Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MERAGUKAN


__ADS_3

Di tempat lain.


"Alee!" Seorang gadis tiba-tiba terjaga dari tidurnya di tengah malam buta, akibat baru saja bermimpi bertemu dengan seseorang. "Ale, aku bermimpi Alexi lagi?"


Gadis yang tak lain adalah Zike kemudian bangun dari berbaringnya. Lalu ia duduk di tepi ranjang sambil melihat ke arah jam dinding. Jarum jam masih berada di angka dua dini hari.


"Alexi ... aku bermimpi tentangmu lagi." Zike bergumam setelah meneguk setengah gelas air putih yang selalu ia siapkan di dalam kamar tersebut. "Ada apa dengannya, sampai-sampai aku sering memimpikan dia akhir-akhir ini?"


"Apakah hanya karena aku yang terlalu merindukannya?" Diliriknya sosok gadis lain yang masih tertidur pulas di sampingnya. "Untung dia tidak ikut bangun karena terkejut."


"Ale ... aku sangat ingin mengetahui kabar tentangmu. Tapi bagaimana caranya?" Zike merasa kebingungan memikirkan cara untuk menemukan jejak Alexi. "Bodohnya aku ini! Aku bahkan tidak tahu dari mana dia berasal. Di mana letak rumah tinggalnya atau di mana dia kuliah!"


"Oooh, Tuhaaaan! Pertemukanlah aku dengannyaaaaa!" Gadis itu hanya bisa menahan berbagai macam perasaan dalam dadanya, hingga tanpa sadar ia menjambaki rambutnya sendiri. "Ale oh Aleee ... jadi gininya rasanya bucin ke cowok?"


"Atau ... aku terima saja tawaran mereka?" Gadis itu teringat pada serombongan orang-orang dari Sekte Elang Emas yang mengajaknya bergabung dengan band musik mereka. "Mungkin dengan begitu, Alexi akan menemukanku!"


"Baiklah! Semua hanya demi untuk bertemu denganmu, Ale." Zike bergumam sambil tersenyum sendiri. Wajah dan perasaannya tiba-tiba menjadi berseri secerah pagi. "Ale, tunggu aku!"


Zike kembali merebahkan diri di atas pembaringan bersama dengan Nestin sahabatnya. Keputusan untuk menerima pinangan dari band musik beraliran Symphonic Black Metal telah ia mantapkan dalam hatinya.


"Bukankah nanti aku bisa setara dengannya?" Zike membayangkan sosok gitaris tampan Angel Andersson yang begitu diidolakannya. "Angel oh Angeeeeeel! Rasanya tak sanggup aku membayangkan dia kelak mengiringiku bernyanyi di atas stage!"


Gadis itu tersenyum-senyum sendiri sembari meremmas kain selimutnya sendiri. Begitu indah angan-angannya untuk berkolaborasi dengan Angel Andersson sang gitaris dari band Evil Grave. Terlebih lagi, Zike membayangkan sosok Alexi yang tersenyum di depan stage saat melihat dirinya bernyanyi.


"Ooohh, Tuhaaaaan! Aku tidak sabar sampai hari itu tibaaaaaa!" Zike menjerit dalam hati. Tanpa sadar dia terus tersenyum hingga kembali terlelap


Pada saat yang sama, di kamar Alexi ....


"Zikeee ... Zikeee!" Suara bisikan kecil keluar dari mulut Alexi yang masih memejamkan matanya. Nama yang ia sebutkan adalah bentuk dari sebuah kerinduan teramat dalam kepada seseorang. Tidak ada yang tahu, seperti apa wajah gadis yang sedang membuat tuan muda ini jatuh hati.


"Kang, siapa yang dia sebutkan itu?" bertanya Ni Sundari kepada suaminya. Mereka sedang menunggui cucunya yang masih dalam pengaruh pil kultivasi pemberian sang kakek.

__ADS_1


"Entahlah, Nimas. Mungkin itu nama salah satu kawan dekatnya." Ki Surya Praja mengelus jenggot putihnya yang panjang. Keduanya sama-sama duduk di tepi ranjang sambil terus memperhatikan Alexi yang tergolek di atas pembaringan.


"Teman dekat?" Ni Sundari mengernyitkan dahinya yang berkulit keriput. Meskipun demikian, sisa-sisa kecantikan masih jelas tergurat wajah tuanya. "Siapakah yang begitu beruntung bisa menjadi teman dekat cucuku ini?"


"Kita tanyakan saja padanya lain waktu." Ki Surya Praja hanya menggelengkan kepalanya berulang kali. "Sudahlah, biarkan dia tertidur dan bermimpi indah. Kita kembali sekarang. Biarkan Abraham yang menjaganya di sini."


"Baiklah," sahut Ni Sundari yang segera bangkit setelah menutup sebagian tubuh cucunya dengan selembar kain selimut yang hangat dan lembut. "Tidurlah, sayangku!"


"Abraham, kau jagalah tuan mudamu!" Ki Surya Praja berpesan kepada Abraham yang ia percaya untuk menjadi pelayan pribadi Alexi.


"Baiklah, Tuan Besar!" Abraham membungkuk dengan hormat kepada orang yang telah berjasa besar dalam hidupnya.


"Baguslah! Dengan adanya kamu di sini. Aku menjadi tenang." Ki Surya Praja menepuk bahu Abraham dengan lembut hingga beberapa. "Selamat malam, Abraham!"


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya."


Lagi-lagi, Abraham hanya menganggukan kepala sebagai tanda kepatuhannya pada sang guru dan majikannya. Keduanya pun segera meninggalkan kamar Alexi dengan hati tenang. Ki Surya Praja berharap, pil yang sudah masuk ke dalam tubuh cucunya akan bekerja sesuai yang dia harapkan.


Pagi itu di tempat lain ....


"Jadi gimana? Udah nemu vokalis baru buat Danger Death?" Seorang pria berpenampilan bad boy namun elegan bertanya kepada Ye Kai. Dia adalah Jeremy Bierk sang manager dari band musik Danger Death.


"Udah nemu yang cocok sih, tapi dianya belum kasih jawaban yang pasti." Ye Kai menjawab dengan nada santai sembari menyuap potongan roti berisi selai.


Saat ini, keduanya memang tengah sarapan bersama di sebuah cafe kecil yang ada di sekitar base camp Danger Death. Mereka tak hanya berdua, beberapa anggota Danger Death pun ada di ruangan yang sama.


"Serius lu, Tong? Kek apa tampilannya?" Jeremy Bierk merasa penasaran dengan sosok calon vokalis pilihan Ye Kai. "Ada fotonya gak?"


"Zee tuh, dia yang sempet poto-poto sama dia." Ye Kai menunjuk ke arah Megan Zee dengan dagunya.


"Zeeee!" Jeremy Bierk langsung memanggil Megan Zee yang tengah sarapan dengan William Chen suaminya.

__ADS_1


"Yaaa!" Megan Zee yang hanya berjarak sekitar enam meter dari meja Ye Kai dan Jeremy Bierk menyahut.


"Coba lu kirim poto calon vokalis kita!" Jeremy Bierk kembali berseru.


"Okay!" Megan Zee segera meletakan garpu yang tengah dipegangnya dan segera mengambil ponsel yang tergeletak di dekat piring berisi sarapan. Wanita cantik berpenampilan seksi itu segera mengirimkan foto-fotonya bersama Zike.


"Cewek?" Mata Jeremy Bierk terbelalak saat membuka pesan image dari Megan Zee melalui aplikasi Wh*ts*pp. "Cewek, Tong? Lu gak salah pilih kan, Tong? Lu gak rabun kan, Tong?"


"Tang Tong! Tang Tong! Enak aja ngatain gue rabun!" Ye Kai sedikit kesal dengan lelaki yang sering memanggil kawan-kawan seenak hati. "Ya gaklah, itu udah fix pilihan gueeee!"


"Tapi ...."


"Apa?" Mata sipit Ye Kai melotot ke arah Jeremy Bierk. "Lu raguin dia, gue ngerti. Tapi sebaiknya lu liat dulu skillnya. Tampilan buluk bisa diubah secara perlahan. Percaya aja ma gue!"


"Okay, gue percaya sama pilihan lu, tapi ... gimana dengan Jessey?" Jeremy Bierk merasa khawatir dengan salah satu anggota Danger Death yang saat ini tengah berada jauh di luar kota.


"Dia udah serahin semua ke gue. Jadi, suka atau enggak dia tetep harus terima pilihan gue," ujar Ye Kai dengan cueknya. "Gue lagi nunggu jawaban dia hari ini. Dia janji bakal jawab secepatnya."


"Okay, kita liat aja ntar!" Jeremy Bierk menyesap minuman hangat berupa kopi susu. "Meski gue pengennya cowok."


Ye Kai tidak menjawab sama sekali. Dia hanya bertekat untuk menunjukkan kemampuan vokalis pilihannya. Bagi pria yang telah memiliki istri itu, pembuktian adalah jalan satu-satunya untuk meyakinkan semua kawan-kawannya.


"Liat aja ntar!" bisik hati Ye Kai sambil terus menyelesaikan sarapan paginya. "Meragukan pilihan gue? Gue pasti bakal ubah dia jadi vokalis hebat!"


Ya, Jeremy Bierk memang sedang meragukan gadis yang berfoto bersama Megan Zee, hingga pria itu berulang kali menatap ponselnya. Tampilan Zike memang tidak seelegan Megan Zee, bahkan lebih tetihat biasa saja. Gaya pakaian, wajah dan kulit terlihat dekil dan sangat tidak menarik bagi Jeremy Bierk.


"Apa yang ada dalam otaknya sih?" gumam Jeremy Bierk dalam hati sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dengan hati sedikit dongkol. Bagaimana tidak? Konser Danger Death hanya tinggal dua minggu lagi, tapi vokalis pengganti yang dipilih Ye Kai justru tidak sesuai dengan harapannya.


Akankah Zike diterima oleh para anggota Danger Death yang lain?


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2