Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
DEMI KEHORMATAN


__ADS_3

"Betul! Aku juga heran dengannya, bagaimana bisa bos Hardman dihajar hingga babak belur oleh anak ingusan seperti dia?"


"Sudah! Ayo kita kejar sebelum dia semakin jauh dari sini!"


Para preman serentak lari mengejar gadis buruannya dengan bersusah payah akibat penglihatan mereka masih beum begitu normal. Mereka berpencar ke segala arah untuk mencari gadis kecil yang jelas-jelas bukan tandingan mereka.


Sementara itu, gadis yang sedang diburu oleh para preman sudah berlari menjauh dari rumah tua berumor hantu menyeramkan tersebut. Seram bukan karena benar-benar bertemu dengan hantu, tetapi menakutkan akibat dikejar para preman dengan niat sangat tidak senonoh pada gadis muda belia ini.


Dia hanyalah seorang anak jalanan yang hidup dalam sebuah lingkungan asing, kejam dan tak memiliki belas kasihan. Bahkan untuk bertahan hidup pun, terasa lebih susah daripada menghadapi sebuah penderitaan akibat dikhianati kekasih. Oh tidak! Banyak orang beranggapan sebaliknya, tetapi bagi orang sekelas Zike hidup dengan baik itu lebih penting ketimbang memikirkan patah hati. (Itu karena dia masih belum merasakan patah hati ... hmm)


Gadis itu tiba pelataran bangunan rumah tua dengan napas terengah-engah. Dia memang sudah kelelahan dan merasa tubuhnya tidak mampu lagi untuk berlari sepanjang waktu. Sudah beberapa jam dirinya menjadi buronan para preman tanpa satu orang pun berani menolongnya. Sungguh hari paling sial setelah dia diusir oleh sahabatnya sendiri.


Sekarang dia hanya tahu untuk melarikan diri dan tidak memikirkan arah tujuannya. Dia ingin terus berlari sejauh mungkin dari kejaran para manusia bejat, akan tetapi keadaannya semakin tidak baik akibat kondisi fisiknya yang mula menurun. Namun, daripada harus menjadi bulan-bulanan para pria yang tidak memiliki adab dan etika sama sekali. Maka gadis itu hanya bisa terus berusaha berlari-lari kecil saja.


Pada saat gadis itu tengah bersusah payah menyelamatkan dirinya itulah, sebuah sepeda motor melintas dari kejauhan. Dua orang pria tampan berambut panjang yang mengendarainya sudah terlihat mulai lelah dan jenuh. Mereka sudah melewati banyak jalan termasuk jalanan sepi tak beraspal yang membelah sebuah perkebunan ini.


"Yi Xie, kita sudah memutari kampung ini dan bertanya ke sana dan ke mari tapi Zike tidak juga kita temukan." Ye Kai merasa kecewa atas niatnya datang ke perkampungan kumuh ini dan tak membuahkan hasil. "Apakah selama ini dia suka berpergian seperti ini?"


"Kurasa tidak dan baru sekarang dia sulit ditemui!" Yi Xie harus mengeraskan suaranya agar bisa mengalahkan deru angin. "Aku juga merasa ada yang tidak beres terjadi padanya. Firasatku berkata begitu. Tapi semoga tidak terjadi apa pun padanya!"


"Ya, semoga saja begitu!"


Baru saja Ye Kai mengakhiri ucapannya, tiba-tiba mata Yi Xie menangkap sekelebat bayangan dari kejauhan. Dia seperti mengenal sosok yang sedang dikejar-kejar oleh serombongan orang.

__ADS_1


"Ye Kai! Aku melihat sesuatu yang tidak biasa di sana!" Yi Xie menunjuk ke arah bangunan rumah kosong.


"Apa yang yang kamu lihat barusan?"


"Entahlah, tapi aku seperti mengenal warna baju orang yang sedang dikejar-kejar itu!" ujar Yi Xie dengan rasa penasaran. "Bagaimana kalau kita lihat? Aku khawatir ada sesuatu di sana!"


"Baiklah, mari kita lihat!" Tampakmya Ye Kai juga cukup penasaran dengan perkataan Yi Xie.


Di pelataran bangunan tua ....


"Kejar diaaa!"


Sebuah suara berhasil membuat mental gadis yang menjadi buronan itu menjadi semakin turun. Ingin rasanya dia menangis atau berteriak minta tolong, tetapi lokasi tempatnya saat ini bukanlah di tempat yang biasa didatangi oleh orang-orang.


"Mungkinkah aku benar-benar akan berakhir hari ini?" Gadis itu mulai menitikan air mata saat mengetahui keadaannya sudah sangat tidak baik. Tubuh yang sudah sangat lelah membuat langkah kakinya terasa semakin berat bagaikan tak bisa diajak untuk bergerak lagi.


Preman yang lain juga segera tiba di tempat si gadis terpojok. Ketakutan yang teramat sangat telah menguasai hati gadis itu, hingga wajahnya telah menjadi pucat pasi dengan tubuh gemetaran.


"Tunggu apa lagi? Dari tadi aku sudah merasa sangat gemas ingin melahap gadis busuk yang berani-beraninya membuat Skull Head harus berlari selama seharian ini hanya untuk mengejarmu!" geram yang lain sambil memukul-mukul kepalan tinju ke telapak tangannya sendiri.


"Jangan mendekat!" Gadis itu membentak sambil menunjuk dengan suara dan tangan gemetaran. "Jangan dekati aku!"


Para preman tertawa terbahak-bshak mendengar bentakan dan semakin mendekati gadis yang masih akan berusaha terus mempertahankan kehormatannya. Dia sudah bertekad akan melakukan suatu perbuatan tercela yang sangat dibenci oleh Tuhan dan tidak akan pernah mendapatkan ampunan. Namun bagi gadis itu, hal tersebut lebih baik dia lakukan daripada harus menyerahkan tubuhnya kepada preman-preman bejat ini.

__ADS_1


"Tapi, apa salahnya berdoa?" gumam gadis yang meski merasa tidak akan ada orang yang menolongnya, tetapi dia tetap mencoba untuk memanjatkan sebuah doa pada Yang Maha Kuasa. Doanya saat ini adalah beberapa buah kalimat yang hanya Tuhan saja sebagai pendengarnya.


"Sikat dia!"


Serentak para preman bergerak dengan bersemangat hendak menjamah gadis yang sudah tersudut tanpa bisa bergerak mundur lagi. Gadis itu pun sudah bertekad untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menggigit lidahnya kuat-kuat, seandainya kejadian mengerikan itu benar-benar akan terjadi.


Namun apa pun perbuatan manusia, pasti akan tetap menuai karma. Karena dalam dunia mana pun, tidak ada tindakan tanpa sebuah konsekuensi. Begitu pula dengan para preman yang begitu bernafsu ingin menjamah tubuh gadis yang tersudut di hadapan mereka sekarang ini.


Mata-mata merah penuh hasrat bak tatapan kawanan serigala melihat seekor anak sapi muda yang berdaging tebal. Seteguk demi seteguk air liur berlelehan di mulut-mulut pria tak beradab yang tanpa rasa jijik menjilat kembali dan menelannya dengan cepat. Mereka terus maju hingga membuat gadis itu bersusah payah bergerak mundur sampai benar-benar tersudut di tembok keliling bangunan tua yang dingin dan berdebu.


"Selamat tinggal semuanya!" ucap lirih gadis itu dalam hati dan bersiap untuk melakukan aksi pamungkasnya. Gadis itu memejamkan kedua matanya sambil membayangkan wajah kedua orang tuanya dan seraut wajah tampan yang membuat air matanya mengalir. "Alexi ... aku mencintaimu!"


"Cepat sikat tunggu apa lagi?"


"Ayo maju semuanya! Akan lebih nikmat kalau kita kerjain rame-rame!"


Gelak tawa kembali pecah dan terdengar sangat menyakitkan di telinga gadis yang sekarang hanya bisa mengutuki nasib sial hari ini. Suara tawa dan pelecehan itu bagaikan gelegar petir menghancurkan apa saja yang tersambar oleh cahaya kilat. Gadis itu benar-benar sudah mulai menggigit lidahnya sendiri dengan kuat, kesakitan dia abaikan, bayangan kematian pun sudah dia lupakan. Bagi Zike, sekarang ini hanyalah berpikir untuk tetap mempertahankan harga diri dan kehormatan semata.


"Demi sebuah kehormatan! Aku lebih baik mati hari ini, daripada harus menjadi pemuas naffsu bejat mereka semua!"


Namun tiba-tiba, terdengar suara lain yang sungguh diluar dugaan gadis itu. Dia pun merasa oenasaran dengan apa yang terjadi, karena tidak ada satu orang pun preman yang datang menjamahnya. Lalu apakah yang sedang terjadi sekarang ini?


Apakah Tuhan benar-benar mengabulkan permohonannya saat mendengar doa yang terpanjat dari seorang gadis malang lemah tak berdaya ini?

__ADS_1


Gadis itu belum berani membuka matanya untuk melihat hal apakah yan sedang berlangsung sekarang ini. Suara-suara yang sekarang terdengar, lebih seperti suara orang-orang yang sedang disiksa oleh beberapa orang.


...Bersambung...


__ADS_2