Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KEINDAHAN BULAN


__ADS_3

Setelah semua selesai, Jing Xuan benar-benar mengantarkan Zike kembali ke paviliun tempat tinggalnya. Mei Lan dan Ye Kai juga memutuskan untuk membicarakan hal mengenai hasil penelitian Ye Kai. Mereka berdua memilih berbicara di dalam kamar, agar tidak ada yang mengetahui pembicaraan mereka.


"Menurutmu, bagaimana tentang kondisi Ah Xuan sekarang ini?" tanya Ye Kai sembari merebahkan diri di atas pembaringan, sedangkan Mei Lan memilih duduk bersandar di samping Ye Kai dengan sebuah buku di tangannya.


"Dari yang aku lihat, dia semakin membaik. Kuharap dia memang bisa secepatnya pulih seperti anak-anak lainnya." Mei Lan menjawab sembari membuka lembaran halaman demi halaman buku yang sedang ia baca.


"Aku juga berharap dia semakin membaik. Tetapi kalau bisa, mintalah dia untuk merahasiakan apa yang kita lakukan terhadapnya," ujar Ye Kai sambil membayangkan apa yang akan terjadi jika semuanya sampai bocor.


"Yang kita lakukan padanya adalah teknik pengobatan yang dilarang oleh Rajawali Api, karena hal itu bertentangan dengan teknik bela diri dari sekte itu," sahut Ye Kai sembari memejamkan matanya. "Jika Shan Ge tahu kalau aku sudah melanggar aturannya, kira-kira ... apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?"


"Berterima kasih tentu saja. Itu kalau Ah Xuan benar-benar telah pulih dan berhasil membangun kekuatannya." Mei Lan menjawab dan berharap hal itu akan menjadi nyata.


"Aku tidak berharap ungkapan terima kasih dari siapa pun. Yang kuinginkan adalah kebaikan untuk Ah Xuan. Aku sangat tidak suka melihatnya tertindas. Itu sebabnya aku nekat melakukan teknik mengerikan itu." Ye Kai merasa bersalah juga saat harus melakukan penyiksaan pada Jing Xuan. "Semula aku juga merasa sangat takut, Lan'er."


"Tapi Gege berani melakukannya pada anak itu dan hampir berhasil, meski ada dua kekuatan yang bertentangan dalam tubuh Ah Xuan," ucap Mei Lan sambil membayangkan saat menemani Jing Xuan menjalani terapi penyembuhan. "Apakah itu tidak akan berbahaya baginya ke depannya, Ge?"


"Berbahaya tidaknya, itu tergantung pada kemampuan tubuh anak itu. Kita hanya perlu membimbingnya saja." Ye Kai tampak tidak terlalu serius dengan ucapannya. Dia memang orang yang selalu berusaha bersikap santai saat menghadapi istrinya ini.


"Semoga saja semua benar-benar berhasil. Aku sungguh berharap itu akan terjadi, Ge." Mei Lan meletakkan buku di atas meja dan ikut merebahkan diri setelah memadamkan lampu utama, lalu menggantinya dengan lampu tidur yang tidak terlalu terang.


"Terjadi apa?" Ye Kai memiringkan badannya menghadap ke arah Mei Lan yang saat ini terlihat sangat menggoda hasratnya. Mei Lan yag begitu cantik, tentu saja tidak akan selamat dari kenakalan pria ini.


Ye Kai mulai berlaku mencurigakan dan itu adalah hal yang sudah sangat dihafalkan oleh istrinya. Namun, tingkah Ye Kai inilah yang membuat seorang Mei Lan akan selalu menyerah dan pasrah dalam rengkuhan pria ini.


"Kesembuhan Ah Xuan. Memangnya apa lagi?" Mei Lan berkata sambil sesekali menepis tangan suaminya yang berkeliaran ke segala penjuru. Wanita itu sudah mulai kerepotan dengan tingkah nakal Ye Kai. "Ge, aku sedang ...."


"Aku tahu." Ye Kai menyahut dengan suara pasti namun tidak menghentikan perbuatannya pada tubuh wanita cantik dalam pelukannya saat ini.


"Kalau Gege sudah tahu, mengapa masih menginginkannya?" tanya Mei Lan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan badan Ye Kai.


"Kita bisa pakai cara yang lain," bisik Ye Kai di sisi telinga istrinya yang membuat bulu kuduk Mei Lan meremang seketika.

__ADS_1


"Cara yang lain?" Mei Lan bukan tidak tahu apa maksud Ye Kai. Wanita itu hanya bisa menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya yang sedikit kacau karena ulah suaminya.


"Apa?" Ye Kai masih dengan nakalnya mempermainkan apa saja yang ia inginkan. "Kamu tidak mau?"


"Bukan tidak mau, Ge. Ini masih terlalu sore untuk melakukannya." Mei Lan sebenarnya masih tidak ingin tidur dan hanya berniat menemani Ye Kai beristirahat. Namun acap kali dia melakukan hal tersebut, maka akan berakhir dengan hal yang serupa.


"Apakah suami istri masih harus melihat waktu untuk melakukannya?" Ye Kai tidak memedulikan hal apa pun lagi jika sudah berkeinginan. Pria itu akan selalu menunjukkan keperkasaannya di hadapan wanita ini.


"Geeee ...."


"Lan'er."


Mei Lan hanya bisa pasrah dalam perlakuan manis dan lembut pria yang selalu berhasil membuatnya bagai melayang tinggi di udara. Tak ada kesempatan menolak atau mengatakan tidak mau. Karena melayani Ye Kai adalah kewajiban, sekalipun dia dalam keadaan berhalangan. Namun, tentunya mereka tidak benar-benar melakukannya.


Sementara itu, Jing Xuan dan Zike sedang duduk-duduk di bangku kayu pada halaman paviliun. Mereka sengaja membawa dua gelas kopi susu panas dan beberapa makanan ringan sebagai camilan. Suasana malam yang indah ini memang terlalu sayang jika hanya dilewatkan begitu saja hanya dengan meringkuk di dalam selimut. Hal itulah yang membuat Jing Xuan mengajak Zike keluar dari paviliun dan memilih berjemur di bawah pengawasan bulan.


Jing Xuan memainkan sebuah lagu sendu mendayu, merdu nan syahdu dengan menggunakan sebatang seruling bambu. Irama lembut memikat itu berhasil membelah kesunyian dan mengalahkan nyanyian alami para hewan malam.


Di antara segala keindahan dalam hawa dingin, jangan lupakan uap air yang mengubah diri menjadi bermilyar buliran embun. Tercurah ke bumi membasahi apa saja yang bisa mereka jatuhi. Butiran dingin itu, akan berkilauan di pagi hari bak kemilau ratna mutu manikan. Tentu saja semua harus menunggu jingga sinar surya terbit di ufuk timur.


Ah! Mari kita bicara tentang malam ini dan bukan berkisah tentang hari yang lain. Ya. Saat ini, dua orang anak muda itu sedang asyik menikmati kesenangan masing-masing. Tentu saja malam ini mereka tengah terhanyut dalam perasaan akan masa lalunya.


Apa yang sedang mereka pikirkan?


Jika Zike sedang mengkhayalkan malam terang bulan ini bisa dinikmati dengan Alexi, maka Jing Xuan justru tengah merasa sedih saat mengenang kegagalan demi kegagalan dalam menjadi yang terbaik di perguruannya. Anak muda itu memang lebih memilih untuk ikut bersama Ye Kai, daripada harus tinggal di sektenya sendiri.


Betapa malang nasib diri memang tak bisa dihindari, tetapi daya pun tak kuasa untuk menggapai segala mimpi. Seorang lelaki yang terkucilkan di sektenya sendiri harus merasa tersisih setiap saat, hanya karena dia memiliki suatu kekurangan.


Siapa pun tidak akan mengira, jika di balik sosok sesempurna seorang pria muda bernama Jing Xuan ini, sebenarnya memiliki sebuah luka yang kabarnya tidak bisa disembuhkan. Berbagai macam metode pengobatan telah berusaha dilakukan, akan tetapi kondisi Jing Xuan selalu di luar dugaan.


Walaupun sebenarnya ada sebuah metode pengobatan yang bisa dilakukan, akan tetapi hal tersebut tidak bisa dilakukan. Teknik itu terlalu berbahaya dan bertentangan dengan jenis bela diri dari Sekte Rajawali Api. Namun secara diam-diam, Ye Kai ternyata menerapkan hal yang akan sangat ditentang oleh para tetua di sekte tempat Jing Xuan berasal. Maka dari itu, Mei Lan, Ye Kai dan Jing Xuan sepakat untuk tetap menyimpan rahasia terapi penyembuhan tersebut.

__ADS_1


Jing Xuan kerap dipojokkan oleh anak-anak di sektenya dan dianggap hanya sebagai beban semata. Jika mengingat hal tersebut, Jing Xuan hanya bisa pergi menenangkan diri di tempat sang paman.


"Zike." Jing Xuan memanggil gadis yang tengah asyik menguliti biji kwaci dengan mulutnya. Dia menghentikan lagu yang sedang dia lantunkan saat hatinya merasa tidak baik-baik saja.


"Ya." Zike menyahut sambil membuang kulit kwaci secara sembarangan dan tentu saja itu akan menjadi tugas Suri di pagi harinya. "Ada apa?"


"Bagaimana kamu bisa sampai di tempat ini? Eh ... maksudku, bagaimana bisa kamu tiba-tiba saja menjadi murid dari paman dan bibiku?" Jing Xuan akhirnya bertanya tentang hal yang sudah lama membuatnya merasa penasaran.


Jing Xuan memang kerap melihat Zike bersama Mei Lan dan memperhatikannya secara diam-diam dari kejauhan. Semula dia tidak begitu peduli dan hanya menganggap itu adalah hal yang biasa saja, akan tetapi semakin lama dia melihat gadis ini seperti tak pernah lepas mengekor Mei Lan.


"Aku ... diundang oleh shifu." Zike menjawab apa adanya.


"Diundang sendiri oleh pamanku?" Jing Xuan merasa heran. Dia sendiri merasa kesulitan merayu Ye Kai agar mengajarinya ilmu bela diri milik Sekte Elang Emas, tetapi gadis ini malah justru diundang secara khusus oleh pamannya. "Menarik!"


"Menarik? Apanya yang menarik?" Zike bertanya sembari menoleh ke arah pria yang semakin terlihat tampan di keremangan cahaya lampu taman dan sinar bulan. Gadis itu dalam hati berucap, "Dia memang sangat tampan. Tetapi alangkah bagusnya jika saat ini yang bersamaku adalah Alexi."


Bukannya Zike tidak terpesona oleh ketampanan Jing Xuan, akan tetapi dalam hatinya sudah terisi oleh satu orang saja. Ruang kalbunya sudah terlalu sempit dan hanya bisa diisi oleh satu orang saja, yaitu Alexi Nata Praja. Diam-diam gadis itu merasa rindu juga kepada pemilik wajah tampan nan cantik yang telah membuat jantungnya bergetaran pada saat pertama kali bertatapan di konser musik underground beberapa bulan yang lalu.


"Tentu saja tentang undangan dari pamanku itu," sahut Jing Xuan. "Lalu, bisakah kamu ceritakan sedikit tentang kisahmu hingga bisa sampai ke tempat ini?"


"Menceritakan kisahku?" Zike bertanya sambil menatap Jing Xuan. "Kisahku tidak ada yang istimewa."


"Tidak harus sebuah keistimewan yang bisa kita bicarakan," ujar Jing Xuan sambil berpikir dalam hati.


"Bagaimana kalau akulah yang menceritakan kisahku terlebih dahulu?" tanya Jing Xuan sembari meraih sebungkus kacang goreng sangrai.


"Boleh." Zike terlihat begitu antusias.


"Kalau begitu ... Kita mulai dari mana?"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2