
Seketika saja, Ni Sendari meraih tangan itu dan mengangkatnya. "Perban! Tanganmu diperban?"
"Jadi, selama ini Kakak terluka dan tidak memberitahukan pada nenek ataupun kakek?" tanya Garnis dengan wajah cemas.
Alexi menganggukan kepala sembari menggerutu, "Hanya luka kecil saja dan tidak perlu dicemaskan, apalagi diributkan!"
"Luka kecil?" Ni Sendari merasa penasaran dan langsung membuka perban dan melihat luka jahit memanjang di telapak tangan Alexi. "Ini yang kamu sebut luka kecil? Sampai ada banyak jahitan dan kamu bilang hanya luka kecil."
"Ini bukan luka kecil, Kak Alee." Garnis terlihat khawatir. "Mungkinkah perlu aku panggilkan dokter?"
"Bagaimana, Ale?" bertanya Ni Sendari karena cucunya tidak memedulikan pertanyaan Garnis.
"Tidak perlu! Ini bisa ditangani oleh Abraham." Alexi menjawab dengan ketus bercampur marah.
"Oh, baiklah. Kalau Kakak tidak mau, maka tidak perlu memanggil dokter," ucap Garnis sembari menangkupkan kedua tangannya di depan perut rampingnya.
Alexi melengoskan wajah dan hanya diam tanpa ingin menggubris ucapan dari Garnis yang juga tak memedulikan sikap dinginnya. Pria itu hanya merasa tidak enak pada sang nenek, jika nekat mengusir gadis ini dari kamarnya.
"Berani sekali dia keluar masuk kamarku!" Alexi merutuk dalam hati.
Di Paviliun Tanpa Nama, Zike masih melihat ke layar ponselnya terkejut saat melihat dengan jelas tangan Alexi yang tengah dibuka perbannya. Gadis itu pun terpekik dalam hati. "Ale terlukaa!"
"Sungguh keterlaluan!" Zike seketika merasa jika Alexi tidak jujur padanya. "Dia selalu bilang kalau dia baik-baik saja, tapi nyatanya dia terluka dan tak pernah mengatakannya padaku!"
__ADS_1
"Dan gadis itu, siapa dia? Mengapa dari tatapan matanya aku merasa kalau dia punya perasaan sama Ale?' Zike merasa ada kejanggalan pada gadis berbaju biru muda yang dilihatnya bersama nenek Alexi. Tak bisa dia pungkiri, jika dirinya memiliki rasa cemburu. Terlebih lagi, gadis itu sangat cantik dan penampilannya juga jauh berbeda dengan Zike. "Apakah mereka memiliki hubungan lebih?"
"Tapi kalau dilihat dari sikap Ale, sepertinya dia sama sekali tidak bersikap ramah padanya."Zike berpikir dan masih ingat bagaimana raut wajah Alexi yang terlihat sangat tidak senang pada gadis itu. "Aaah, pusing aku! Mengapa harus aku pikirkan mereka? Terserah Alexi saja, dia akan memilih siapa!"
"Itu kan urusan mereka dan bukan urusanku!" sungut Zike dengan kecewa karena acara temu kangen keduanya berakhir dengan tiba-tiba.
Zike menutup panggilan video dengan hati kecewa. Dia merasa jikalau Alexi tidak pernah ingin membicarakan keadaan dirinya juga latar belakang dan asal-usul serta jati diri pria itu. Gadis itu berpikir, "Aneeeh, mengapa dia sampai terluka ya? Apakah dia baru saja mengalami kecelakaan?"
"Apa yang dia sembunyikan dariku tentang latar belakangnya?" tanya Zike dalam hati. "Kalau dilihat dari penampilan para wanita itu, sepertinya mereka adalah orang-orang yang sangat berkecukupan."
Zike masih ingat dengan jelas sosok gadis dengan gaun biru muda yang terlihat elegan. Wajah cantik dengan rambut sebahu, kulit putih bersih, tubuhnya pun sintal dan padat. Sungguh, Zike merasa minder juga dibuatnya.
"Gadis itu memiliki bentuk tubuh layaknya gitar spanyol. Lelaki mana yang tidak menginginkan gadis semacam itu? Bisa saja Ale nanti juga tertarik padanya." Zike masih memikirkan betapa cantiknya gadis bergaun biru muda. Dia juga menghiasi dirinya dengan berberapa buah jepit rambut berbentuk bunga dan perhiasan emas yang mewah. "Huufftt! Jauh sekali dengan keadaanku ini."
Suri yang melihat nonanya menjadi murung pun tak kuasa untuk menahan keinginanannya untuk bertanya, "Nona, ada apa? Ada sesuatu yang membuat Nona merasa tidak nyamankah?"
"Tidak." Zike menggelengkan kepala sambil bangkit, lalu melangkah ke pembaringan. Dia segera merebahkan diri di sana. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya kekenyangan, lelah dan ingin tidur."
"Tidur?" Suri bergumam dalam hati karena merasa heran. "Baru tadi dia terlihat bahagia dan sekarang seperti sedang murung. Apakah benar secepat itu seseorang berubah?"
Gadis pelayan itu mengernyitkan kedua alis matanya tanda tak mengerti. Baru saja sang nona terlihat ceria hingga tertawa-tawa dan membuatnya merasa iri, tetapi sekarang Zike berubah secara drastis pula. Ternyata cinta dan kecewa bisa mengubah suasana hati seseorang lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan.
Suri tidak ingin terlalu memikirkan persoalan di antara kedua orang anak muda yang sudah terjebak dalam jeratan jaring asmara. Baginya itu sangatlah tidak mungkin untuk dia menggapai cita-cita cintanya.
__ADS_1
Suri cukup menyadari akan keadaan antara dia dan Jessey Liu. Mereka ibarat kerikil dan sebutir mutiara yang tidak bisa dibandingkan nilai, bentuk serta kemilaunya. Seorang Master Liu bagaikan pangeran dalam limpahan pujaan dan pujian, sedangkan dia selalu mendapat lemparan cibiran. Sungguh perbedaan itu terlampau nyata, juga sangat menyakiti perasaan gadis bertubuh tambun tersebut.
"Baiklah, saya juga sudah selesai di sini. Nona beristirahatlah dengan baik!" Suri bergegas merapikan lipatan terakhirnya dan menempatkan baju-baju Zike pada almari pakaian. Gadis itu juga tak lupa membawa keranjang bambu tempat makanan. "Selamat siang, Nona!"
"Selamat siang, Suri. Terima kasih atas bantuannya!" seru Zike tanpa beranjak dari tempatnya.
"Sama-sama, Nonaa!" balas Suri sambil menutup pintu dan berlalu pergi dari Paviliun Tanpa Nama. Gadis bertubuh gemuk itu juga terlihat masih memendam kesedihan dalam hatinya.
Zike dan Suri sama-sama tercebur dalam kolam kesedihan yang sama dengan masalah yang berbeda. Mereka tengah merasa kecewa pada sebuah perasaan pada lawan jenis. Meskipun posisi Zike lebih beruntung dari Suri, tetapi perasaannya tetap terluka oleh ketidakjujuran Alexi.
"Bukankah Ale mengatakan kalau dia akan pergi?" Zike yang ternyata masih belum juga tidur mengubah posisinya dari terlentang menjadi tengkurap sambil memeluk bantal. "Aku bisa merawat diriku agar bisa secantik gadis itu. Bukankah aku bisa meminta Nu Jiaoshi untuk mengajariku?"
Mata Zike membulat sempurna dan kembali berbinar. Gadis itu terus bermonolog dalam kesendiriannya. "Baiklah! Alexi ... eehh, siapa nama panjang Ale ya?"
"Bodohnya aku ini! Rupanya cintaku ini benar-benar buta. Aku tidak tahu nama lengkapnya, tiak tahu tempat tinggalnya, asal-usulnya atau latar belakangnya." Zike sungguh merasa bodoh pada dirinya sendiri. "Bagaimana kalau ternyata dia bukan dari keluarga baik-baik?"
Zike membalikan badannya. "Bagaimana kalau dia adalah orang jahat yang kelak akan menyakitiku, mencampakanku dan meninggalkan aku?"
"Aaaaaaaaa! Aku pusiiiiiing!" Gadis itu merasa frustrasi dengan semua pemikirannya. "Sudahlah, aku lelaaah!"
Zike mencoba untuk menghilangkan semua pikiran-pikiran yang membebani perasaannya saat ini. Tiba-tiba saja dia teringat kepada orang tuanya. "Ma, Pa ... aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil meraih impianku dan membawa calon suami pilihanku."
...Bersambung...
__ADS_1