Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KUMBANG DAN LALAT


__ADS_3

"Kalian bertiga!" Alexi berseru kepada Robert, Jean dan Merry yang segera beralih melihat ke arahnya.


Sekarang wajah tampan pemuda itu terekspos nyata dan membuat orang-orang yang baru melihatnya menjadi terperangah. Namun, pria itu menggerutu dengan kesal "Kalian ini benar-benar mengganggu saja! Pergilah dari hadapanku jika masih ingin melanjutkan pertikaian kalian itu!"


Para pengunjung saling berbisik-bisik satu sama lain, saat melihat dengan cukup jelas akan ketampanan wajah Alexi Nata Praja meski mereka hanya bisa memandang dari jarak jauh. Begitu pula dengan Jean dan Merry yang dibuat sungguh terpana hingga tanpa sadar mulut mereka sampai ternganga.


"Dia! Sungguh sangat tampan!" Merry terpekik dalam hati dengan mulut ternganga "Tampan dan juga sekaligus sangat cantik!"


Jean yang masih merasa kesakitan tidak berani terlalu lama melihat ke arah pria berparas lebih cantik dari wajahnya. Di dalam hati wanita itu berkata, "Pantas saja dia tidak tertarik dengan wanita sepertiku. Wajah dan kulitnya jauh lebih bagus daripada kami yang kaum wanita."


"Mungkinkah aku yang terlalu memandang remeh padanya tadi? Tapi, siapakah sebenarnya orang ini? Sampai-sampai si gendut jelek itu begitu takut dann membelanya. Benar-benar keterlaluan sekali dia!" geram Jean masih dalam hati. Sepertinya dia sedang merencakan sebuah balas dendam atas perlakuan Manager Robert padanya. "Tunggu saja pembalasanku, Robert!"


Sementara itu, orang-orang juga ramai membicarakan Alexi dengan ketampanannya yang termasuk luar biasa. Meskipun wajahnya terlihat cantik, akan tetapi tidak ada kesan jikalau dia adalah seorang waria. Postur tubuhnya yang tinggi semampai, ramping dan atletis, juga telah behasil membuat para pria lain menjadi minder.


Para gadis dan wanita-wanita pun saling berbisikan satu sama lain mengagumi, memuji dan memuja tuan muda dari Sekte Sanca Perak, tap mereka


"Gilaaaaa! Ternyata orang itu ganteng bangeeeeet!" seru seorang pegunjung wanita dengan tingkah berlebihan. "Oooh! Mamaaaa, aku meyukainyaaaa!"


"Wajah setampan itu, mengapa harus disembunyikan sejak tadi?" tanya sang kawan yang juga terpana dengan ketampanan Alexi Nata Praja.


Begitu juga dengan para pengunjung pria yang mencuri-curi pandang ke arah Alexi dan para pengawalnya. Tak ada satu pun yang berani membicarakan hal buruk tentang kelompok pria berseragam serba hitam tersebut. Semua memilih untuk tidak terlalu ingin tahu atau mencampuri urusan orang asing.


"Haaahh! Tuan mudaku memang selalu menjadi pusat perhatian di mana-mana. Kalau dia sudah menampakan wajahnya, maka semua laki-laki jadi tenggelam di mata para wanita." Segara menggerutu dalam hati karena mendengar ocehan para wanita tentang Alexi. "Dan aku tidak terlihat sama sekali meski ketampanananku ini juga tidak kalah darinya."


"Daia memang tampan, kaya dan pintar. Tapi sayangnya, dia tidak bisa sebahagia orang-orang kebanyakan yang bisa bebas melakukan apa saja," gumam Danny Hendrat dalam hati sambil menyuap sajian pilihannya. Mata pria itu tetap waspada mengawasi sekelilingnya dengan baik. "Semoga tidak ada orang-orang jahat atau mata-mata dari pihak yang ingin menjatuhkan tuan muda."


"Sepertinya, orang-orang itu baru pernah melihat pria setampan Tuan Muda," bisik Abraham yang duduk di samping Alexi. "Mereka semua melihat ke arah Tuan Muda."

__ADS_1


"Biarkan saja. Selama mereka tidak menganggu dan merugikan kita." Alexi Nata Praja menyahut sambil menikmati siomay. "Terima kasih, Abraham. Ini sangat enak dan memuaskan."


"Sama-sama, Tuan Muda." Abraham merasa sangat senang karena sang majikan menyukai hidangan darinya.


"Kamu memang yang terbaik!" puji Alexi sambil menepuk bahu Abraham dan membuat pria itu terus tersenyum, tapi tidak bagi Segara yang berpura-pura terus makan tanpa memedulikan suasana.


Alexi sendiri tetap tetap acuh tak acuh dan tak memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, pemuda itu mulai menyantap makanan yang susah mendingin. Dia tidak ingin melihat lagi para pengganggu terus terlihat di tempat tersebut.


"Tuan Robert. Tidak bisakah kau singkirkan mereka sekarang juga?" bertanya Alexi tanpa menoleh. "Mereka telah menghilangkan selera makanku saat ini."


"Maaf, Tuan Muda!" Manager Robert tampak gugup saat menyahut perkataan Alexi.


"Baiklah, Tuan Muda. Saya akan menghukum mereka berdua di tempat lain. Silakan Anda dan yang lainnya melanjutkan makan malam Anda!" Manager Robert yang bermaksud hendak pergi dan menyelesaikan hukuman bagi para wanita penghiburnya. "Permisi, Tuan Muda!"


Alexi hanya menyahut dengan sebuah gumaman kecil dan singkat. "Mmhh!"


"Maafkan kami Tuan-Tuan dan semua yang hadir di sini malam ini atas ketidaknyamanan Anda semua karena kejadian ini!" Manager Robert membungkukkan badannya dan disambut anggukan kepala oleh beberapa orang pengunjung restoran.


"Hei kalian, ayo segera tinggalkan tempat ini! Kalian berdua tidak layak untuk mereka semua!" Pria gendut itu pun segera mengajak Jean dan Merry untuk meninggalkan tempat tersebut. Meski rasa penasaran masih berjejalan dalam hati kedua wanita ini, akan tetapi mereka juga tidak mungkin terus berada di tempat tersebut dan menjadi bahan tontonan yang sangat tidak lucu.


"Dasar wanita murahan!" gerutu Segara. "Hanya para bunga bangkai saja, masih berharap kumbang madu mendatangi dan mengisapnya!"


"Benar sekali. Mereka hanya cocok dihinggapi lalat, sedangkan kumbang hanya akan mencari bunga yang cantik dan bermartabat." Danny Hendrat menimpali ucapan Segara.


"Tapi, bukannya kalian juga sering mengajak wanita-wanita malam di club?" bertanya Abraham dengan nada polosnya yang membuat Danny Hendrat juga Segara tersedak. "Bukankah itu artinya kalian juga termasuk para lalat?"


Keduanya terbatuk-batuk secara bersamaan dan berusaha meredakan dengan bersusah payah. Segara menunjuk ke arah Abraham. "Kamu!"

__ADS_1


"Kami hanya sekadar bersenang-senang dan tidak menjamah mereka sama sekali!" seru Segara dengan kesal karena merasa malu.


"Benar!" Danny Hendrat menyahut. "Tidak ada satu pun yang berhasil merayu kami!"


"Ohh, jadi secara diam-diam kalian ini juga menggemari night club?" Alexi mengernyitkan dahinya.


"Tuan Muda, jangan terlalu percaya pada ocehannya!" seru Segara sambil melototi Abraham. "Tapi, kalaupun itu benar ... Apakah Tuan Muda tidak marah?"


"Marah?" Alexi bertanya dengan nada heran. "Mengapa harus marah, bukankah itu hak kalian?"


"Kami pikir Anda akan marah, Tuan Muda." Segara merasa lega. "Dan lagi itu juga menandakan, kalau kami adalah pria normal yang menyukai wanita."


"Kamu benar. Ya sudah, jangan ungkit lagi tentang wanita!"


Alexi dan para pengikutnya melanjutkan bersantap malam dengan disertai perbincangan kecil yang menyenangkan dengan para asistennya. Keempat pria tersebut bersantap malam di meja yang sama. Suasana restoran kecil itu sudah sedikit tenang dan masing-masing orang sudah tenggelam dalam kenikmatannya masing-masing.


"Mereka bahkan tidak memberikan kompensasi kepada Kita dan terutama kepada Anda, Tuan Muda?" Segara merasa tidak terima. Bagaimanapun juga, dua wanita tadi sudah mempermalukan Alexi dan seluruh anggota kelompoknya secara terang-terangan.


"Itu hal yang mudah, Segara. Tapi, apakah kamu pikir Alexi Nata Praja menyukai makanan dan tempat tinggal gratis?" Alexi bertanya sambil memainkan pisau makan, sedangkan mulutnya masih mengunyah makanannya.


"Tentu saja tidak!" Segara segera menjawab.


"Baguslah kalau kamu mengerti." Alexi merasa senang.


Segara balik bertanya, "Mengerti apa?"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2