas akibat kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Jessey Liu sendiri lebih memilih bermeditasi guna meningkatkan tahapan ilmunya.


Pagi itu juga, Erick Martin sudah menghadap kepada tuan mudanya. Jessey Liu yang baru saja selesai bermeditasi, segera menyambutnya dengan wajah ramah dan cerah. Pria itu telah dengan sengaja meminta pihak hotel mengirimkan makanan untuk sarapan tanpa harus pergi ke lantai bawah.


"Bagaimana dengan persiapannya, Erick?" bertanya Jessey Liu sembari menyesap susu hangat kesukaannya.


Erick Martin tidak segera menjawab, katena dia masih terlalu sibuk mengunyah potongan sandwich yang sudah terlanjur ia masukannke dalam mulutnya.


"Oh, maaf. Selesaikan saja dulu makanmu!" Jessey Liu merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Dia sendiri segera menyelesaikan sarapannya.


"Ya, Gong Zi!" sahut Chriss seraya meletakkan harimau kecil di atas karpet dan membiarkannya agar bermain sendiri.


"Bermainlah di sini dan jangan nakal, ya?" Chriss mengusap beberapa kali kepala bayi harimau yang tampak semakin sehat dan lucu. Pria itu lalu langsung mendatangi sang tuan.


"Makanlah, Chriss! Kamu sudah bekerja keras akhir-akhir ini." Jessey Liu menggeserkan beberapa piring makanan untuk pengawal setianya ini.


"Terima kasih banyak, Gong Zi!" Pria itu sungguh merasa tersanjung dan terharu dengan sikap sang tuan yang selalu baik kepada siapa saja termasuk bawahannya. Seorang Jessey Liu memang tidak pernah membedakan kedudukan dan keturunan dan hal itu jugalah yang membuat dia menjadi sangat dicintai para pengikutnya.

__ADS_1


Erick Martin dan Jessey Liu sekarang beralih membicarakan tentang persiapan pertemuan yang akan dihadiri secara langsung olehnya. Mereka ingin segera menyelesaikan masalah yang telah menunda perjalanan kali ini.


"Apakah Tetua sudah diberitahu, kalau kita sedang dalam masalah?" bertanya Jessey Liu setelah melihat Erick Martin menyelesaikan sisa sarapannya.


"Sudah." Erick Martin menjawab serelah menyeka mulutnya dengan lembaran tisu. "Tetua juga berpesan, Anda harus segera tiba sebelum acara peringatan dua tahun kepergian Tetua Tan."


"Peringatan kakekku?" Jessey Liu sedikit terperanjat dengan apa yang didengarnya. Bagaimana bisa dia lupa dengan peringatan tersebut. "Kapan itu?"


"Tiga hari lagi." Erick Martin menjawab dengan perasaan heran hingga bertanya, "Jadi, Gong Zi benar-Benar lupa?"


Anggukan kecil menjadi jawaban atas pertanyaan Erick Martin. "Terlalu banyak yang terjadi dan aku menjadi tidak mengingat hal lainnya."


Perasaan bersalah menjalari perasaan pria tampan ini hingga sebuah gumaman kecil pun terdengar dari mulutnya. "Keterlaluan sekali aku ini!"


"Sudahlah, Gong Zi. Saya yakin mereka pasti akan mengerti dengan keadaan Anda." Erick Martin mencoba menenangkan tuannya.


"Mudah-mudahan para tetua tidak menyalahkan aku," lirih Jessey Liu sambil menarik napas yang terasa sedikit berat akibat beban pikiran yang sedang menganggunya.


"Semua gara-gara papa yang terus saja menekanku!" Jessey Liu berkata dalam hati dengan perasaan geram, hingga tanpa sadar tanganya terkepal kuat-kuat. "Kalau saja tidak ada niat itu dalam pikirannya, tentunya aku pun tidak akan seterbeban seperti sekarang ini."


"Tetua dan nyonya sudah tahu masalah Anda, Gong Zi," ujar Erick Martin sambil menatap kepada sang tuan yang sekarang terlihat muram. "Dan kabarnya, Nona Vania juga akan hadir dalam acara peringatan tersebut, Gong Zi."


"Siaaaal!" Jessey Liu mengumpat dengan suara keras atas apa yang ia dengar baru saja. "Mengapa dia juga merasa harus datang ke dalam acara keluargaku?"

__ADS_1


"Hei, Bodoh! Tidak bisakah kamu sedikit kecilkan suaramu?"


...Bersambung...


__ADS_2