
"Aaaaah! Pusiiiiiiing!" Alexi membanting dengan keras ponselnya dan meninggalkan benda itu tanpa membalas pesan dari Zike. Pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur seluruh badannya dengan masih berpakaian.
"Elang Emas! Elang Emas! Elang Emaaaaaas!"
"Mengapa sekte itu harus memiliki tuan muda sebagus dia?"
"Mengapa juga Sanca Perak tidak sebagus sekte itu?"
"Mengapa juga aku lahir sebagai tuan muda Sanca Perak?"
"Mengapa aku tidak seberuntung orang itu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh membuat kepalanya terasa pening. Guyuran air pada tubuhnya pun terasa lebih menyakitkan daripada hukuman cambuk. Alexi merendam tubuhnya dalam bak mandi guna meredam perasaan panas dalam dada dan kepala yang bagai membakar hangus impian indah selama ini.
Namun bagaimanapun juga, pemuda itu berusaha mengatur jalan napas dan menetralkan isi kepalanya dengan mencoba berpikir secara jernih. Tiba-tiba dia berpikiran lain dan membuatnya tersenyum sendiri. "Tapi, bukankah itu bagus juga?"
"Zike, kali ini aku mendukungmu!" Seulas senyum tipis menghiasi bibir tipisnya yang bergetar akibat kedinginan.
Tanpa sadar sudah hampir satu jam dia berendam, tetapi dia telah sangat terbiasa dengan hal semacam ini dan kondisi tubuhnya tidak terpengaruh sama sekali. Pemuda itu segera mengganti pakaian basah dengan selembar piyama dengan agak kerepotan, karena luka sayat di telapak tangan kanannya menjadi basah dan sedikit pedih.
Dia bahkan tidak menyadari akan hal itu. Ya! Kalau tidak ceroboh, maka dia bukan Alexi namanya. Alexi keluar dari kamar mandi dengan langkah panjang dan agak terburu-buru sembari mengelap rambutnya yang basah dengan selembar handuk.
"Abrahaaaaam!" Alexi berteriak memanggil Abraham untuk mengganti pembalut lukanya yang basah.
"Abrahaaaaam!" Sekali lagi Alexi berteriak namun yang dipanggil tak juga datang. "Abrahaaaam!"
"Ke mana dia?"
Tidak mendapat jawaban dari panggilannya, membuat pria muda itu semakin uring-uringan hingga berjalan hilir mudik sambil terus menggosok rambutnya dengan handuk. Alexi kemudian melemparkan handuk dengan seenaknya tanpa memedulikan ke mana benda itu singgah.
"Aaaww! Ternyata luka ini cukup merepotkan juga!" Alexi mengeluh sendiri saat membuka handsock hitam sebagai penutup perban agar kakek dan neneknya tidak mencurigainya.
Detak suara langkah kaki tedengar dari luar kamar, membuat Alexi merasa lega dan segera bergegas membuka pintu. "Abra ... ham?"
Suara Alexi tertahan lirih saat melihat siapa yang datang. Wajahnya seketika berubah menjadi lain, dengan cepat pula ia menyembunyikan tangan kanan yang menampakan perban putih. Sosok di depan mata Alexi terlihat membawa nampan berisi makanan dan minuman. Pembawanya pun segera melemparkan senyum manis kepada pria muda yang terbengong di ambang pintu.
"Kak Ale. Maaf, kalau aku mengganggu Kakak!" Gadis itu berbicara dengan suara lembut. "Aku hanya mengantarkan ini atas ijin dari nenek."
"Oh!" Alexi tak berniat menerima, akan tetapi juga tentunya tidak bisa menolak apa pun pemberian sang nenek. "Baiklah, ke marikan!"
Alexi menerima nampan itu dengan menggunakan tangan kiri. Dia bahkan sama sekali tidak berniat mempersilakan gadis ini masuk. "Terima kasih banyak, Garnis."
"Sama-sama, Kak Ale." Garnis merasa cukup senang jikalau Alexi bersedia bicara dengannya. Garnis tanpa sadar terus menatap wajah Alexi yang selalu bersikap dingin pada gadis itu. Dalam hati dia berucap, "Manis sekali calon suamiku ini. Aku sungguh merasa sangat tidak sabar menunggunya terlalu lama."
Saat ini Alexi terlihat sangat mempesona di mata Garnis, meski pemuda itu hanya mengenakan piyama putih dan menampakan sedikit dada bidangnya yang terlihat basah akibat tetesan air dari rambut panjang pemuda tampan penggetar hati. Wajah pria ini bahkan terlihat lebih cantik dari seorang wanita dan hal itu menciptakan kekaguman tiada tara bagi gadis tersebut.
__ADS_1
"Sabarlah, Garnis! Bukankah itu tidak akan lama lagi?" Garnis berusaha menyabarkan dirinya sendiri dalam hati.
Alexi merasa jengah mendapatan tatapan dari Garnis. Jika itu adalah Zike, mungkin akan sangat lain ceritanya. Bisa jadi bahkan Alexilah yang merasa tidak tahan dan akan segera memeluknya, mencumbunya atau melakukan apa saja yang dia inginkan. Namun, saat ini yang ada di depannya adalah orang lain dan bukan siapa-siapa bagi tuan muda ini.
"Maaf, Nona Garnis! Bisakah Anda tidak menghalangi jalan?" Sebuah suara mengejutkan kekakuan di antara sepasang muda-mudi yang berbeda rasa. Tentu saja itu adalah suara yang merupakan penyelamat bagi Alexi. "Permisi, Nona!"
"Oh, maaf!" Garnis menggeser posisi tubuhnya dengan tanpa sadar dan merasa sungguh malu kepada orang yang baru saja datang. "Si-silakan, Tuan!"
"Maaf, Nona! Saya masih harus merawat Tuan Muda Alexi." Abraham sepertinya memang sengaja ingin menyelamatkan sang tuan muda dari gadis yang sangat tidak diinginkan kehadirannya ini.
"Baiklah. Kalau begitu aku mohon diri! Selamat malam semuanya!" Garnis segera berbalik pergi dengan kekecewaan yang teramat sangat. Rusak sudah suasana gembiranya hingga langkahnya pun begitu tergesa-gesa.
"Tuan Muda, apakah saya telah menyelamatkan Anda?" bertanya Abraham guna menggoda Alexi yang terlihat kesal.
"Bodoh! Ke mana saja kau ini?" Alexi dengan geram menyerahkan nampan berisi satu gelas minuman susu jahe dan bubur beras. "Ini untukmu!"
Abraham menerima nampan dan memperhatikan isinya. "Maaf, tadi saya sedang ada perlu di belakang! Perut saya sering mulas karena sering menghabiskan makanan dari gadis itu."
Abraham berkata sambil mengikuti Alexi yang berjalan ke tempar tidur setelah memungut ponselnya. "Gadis itu hanya membuat modus dengan alasan mengirimkan makanan dari nenek! Jelas-jelas nenek tahu, kalau aku tidak suka bau rempah-rempah!"
"Benar, Tuan Muda." Abraham menyahut dengan tenang.
"Bukankah itu artinya dia hanya mencari cara agar bisa bertemu denganku?" Alexi menjatuhkan tubuhnya di atas pembaringan dengan kesal. Kemudian dia membuka layar ponselnya dan menatap wajah Zike yang ia jadikan walpaper.
"Betul sekali!" Abraham menjawab sembari meletakan nampan di atas meja. Abraham merasa heran mendengar gumaman Alexi hingga dia pun menyambung, "Meski dia memang manis."
"Jadi, dia manis menurutmu?" Tampaknya Alexi dan Abraham sama-sama memiliki kesalahpahaman. "Kalau begitu, ambil saja dia buatmu!"
"Si-siapa, Tuan Muda?" Abraham sedikit terkejut dengan perkataan Alexi yang meminta dia mengambil sesuatu yang bukan untuknya.
"Siapa lagi? Ya gadis pembawa bubur itu!" Alexi menggerakan dagunya ke arah meja.
"Bu-bukan itu! Bukan itu maksud Abraham!" Abraham terlihat gelagapan dengan ucapan Alexi. Dia sendiri tadi hanya berniat menimpali gumaman Alexi. "Aaahh! Mengapa jadi beda pemahamannya? Bukankah tadi Anda bilang dia sangat manis?"
Alexi baru tersadar dengan ucapannya tentang Zike. "Ooh. Bukan dia yang kubilang manis itu, Abraham. Tapi orang lain."
"Ooohh." Abraham mengaggukan kepalanya dan beranjak ke suatu tempat. "Ada orang lain yang membuat Anda sampai mengatakan dia sangat manis. Tentunya dia adalah seseorang yang sangat beruntung sekali."
"Tentu saja dia sangat beruntung." Alexi tersenyum sekali lagi hingga gigi putihnya terlihat dan semakin menambah ketampanannya. Abraham sendiri mengakui akan kelebihan yang dimiliki oleh tuan mudanya ini. Alexi memang memiliki wajah secantik Alexa saudara kembarnya.
"Oh, salah!" Alexi berseru sekali lagi sambil menggeser layar ponselnya dan melihat kembali foto-foto kekasihnya. "Akulah yang beruntung sekali telah berhasil mendapatkannya!"
Alexi menyambung, "Dibandingkan dengan gadis tak tahu malu itu, dia seribu kali lebih berharga bagiku."
"Pasti! Itu pasti, Tuan Muda."
__ADS_1
"Dia pikir dengan begitu, aku akan bersimpati padanya? Lalu, mau menikahinya? Huh, dasar pemimpi!" Alexi kembali bersungut-sungut.
"Mmh. Dia sangat bermimpi tentu saja." Abraham segera mengambil alat pengering rambut. "Ingin menaklukan tuan mudaku pasti tidaklah mudah."
Melihat itu Alexi pun berseru, "Hei, Abraham! Kamu urusi dulu lukaku ini!"
Abraham tertegun karena telah melupakan hal yang satu ini. "Baiklah, Tuan Muda."
Pria itu kemudian bergegas mengambil kotak obat setelah meletakkan kembali alat pengering rambut yang baru saja dia pegang. Tanpa membuang waktu lagi dia pun segera duduk di tepi pembaringan guna mengganti perban pembalut luka Alexi, sedangkan sang tuan muda sudah terlalu asyik dengan dunianya sendiri.
"Eh, Abraham. Aku punya rencana yang bagus sekarang!" seru Alexi secara tiba-tiba.
"Rencana bagus apakah itu, Tuan Muda?" Abraham menyahut sambil terus melakukan pekejaannya. Dia memang harus selalu merespon apa saja yang Alexi bicarakan.
"Aku ingin menaklukkan seseorang di ring pertandingan dengan taruhan diri kita masing-masing." Mata Alexi berbinar dan membulat sempurna.
"Permainan macam apa itu, Tuan Muda? Bukankah Anda tidak suka da tidak pernah berjudi?" Abraham merasa heran dengan kata taruhan yang dimaksud oleh Alexi.
"Eh sini! Biar kuberitahu." Alexi tiba-tiba menarik leher Abraham guna membisikan sesuatu. Abraham merasa sedikit kikuk juga berdekatan dengan sang tuan mudanya ini. Namun dia hanya bisa menurut saja daripada berdebat. Lagi pula dia juga merasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Alexi.
"Jadi ... dia sebenarnya ada dipihak saingan berat Sanca Perak?" Abraham cukup terkejut mendengar rencana Alexi. "Tidak bisa! Itu sama saja dengan menentang peraturan perguruan ini, Tuan Muda!"
"Apa peduliku pada perguruan ini? Tempat yang tak ubahnya neraka bagi calon penerusnya!" Alexi menarik tangan kanannya dari pegangan Abraham. Pemuda itu kmbali bangkit dan duduk di tepi tempat tidur dengan gerakan kasar.
"Tapi, haruskah dengan cara semacam itu?" bertanya Abraham tanpa mengubah posisinya.
"Bukankah itu taruhan yang sangat menarik dan langka?" Alexi mengepalkan tangan kiri membentuk tinju untuk menopang dagunya. "Sebuah pertaruhan yang menyenangkan, baik jika kalah ataupun menang."
"Tapi saya tidak ingin Anda mendapatkan hukuman lagi dan lagi!"
"Aku siap dengan semua hukuman, Abraham!" ucap Alexi dengan nada tak ada kegentaran sedikit pun. "Bukankah itu adalah hal yang biasa?"
"Apa pun yang Anda lakukan. Mohon pikirkanlah dan jangan menambah masalah untuk diri Anda sendiri, Tuan Mudaku!" Abraham bangkit dari posisinya.
"Aaaah! Pusing aku!" Alexi menarik selimut dan menyembunyikan diri di dalamnya dengan perasaan kacau. Abraham bahkan juga menentang rencananya kali ini.
"Dengan ada atau tidaknya persetujuan dari orang lain, aku tak peduli! Aku akan tetap melakukannya!"
"Tu-Tuan Muda!"
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri!" bentak Alexi dari balik selimut dengan nada marah.
Apa sebenarnya rencana Alexi?
...Bersambung...
__ADS_1