
"Tentu saja," sahut Ye Lu sambil memasang anak panah ke busurnya. "Cepatlah bersiap! Kalian hanya mengulur waktu saja. Gunakan benda-benda itu untuk menangkis serangan anak panah dariku!"
"Ternyata nona benar-benar akan melakukannya!" Para pelayan hanya bisa pasrah dengan kelakuan Ye Lu yang tak bisa dibantah lagi.
"Nona, apakah kami hanya berdiri saja di sini?" bertanya pria bertubuh pendek.
"Tentu saja. Kalau kalian bergerak, bukankah apel-apel itu akan jatuh. Lalu apa yang akan aku bidik?" Ye Lu bersiap dari jarak sepuluh meter dari para pelayan pria berdiri. "Jangan bergerak!"
Para pelayan hanya bisa pasrah saja, saat anak-anak panah melesat ke arah mereka dan melewati kepala-kepala mereka. Ye Lu akan bersorak kegirangan sambil melompat-lompat seperti anak kecil.
"Menyenangkan! Sangat menyenangkan!"
"Menyenangkan bagimu, tapi tidak bagi kami yang harus merasa tegang setiap kali anak panah itu melesat ke arah kami." Pria bertubuh gempal berkata dalam hati mengungkapkan keluhannya.
Sementara itu, Zike juga masih sibuk dengan Dong Xi yang tak juga bisa ia kalahkan. Mei Lan hanya tersenyum-senyum melihat kegigihan muridnya ini. Wanita itu memang sengaja membiarkan Zike menghajar boneka itu dengan sesuka hati.
"Nu Jiaoshiii! Aku sudah tidak sanggup lagi!" Zike berseru sambil menjatuhkan diri di atas lantai. "Aku tidak bisa menghindari serangan balik dari boneka jelek itu, Nu Jiaoshi!"
"Jadi, kamu benar-benar menyerah dengan boneka yang hanya bisa bergerak setelah dipukul atau diserang?" tanya Mei Lan sambl membelai wajah Dong Xi yang gemuk namun terlihat sangat menyebalkan bagi Zike.
"Ya, Nu Jiaoshi. Aku tidak bisa menghindarinya." Zike berkata dengan wajah cemberut tentu saja. "Semakin aku kuat menyerangnya, dia semakin kuat menyerangku pula."
"Oh ya?" Mei Lan tiba-tiba saja memukul Dong Xi dan wanita itu tidak terkena serangan balik dari boneka yang dirancang sebagai samsak tersebut. "Bagaimana, Zike? Aku selamat darinya."
Zike melihat Mei Lan memberikan satu buah pukulan yang cukup kuat dan boneka itu pun bergerak sesuai kekuatan pukulan dari si pemukul, tetapi Zike tidak melihat bagaimana cara gurunya itu bisa menghindar dari serangan balik benda tersebut. Mei Lan terlihat baik-baik saja.
"Nu Jiaoshi, bagaimana bisa?" Zike bangkit dari lantai dan terbelalak akibat rasa tidak percaya. "Aku tidak melihat bagaimana cara Nu Jiaoshi bisa menghindarinya tadi."
"Itulah kekuranganmu, Zike," ujar Mei Lan sembari memberikan sebotol air mineral kepada muridnya. Wanita itu melihat Zike tampak cukup kelelahan dalam latihannya kali ini.
"Terima kasih, Nu Jiaoshi." Zike menerima botol air mineral dari tangan sang guru, lalu meminumnya tanpa ragu. "Kekuranganku?"
"Nanti akan aku jelaskan dan sekarang sudah cukup latihanmu untuk hari ini. Kita lanjutkan besok lagi," ujar Mei Lan mengajak Zike pergi dari tempat itu. "Mari kita kembali!"
"Tapi aku masih penasaran Nu Jiaoshi!" Zike merasa belum puas namun dia tetap mengikuti langkah gurunya.
"Tidak harus sekarang, Zike. Kamu bisa melanjutkannya besok." Mei Lan terus berjalan dengan sang murid yang mengikutinya dari belakang.
"Oh, baiklah." Zike masih merasa sangat penasaran dan berhasrat untuk mengalahkan boneka tersebut. "Tunggu aku besok!"
"Nu Jiaoshi, coba katakan di mana letak kekurangaku?" Zike masih berusaha agar Mei Lan memberikan keterangan di mana letak kesalahannya.
__ADS_1
Namun, belum sempat Mei Lan menyahuti ucapan Zike, secara tiba-tiba pula seseorang memanggilnya. Keduanya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Tampak dari kejauhan, Jing Xuan setengah berlari mendekati mereka dan langsung menghampiri Mei Lan setelah melemparkan senyum ke arah Zike..
"Bibi!"
Mei Lan segera menyambut kedatangan Jing Xuan. "Ah Xuan!"
"Bibi, aku mencari Bibi ke mana-mana dan ternyata ada di sini rupanya," ujar Jing Xuan sambil menggandeng tangan Mei Lan dengan sikap manja. "Apa kabar, Bibi?"
"Bibi di sini sejak tadi." Mei Lan berkata sambil memegang lengan keponakannya dengan penuh kelembutan.
"Tapi. aku tadi ke mari dan tidak mendapati Bibi ada di sini. Aku hanya bertemu dengannya saja." Jing Xuan berkata sembari menggerakakan dagunya ke arah Zike yang hanya diam di tempatnya.
"Jadi kalian sudah bertemu dan saling berkenalan?" tanya Mei Lan kepada kedua anak muda yang ada di hadapannya.
"Sudah, Bi." Jing Xuan yang menjawab. "Iya kan, Zike?"
Zike hanya menganggukan kepala dan menjawab, "Benar sekali, Nu Jiaoshi."
"Kalau begitu, baguslah. Kalian bisa saling berbicara satu sama lain kalau ada kesempatan. Bukankah bagus kalau kalian bisa berteman?" tanya Mei Lan samil mengajak dua orang itu pergi. "Mari, kita kembali ke rumah da bicara di sana!"
"Tentu saja dengan senang hati, Nu Jiaoshi." Zike menyahut. Meskipun dia merasa sedikit canggung, jika bergaul dengan keponakan gurunya itu. "Karena hari sudah senja. Zike mohon diri , Nu Jiaoshi!"
Zike yang merasa tidak ingin mengganggu sang guru dan Jing Xuan, akhirnya memilih berpamitan. Terlebih lagi badannya sudah sangat lengket oleh keringat dan kotoran. Mei Lan dan keponakannya juga memutuskan untuk kembali.
Mei Lan bertanya, "Zike maksudmu?"
"Mmmh." Jing Xuan menyahut sambil menganggukkan kepala. "Sepertinya dia orang baru di sini."
"Dia adalah murid pamanmu dan juga muridku," jawab Mei Lan. Dia lalu menceritakan perihal gadis yang telah diangkat sebagai muridnya.
Jing Xuan merasa kecewa dengan keputusan Ye Kai dan Mei Lan yang telah menerima murid pribadi, sedangkan dirinya sudah berulang kali menyatakan keinginan untuk menjadi murid di Sekte Elang Emas namun selalu mendapat jawaban yang sama dari kedua orang ini.
"Paman dan Bibi tidak mau menerima atau mengajariku sebagai murid, tetapi malah menjadikan orang lain. Apakah itu adil, Bibi?" Jing Xuan bertanya dengan perasaan sedikit iri tentu saja.
"Ah Xuan, bukan kami tidak mau menerimamu atau tidak bersedia mengajarimu. Bukankah kamu sudah tahu alasannya?" tanya Mei Lan tanpa menoleh.
"Bukankah aku juga sudah katakan pada Paman Ye dan Bibi, kalau aku bersedia berpindah sekte?"Jing Xuan balik bertanya. "Aku bisa bicarakan itu dengan ayah nantinya."
Mei Lan menjawab, "Ah Xuan, itu tidak bisa kamu lakukan. Kamu bisa dianggap seorang pengkhianat oleh orang-orang di sektemu dan itu akan semakin membuka peluang bagi mereka untuk menyingkirkanmu."
"Aku tidak peduli, Bi. Apa bedanya dengan aku yang sekarang di mata mereka?" Jing Xuan berkata dengan nada malas.
__ADS_1
"Meski begitu, kamu tidak bisa bertindak seenaknya, Ah Xuan." Mei Lan berusaha mendinginkan hati anak muda ini.
"Tapi, Bibi. Mereka juga tidak menganggapku sama sekali. Perlakuan orang-orang di sekteku sungguh sangat menyakitkan, Bi." Ada kesedihan yang dalam dalam nada perkataan Jing Xuan. "Aku tidak kerasan tinggal di sana dengan lingkungan yang tidak mendukungku."
"Aku adalah sampah di mata mereka dan hanya Elang Emas yang tidak membedakan antara yang kuat atau lemah." Jing Xuan berkata dengan hati bergejolak. "Bi, aku merasa nyaman di sekte ini!"
"Sedangkan di sana, aku adalah sampah sekte yang memalukan bagi perguruan kakekku." Jing Xuan kembali merasa sangat tidak beruntung.
Mei Lan menyahut sambil melangkahkan kali menaiki anak tangga yang menuju lantai atas. "Bibi tahu, Ah Xuan. Tapi tetap saja kami tidak berani menerimamu di Sekte Elang Emas. Terlebih lagi, posisimu di Rajawali Api juga tidak rendah sama sekali."
Jing Xuan diam dan tidak berkata apa pun lagi. Dia memang harus kembali kecewa dengan keputusan Mei Lan dan Ye Kai. Melihat kekecewaan di wajah sang keponakan, Mei Lan sungguh merasa tidak tega.
"Posisi tidak rendah juga tidak ada pengaruhnya. Di sekteku hanya yang kuat yang akan diakui, sedangkan orang cacat sepertiku jelas tidak ada harganya!" seru Jing Xuan dengan emosi yang tetap berusaha keras dikendalikan.
Mei Lan benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa. Ternyata keponakannya ini masih menyimpan keinginan yang sama. Tetapi dia dan Ye Kai tidak berani mengabulkan keinginan Jing Xuan.
"Ah Xuan." Mei Lan memanggil dengan suara lirih.
"Ya, Bi."
"Beristirahatlah! Kita bisa bicarakan ini nanti dengan pamanmu setelah beliau kembali," ujar Mei Lan dengan nada lembut.
"Baiklah, Bi." Jing Xuan hanya bisa menurut saja saat ini. Anak muda itu kemudian berjalan menuju ruang keluarga dan langsung menjatuhkan diri di atas sofa.
Pemuda itu tiba-tiba saja teringat kepada Ye Lu yang tadi asyik dengan kesenangannya. "Bagaimana dengan Lu-Lu, Bi?"
"Kulihat tadi dia sedang menghukum orang. Apakah tidak salah, Paman Ye dan Bibi menyerahkan mereka padanya?" Jing Xuan teringat kepada rencana permainan Ye Lu yang cukup kejam dan mengerikan.
"Pamanmu sengaja melakukan hal itu, agar para pelayan tidak lagi berlaku hal-hal yang buruk di masa depan," jawab Mei Lan sambil menuangkan teh panas yang selalu tersedia di ruang keluarga. Wanita itu lalu memberikan salah satu cangkir kepada Jing Xuan. Mei Lan tidak melupakan juga untuk menyiapkan beberapa macam kue sebagai camilan.
"Terima kasih, Bi." Jing Xuan menerima cangkir teh dari tangan bibinya. "Tapi kupikir, hukuman macam apa itu yang mempermainkan nyawa orang lain untuk kesenangan?"
"Biarkan saja dia. Bibi tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi anak itu." Mei Lan memang terkadang merasa ingin menyerah saja dalam menghadapi seorang Ye Lu dengan segala ulahnya. "Ah Xuan, bibi akan membersihkan diri terlebih dahulu. Nanti setelah itu kita makan malam bersama."
"Baiklah, Bi. Ah Xuan akan menunggu Bibi." Jing Xuan berkata sambil meraih remote control dan menyalakan televisi sebagai teman.
"Baik-baiklah, Ah Xuan." Mei Lan meninggalkan keponakannya sendirian di ruangan itu.
Tinggallah Jing Xuan hanya seorang diri di ruangan besar tersebut dan asyik menonton acara yang disajikan oleh channel-channel terkenak. Pemuda itu terlihat santai meski beberapa orang pelayan terkadang menyapa. Namun, hal itu tidak mengganggu keasyikannya dalam mengikuti acara berita.
Baru saja beberapa waktu berlalu, terdengar suara raungan mobil berderu di depan beranda kediaman. Rupanya, Ye Kai sudah tiba dengan selamat dari perjalanan jauh. Pria itu langsung masuk tanpa memperhatikan ada orang yang ingin menyambut kedatangannya. Tetapi Ye Kai sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Mungkin paman lelah," pikir Jing Xuan sembari menyeruput teh panasnya.
...Bersambung...