
Meskipun Zike berpose biasa saja dan tidak bergaya centil layaknya para anak baru gede, tapi hal itulah yang justru sangat disukai oleh Alexi sejak awal mereka bertemu. Jika mengingat hal tersebut, pria muda itu hanya bisa merasa rindu sambil memandangi wajah lugu Zike. "Alangkah lucunya kekasihku ini."
"Menggemaskan sekali dia! Ingin rasanya kubawa dia ke mari dan kuperkenalkan pada kakek dan nenekku." Penampilan sederhana tanpa hiasan dan riasan itulah yang telah berhasil memikat tuan muda Sekte Sanca Perak.
"Apakah mereka akan menyukai gadisku juga?" bertanya Alexi sambil mengusap wajah ayu alami dengan kulit kuning langsat, rambut lurus panjang serta tubuh tinggi ramping itu juga yang membayangi mata dan pikiran Alexi Nata Praja.
"Pasti dia kecewa sekali padaku!" gumam Alexi dengan suara lirih.
"Zike maafkan aku!" gumamnya. "Semoga saja kamu tidak marah atas kejadian tadi."
Alexi tidak tahu, jikalau Zike sudah terlelap setelah berusaha keras meredam rasa kecewanya. Bagamanapun juga, gadis itu tetap memiliki rasa cemburu pada setiap gadis yang dekat dengan Alexi dan itu adalah hal yang wajar.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Alexi merasa frustrasi akibat memikirkan gadisnya yang memang sedang merasa kecewa padanya. "Apakah dia mengira, kalau aku telah sengaja membohonginya?"
"Sayang ...andai saja kamu tahu, kalau aku memiliki kesulitan yang tidak bisa aku ceritakan padamu sekarang ini." Alexi mengusap dengan kasar wajahnya sebagai pelampiasan perasaan yang berkecamuk dalam dada dan pikiran.
"Aku mempunyai masalah rumit yang tidak boleh menjadi bebanmu. Aku tidak ingin kamu tahu, betapa aku ini hanyalah seorang tahanan dalam penjara emas."
"Sedangkan burung saja dibiarkan terus berkicau menyuarakan isi hatinya, tapi aku?" Alexi menelungkupkan kedua tangan di wajahnya guna membendung air mata. "A-aku ... aku hanya ingin bebas dan terbang bersamamu."
"Aku hanya ingin bebas menjalani hidupku seperti orang lain. Ingin lepas dari tekanan ini!" Alexi sunggh merasa sakit hati dan sedih.
"Saat ini usahaku untuk lepas dari kurungan ini pun mengalami kendala yang harus segera kutangani sendiri," ucap pemuda tampan itu disela derai air matanya. "Sabarlah, Zike sayang. Aku berjanji akan mewujudkan impian dan rencana yang tengah kupersiapkan untukmu. Kamu tunggulah dan beri aku waktu, okay?"
Alexi masih berbicara sendiri hingga tak menyadari tiga orang pria berpakaian serba hitam telah berada di depan ruangan itu. Pemuda itu baru saja teringat, jikalau ini sudah saatnya dia berangkat ke Pulau Kura-Kura.
Alexi segera menghubungi nomor telepon salah satu anak buahnya. Namun, bunyi ponsel lain dari arah samping berhasil mengejutkannya. Pemuda itu spontan menoleh dan merasa orang yang sedang dia hubungi ternyata sudah berada di depan kamarnya. Para pria muda bertampang cukup gagah tersebut sudah menunggunya sejak tadi.
"Hallo! Saya di sini, Tuan Muda!" Seorang pria berkacamata hitam berdiri sambil menggenggam ponsel yang tadi berbunyi.
Alexi bergegas membuka pintu dan melihat para pria kepercayaannya telah bersiap dengan pakaian rapi. "Kalian mengagetkanku saja!"
"Maaf, Tuan Muda!" Salah seorang dari mereka melepaskan kacamatanya dan memasukannya ke dalam saku jasnya. "Kami sudah berulang kali mengetk pintu dn memanggil Tuan Muda, tapi tak ada jawaban sama sekali."
"Benar, Tuan Muda. Kami pikir keberangkatan ini sengaja dibatalkan," ujar Segara yang masih berdiri tegak dalam posisi santai di samping Abraham.
__ADS_1
"Dibatalkan? Bagaimana mungkin!" Alexi berbalik kembali ke dalam ruangannya. "Kalian pikir ini adalah masalah kecil?"
"Maaf, Tuan Muda!" Segara takut mrnyinggung Alexi.
"Sudahlah! Abraham, bantu aku berpakaian!" pinta Alexi pada asisten pribadinya.
"Siap, Tuan Muda!" Abraham segera masuk ke dalam ruangan guna menyiapkan segala keperluan Alexi.
Alexi beralih menatap kedua pria yang siap melakukan apa pun yang menjadi tugasnya. "Danny, Segara. Kalian berdua, tunggu aku di halaman!"
"Baik, Tuan Muda. Kebetulan sekali semua memang sudah siap dan hanya tinggal menunggu Anda saja." Segara kembali menyahut.
"Baguslah," ucap Alexi dengan senyum puas. "Setelah ini aku harus berpamitan pada kakek dan nenekku terlebih dahulu."
"Kami mengerti, Tuan Muda!" seru seorang pria yang terlihat gagah berwibawa.
"Kalau begitu kami permisi, Tuan Muda!" ujar Segara. Kedua pria itu segera berbalik kembali ke halaman depan.
Abraham dengan sangat cekatan menyiapkan sang tuan muda. Pria itu sudah sangat hafal dengan apa saja yang harus dilakukannya tanpa harus diberitahu ini dan itu lagi. Alexi sekarang berpenampilan elegan dengan balutan setelan jas hitam dan kemeja merah gelap. Itu adalah dua warna kesukaan Alexi.
"Sudah siap, Tuan Muda. Silakan!" seru Abraham seraya membungkukkan badan dan menggerakkan tangannya ke arah pintu.
"Aku tahu, Abraham," bisik Alexi sembari meraba lukisan kesayangannya sambil mendesahkan napas berat hingga beberapa kali. "Mari, Abraham!"
Alexi segera keluar dan melangkah pergi menuju ruang keluarga.Tetapi di tengah jalan, ternyata orang-orang yang ditujunya sudah menghadang pemuda itu.
"Kakek, Nenek!" Alexi menghampiri dua orang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Aleee!" Ki Surya Praja merentangkan kedua tangannya.
Alexi pun segera menghambur memeluk Ki Surya Praja sambil berucap, "Kek, aku mohon pamit pada Kakek. Tolong restui dan doakan cucu Kakek ini, agar bisa dengan mudah mengatasi semua urusan di sana."
Ki Surya Praja membalas pelukan dari sang cucu dengan penuh kasih sayang. "Tentu. Tentu saja kakek akan selalu mendoakan cucu kakek ini."
Ki Surya Praja melepaskan pelukannya namun masih memegangi kedua bahu Alexi. "Jaga dirimu baik-baik dan selalu ikuti apa yang telah kakek ajarkan."
__ADS_1
"Mmh." Alexi menganggukan kepala dan menyahut, "Baik, Kek. Ale akan jalani semua yang telah Kakek ajarkan. Alexi berjanji, akan kembali secepatnya dan mengikuti sang kakek ke Pertemuan Tujuh Matahari.
"Baguslah, Cucuku. Jadilah pria tangguh!" Ki Surya Praja menepuk bahu Alexi berulang kali dengan wajah terharu.
Alexi beralih menghadap pada Ni Sendari dan langsung memeluk wanita tua itu dengan penuh sedih. "Neeeek!"
Ni Sendari membalas pelukan cucunya dengan perasaan sayang yang teramat dalam. "Pergilah dan segeralah kembali setelah urusanmu selesai, Ale. Ingatlah untuk selalu makan tepat waktu dan jagalah kesehatanmu."
Alexi melepas pelukannya dan menatap wajah sang nenek. "Nenek juga harus jaga kesehatan. Setelah pulang dari pulau, nanti Ale ingin disuapi lagi sama Nenek."
"Tentu saja akan nenek lakukan untukmu. Nenek akan siapkan semua masakan kesukaanmu," sahut Ni Sendari sambil tersenyum. "Hati-hati, Cucuku! Pergi dan kembalilah dengan selamat. Semoga semua urusanmu diberi kemudahan. Nenek dan kakek juga semua orang di sini akan selalu menunggumu."
"Terima kasih atas doanya, Nek. Nenek dan Kakek juga semoga selalu sehat dan baik-baik saja. Sekarang aku pergi dulu, Nek!" Alexi berpamitan dengan berat hati.
Ni Sendari dan Ki Surya hanya bisa menganggukan kepala. Meski perasaan hati mereka terasa sangat berat melepaskan sang cucu, tetapi keduanya pun tak bisa berbuat apa-apa. Semua juga adalah demi masa depan Alexi.
"Abraham!" Ki Surya Praja memanggil Abraham yang sejak tadi hanya diam saja.
"Saya, Tuan Besar!" Abraham dengan sigap menyahut.
"Jaga cucuku baik-baik! Ingatlah untuk selalu mendampinginya." Ki Surya Praja berpesan sambil menepuk bahu Abraham.
"Abraham siap menjalankan perintah! Abraham akan selalu menjaga dan melindungi tuan muda kami!" sahut Abraham dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun.
"Bagus! Baguslah!" Ki Surya Praja menganggukan kepala.dan berkata dengan bangga. "Ini baru murid kesayanganku."
"Terima kasih, Tuan Besar!" Abraham memberi penghormatan sekali lagi dengan cara sedikit membungkukan badannya.
"Jaga diri dan kesehatanmu juga, Abraham." Ni Sendari juga berpesan kepada Abraham. Wanita itu telah menganggap Abraham bukan orang lain lagi. Hal itu dikarenakan dialah yang merawat dan menjadi seorang ibu asuh Abraham sejak kedatangannya di Sekte Sanca Perak.
"Terima kasih, Nyonya. Nyonya Besar juga harus senantiasa menjaga kesehatan Anda." Abraham juga membungkukan badan kepada wanita yang sudah seperti ibu kandungnya ini.
"Baiklah, Nenek dan Kakek. Kami akan berangkat sekarang. Selamat tinggal semuanyaaa!" Alexi berucap semabri melangkah pergi. Dia tidak ingin terus larut dalam suasana yang akan membuatnya menjadi semakin berat meninggalkan tempat tersebut.
"Oh ya, Nek. Tolong jaga kamarku dan seluruh isinya, juga jangan biarkan orang asing masuk dengan bebas apalagi menyentuh benda-benda yang ada di dalamnya secara sembarangan!" Alexi berpesan pada neneknya. Pemuda itu mendekatkan wajahnya di sisi telinga sang nenek dan berbisik, "Kalau ada yag berani merusak lukisan-lukisanku, maka aku sendiri yang akan membunuhnya!"
__ADS_1
"Aleee!"
...Bersambung...