
Sang manager hotel melirik kecil kepada dua wanita yang sedang menjadikan dirinya tameng. "Benarkah apa yang kalian katakan itu?"
"Benar, Tuan Manager. Mereka mencoba membujuk dan terus memaksa kami agar mau menjadi pelayan malam ini." Jean memperlihatkan pergelangan tan
"Oh benarkah?" tanya manager gendut seraya mengangkat salah satu alisnya dan melihat ke arah para pria berseragam serba hitam.
"Maka, mari kita beri pelajaran kepada mereka yang sudah tidak tahu diri itu!" Manager gendut mengajak dua wanita cantik berjalan mendekati meja Alexi.
"Humph! Rasakan oleh kalian semua, para pria sialan!" umpat Jean dalam hati dengan penuh kemenangan. "Sekarang, kalianlah yang terancam!"
"Ayo, Tuan. Kita beri pelajaran kepada mereka semua!" seru Jean dengan bersemangat. "Merry, ayo kita ikut ke sana!"
"Bagus! Akan ada pertunjukan bagus dan menyenangkan malam ini!" Merry kembali bersemangat.
Bos gendut sendiri hanya mengulas senyum kecil yang sengaja dia sembunyian di balik kumisnya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria gendut itu, sampai-sampai dia berani mencoba untuk menerobos para pengawal yang bertampang sangar.
Betapa senang kedua wanita itu saat membayangkan para pria yang menjadi lawannya pasti akan mendapatkan nasib yang sangat sial. Jean sungguh terlalu senang melebihi seperti mendapatkan harta karun. "Sepertinya akan ada tontonan bagus. Kita pasti beruntung kali ini. Kita lihat saja, mereka semua akan bertekuk lutut di hadapan kita!"
Keduanya berbicara sambil berjalan dan berbisik-bisik dan tak memedulikan pandangan para pengunjung restoran yang menjadi kehilangan selera makan atas kejadian yang ditimbulkan oleh dua wanita penghibur tersebut.
Ketiga orang tersebut berjalan dengan langkah pasti mendekati para pengawal berseragam hitam. Mereka masih berdiri tegak menghalangi siapa saja yang berani menganggu sang majikan. Tentu saja sang manager pun harus bersikap sopan kepada para pengawal bertampang garang ini.
"Berhenti!" bentak pengawal paling depan dengan wajah garang. Dia sangat tidak menyukai dua orang wanita yang membuntuti pria gendut berpenampilan bos tersebut.
Manager hotel berbadan gendut segera menghentikan langkahnya dan berdiri memasang lagak wibawa sebagai seorang yang terbilang penting dalam jajaran kepengurusan hotel. Walaupun dia bukanlah pemilik, tetapi jabatannya juga tidak bisa dikatakan rendah.
Merry dan Jean juga berhenti beberapa langkah dari sang manager. Mereka sengaja sedikit menjaga jarak dengan para pengawal. Pria-pria itu menatap sinis pada para wanita yang dianggap hanya akan menjadi penganggu saja bagi sang tuan. Tentu saja tatap mata para pria bertampang garang itu berhasil menciutkan nyali dua wanita tersebut.
"Selamat malam, Tuan-Tuan semua." Manager gendut menyapa dengan sikap hormat.
"Selamat malam juga, Tuan," sahut pengawal berbadan tinggi besar.
"Maaf, Tuan-Tuan. Saya adalah salah satu pihak pengelola hotel ini. Dan saya sangat ingin berbicara dengan majikan kalian itu," ucap manager hotel sembari mengarahkan pandangan ke tempat di mana Alexi dan para asistennya berada.
"Kalau begitu tunggulah sebentar. Anda harus mendapatkan ijin dari tuan kami. Jika tuan kami tidak ingin biacara dengan Anda, maka sebaiknya Anda pergi dan jangan memaksa lagi." Si pengawal berbadan sedang yang menjawab.
"Oh, harus seperti itu?" Manager hotel bertanya.
"Itu adalah syaratnya!" sahut si pengawal dengan tegas.
"Tapi, Tuan-Tuan. Saya adalah salah seorang manager pengelola tempat ini dan saya berhak bicara dengan siapa pun yang menjadi pengunjung tempat ini." Manager hotel terlihat mulai emosi.
"Meski Anda ini adalah pemiliknya sekalipun, tapi kalau tuan muda kami tidak berkenan bicara dengan Anda. Maka Anda tidak kami ijinkan Anda mendekatinya," sahut pria yang berdiri paing depan.
"Kalau begitu, mohon sampaikan pada majikan kalian permintaanku berbicara dengannya." Manager gendut memang merasa tidak harus menambah masalah lagi. Pria itu lebih memilih bersikap damai demi menjaga keamanan para pelanggannya.
__ADS_1
"Tunggulah sebentar! Kami akan memintakan ijin untuk Anda." ucap pengawal yang sepertinya paling disegani di antara kawan-kawannya. Pengawal berambut cepak menoleh kepada temannya. "Laporkan hal ini pada Tuan Muda! Katakan padanya kalau orang ini meminta bertemu untuk secara langsung bertemu dengannya!"
"Siap!" Sang kawan segera menghampiri meja tempat Alexi duduk dengan santainya bersama dengan para asisten pribadinya.
"Maaf, Tuan Muda dan juga semuanya! Terpaksa saya harus mengganggu kenyamanan Anda semua." Si pengawal merasa harus menghormati para atasannya.
"Ada apa?" tanya Danny Hendrat tanpa membiarkan pengawal yang baru saja datang mendahuluinya berbicara pada Alexi. "Katakan!"
"Maaf, Tuan Danny. Saya hanya menyampaikan pesan dari pria gendut itu. Dia meminta ijin untuk bertemu dan bicara langsung dengan Tuan Muda." Pengawal itu menjawab tanpa berani menolehkan wajah pada Alexi.
Danny Hendrat menganggukkan kepala seraya meletakkan kacamata hitam ke atas meja. "Tunggu sebentar!"
"Tuan Muda. Pria di sana itu, katanya ingin bertemu dengan Anda." Danny Hendrat bertanya pada sang tuan, "Bagaimana, Tuan Muda?"
"Pria gendut itu?" tanya Alexi dengan suara yang tertahan oleh kain cadar.
"Benar, Tuan Muda," jawab si pengawal.
Alexi yang sejak tadi tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya kemudian bertanya, "Ada hal sepenting apakah, sampai-sampai orang itu harus datang sendiri padaku?"
"Maaf, Tuan Muda! Sepertinya itu masih ada kaitannya dengan wanita itu." Pengawal pelapor menggerakkan tangannya menunjuk ke arah Jean dan Merry.
Kedua wanita yang ditunjuk terlhat langsung memasang pose sensu4al agar Alexi tertarik pada kecantikan dan keindahan tubuh mereka. Nyatanya gerakan gemulai genit itu berhasil membuat sebagian pengunjung merasa muak dan mual melihat tingkah keduanya. Namun, sebagian pria secara tanpa sadar meneguk saliva yang membuat jelmaan buah quldi di leher mereka naik turun berulang kali.
Abraham dan Segara saling berpandangan, sedangkan Danny Hendrat hanya mengulum senyum kecil. Mungkin mereka mengira jikalau Alexi akan tertarik pada dua wanita berpenampilan seksi menggoda.
"Apakah lelaki itu akan menawarkan mereka padaku?" Alexi bertanya dengan nada heran. Dia bukan tidak mengerti dengan kebiasaan pergaulan di dunia luar yang bebas.
Si pengawal menjawab, "Saya juga tidak tahu, Tuan Muda."
"Baiklah. Sepertinya bagus juga mereka." Alexi menyahut. "Bawa mereka bertiga ke mari!"
"Baik, Tuan Muda!" Pengawal itu tak membantah perintah sang tuan, meskipun dia tak mengerti dengan pemikiran sang tuan. Benarkah Alexi tertarik dengan para wanita itu?
"Tuan Muda sungguh tertarik dengan mereka?" bertanya Segara dengan raut wajah tak mengerti.
Segara dan Abraham semakin tak mengerti dengan pilihan sang tuan muda. Baru kali ini Alexi bertingkah aneh tentang wanita-wanita penghibur yang masih berharap bisa meraih pria yang gagah dan terhormat juga kaya raya.
"Meskipun mereka cantik, tapi mereka sangat tidak cocok dengan Andaaaa!" seru Segara dengan nada tidak setuju. Tentu saja dia sangat keberatan jika Alexi mengambil wanita sejenis itu untuk menghibur kekecewaannya saat ini.
Segara tahu secara pasti keadaan Alexi yang masih frustrasi akibat diabaikan oleh kekasihnya. Pria muda itu lalu berkata, "Jika Anda menginginkan seorang gadis, maka akan saya carikan yang lebih baik dari mereka. Bagaimana, Tuan Muda?"
Bertanya Alexi dengan heran. "Untukku?"
Keduanya merasa khawatir dengan keadaan mental Alexi saat ini. Bisa jadi semua akibat dari sikap Zike hari ini. Benarkah seorang Alexi akan mengambil wanita-wanita yang lebih tua dari usianya hanya untuk menghibur diri?
__ADS_1
Abraham tak bisa menahan diri lagi, dia pun berucap, "Segara benar, Tuan Muda. Biar kami carikan yang lebih pantas daripada para wanita penghibur macam mereka."
"Apa-apaan kalian ini?" Alexi Nata Praja mengernyitkan alis matanya. Dia sadar apa yang dilakukannya telah membuat sebuah kesalahpahaman bagi pengikutnya. "Apa yang kalian pikirkan tentangku dengan para wanita rendahan seperti mereka?"
Abraham menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan itu. "Eeeh ... ma-maksudku, eh maksud saya adalah ...."
Di bawah meja, Abraham memberi tendangan kecil pada kaki Segara yang juga menjadi sedikit kebingungan. Segara mau tak mau juga menjadi gugup sekaligus merasa kesal pada Abraham.
"Kenapa si bodoh ini seperti sengaja melimpahkannya padaku?" Segara mengedumel dalam hati dengan kesal atas perbuatan Abraham.
"Maksud mereka adalah, mungkin Tuan Muda memerlukan hiburan saat ini." Danny Hendrat membuka suara kali ini untuk menetralkan suasana. "Itu karena kami melihat Anda seperti sedang merasa kurang senang dan bahagia hari ini."
"Aaaah! Dia selalu menjadi penyelamat kami!" Segara berteriak dalam hati. "Thanks, Brother!"
"Bagus, Danny!" Abraham berseru dalam hati.
"Dibandingkan dengan si bodoh yang hanya tahu menyisir rambut tuan muda, dia selalu lebih baik!" Segara masih bermonolog dalam batin sambil melirik kecil ke arah Abraham yang ternyata juga sedang meliriknya.
Abraham merasa kesal juga dengan lirikan Segara yang bagaikan sedang mencaci dalam sorot matanya. "Kenapa dia melihat ke arahku? Apa pria serba ingin tahu ini sedang mengataiku?"
Abraham dan Segara pun akhirnya menjadi sedikit merasa lega, jikalau Danny Hendrat sudah bicara.
"Maaf, Tuan Muda! Saya hanya merasa heran dengan ucapan Anda tadi.
"Sepertinya tuan muda memang butuh sesuatu untuk menghibur dirinya sendiri," pikir si pengawal sembari berjalan menuju manager gendut yang masih menunggu jawaban dari Alexi.
Pengawal yang baru saja tiba di hadapan manager gendut segera memberitahukan apa yang dikatakan Alexi. "Tuan muda kami mengijinkan kalian datang menemuinya."
"Benarkah?" Manager gendut merasa lega karena Alexi mengijinkannya untuk bertemu. "Baiklah, saya akan menemuinya sekarang juga.
Pada saat itu juga, hidangan yang dipesan oleh Abraham tiba di meja Alexi. Pemuda itu hanya menatap dengan malas makanan-makanan yang sedang ditata dengan baik oleh para pelayan restoran tersebut. Semuanya terlihat biasa saja bagi seorang tuan muda yang sudah terbiasa berlimpah harta dan kemewahan.
Hanya satu yang tidak dia miliki selama hidupnya, yaitu keinginan untuk bebas menentukan apa pun kata hatinya. Seorang Alexi kerap merasa kesepian di dalam keramaian. Perasaan Alexi Nata Praja selalu hampa, gersang dan bagai kehausan di tengah lautan.
"Tuan Muda, saya sengaja memesan ini untuk Anda. Secara kebetulan tadi saya melihat ada menu ini. Jadi ... saya berpikir mungkin Anda akan menyukainya." Abraham dengan hati-hati menyodorkan sebuah wadah tertutup ke hadapan Alexi. "Silakan, Tuan Muda! Jangan biarkan perut Tuan Muda kosong malam ini."
"Apa ini?" Alexi masih merasa enggan untuk membuka penutup berbentuk mangkuk besar dari bahan aluminium.
"Aiyaaaa, Tuan Mudaaa! Bagaimana Anda akan tahu, kalau tidak membukanya?" Segara merasa sedikit kesal juga dengan tingkah sang tuan.
Alexi dengan sangat enggan membuka penutup yang menyimpan sebuah hidangan misterius di dalamnya dari Abraham. Mata Alexi terbelalak lebar dan mulutnya sampai sedikit terbuka saat melihat isi dalam wadah tersebut.
"Ini?"
...Bersambung...
__ADS_1