
"Okay, baguslah!" Yi Xie merasa lega sekarang. Mereka terus bercakap-cakap sambil menikmati makanan ringan dan air mineral sebagai temannya.
"Yi Xie!" panggil seseorang dari kejauhan.
Yi Xie menoleh ke arah sumber suara. "Willy?"
"Hai Willy!" Yi Xie melambaikan tangannya ke arah rombongan muda-mudi berpakaian serba hitam itu. Rombongan tersebut berjalan mendekati tempat kedua sahabat itu berada.
"Yi, lu kenal mereka?" tanya Zike dengan mata terus memperhatikan orang-orang yang berjalan ke arahnya.
"Mmhh." Yi Xie menjawab ringan, "Beberapa dari mereka, temen sekolah gue dulu,"
"Ooohh!" Zike manggut-manggut.
Rombongan itu telah tiba di hadapan Yi Xie dan Zike yang langsung berdiri untuk menyambut kedatangan mereka. Tiga pria tampan dan seorang gadis cantik berdiri tegak di depan keduanya. Mereka kemudian saling berjabatan tangan untuk melepas rasa rindu pada teman masa sekolah dahulu.
...Di Sekte Sanca Perak Kedua...
Di tengah hari yang cukup panas itu, Ki Surya Praja sedang duduk menyendiri di sebuah gazebo kecil yang terletak di halaman samping mansion kediamannya. Pria tua berambut dan berjenggot putih itu tampak sedang khusyuk membaca sebuah buku usang berwarna kuning kusam. Mulut Ki Surya Praja sesekali terlihat berkomat-kamit dan menghitung sesuatu dengan jari tuanya.
"Baguslah, metode peningkatan tahapan kultivasi ini, mudah-mudahan akan cocok dengannya," gumam pria tua itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Semoga usahaku tak sia-sia." Ki Surya Praja mendesah dan berbisik, "Kasihan sekali cucuku itu,"
Tak lama kemudian salah seorang murid masuk sambil membawa sebuah surat undangan yang tampak istimewa dengan desain dan hiasan khusus.
"Ketua, ada sebuah surat undangan dari pimpinan Kota Da Ha," kata murid Sekte Sanca Perak itu sambil membungkuk dengan hormat dan menyerahkan sebuah gulungan berwarna merah marun kepada Ki Surya Praja.
"Surat undangan?" Ki Surya Praja meletakkan buku yang tengah dibacanya di atas meja. Orang tua itu lalu menerima surat dari tangan muridnya.
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang!" ujar Ki Surya Praja.
"Baiklah, Guru. Saya mohon diri." Murid pria itu segera berbalik dan meninggalkan Ki Surya Praja sendirian.
Ki Surya Praja segera membuka gulungan surat undangan itu dan membacanya dengan saksama. Senyum simpul terkembang di sudut bibirnya.
"Ini adalah kesempatan yang bagus!" Pria tua itu manggut-manggut.
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah ruang makan. Alexi dan seorang wanita tua tengah duduk sambil menghadapi meja besar berisi dengan berbagai macam makanan yang tampak lezat dan menggugah selera. Tak seperti pada hari-hari biasanya, Ni Sendari sengaja menyiapkan semua menu hidangan tersebut untuk cucu kesayangannya.
"Makanlah yang banyak! Agar tubuhmu tidak sekurus ini," ujar Ni Sendari sembari menambahkan beberapa potong rendang daging sapi yang tidak pedas, karena Alexi tidak begitu menyukai makanan pedas.
"Kau kelihatan kurus sekali," sambung Ni Sendari dengan nada prihatin.
Alexi tak menyahut perkataan neneknya, akan tetapi dia malah menyodorkan piringnya ke hadapan wanita tua itu seraya menggeserkan badan dan berkata, "Neek! Aku mau disuapi oleh Neneeek!" rengek Alexi seperti anak kecil berusia sepuluh tahun.
Sang nenek hanya terkekeh mendengar rengekan manja cucu lelakinya yang tampak selalu sangat menggemaskan di matanya.
"Ayo, buka mulutmu! Biar Nenek suapi," ujar Ni Sendari sambil menyendok makanan dan mengangkatnya sampai di depan bibir Alexi.
"Aaaaaa!" Alexi spontan membuka mulutnya lebar-lebar. Satu suapan besar berhasil masuk hingga membuat pipinya mengembung.
Ni Sendari kembali terkekeh melihat betapa lucu wajah Alexi dengan mulut yang mengerucut dan kedua belah pipinya yang besar mengembung. Wanita tua itu lalu mengusap bibir Alexi yang belepotan oleh kuah sup labu jagung manis dengan selembar tisu.
"Hati-hati, Cucuku!" seru Ni Sendari memperingatkan cucu lelaki satu-satunya itu. Wajah ayu wanita tua itu begitu bahagia saat melihat Alexi ceria kembali.
"Mmhh, mmhh." Alexi hanya bisa menganggukan kepalanya sambil bergumam, karena mulutnya kesusahan untuk mengunyah makanan dalam jumlah besar itu.
"Lagi, Nek!" Alexi kembali meminta suapan dari sang nenek dan Ni Sendari pun menyuapinya hingga makanan di piring Alexi habis tak tersisa.
"Kalau begitu, nenek akan suapi setiap kali kau makan, Ale," sahut Ni Sendari sambil membereskan sisa-sisa makanan.
"Tapi, itu jadi merepotkan Nenek. Aahh! Tidak usah saja, Nek! Aku bisa makan sendiri dan lagi aku takut Nenek jadi sakit kalau Nenek kelelahan." Alexi membantu menumpuk piring-piring kosong yang ada di hadapannya. Meskipun hal itu tak pernah ia lakukan jika sedang berada di Sekte Sanca Perak tempat kelahirannya.
Ki Surya Praja Mendatangi istri dan cucunya yang tengah asyik mengupas buah mangga hasil dari panen di kebun belakang mansion kediaman mereka. Alexi ikut membantu memotong daging buah mangga sambil sesekali memasukan potongan daging buah itu ke dalam mulutnya. Meskipun dirinya baru saja makan, akan tetapi dia masih tidak tahan melihat buah mangga golek kesukaannya.
"Aleee!" panggil Ki Surya Praja.
Alexi menoleh ke arah suara sang kakek yang datang dengan membawa sebuah gulungan kertas berwarna merah marun digenggamannya.
"Kakek," sahut Alexi sambil tersenyum dan menarik sebuah kursi kayu berukir indah yang ada di sampingnya. "Silakan duduk, Kek!"
Ki Surya Praja duduk di samping cucu kesayangannya, pria tua itu terkekeh saat sepotong daging buah mangga telah berada tepat di depan mulutnya. Alexi sambil tersenyum menyuapi sang kakek yang tak bisa menolak pemberian pria kecil kebanggaanya ini.
"Mmh, manis! Ini Sangaaat manis," ujar Ki Surya Praja sambil menganggukan kepalanya beberapa kali.
__ADS_1
"Lagi, Kek!" Alexi kembali menyuapi kakeknya hingga beberapa potong daging buah mangga telah berpindah ke perut sang kakek.
Beralih menghadap kepada Ni Sendari yang hanya tersenyum dengan bahagia menyaksikan tingkah kedua pria berbeda usia itu saling tertawa. Ki Surya Praja juga sesekali mencubit hidung Alexi yang mbangir.
"Ini, buat Nenek juga!" Alexi sekarang menyuapi Ni Sendari yang langsung membuka mulutnya menerima suapan daging buah mangga dari sang cucu. Alexi terlihat sangat senang dengan hal-hal kecil yang tak pernah dia rasakan saat berada di mansion kediaman orang tuanya. Hanya di tempat inilah dia menemukan kebahagiaan sejati.
"Terima kasih, Ale," ujar Ni Sendari dengan hati senang. "Kapan lagi Nenek dan Kakekmu ini akan kau suapi seperti ini. Terlebih lagi, jika sudah ada seseorang yang kelak menjadi pendampingmu."
"Mungkin kau sudah tidak sempat atau tidak mau lagi memperlakukan kami seperti sekarang ini," sambung Ni Sendari dengan nada sedih.
Wajah Ni Sendari berubah sendu. Alexi segera meletakan garpu yang tengah dipegangnya ke atas piring buah dan meraih tangan kakek dan neneknya. Menggenggam kedua tangan yang tampak keriput namun begitu hangat bagi Alexi.
"Nenek bicara apa? Jangan pikirkan hal yang belum terjadi! Sampai kapan pun, aku dengan senang hati melayani Kakek dan Nenek," ujar Alexi.
"Benarkah?" tanya Ni Sendari.
"Tentu!"
"Nenek dan Kakek jangan khawatir ... cucumu ini tak akan melupakan kalian. Kakek dan Nenek adalah hal paling penting dalam hatiku dan juga salah satu kebahagiaanku." Alexi mencium kedua tangan tua itu secara bergantian dengan air bening yang mulai mengembun di sudut matanya.
"Aku berjanji, jika kelak aku berhasil dengan semua usahaku serta memiliki keluargaku sendiri ... aku akan merawat kalian berdua dengan tanganku sendiri," ujar Alexi.
"Alexi, ternyata kau memang sudah dewasa hingga memiliki pikiran mulia seperti itu." Ki Surya Praja mengelus rambut hitam cucunya yang panjang, lembut dan berkilau bak bintang iklan shampo.
Sayang sekali, bocah bodoh itu terlalu keras padamu dan selalu membandingkannya dengan tuan muda pewaris Sekte Elang Emas!" geram Ki Surya Praja.
"Tuan Muda dari Sekte Elang Emas?" tanya Alexi seraya melepaskan genggaman tangannya.
"Ya, ayahmu sangat menginginkan supaya kau bisa menyamai kekuatan dan juga kedudukannya. Hanya saja aku menyesalkan cara dia mendidikmu yang terlalu memaksa dan tidak masuk akal itu!" seru Ki Surya Praja.
"Kakek, jika aku boleh tahu ... siapa namanya dan sehebat apakah dia?" tanya Alexi penasaran. Kini dia merasa bahwa inilah penyebab semua penyiksaan dari ayahnya selama ini.
"Jika kamu benar ingin mengetahui dan mengenalnya. Maka, datanglah bersama dengan kakek memenuhi undangan ini!" Ki Surya Praja menyodorkan undangan yang sejak tadi berada di hadapannya.
Alexi menatap gulungan kertas itu dengan rasa penasaran dan bertanya, "Undangan apa ini, Kek?"
"Buka dan bacalah!"
__ADS_1
...Bersambung...