Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PERTIKAIAN


__ADS_3

Pertengkaran mulut terus berlangsung hingga menimbulkan baku hantam karena mereka tak juga menemukan titik penyelesaian yang jelas. Suasana benar-benar menjadi kacau dan sangat ramai. Hal itu membuat seorang gadis cantik dengan gaya pakaian bak artis Korea merasa penasaran pada keributan dari arah samping bangunan hotel.


"Benarkah ini tempatnya?" Gadis cantik itu turun dengan gemulai dari dalam mobilnya dan bertanya kepada salah seorang pengawal yang membukakan pintu mobil untuknya. Dia keluar dan bejalan beberapa langkah sembari memperhatikan dengan seksama suasana hotel yang masih cukup ramai.


"Sepertinya memang ini tempatnya, Nona. Tuan Danny tidak mungkin salah dalam memberikan informasi," sahut sang pengawal sambil memeriksa pesan yang dia terima dari Danny Hendrat. 


"Baiklah, kita masuk dan cari tahu keberadaan kakakku," ujar Alexa Nata Praja sembari menganggukan kepala.


"Mari, Nona!" Pengawal muda mempersilakan Alexa Nata Praja dengan sikap hormat.


Namun baru saja gadis cantik serta para pengawalnya hendak melangkah lebih jauh, mereka semua dikejutkan oleh suara ramai dari arah lain. Mereka serentak menoleh ke arah sumber kerinbutan dan menyaksikan banyak orang berlarian.


Seorang anak buahnya berlarian dari arah keributan. "Nonaaaaa!" 


Alexa Nata Praja bertanya, "Ada apa ini?"


"Celaka, Nona!" seru pengawal tersebut dengan wajah panik dan napas tersengal-sengal. "No-Nona! Celakaaa!"


"Ada kejadian apa di sana?" Gadis cantik merasa pengawalnya ini terlalu lama menjawab. "Katakan, ada ribut-ribut apa di sana?"


"Nona Alexa, lapor!" Seorang pengawal dari Sanca Perak datang ke arah majikannya untuk melaporkan perihal kecelakaan yang menimpa salah satu mobil dari kelompoknya. "Salah satu mobil kita berserempetan dengan mobil dari rombongan lain dan mereka!"


"Berserempetan?" Alexa merasa terkejut mendengar berita itu. "Berserempetan bagaimana?"


"Benar, Nona!" Sang pengawal menyahut sembari menunjuk ke arah tempat kejadian. "Ada sekelompok pengendara mobil lainnya yang datang bersamaan dengan kedatangan kita."


"Sekelompok mobil lain?" pikir Alexa Nata Praja. "Bukankah Kak Ale sudah berada di sini beberapa waktu yang lalu?"


"Pastinya bukan dia." Alexa masih berkata dalam hati seraya merapikan pakaian dan riasannya. Malam ini dia memilih memakai celana hitam ketat yang mengkilat, dipadu dengan blazer tebal dengan warna yang serupa. Sepasang sepatu boot hak tinggi turut menyempurnakan penampilannya, hingga membuat gadis cantik itu menjadi semakin elegan terlihat.


"Apakah Nona ingin memeriksanya?" bertanya sang pengawal.


"Boleh juga. Aku juga ingin mengetahuinya." Alexa merasa penasaran dengan kejadian yang berhasil membuat orang-orang berkerumun. "Kalau begitu, ayo kita lihat ke sana!"


Alexa Nata Praja sang saudara kembar dari Alexi Nata Praja pun bergegas menuju ke kerumunan dengan langkah pasti. Penampilan elegan dan wajahnya yang cantik telah berhasil membuat banyak orang melihat ke arahnya sambil berdecak kagum. Banyak orang segera menyingkirkan diri untuk memberi jalan pada gadis cantik tersebut

__ADS_1


"Baiklah, Nona!" Pengawal pelapor segera mengikuti langkah sang nona.


Pada saat yang hampir bersamaan, Jessey Liu, Erick Martin dan Segara juga telah tiba di tempat tersebut. Pria muda berwajah tampan dengan penampilannya yang tak kalah menarik pun juga menjadi pusat perhatian. Namun, pria itu tidak memedulikan tatapan-tatapan kagum yang tertuju ke arahnya.


Walaupun sebenarnya Jessey Liu merasa cukup risih dengan ratusan pasang mata yang mendarat ke arahnya, tetapi dia berusaha tetap bersikap tenang dan berwibawa.


"Siapa lagi rombongan ini?" bertanya seorang gadis berjaket merah muda kepada sang kawan yang juga tidak mengetahui jawabannya sama sekali.


"Aku juga tidak tahu." Kawan si gadis menjawab sambil melihat ke arah pimpinan rombongan tersebut. "Eh, lihat yang itu!"


"Lihat apa?" Gadis berjaket merah muda mengarahkan pandangan matanya ke suatu tempat di mana Jessey Liu berada. Gadis berjaket merah muda menangkap sosok Jessey Liu yang terlihat dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Woooaah, tampan sekaliiii!"


"Benar. Dia juga sangat tampaaan!" Kawan gadis muda berjaket merah muda yang sudah memiliki pasangan itu seperti ingin menjerit saja rasanya.


"Kamu benar, tapi orang ini lebih macho kalau dibandingkan dengan pria muda yang makan di restoran tadi itu," sahut gadis berjaket merah muda sambil memperhatikan Jessey Liu yang terkadang terhalang oleh orang-orang yang berlalu lalang.


"Yang ini lebih gagah dan macho, sedangkan yang sebelumnya juga tampan namun cantik. Keduanya sama-sama istimewa dan memukau dengan pesonanya masing-masing," ujar kawan si gadis berjaket merah muda.


"Dan sayangnya setampan apa pun mereka, kita tidak akan pernah memilikinya!" sungut gadis berjaket merah muda dengan wajah kecewa.


"Ya sudahlah. Kita nikmati saja pemandangan indah ini."


Demi melihat para anak buahnya bertikai dengan sekelompok orang tak dikenal, Jessey Liu memerintahkan Eric Martin untuk segera melerai kedua kubu yang tengah berseteru dengan sengitnya. Bagaimanapun juga dia tidak ingin masalah tersebut tetus berlarut-larut, sedangkan mereka dalam perjalanan jauh.


"Stop!"


Suara keras dari Erick Martin berhasil menghentikan keributan yang disertai baku hantam. Beberapa orang sudah dalam keadaan babak belur dan mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh mereka. Para pengawal dari pihak Elang Emas yang terlibat perkelahian pun segera mundur dan menundukan wajah masing-masing.


"Tuan Erick!" seru salah seorang dari anak buahnya. "Maafkan kami!"


"Ada apa ini?" Erick Martin berjalan berkeliling di antara orang-orang yang baru saja berkelahi. Mata pria itu begitu tajam menatap satu persatu wajah anak buahnya yang sekarang diam tertunduk.


"Jawaaaab!" Erick Martin membentak.


"Tuan Erick, saya akan menceritakannya." Akhirnya salah seorang anak buahnya menceritakan awal mula kejadian hingga berlanjut menjadi perkelahian sengit.

__ADS_1


Erick Martin hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar cerita tersebut. Pria yang terkenal tegas dalam tindakannya membentak dengan suara keras  "Childish kalian semua!"


"Seharusnya masalah seperti ini bisa diselesaikan secara baik-baik agar tidak sampai menimbulkan perkelahian semacam ini!" bentak Erick Martin dengan marah tentu saja. "Mana pihak pengaman hotel?"


Beberapa orang dari pihak keamanan maju dengan wajah pucat dan sudah babak belur. "Maaf, Tuan! Kami juga sudah berusaha keras melerai mereka, tetapi kami semua juga menjadi korban amukan orang-orang ini."


"Benar. Kami tidak sanggup menghadapi mereka semua!" seru salah seorang dari rombongan keamanan.


"Bagaimana mungkin para pengaman hotel bisa mengalahkan para anggota pasukan elit seperti mereka?" Erick Martin bertanya dalam hati menggelengkan kepalanya sambil mendesah.


"Baiklah, kita akan urus masalah ini besok. Sekarang kalian sudahi perkelahian yang tidak beguna ini!" Erick Martin lalu memerintahkan kepada para pengawalnya untuk mundur "Mundur kalian semua!"


Delapan orang pengawal dari Elang Emas segera mundur mengikuti perintah sang pimpinan. Meski sorot mata mereka masih memancarkan ketidakpuasan dan api dendam yang berkilatan.


"Mana pimpinan kalian?" Erick Martin berjalan mendekati orang-orang yang menjadi kawan para anak buahnya. "Sanca Perak?"


Erick Martin meneliti mereka dari atas hingga bawah dan melihat logo yang sudah dikenalnya tertera pada seragam mereka. "Jadi, kalian adalah orang-orang dari Sanca Perak?"


"Benar, Tuan!" sahut salah seorang dari mereka dengan suara gemetar akibat menahan sakit sembari memegangi lengannya yang terluka. Darah segar menetes dari luka cakar tersebut.


Tanpa bertanya pun, Erick Martin jelas mengetahui penyebabnya. Pria itu lalu bertanya, "Berapa orang dari kalian yang terluka?"


Para pengawal dari Sanca Perak berpandangan satu sama lain. Salah seorang di antaranya pun menjawab, "Kami yang terlibat hampir semuanya terluka, Tuan!"


"Anak-anak itu memakai jurus Cakar Elang Besi untuk melukai lawan," gumam Erick Martin dalam hati. "Keterlaluan sekali mereka!"


"Baiklah. Kami akan mengurus orang-orang kami. Namun, kami juga harus membicarakannya dengan pimpinan kalian tentu saja," ujar Erick Martin. "Siapa dan di mana pimpinan kalian?"


Tak ada satu pun dari para pengawal itu yang berani menyahut. Semuanya tertunduk dan membisu sambil menahan sakit akibat luka-luka pada tubuh mereka.


Erick Martin harus kembali mengulangi pertanyaannya yang belum juga dijawab oleh pihak lawan. "Mana para pimpinan kalian? Kami akan bicarakan semua dengan mereka."


"Akulah pimpinan mereka!"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2