
Jessey Liu menyentakkan diri sambil berpegang pada cambuk, ia melompat dan bersalto di udara melampaui tubuh Angie. Pria itu lalu mendarat dengan tepat sambil melepaskan kaitan ujung cambuk sembari tersenyum manis, saat melihat tubuh seorang anggota kawanan penyergap terkena sabetannya hingga orang itu pun menjerit setinggi langit.
"Aaaaaaaaaaaaa!" teriakan para anak buahnya membuat Angie tersadar jikalau orang yang diinginkannya sudah berpindah tempat dan berhasil melayangkan nyawa dua orang anak buahnya sekaligus.
Sebuah senyuman dari seorang yang tidak pernah tersenyum kepada siapa pun selain hanya kepada orang-orang terpentingnya saja, adalah hal yang sangat tidak biasa. Senyum manis kali ini adalah pertanda senyum kepuasan karena telah berhasil membuat dua lawannya telah bertransmigrasi ke alam lain.
Di sinilah terlihat dengan jelas sisi gelap seorang Jessey Liu yang ternyata tidak segan-segan menghabisi siapa saja yang menghalangi dan menganggunya. "Mati!"
"Cepat sekali dia!" Angie bergumam dan cukup merasa takjub akan kelincahan pria pujaannya. Matanya juga terbelalak melihat beberapa anak buahnya terkapar dengan luka sabet berdarah pada lengan dan wajah mereka. Bahkan dua orang lainnya lehernya seperti tergorok poleh gergaji kayu yang tajam hingga tewas seketika.
"Jelas sekali kalian semua bukanlah tandinganku, tapi masih mencoba menjajali kemapuan Jessey Liu ini!" Jessey Liu melecutkan cambuknya dengan kekuatan yang tak biasa ke udara hingga menimbulkan suara ledakan yang meremangkan bulu kuduk. "Majulah kalian semua yang ingin mencicipi rasanya dicabik-cabik oleh Cambuk Lidah Nagaku ini!"
"Sombong!" Angie benar-benar merasa kesal dan marah kali ini.
"Jessey Liu! Kau tak boleh lolos lagi darikuuu!" Angie seketika berlari sambil menyabetkan senjata ruyungnya kepada siapa saja yang bisa dijadikan pelampiasan amarah. Tantangan Jessey Liu sungguh membuatnya merasa jengah dan ingin segera mengakhiri pertarungan dengan kemenangan di tangannya tentu saja.
Dia pun segera mengejar Jessey Liu yang sekarang tengah menghadapi beberapa anggota kawanan sekaligus. "Minggir kalian! Dia bagianku!"
"Jessey Liu! Lawanmu adalah aku!" Angie maju dengan sikap angkuhnya yang berlebihan. "Jangan impi untuk bisa melarikan diri dariku, Jessey Liu!"
"Dan kau juga tak perlu bermimpi untuk bisa menyentuh apa agi mengalahkan aku, Angie!" Jessey Liu berucap sambil terus menghajar anggota kawanan yang menyerang kepadanya.
Angie berteriak sambil berlari dan menyerang Jessey Liu. Jurus-jurus yang dimainkannya ternyata cukup membuat Jessey Liu kerepotan.
Hal itu dikarenakan, Jessey Liu tidak ingin melukai seorang wanita hingga dia lebih memilih hanya menghindar dan menahan setiap serangan dari kawan lama yang sekarang berhadapan sebagai musuhnya. Angie memang sangat ingin menaklukan pria dingin ini dalam segala hal. Selain ingin memilikinya, dia juga ingin mejajali kemampuan bela diri Jessey Liu.
"Siaaal! Mengapa dia hanya menangkis dan menghindar saja?" Angie berteriak dalam hati dengan penuh kegeraman. Wajahnya semakin terlihat tidak senang karena merasa dipermainkan dan diremehkan oleh master pedang ini.
"Jessey Liu! Ayo segera keluarkan Pedang Pencabik Langitmu itu!" Angie berteriak sembari terus merangsak maju mencari kelemahan lawan. "Aku sangat ingin tahu, sehebat apa jurus permainan pedangmu itu!"
__ADS_1
"Hanya menghadapimu, mengapa aku harus repot-repot mengeluarkan senjata suciku itu?" Jessey Liu bertanya dan tak memerlukan jawaban tentu saja. "Apalagi hanya menghadapi lawan dengan gerakan seburuk dirimu!"
"Sombong sekali kau, Jesseeeeey!" Angie merasa sangat direndahkan oleh perkataan Jessey Liu. Wanita itu menyerang pertahanan Jessey Liu secara membabi buta.
Lagi-lagi, Jessey Liu hanya menangkis sambil sesekali menyarangkan cambuknya ke tubuh para anggota kawanan penyergap. Tak ada rasa gentar sedikit pun, meski dia tengah menghadapi beberapa orang sekaligus. Tubuhnya yang ramping membuat lelaki muda ini begitu mudah berkelitan dan melompat ke sana dan ke mari dengan sangat lincah.
"Angie adalah wanita licik sama seperti kakaknya." Jessey Liu berucap dalam hati. "Aku harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam permainan wanita ini. "Mereka tak ubahnya serigala pemangsa berkedok bulu kelinci."
"Bagaimana kalau kupermainkan saja sebentar sebelum menaklukannya?" Angie berkata dalam hati sambil meraba sumpit bambu yang telah ia siapkan dengan rapi. "Setelah berhasil menangkapnya, lalu memberinya sesuatu agar dia menyentuhku dan bersedia menandatangani surat perjanjian dengan kami."
"Rencana bagus bukan? Sudah saatnya dia tunduk dan berlutut di depanku!" Wanita itu bergumam dalam hati. Rupanya Angie tengah memikirkan suatu rencana keji yang telah lama ia susun sebelumnya. Menjebak serta memilki seorang master bela diri nomor satu di Provinsi Guangbei adalah harapan terbesar dan impian wanita itu. Terlebih lagi sejak bertemu langsung dengan ketampanan memikat dari Sekte Elang Emas, hasratnya pun semakin menggelora. "Jessey Liu ... kau akan menjadi milikku seutuhnya!"
"Mengapa wanita itu diam saja?" Jessey Liu tidak menurunkan sama sekali kewaspadaannya. Adalah hal yang sangat berbahaya jika dia lengah barang sekejap saja.
Sementara itu, Chriss tengah menghadapi lawan yang cukup membuat pria ini sedikit kerepotan. Pasalnya dia tengah berhadapan dengan seorang pria berpostur tubuh lebih besar dari badannya. Pria besar itu menggunakan dan mengandalkan kekuatan fisiknya untuk menghajar para anak buah Jessey Liu. Beberapa orang ambruk ke atas tanah berumput setelah mendapatkan hantaman kepalan tangan pria besar tersebut.
Chriss segera menyelesaikan menumbangkan salah seorang anggota kawanan yang berusaha menghalangi jalannya. Pria itu dengan sadis memukulkan tongkat ke kepala lawannya hingga tak sadarkan diri dan menendang sekeras mungkin hingga tubuh anggota kawanan itu terlempar dan jatuh menghantam punggung si pria besar.
Pria besar menoleh karena terkejut akibat seseorang yang terlempar menimpanya hingga membuat pria besar itu menjadi terhuyung. Dia pun menoleh dan berbalik dengan luap kemarahan yang sudah mencapai puncak ubun-ubun.
"Bedebah sialan! Siapa kau yang sudah mengganggu kesenangankuuu?" Pria besar berteriak dengan suara menggelegar dan berjalan mendekati Chriss yang sudah siap siaga dengan tongkat besinya. "Ternyata hanya seekor kecoa kecil yang menyerangku!"
Chriss tak menggubris sama sekali ujaran penghinaan ini. Dia memang sengaja menunggu kedatangan sang lawan tanpa rasa gentar sedikit pun. Sesekali pula, lelaki itu menangkis atau memukul lawan yang datang menyerangnya sambil menatap sosok besar bak anak raksasa.
"Kecoa dungu, ayo lawan aku! Bisa kupastikan tulang belulangmu remuk dengan sekali pukulan dariku!" Pria besar bergerak cepat sambil melayangkan sebuah pukulan kepalan tangannya yang besar dan kuat ke arah wajah Chriss.
"Bodoh!" Chriss segera menghindar dengan melompat ke arah samping sambil melengoskan wajahnya serta secara cepat pula mengayunkan tongkat besi di tangan kanannya untuk menghantam tengkuk si pria besar. "Kau pikir akan semudah itu menyentuh seorang Chriss?"
"Aaaaaa!" Tak ayal lagi, lelaki bak anak raksasa itu pun mengerang dengan keberangan luar biasa saat tubuhnya juga terdorong ke depan akibat terkena tendangan susulan yang mengenai pantatnya. Lelaki besar tersebut mengomel dalam hati. "Siaaaal! Kecoa dungu itu ternyata lincah juga."
__ADS_1
"Bagaimana kalau sekali lagi?" Chriss kembali mengayunkan bilah besi di tangannya mengenai tengkuk si pria besar. "Semoga kali ini kau menyukainya."
"Aduuuhh, sakit sekali!" Pria besar itu mau tak mau harus merelakan wajahnya mencium tanah dan merasakan kepusingan yang teramat sangat akibat tengkuknya yang terhantam tongkat besi sekali lagi. "Bo-bocah kecoa! Awas kaaaau!"
"Masih berani mengancam pada saat menjelang kematianmu? Rasakan lagi ini!" Chriss benar-benar tak ingin menunda waktu, karena dia melihat Jessey Liu juga dalam masalah yang mencemaskan. Pria itu lalu melompat tinggi dan mendaratkan diri menjatuhi pria besar lawannya seperti para pemain smack down. Chriss memukuli badan pria itu dengan tongkat besinya, bagai tak ingin memberi sedikit saja ruang bernapas lega pada lawannya ini.
Demi mendapatkan siksaan bertubi-tubi dari Chriss, pria itu pun terkulai tanpa daya antara sadar dan tidak. Chriss menghentikan kebrutalannya saat melihat pria itu sama sekali tak bergerak. Dia pun segera membalikkan badan musuhnya dan berjongkok untuk memerika keadaannya.
"Hanya begini saja si jelek ini sudah pingsan!" Chriss menyeringai sinis. Dia lalu meraba pakaian pria besar itu guna mencari sesuatu. Benar saja, dia menemukan sebuah benda berbentuk plat logam selebar setengah telapak tangan di balik rompi jeans pria besar ini. "Plat?"
Chriss menerangi kemudian benda itu dengan menggunakan senter pada korek api yang selalu dibawanya untuk melihat ukiran pada benda tersebut. Criss sangat terkejut saat membaca tulisan pada benda logam ringan tersebut. "Dark Cloud!"
"Pantas saja mereka memburu kami. Ternyata mereka menyimpan dendam atas penolakan kerjasama yang dilakukan oleh Gong Zi bulan lalu." Chriss segera menyimpan benda tersebut dan identitas apa saja yang berhasil dia kumpulkan di sakunya sebagai bukti yang akan diperlihatkan pada sang tuan.
Chriss melihat pertarungan dimenangkan oleh kelompoknya. Itu merupakan sebuah kemenangan yang cukup menggembirakan di pihaknya. Meskipun mereka kalah jumlah, akan tetapi dengan kecerdasan Jessey Liu yang sengaja memancing musuh agar memasuki sarang harimau putih adalah sebuah ide gila beresiko sangat tinggi. Seorang Chriss bahkan dibuat cemas setengah mati saat tuannya dengan sengaja menumbangkan beberapa batang pohon hanya demi membuat kegaduhan.
Chriss lalu memerintahkan kepada para anak buahnya agar siapa saja yang berasal dari anggota kawanan itu dilemparkan ke jurang. Tentu saja itu juga merupakan sebuah ide gila lainnya. Karena meskipun jurang tersebut tidak terlalu dalam, tetapi cukup untuk meremukan badan siapa saja yang jatuh ke dalamnya.
"Lemparkan saja sisanya! Kurasa para harimau putih itu juga sudah cukup kenyang malam ini," ujar Chriss sambil menendang tubuh salah seorang anggota kawanan Dark Cloud.
"A-a-ampun! Ampuni aku, Tuaaan!" Seorang pria muda menggigil ketakutan saat melihat kawan-kawannya dilemparkan satu persatu ke dalam jurang. "Aku menyerah dan mohon ampuun!"
"Enak saja minta ampun!" Salah seorang anak buah Chriss memukul wajah pria itu hingga lebam membiru.
"Setelah memburu kami dan berniat mencelakai kami. Apa kamu pikir hanya kata ampu saja itu sudah cukup?" bentak anak buah Chriss dengan marah sambil memegangi kedua tangan musuhnya dan hendak mengangkat tubuh pria itu utuk dilemparkan ke dalam jurang. "Ayo, kita lemparkan saja dia!"
"Tunggu!" Chriss teringat akan pesan Jessey Liu. "Sisakan satu untuk kita jadikan tawanan. Ikat dia!"
...Bersambung...
__ADS_1