
"Tuan. Sebenarnya, hukuman apa yang akan Tuan berikan pada kami?" bertanya pria bertubuh jangkung. Meskipun dia tidak ikut memojokkan Jessey Liu, tetapi dia ikut termasuk ke dalam rombongan tersebut.
"Aku tidak ikut makan nangka, tapi aku juga yang ikut kena getahnya," gumam pria bertubuh jangkung dengan perasaan sedih. "Sial benar nasibku ini. Mereka yang berbuat, tapi aku juga yang ikut terkena hukumannya."
Ye Kai tak menjawab pertanyaan dari pelayan bertubuh jangkung. Dia hanya mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. "Hello, Lu'er! Paman punya sesuatu yang cocok untuk dijadikan teman dan bahan latihanmu."
"Bahan latihan?" Para pelayan pria terpekik dan saling berpandangan satu sama lain.
"Bahan latihan apa?" Yang lain berbisik-bisik.
"Nona Lu'er?" Pelayan bertubuh kurus sangat terkejut. Dia merasa ngeri saat membayangkan dirinya harus berurusan dengan seseorang yang dipanggil Nona Lu'er. "Celaka!"
"Nona Lu'er. Bisa hancur dunia kami kalau ada dia di sini." Pelayan bertubuh gempal merasa ngeri saat membayangkan sosok nona dari Keluarga Ye yang sering membuat mereka kacau.
"Aku sungguh tidak sanggup menghadapinyaaa!" bisik pelayan lain dengan wajah memelas dan putus asa.
Rupanya, sosok seorang nona muda Keluarga Ye benar-benar cukup meresahkan bagi mereka semua. Tak ada yang merasa sanggup menghadapi kenakalan gadis itu. Terlebih lagi, jika dia diberi wewenang oleh sang paman untuk memberi hukuman kepada mereka semua. Entah apa yang akan dilakukan oleh gadis tersebut.
"Mengerikaaan! Sungguh sangat mengerikaaan!" pekik seorang pelayan sambil bergidik ngeri. "Gadis yang sangat mengerikaaan!"
"Ssstt!" Kawan yang ada di sampingnya memberi isyarat. "Jangan sampai tuan tahu, apa yang kamu katakan itu!"
"Oh!" Pelayan yang diberi peringatan segera menutup mulutnya sendiri sambil menganggukkan kepala.
Sementara itu, Ye Kai masih dengan santainya berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon seluler. Sepertinya, pria itu tengah merencanakan sesuatu untuk menghukum para pelayannya. Tuan besar kediaman tersebut segera mengakhiri pembicaraan dengan sang keponakan dan kembali menghadap kepada para pria pelayan setelah memasukan kembali ponsel dalam saku kemeja.
"Dengar oleh kalian semua!" Ye Kai berkata dengan suara lantang.
"Tapi, mengapa bukan Tuan besar saja yang langsung memberikan hukuman untuk kami?" bertanya pria bertubuh sedang. "Mengapa harus Nona Ye?"
"Bodoh kalian semua!" Ye Kai membentak dengan perasaan geram. "Aku sangat sibuk dan tidak bisa memantau saat kalian sedang dihukum. Jadi, aku sengaja meminta keponakanku untuk menghukum kalian semua!"
"Bukankah masih ada nyonya?" bertanya pelayan lain dengan wajah kecewa.
__ADS_1
"Bodoh!" Ye Kai berjalan cepat dan langsung menampar pelayannya dengan marah. "Apa kalian pikir dia itu seseorang yang pantas kalian lihat setiap saat?"
"Ampuun, Tuaaan!" Pelayan yang ditampar segera berlutut sambil memegangi pipinya yang berdarah akibat terkena tamparan dari sang tuan. "Maaf! Saya telah lancang."
"Aku sudah menentukan hukuman untuk kalian semua. Jadi, kalian hanya harus mengikutinya saja tanpa ada yang diperbolehkan membantah." Ye Kai terlihat sangat serius. "Atau ... aku akan semakin memperberat hukuman kalian itu!"
"Baik, Tuan!" sahut para pria pelayan dengan wajah lesu. Entah hukuman apa yang akan mereka terima, tuannya bahkan tidak memberitahukan sama sekali.
"Kalian semua kembalilah dan lanjutkan tugas kalian masing-masing seperti biasa!" ujar Ye Kai memerintahkan para pelayannya untuk segera kembali ke tempat bertugas keseharian mereka di kediaman tersebut.
"Baik, Tuan! Kami semua mohon diri!" Kedelapan orang pelayan segera meninggalkan pelataran aula dengan langkah lemah akibat sepanjang di hadapan Ye Kai, harus menahan ketegangan dan ketakutan. Sungguh hari yang sangat tidak menyenangkan sama sekali bagi mereka.
Ye Kai pun segera pergi ke ruangan Jessey Liu guna melepaskan kepergian sahabatnya. Pria itu bahkan sampai berlari-lari kecil agar secepatnya tiba tanpa menunda waktu lagi. Sesampainya di ruangan tersebut, Ye Kai melihat semua persiapan kepulangan tampak sudah beres.
"Jessey!" Ye Kai menghampiri Jessey Liu yang sedang menggendong dan memberi susu pada bayi harimaunya di. Pria itu terlihat sangat senang dengan kehadiran hewan itu dalam hidupnya.
"Ye Kai." Jessey Liu menyahut tanpa beranjak dari tempatnya berada saat ini. Dia terlihat sangat asyik dengan pekerjaan barunya, menjadi baby sitter bayi harimau. Suatu hal yang sangat baru baginya.
"Tidak perlu, Ye Kai. Aku akan makan siang di jalan saja. Setelah itu, aku akan langsung menuju ke markas sekte," jawab Jessey Liu dengan nada santai. "Erick dan Rubby juga sepertinya akan segera tiba di sini. Kamu jangan khawatirkan hal lain!"
"Aaaahh, Jessey! Mengapa itu terdengar lebih seperti, kalau tuan rumah ini bahkan tidak menyediakan makanan untukmu?" Ye Kai merasa gusar dan tidak suka atas ucapan kawannya.
"Benar, Master. kami sudah menyiapkannya sejak tadi. Hanya saja semua jadi tertunda gara-gara kejadian itu." Mei Lan yang baru saja tiba di ruangan itu segera menyahut. "Makanlah dahulu, Master!"
"Tapi ...."
"Aaah, ayolaaaah!" Ye Kai menyambar pergelangan tangan Jessey Liu dan menyeret pria itu untuk pergi.
"Tapi, Ye Kai! Aku sedang memberi dia susu!" protes Jessey Liu sambil masih memegang dot bayi yang terlepas dari mulut anak harimaunya. "Lihat! Dia masih kelaparan."
"Berikan itu pada istriku. Biar dia yang menggantikannya!" seru Ye Kai. "Tak baik menolak rejeki yang sudah ada. Lagipula, kau ini sama saja mau mempermalukan aku."
"Lan'er, kamu gantikanlah susui bayinya!" perintah Ye Kai pada istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, Ge." Mei Lan tentu saja merasa cukup senang dengan tugas itu. Dia segera menghampiri Jessey Liu untuk meminta botol susu yang masih dalam genggaman Jessey Liu. "Ke marikan bayi dan susunya!"
Jessey Liu memberikan anak harimau dalam pelukannya beserta botol berisi susu yang tengah dia pegang kepada Mei Lan. Wanita itu dengan sangat senang hati menerima bayi berkaki empat dengan segala tingkah lucunya.
"Master, tenanglah! Aku akan menjaganya dengan baik. Sekarang, silakan Anda bersantap siang terlebih dahulu bersama suaimku dan juga Chriss," ujar Mei Laan sembari memasukan dot ke dalam mulut bayi harimau putih.
"Baiklah." Jessey Liu merasa tidak enak hati atas niat baik Ye Kai dan takut jika penolakannya akan melukai perasaan pasangan suami istri yang sangat perhatian padanya dengan tulus. Dia juga tak lupa mengajak pengawal setianya. "Chriss!"
"Baiklah, Gong Zi!" Chriss segera bangkit dan berjalan mengikuti Jessey Liu dan Ye Kai setelah menganggukan kepala terlebih dahulu kepada Mei Lan.
"Oh ya, siapakah nama bayi ini?" Mei Lan tiba-tiba bertanya dengan setengah berteriak.
"Tygra!" Jessey Liu menjawab dengan setengah berteriak pula sambil terus berjalan keluar ruangan dan melangkah di samping Ye Kai dengan diikuti oleh Chriss.
"Oh, jadi namamu adalah Tygra?" Mei Lan terlihat menyukai nama tersebut. "Nama yang cukup bagus dan langka. Pintar juga tuanmu memberikan nama untukmu."
"Jadi, kamu benar-benar memakai nama itu?" Ye Kai bertanya sambil terus berjalan.
"Mengapa? Bukankah itu cukup bagus?" Jessey Liu balik bertanya. "Aku menyukai nama itu. Oh ya, sampaikan terima kasihku padanya!"
"Oh, baiklah. Akan aku sampaikan nanti," sahut Ye Kai dengan nada masih santai. Dia tidak menaruh curiga apa pun pada keinginan Jessey Liu. Pria itu sangat tahu, bahwa Jessey Liu adalah orang yang tidak mudah terpikat oleh kecantikan seseorang. Terlebih lagi kepada muridnya yang memiliki tampilan biasa saja bagi kalangan atas seperti mereka.
"Aku akan mengirimkan sesuatu untuknya setelah aku sampai di rumah," ujar Jessey Liu sambil terus melangkah.
"Hadiah?" Ye Kai cukup terkejut akan hal yang satu ini. Tentu saja pria tersebut tidak ingin merepotkan sang kawan, dia pun segera menolaknya. "Tidak perlu, Jessey."
"Mengapa? Aku hanya ingin berterima kasih padanya karena telah menemukan sebuah nama yang cocok dan bagus untuk bayi harimauku. Apakah itu aneh?" Jessey Liu bertanya. Dia tetap bertekat dalam hati untuk memberikan hadiah pada gadis yang sama sekali tak dia kenal.
"Tidak ada yang aneh, tapi kamu pikirkan saja sendiri. Apakah itu wajar? Kalian bahkan tidak saling mengenal, bagaimana dia bisa menerima pemberian dari seseorang yang asing baginya?" tanya Ye Kai sambil menyeret sebuah kursi untuk duduk Jessey Liu.
Jessey Liu pun berpikir, "Benar juga ya?"
...Bersambung...
__ADS_1