Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
RENCANA PINDAH


__ADS_3

"Mungkin dia marah padaku, Paman." Jing Xuan lalu bercerita tentang pertengakarannya dengan Ye Lu. "Jadi, kemungkinan dia tidak mau bertemu denganku, Paman."


"Jadi, dia menghukum mereka dengan cara seperti itu?" Ye Kai pun merasa cukup kaget mendengar penuturan dari Jing Xuan. "Baiklah, biar paman yang bicara dengannya nanti."


"Ge, jangan terlalu kasar padanya!" Mei Lan berkata sambil memegang lengan Ye Kai dengan suara lembut.


"Aku hanya akan mengajarinya saja. Menghukum juga tidak bisa seenakya seperti itu! Kalau di antara mereka ada yang celaka atau tewas oleh panah itu, bagaimana?" Ye Kai terlihat sangat emosi. "Itu sama saja mengundang aparat hukum untuk datang ke kediaman ini!"


"Benar sekali, Paman. Aku juga berpikir demikian. Sangat berbahaya sekali permainan Lu-Lu itu." Jing Xuan menyahut. "Mungkin hanya kepada Paman saja dia akan merasa takut, sedangkan pada orang lain dia tidak pernah merasa gentar."


"Baiklah, paman akan bicarakan nanti dengan anak bengal itu!" Ye Kai terlihat sangat geram dengan Ye Lu. "Ternyata aku salah memberi kebebasan padanya."


"Sabarlah, Ge. Bagaimanapun juga dia masih anak-anak. Jangan terlalu keras padanya." Mei Lan merasa khawatir jika suaminya ini akan menghukum Ye Lu karena masalah ini.


"Kamu ini selalu saja membelanya! Makanya dia jadi bertambah arogan dan merasa dilindungi." Ye Kai melototi istrinya.


"Bukan membelanya, Ge. Aku hanya tidak ingin dia jadi tidak kerasan tinggal bersama dengan kita. Gege jangan salah paham padaku." Mei Lan berkata dengan nada sendu. "Dia hanya anak yang kasihan."


"Bibi ini mengapa membelanya terus? Sebenarnya yang keponakannya, aku atau dia?" Jing Xuan bersungut-sungut dalam hati. Dia memang tidak menyukai tingkah laku Ye Lu yang kerap


Jing Xuan dan Zike hanya saling terdiam menyaksikan dua orang di hadapan mereka sibuk dengan pembicaraan masalah Ye Lu yang bengal. Tentu saja makan malam menjadi sedikit terganggu. Mei Lan merasa tidak enak hati dengan para anak muda yang menjadi saksi di antara mereka.


"Sudahlah, Ge. Kita bicarakan ini nanti saja," ujar Mei Lan sambil melirik ke arah Ye Kai.


"Baiklah." Ye Kai tampaknya paham akan kode dari istrinya. Dia lalu berkata kepada Zike dan Jing Xuan. "Kalian lanjutkanlah! Janga hiraukan pembicaraan kami tadi."


"Baik, Shifu."


Jing Xuan juga menyahut, "Baik, Paman."

__ADS_1


Setelah acara makan malam berakhir, mereka habiskan membicarakan hal yang lain. Ye Kai mengungkapkan rencana kepindahan mereka ke Kota Wu Shang. Mendengar nama itu, membuat Zike merasa sangat terkejut. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi sedikit pucat.


"Aku tidak ingin lagi ke sana!" Zike berteriak dalam hati. "Kalau aku kembali ke Wu Shang, bukankah bisa saja bertemu dengan Meilia setiap saat?"


"Bagaimana ini?" Zike bertanya dalam hati. Dia sungguh merasa kebingungan dengan keputusan Ye kai. "Apakah aku harus menuruti apa kata shifu?"


"Bagaimana? Apakah kalian semua siap?" Ye Kai bertanya kepada semua orang.


"Mengapa harus pindah, Paman?" bertanya Jing Xuan. "Apakah ini sudah keputusan bulat dari atasan Paman?"


"Ya, benar. Dan itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Paman dan bibimu sudah menyetujuinya," jawab Ye Kai sambil mengupas pisang untuk dimakannya.


"Benar, Ah Xuan. Jadi, kita semua harus pindah ke tempat yang lebih dekat dengan sekte. Kami tidak bisa membantah keputusan para tetua dan juga Master Liu." Mei Lan menambahkan.


"Benar-benar harus ikut pindah, ya?" Zike berucap secara tanpa sadar. Ada kelesuan di dalam nada suaranya.


"Apakah kamu keberatan, Sayang?" Mei Lan bertanya sambil menatap gadis yang terlihat bingung itu.


"Bukankah Alexi yang mengejarku? Dan bukan aku yang merebut Ale dari Meilia. Jadi, mengapa aku harus takut dibilang berkhianat?" pikir Zike sambil tanpa sadar tersenyum tipis.


Jing Xuan yang melihat Zike tampak tersenyum menjadi heran dan bertanya, "Zike, apakah kamu senang dengan rencana kepindahan kita ke Wu Shang?"


Zike sedikit terkejut dengan pertanyaan Jing Xuan. "Di mana pun aku akan merasa senang. Aku telah terbiasa hidup di mana-mana. Jadi, semua itu tidak masalah aku mau tinggal di mana."


"Baguslah. Maka kita akan bersiap-siap mulai besok." Ye Kai merasa puas atas pembicaraan malam ini. Setidaknya beban hatinya sedikit terangkat dengan kesediaan muridnya untuk mengikuti kepindahan tempat tinggal mereka.


"Baik, Shifu!" Zike hanya bisa mengiyakan saja apa yang harus dia jalani walau hati menolaknya.


"Tetapi aku juga tidak bisa terus bersembunyi dari Meilia," pikir Zike sambil mengupas buah jeruk kesukaannya. "Cepat atau lambat, aku pasti akan bertemu dengannya."

__ADS_1


"Dan aku rindu suasana konser musik kesukaanku." Zike masih berucap dalam hati. "Tapi kata shifu, aku harus fokus berlatih agar bisa secepatnya bertemu dengan mereka."


Zike teringat dengan seorang basis cantik yang sangat ingin dia temui. "Di mana dia sekarang ini berada? Mengapa selama aku di sini tak ada satu pun anggota Danger Death yang datang ke mari?"


Ye Kai dan Mei Lan melihat Zike tengah melamun. Mereka pun saling melirik satu sama lain sambil memberi kode agar segera mengajaknya bicara. Mereka khawatir jika sang murid merasa terabaikan.


"Zike. Untuk malam ini, kamu boleh beristirahat saja. Aku juga lelah setelah perjalanan jauh," ujar Ye Kai sambil mengelap mulutnya dengan tisu. "Dan lagi, aku masih ada hal yang akan dibahas dengan Nu Jiaoshi-mu."


Zike tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Ye Kai. "Baik, Shifu."


"Ah Xuan, kamu antarkanlah Zike kembali ke tempatnya!" perintah Mei Lan.


"Siap, Bibi!" Jing Xuan tentu saja dengan senang hati akan melakukannya. Pemuda itu lalu menoleh ke arah Zike dan berkata, "Nanti setelah ini. Aku akan mengantarkanmu kembali."


Zike merasa itu terlalu berlebihan, dia pun segera menyahut, "Tak perlu repot-repot. Aku bisa pulang sendiri."


"Tapi ini adalah perintah dari bibiku. Mana mungkin aku berani membantahnya." Jing Xuan sebenarnya hanya ingin ada teman bicara malam ini.


"Baiklah, kalau kamu bersedia." Gadis itu hanya bisa menurut saja apa yang dimaui oleh pria muda di sampingnya ini.


Setelah semua selesai, Jing Xuan benar-benar mengantarkan Zike kembali ke paviliun tempat tinggalnya. Mei Lan dan Ye Kai juga memutuskan untuk membicarakan hal mengenai hasil penelitian Ye Kai. Mereka berdua memilih berbicara di dalam kamar, agar tidak ada yang mengetahui pembicaraan mereka.


"Menurutmu, bagaimana tentang kondisi Ah Xuan sekarang ini?" tanya Ye Kai sembari merebahkan diri di atas pembaringan, sedangkan Mei Lan memilih duduk bersandar di samping Ye Kai dengan sebuah buku di tangannya.


"Dari yang aku lihat, dia semakin membaik. Kuharap dia memang bisa secepatnya pulih seperti anak-anak lainnya." Mei La menjawab sembari membuka lembaran halaman demi halaman buku yang sedang ia baca.


"Aku juga berharap dia semakin membaik. Tetapi kalau bisa, mintalah dia untuk merahasiakan apa yang kita lakukan terhadapnya," ujar Ye Kai sambil membayangkan apa yang akan terjadi jika semuanya sampai bocor.


"Yang kita lakukan padanya adalah teknik pengobatan yang dilarang oleh Rajawali Api, karena hal itu bertentangan dengan teknik bela diri dari sekte itu."

__ADS_1


"Tapi Gege berani melakukannya pada anak itu dan hampir berhasil, meski ada dua kekuatan yang bertentangan dalam tubuh Ah Xuan," ucap Mei Lan sambil membayangkan saat menemani Jing Xuan menjalani terapi penyembuhan. "Apakah itu tidak akan berbahaya baginya ke depannya, Ge?"


...Bersambung...


__ADS_2