Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KETAKUTAN


__ADS_3

"Berani sekali kalian bertindak hal yang bisa mengancam semua usahaku ini!" bentak pria berkemeja putih itu dengan suara keras sembari menghempaskan tubuh Jean hingga terlempar menabrak meja kecil di sudut ruangan.


"Aaaaa!" Jean menjerit kesakitan sekali lagi saat tubuh kurusnya menimpa meja dengan banyak tumpukan buku milik Edler Van Houten.


"Tapi, Tuaaan! Kami sungguh tidak tahu tentang merekaaa!" Merry menangis sambil memegangi pipinya yang lebam di sana-sini. Wajah cantik keduanya seketika lenyap dan berganti dengan wajah serupa zombie wanita yang sangat buruk menyeramkan.


"Kami sungguh tidak tahu siapa mereka." Jean berkata sambil menangis. Keangkuhannya sekarang bagaikan sirna begitu saja.


Jean masih memohon. "Ampun, Tuan Edleer!"


"Benar, Tuan Edler! Kami berjanji untuk tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini." Merry menyambung ucapan Jean.


"Tuan Edleeeer!"


"Diaaaam!" bentakan keras membuat kedua wanita penghibur itu diam seketika. Wajah mereka seketika menjadi sangat pucat dengan tubuh bagaikan membeku dan terkunci.


"Kalian para wanita hanya bisa membuatku pusing dan kerepotan saja!" Edler Van Houten memaki dengan perasaan marah luar biasa hingga wajah pria berhidung mancung dengan rambut pirang itu memerah.


"Bagaimana aku harus menghadapi tuan muda yang satu itu?" Elder Van Houten berpikir tentag semua sangsi yang akan dia terima nanti. Pria bule itu sungguh merasa kebingungan untuk menghadapi salah satu orang yang dia takuti. "Kalau tuan muda itu merasa tersinggung dan melaporkan perihal pelanggaran yang telah aku lakukan ini kepada paman besarnya, bukan tidak mungkin hotel ini dan hotelku yang lain juga akan segera ditutup?"


"Dan semua usahaku selama bertahun-tahun dalam mengelola hotel ini pun akan berakhir mulus tanpa kendala." Elder Van Houten benar-benar dibuat gusar kali ini. Pria itu secara tanpa sadar dia berjalan hilir mudik hingga membuat Robert pun ikut merasa pusing memikirkan kekhawatiran bosnya.


"Tuan Elder. Apa yang akan kita lakukan kepada mereka sekarang?" bertanya Robert sambil menunjuk ke arah Jean dan Merry.


"Hukum saja mereka berdua dengan masing-masing mendapatkan lima puluh kali pululan kayu!"


"Apa?" Jean dan Merry terpekik hampir bersamaan.


"Tuaaan! Jangan hukum kamiiii! Kumohon, Tuaaaan!" Merry sungguh merasa menyesal dengan tindakan ceroboh mereka berdua malam ini.


"Bukan hanya hukuman pukul saja yang akan kalian terima, tapi juga pemberhentian kerja kalian di tempat ini!" seru Edler Van Houten tanpa basa-basi langsung memecat keduanya.

__ADS_1


"Memberhentikan kami?" Jean bertanya dengan linangan air mata.


"Bukan saja memberhentikan kalian berdua! Bahkan keluarga kalian juga akan ikut menanggung akibatnya!" bentak Edler


"Tuan Edler, kumohon jangan apa-apakan keluargakuuuu! Mereka bahkan tidak mengetahui sama sekali, kalau aku bekerja sebagai wanita penghibur di tempat ini." Tangisan Merry kembali membuncah mengiringi ucapannya.


"Be-benar, Tuan! Ayahku bahkan mengira kalau aku ini hanya bekerja sebagai seorang model. Jadi kumohon, Tuan! Jangan libatkan keluarga kamiiii!"


"Cukup!" Edler Van Houten membentak sekali lagi.


"Singkirkan mereka dari hadapanku sekarang juga! Kalian semua juga boleh menikmati tubuh mereka dengan sesuka hati!" Edler Van Houten merasa sudah sangat muak melihat Jean dan Merry.


"Siap, Tuan!" Beberapa orang pengawal pria langsung menyeret keduanya untuk dieksekusi. Tentu saja para pengawal merasa senang mendapatkan sebuah mainan gratis yang menyenangkan. Mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar para wanita cantik ini.


"Tuaaaaan! Jangan, Tuaaaaan!" Merry masih berusaha menghiba dan berharap ada keringanan hukuman untuk mereka berdua.


"Tuan, mohon ampunilah kamiiii!" teriak Jean yang tangannya telah dicekal dan diseret paksa ke suatu tempat.


Mereka sedang berasyik masyuk menikmati malam tanpa terbeban lagi oleh beratnya urusan duniawi, sedangkan di sisi lain ada orang-orang yang sedang dilanda kegusaran hingga mata pun tidak bisa terpejam. Perasaan hati yang resah, ternyata lebih menakutkan jika dibandingkan berhadapan langsung dengan sesosok hantu. Karena hantu yang sesungguhnya bagi diri manusia, adalah ketakutan yang menguasai hati dan pikiran.


Ketakutan adalah hantu yang paling mengerikan bagi siapa saja yang bergelar manusia. Begitu pun yang sedang dialami oleh Edler Van Houten pada malam hari ini. Ketakutan akan kehancuran bisnisnya telah berhasil membuat pria asing ini gelisah sepanjang waktu.


"Memuakkan!" Edler Van Houten menggebrak meja dan membuat Robert menjadi sangat ketakutan.


"Sekarang bagaimana caranya aku menghadapi Tuan Muda Alexi Nata Praja, haaa?" Edler Van Houten mencengkeram kerah baju milik Manager Robert.


"Sabarlah, Tuan! Mari kita pikirkan bersama-sama!" Robert merasa mati kutu menghadapi kemarahan tuan bosnya ini.


"Sabar bagaimana maksudmu? Besok aku harus segera menghadap kepada tuan muda dan tentunya aku juga harus menjawab semua yang dia tanyakan!" Edler melepaskan cengkeraman pada kerah baju Robert dan menghempaskannya dengan kasar hingga pria berbadan gemuk itu terhuyung-huyung.


"Maafkan saya, Tuan!" Manager Robert juga merasa bingung menghadapi persoalan ini.

__ADS_1


"Robert, cepat pikirkan sesuatu!" perintah Edler Van Houten.


Meski Robert juga tidak tahu harus memberi solusi yang bagaimana, dia akhirnya menyahut, "Baiklah. Akan saya pikirkan, Tuan!"


Keduanya sungguh disibukkan dengan berbagai pemikiran yang belum juga mendapatkan solusi terbaik dari masalah yang telah ditimbulkan oleh dua wanita penghibur milik mereka. Saat itulah salah seorang anak buahnya meminta ijin untuk melaporkan berita lainnya yang tak kalah menghebohkan.


"Apa?" Edler pun merasa terkejut sekali lagi. "Ada dua rombongan lagi yang datang dan membuat keadaan di sini menjadi kacau?" .


"Benar, Tuan! Tetapi menurut laporan dari para petugas satuan pengamanan, mereka tampaknya telah berbaikan," jawab sang pengawal melaporkan apa yang ia ketahui.


"Bagus kalau begitu. Artinya sudah tidak ada masalah lagi selain meminta maaf secara pribadi kepada tuan muda." Edler Van Houten merasa lega.


"Lalu, apakah ada yang tahu siapa dua rombongan tadi?" Manager Robert bertanya.


Pengawal itu terlihat berpikir untuk mengingat-ingat sesuatu. Katanya, "Ampun, Tuan! Menurut dari yang saya dengar tadi, salah satu dari rombongan itu mencari seorang tamu yang bernama Alexi ...."


"Alexi ... siapa ya tadi?" Pengawal itu sedikit lupa akan nama lengkap pria yang menjadi salah satu tamu di Hotel Van Houten. Manager Robert dan Edler Van Houten sudah bisa menebak orang yang dimaksud oleh pengawalnya ini.


"Aku sudah tahu orang yang kamu maksud itu." Edler Van Houten tidak perlu menunggu kelanjutan ucapan anak buahnya ini. "Ya sudah, kembalilah ke tempatmu!"


"Baik, Tuan!" Sang pengawal juga merasa lega karena dia tidak usah lagi berpikir keras tentang nama orang yang harus diingatnya. "Kalau begitu saya permisi, Tuan!"


Edler Van Houten hanya menganggukkan kepala tanpa melihat lagi ke arah pengawal yang bergegas pergi dari hadapannya. Pria itu lalu menyambar sebatang cerutu yang segera disusul nyala api dari korek gas yang disodorkan oleh Robert.


"Ada-ada saja kejadian pada malam hari ini," ujar Robert sambil menggelengkan kepala berulang kali.


"Untung saja masalah itu tidak berkelanjutan," gumam Edler Van Houten sambil menarik napasnya. Keduanya kembali terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.


"Sekarang masih harus memikirkan cara untuk membuat Tuan Muda Alexi mau membantu kita menutupi masalah prostitusi di sini!" seru Edler Van Houten sambil menghempaskan pantatnya ke atas kursi putarnya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2