
Jessey Liu menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah pelayan wanita bertubuh gendut yang sudah memucat. Jessey Liu terpaksa menghampiri gadis itu dan berkata, "Tenanglah! Meski dia anak harimau, tapi dia belum bisa makan daging dan masih harus menyusu. Jadi, dia tidak akan memangsa orang."
Melihat pelayan gendut itu masih terlihat ketakutan, Jessey Liu berkata sekali lagi. "Percayalah pada ucapanku! Aku yang akan menjamin keselamatanmu jika kita menemukannya."
Tentu saja kata-kata itu bagaikan sebuah semangat baru yang berhasil menghempaskan rasa takut gadis pelayan gendut tersebut. Mendengar perkataan dari master tampan yang sedang berdiri dengan gagah di hadapannya. Hati pelayan wanita bertubuh gemuk itu menjadi lega dan sedikit tenang. Dia pun mulai bisa menguasai perasaannya. Hampir saja dia merasa sesak napas membayangkan seekor harimau yang besar, ganas dan menakutkan akan menerkam lalu memangsanya. "Baiklah. Baiklah, Master Liu!"
"Saya akan mencarinya, Master."
Pelayan wanita gendut itu lalu berusaha berdiri dengan kerepotan. Dia harus mengatur penguasaan diri dan hatinya yang sudah teramat kacau balau. Wanita berusia dua puluh lima tahun dan belum menikah ini hanya bisa mengikuti perintah, dia pun kemudian kembali mencari apa yang sedang mereka cari.
"Baiklah. Aku akan mencarinya ke arah sana dan kau ke tempat yang lain!" Jessey Liu berkata sembari berlalu dari tempatnya berdiri. Pria itu berlari bagaikan melesat saja dan hal itu membuat pelayan gendut merasa sangat takjub dengan kelincahan pria ini.
"Seumur hidupku, aku baru pernah merasakan bahagia berjalan bersama seorang pria setampan Master Liu." Pelayan gendut masih tersenyum-senyum sendiri sembari berjalan dan mencari anak harimau milik pria yang sedang sangat ia kagumi. "Bahkan mereka-mereka yang bertubuh langsing, seksi dan berwajah cantik saja tidak seberuntung aku hari ini."
"Ya Sudah. Dengan aku ikut mencarinya, itu sama artinya aku memberikan sebuah andil yang dapat membahagiakannya." Pelayan gendut masih mengharapkan dirinya akan lebih beruntung lagi. "Demi calon suami masa depanku!."
Keduanya kemudian meneliti tempat yang sepetinya jarang dijamah oleh orang, kecuali oleh petugas kebersihan. Suasana sepi dan hanya ada mereka berdua, bagaikan di tempat asing yang beraura sedikit mistis. Entah apa yang membuat keadaan di sana menjadi terasa horror.
Beberapa waktu yang lalu ....
__ADS_1
Dari balik dinding di mana Jessey Liu sedang berada di sana tengah sibuk mencari-cari bayi harimau kecilnya. Seorang gadis tengah berjalan-jalan kecil menyusuri taman yang melingkari paviliun kecil tempat dia tinggal. Wajahnya terlihat lebih cerah dari hari-hari yang lalu.
"Aaaaaah, lelah juga ya mengingkuti Nu Jiaoshi!" keluhan kecil keluar dari bibirnya. "Guruku yang satu itu selain cantik, lincah juga sangat baik."
"Entah nanti kalau Ye Shifu yang mengajariku. Bisa jadi sebaliknya." Zike berbicara sendiri dengan suara yang bisa tetlrdengar Oleh orang lain. Karena di tempat itu hanya ada dia seorang diri tanpa seorang pun teman. Entah apa yang terjadi hari ini, hingga sejak pagi hanya Mei Lan saja yang mendatanginya.
"Aneh sekali. Mengapa tidak ada seorang pun pelayan yang datang ke mari, ya?" Zike merasa janggal dengan suasana di kediaman Ye Kai. "Ke mana semua orang?"
"Baiklah. Nanti kalau Nu Jiaoshi datang, aku akan memohon agar aku diijinkan melakukan sesuatu. Aku jenuh terus sendirian di tempat ini," keluh gadis manis tersebut.
Gadis itu pun lalu menjatuhkan diri di atas rerumputan dan duduk bersandar pada sebatang pohon mangga nan rindang. Angin semilir bertiup sepoi-sepoi, menjatuhkan beberapa helai daun yang telah tak bisa lagi bertahan pada tangkainya. Mereka jatuh terserak menjadi pemandangan yang cukup mengganggu pandangan mata.
Karena dalam perasaannya hanya ada segelombang kerinduan pada kekasihnya, maka dia pun kembali bermimpi akan sebuah pertemuan manis dengan seorang tuan muda yang tidak dia ketahui latar belakang aslinya. Begitu indah dan serasa nyata bayangan sosok Alexi yang tampan bak jelmaan pangeran dari alam peri. Entah bagaimana lagi cara untuk menggambarkan rupa pria muda penerus Sekte Sanca Perak ini.
(Emak bayanginnya Yang Yuan aja deh, bingung soalnya)
"Aleee ... aku kangen sama kamuu." Sebuah igauan lirih keluar tanpa Zike sadari sama sekali. "Jangan tinggalkan aku! Aku ingin terus sama kamu, Aleeee!"
Tanpa Zike ketahui, sesosok tubuh hewan berkaki empat dengan bulu belang hitam dan putih mendatanginya sembari terpincang-pincang. Hewan itu mengeluarkan suara lirih yang membuat bulu kuduk merinding. Meskipun auman itu tidak seperti haraimau dewasa, akan tetapi cukup untuk membuat seseorang ketakuta setengah mati.
__ADS_1
Hewan berkaki empat sebesar anak kambing itu kemudian meringkuk di kaki Zike yang tengah duduk berselonjor di bawah pohon mangga. Hewan itu terlihat menggesek-gesekan kepala berbulunya pada kaki Zike. Bahkan sesekali mengendus-endus da menjilati kulit punggung telapak kaki gadis itu.
"Aaaahh! Mengganggu saja!" Zike yang masih dalam alam mimpi seperti merasakan sesuatu begitu yang lembut menyentuh kakinya. Tentu saja itu menimbulkan rasa geli karena jilatan lidah kasar yang mungil dari hewan serupa kucing tersebut. Gadis itu kembali bergumam secara tanpa sadar. "Pergilaaa! Jangan ganggu pertemuanku dengan Aleee!"
Karena sentuhan itu terus-menerus bermain-main di kakinya, Zike pun menjadi merasa terganggu. Tanpa sadar dia menendang sesuatu yang terus saa menempeli kakinya. "Pergi!"
Suara pekikan hewan yang terlempar dan jatuh disertai auman kecil behasil mengejutkan Zike. Gadis itu pun seketika terlonjak bangun dalam kekagetan yang luar biasa. Terlebih lagi dia melihat seekor harimau kecil yang terkapar tak jauh dari hadapannya. Mata bulat gadis itu terbeliak lebar dengan dada yang berdebaran lebih cepat dari biasanya.
"Ha-ha ...."
Zike bahkan sampai tergagap menyaksikan seekor harimau kecil yang sekarang tengah berusaha bangkit dari jatuhnya. Harimau kecil itu seperti menahan kesakitan hingga terdengar suara rintihan dari mulut bergigi runcing tersebut. Untuk beberapa saaat lamanya Zike terpaku dalam ketakutan. Tidak bisa ia pungkiri lagi, jikalau dia sungguh merasakan tubuhnya gemetaran.
Tentu saja dia memikirkan hal yang lebih buruk dari ini, hingga gadis itu menengok ke sana dan ke mari untuk mengetahui kemungkinan besar ada harimau lain yang berada di sekitar tempat itu. Karena tidak mungkin seekor binatang lahir dari dalam batu ataupun pohon, apalagi dari balik dinding. Tapi ... tunggu! Dari mana hewan ini berasal?
Zike pun akhirnya bisa menguasai diri saat merasa tidak ada siapa pun yang datang ke tempat itu. Jangankan para induk harimau, seekor kucing buduk pun tidak ada yang pernah singgah di sana. Zike melihat anak harimau itu tengah berusaha bangun dan berjalan ke suatu arah dengan terpincang-pincang. Sepertinya anak macan putih itu merasa frustrasi karena telah ditolak oleh seorang gadis.
"Dari mana anabul ini datangnya?" Zike mulai ingin tahu. "Kasihan sekali dia ...."
...Bersambung...
__ADS_1