Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PEWARIS?


__ADS_3

Demi mendengar suara Abraham, Alexi berusaha meredakan sendiri amarah dan mengendalikan kekuatan ular sanca bawaan lahir miliknya. Secara perlahan pula, bias cahaya di lengannya berangsur-angsur mulai menghilang. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam dan memilih bersikap tenang.


"Apa?" Alexi seperti baru saja tersadar dari mimpi. "Apa yang terjadi? Apa yang baru saja aku lakukan?"


"Lihatlah sendiri, Tuan Muda!" Abraham melepaskan dekapannya setelah getaran pada tubuh Alexi menurun.


Alexi melihat ke arah para korban akibat dari kibasan tanganya. Ya! Hanya satu kali gerakan yang dia lakukan tapa disengaja itu, ternyata cukup berakibat fatal.


"Apa yang sudah aku lakukan pada mereka?"


Danny Hendrat dan para anak buahnya kembali berdiri, sedangkan yang lainnya berlari menolong Jay. Pria muda pengawal pribadi Alexa harus mengakui dalam hati akan kedahsyatan kekuatan sang tuan muda.


"Benar-benar luar biasa sekali kekuatannya." Jay berucap dalam hati seraya menahan sakit pada punggung dan pinggangnya. "Ini baru sedikit kibasan saja. Bagaimana kalau tuan muda memukul seseorang?"


"Tu-Tuan Muda!" Danny Hendrat memanggil Alexi dengan suara lemah.


"Kamu tidak apa-apa, Danny?" Alexi bertanya pada Danny Hendrat dan sedikit merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Dia berkata dalam hati. "Aku sungguh tidak menyangka, kalau aku sudah sekuat ini. Apakah ini juga efek dari pil yang diberikan kakek padaku?"


"Dan kamu, Jay?" Alexi menoleh ke arah Jay yang terlihat lebih menderita jika dibandingkan dengan Danny Hendrat.


"Apa yang telah aku lakukan?" Alexi tertegun sambil memandangi tangannya sendiri. "Benar-benar sekuat itukah aku sekarang?"


"Jay! Danny!" Alexi bergegas menghampiri kedua orang yang sedang menahan sakit. Rupanya, kibasan Alexi tidak hanya membuat tubuh mereka terpental saja, melainkan juga membuat keduanya merasa tersengat oleh aliran energi listrik bertegangan tinggi. Wajah mereka pucat dan badannya pun terasa lemah.


"Tuan Mu-Muda!" Danny Hendrat berusaha untuk melambai ke arah Alexi setelah dia dan Jay didudukan di atas pembaringan.


"Danny, Jay ... maafkan aku!" Alexi menghampiri kedua orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tuan Muda. Aku justru merasa senang atas peningkatan pada diri Anda." Danny Hendrat menjawa setelah berhasil menguasai diri. "Sekarang Anda sungguh sangat hebat!"


"Tapi, Danny! Aku sudah melukaimu tanpa aku sadari!" Alexi masih merasa menyesal pada tindakannya. Dia lalu menoleh kepada Jay. "Dan juga melukai kamu, Jay."


"Tu-Tuan Muda ... semula aku mengira, jikalau kekuatan bawaan lahir itu hanyalah rumor belaka. Tapi, ternyata semua benar dan aku bisa melihatnya sekarang." Jay berucap sembari terbatuk-batuk. "Anda benar-benar pewarisnya!"


Alexi hanya terdiam sambil bangkit dan berdiri tegak kembali. Raut wajah pemuda itu justru terlihat sangat tidak senang. Sebuah gumaman lirih dan tajam kemudian terdengar dari bibir pemuda berambut panjang tersebut. "Pewarisnya?"


"Benar. Andalah satu-satunya pewaris dari Sekte Sanca Perak kami! Dan kami sudah tidak meragukan akan hal itu," ujar Jay dengan nada pasti, walaupun suaranya masih lemah.


"Lalu, jika kalian sudah tahu aku adalah pewaris Sekte Sanca Perak berikutnya! Maka kalaian semua harus mengikutiku dan jangan melakukan sesuatu yang tidak akau ijinkan!"


"Siap, Tuan Muda!" Semua orang menyahut tanpa ada yang berani tertinggal satu pun.


"Ke marilah, biar kulihat lukamu!" Alexi melambaikan tangannya kepada salah satu anak buah yang terluka dan yang dipanggil pun tidak berani untuk tidak mendatangi tuan mudanya.


"Saya, Tuan Muda." Pria yang tak lebih tua dari Abraham pun mendekat, lalu memperlihatkan luka cakar pada lengannya yang terbuka. "Silakan, Tuan Muda!"


"Ma-maafkan saya, Tuan Mudaaa! Saya tidak mengira kalau mereka ternyata juga orang-orang dari perguruan seni bela diri juga." Pria anak buah Alexa tampak sangat ketakutan.


"Lalu apakah kalian tahu dari perguruan mana mereka berasal?" Alexi bertanya setelah hatinya sudah menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


Para anak buah Alexa saling berpandangan satu sama lain dan saling menggelengkan kepala. Roy akhirnya berkata, "Kami semua tidak mengetahui mereka dari perguruan mana, tetapi kami ada janji untuk bertemu dengan mereka siang ini, Tuan Muda!"


"Maaf! Ini tanpa sepengetahuan dari Tuan Muda, karena nona yang telah mengaturnya." Roy merasa khawatir jikalau Alexi akan kembali marah dan melampiaskannya dengan tindakan yang lebih mengerikan lagi.


"Alexa lagi! Alexa lagiiii!"

__ADS_1


Pada saat itu juga, Alexa Nata Praja muncul dan berusaha menetralkan suasana. "Kak! Aku tahu siapa mereka!"


"Siapa?" Alexi menoleh dan bertanya. Pemuda itu mendekati Alexa sambil berkacak pinggang. "Dan beraninya kamu juga bertindak tanpa sepengetahuan atau persetujuan dariku!"


"Kak Aleee! Sebenarnya kami sudah ada acara untuk bertemu dengan mereka hari ini juga." Alexa semakin mendekati Alexi dan segera menggenggam tangan sang kakak dengan harapan Alexi akan memaafkannya. "Dan kuharap, Kakak juga ikut ke dalam acara tersebut."


"Apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur," gumam Alexi dalam hati sambil menatap ke luar jendela kamar yang menunjukan hari sudah mulai terang tanah. Pemuda itu merasa semua memang harus diselesaikan agar dia bisa secepatnya pergi dari hotel tersebut.


"Sudahlah untuk masalah hari ini. Lalu, kalian semua bersiaplah untuk sarapan." Alexi berkata sambil berbalik pergi diikuti oleh Alexa, Danny Hendrat dan Abraham. "Jangan lupa untuk mengobati luka-luka kalian!"


"Siap, Tuan Muda!" Semuanya menyahut secara serentak.


Para anak buah dua saudara kembar itu akhirnya bisa menarik napas lega dan tidak terlalu khawatir lagi. Alexi memang mudah sekali marah, akan tetapi dia juga mudah memaafkan. Mereka semua mengikuti dengan pandangan mata, bayangan tubuh keempat orang itu yang segera menghilang setelah melewati pintu.


"Jay, apa yang kamu rasakan tadi?" tanya Roy yang merasa penasaran. Dia juga merasa ngeri dengan apa yang dia lihat tadi.


"Tadi aku merasa tersengat oleh energi listrik tingkat tinggi yang dahsyat!" Jay menjawab seraya menggelengkan kepala hingga beberapa kali. "Tuan muda sungguh luar biasa dan guru kita pasti akan sangat senang dengan peningkatan yang di alami oleh tuan mudanya."


"Ternyata kekuatan semacam itu memang benar-benar ada dan tidak bohong." Roy sungguh merasa takjub pada Alexi.


"Benar sekali. Aku sudah sangat ketakutan tadi!" seru orang yang mendapatkan hadiah tendangan dari Alexi sambil memegangi dadanya yang masih terasa cukup nyeri.


"Ini juga akibat dari kecerobohanmu. Coba saja kalau kamu mengemudikan mobil itu dengan baik, pastinya tidak akan ada insiden yang memalukan seperti tadi malam!" Salah seorang kawannya merasa kesal.


"Mengapa kamu malah menyalahkan aku?" bentak orang yang dituduh melakukan kecerobohan.


"Jelas aku menyalahkan kebodohanmu itu!" seru kawannya sambil melotot. "Gara-gara keteledoranmu, kami semua mendapatkan celaka bersama-sama!"

__ADS_1


"Sudah cukup! Apakah kalian akan terus bertengkar?" Roy menengahi perang mulut antar anak buah Alexa. "Kita harus segera bersiap-siap untuk sarapan pagi.


...Bersambung...


__ADS_2