
"Aaah! Apa yang kamu bicarakan itu?" Ye Kai merasa sangat tidak suka atas pernyataan Jessey Liu. "Kamu membebaskan akau saat berada di tempatmu. Tentu saja aku akan melakukan hal yang sama."
"Tapi, Ye Kai. Aku juga merasa senang dengan kejadian tadi. Karena akhirnya, aku memiliki sebuah pengalaman yang sangat berharga berkat kalian semua." Jessey Liu berkata dengan perasaan terharu. "Akirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi tersangka dengan tuduhan yang tidak aku lakukan."
"Dan itu ternyata sangat menyakitkan," sambung Jessey Liu. "Terima kasih kuucapkan pada kalian semua yang telah membuatku merasakan semuanya."
"Heeeeh, Jessey, Jessey! Terbuat dari apa hatinya itu?" tanya Ye Kai dalam hati. "Aku akan tetap menghukum mereka semua!""Oh ya, satu hal lagi." Jessey Liu tiba-tiba teringat akan suatu hal yang pernah para pelayan ini ucapkan di hadapannya dengan sikap pongah. "Kalian tidak perlu melakukan hal yang pernah kalian ucapkan itu. Anggap saja itu hanyalah candaan kalian saja."
"Candaan apa?" Ye Kai merasa penasaran. "Katakan! Apa yang kamu maksudkan itu, Jessey!"
"Sudahlah. Lagi pula itu sangat tiak layak untuk dilakukan olaeh manusia," ujar Jessey Liu.
Pelayan bertubuh kurus teringat akan ucapannya, jika dia bersedia merayap sejauh dua ratus meter secara bolak-balik kalau orang yang mereka tuduh sebagai pencuri itu benar-benar Master Liu. Rasa malu dan takut pun seketika menjalari perasaannya. Kalaupun Jessey Liu telah melepaskannya, lalu bagaimana dengan Ye Kai?
Begitu pula dengan pelayan pria bertubuh gempal yang mengatakan akan merangak dan menggonggong layaknya seekor anjing, jika anak muda yang ditangkapnya sungguh-sungguh Master Liu. Hati pria itu juga mendadak merasa sangat takut.
"Ma-Master! Benarkah kami tidak perlu melakukannya?" Pria bertubuh kurus bertanya dengan suara lemah.
"Mmmh. Tidak perlu." Jessey Liu menjawab dengan singkat.
"Terima kasih banyak, Master! Terma kasih atas kemurahan hati Master Liu!" Pelayan bertubuh kurus terlihat sangat lega dan gembira.
"Terima kasih, Master! Tidak tahu lagi harus berkata apa." Pelayan berbadan gempal juga merasa sangat berlega hati.
"Baiklah. Karena semua sudah beres, sekarang aku akan berpamitan kepada kalian semua. Kebetulan juga, aku sudah memutuskan untuk pulang hari ini."
"Secepat itukah Master Liu akan meninggalkan tempat ini?" Seorang gadis bertubuh gemuk bertanya dalam hati. Dia sengaja bersembunyi di balik dinding hanya ingin mengetahui jalannya hukuman, akan tetapi dia tidak melihat hukuman apa pun dijatuhkan kepada para pelayan pria.
Gadis itu merasa kecewa, karena dia berharap orang-orang yang sudah meremehkan Jessey Liu benar-benar harus dihukum. "Tumben sekali tuan besar tidak menghukum mereka?"
"Master benar-benar tidak bisa menundanya?" Mei Lan yang bertanya kali ini.
"Mhh, aku harus segera pulang. Ada banyak hal yang harus aku lakukan," jawab Jessey Liu. "Ye Kai, Mei Lan. Aku pamit untuk bersiap-siap. Mungkin tak lama lagi Erick akan segera tiba untuk menjemputku."
Ye Kai dan Mei Lan hanya bisa menganggukan kepala. Mereka sudah tak memiliki alasan apa pun untuk menahan pria ini untuk tinggal lebih lama di kediaman mereka. Tugas dan seabrek pekerjaan telah menunggu master muda tersebut.
"Kepada semuanya, aku pamit!" Jessey Liu memberi penghormatan sekali lagi dan menepuk bahu Ye Kai, lalu berbalik diikuti oleh Chriss yang masih menjaga anak harimau milik majikannya.
__ADS_1
"Lan'er! Kamu kembalilah dan siapkan segala sesuatu untuk pelatihan murid kita malam nanti!" Ye Kai sengaja mememrintahkan hal tersebut untuk mengusir istrinya dari tempat itu. Dia sangat tahu akan sifat Mei Lan yang sangat perasa dan tidak akan membiarkan dirinya menghukum para anak buahnya.
"Baiklah, Ge!" Mei Lan hanya bisa menurut saja dan tak mencurigai sedikit pun akan niat suaminya. Wanita itu pun segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Sepeninggalah Jessey Liu dari pelataran aula utama, Ye Kai kembali berkacak pinggang dan siap melancarkan rencananya. Bagaimanapun juga hatinya masih diliputi oleh kegeraman dan kemarahan yang teramat sangat. Ya! Ini adalah saat yang sangat bagus tentu saja.
"Lancang!" Ye Kai membentak dengan suara keras penuh kemarahan sambil menampari satu-persatu wajah para pelayan yang ikut terlibat. "Apa yang kalian lakukan hari ini sungguh membuatku sangat malu!"
Pekikan kecil pun tak berani mereka suarakan, meski rasa sakit akibat kerasnya tamparan tangan Ye Kai begitu teramat sangat hingga wajah mereka bagaikan mati rasa. Mereka semua memang sudah mengira, jika tuannya tidak akan semudah itu memaafkan suatu kesalahan.
"A-aampun! Ampuni kami, Tuaaan!" Pelayan bertubuh kurus dengan suara gemetaran.
"Kalian semua dengar tadi apa yang dikatakan olehnya? Betapa baiknya Master Liu kepada kalian semua!" teriak Ye Kai dengan wajah yang bagaikan merah membara.
"Ka-kami mengerti!" Pelayan berbadan gempal berucap lirih. "Maafkanlah kami, Tuan!"
"Dari tadi hanya maaf! Maaf dan maaf saja yang kalian sebutkan!" Ye Kai menempeleng kepala pelayan bertubuh gempal hingga terhuyung-huyung.
"Tuaaaan! Lalu kami harus bagaimana?" Salah seorang pelayan bertubuh sedang bertanya.
"Masih juga bertanya?" Ye Kai melotot kepada si penanya. "Kalian semua akan dihukum!"
Pelayan bertubuh kurus bertanya, "Tapi, bukankah tadi Master Liu ...."
"Yang tuan kalian ini siapa?" Ye Kai membentak.
"Tu-Tuan Besar," jawab pria bertubuh kurus.
"Yang membayar kalian semua?" Ye Kai bertanya lagi masih dengan kejengkelannya.
"Tuan Besar," jawab para pelayan secara bersamaan.
"Yang berhak mengampuni kalian dan memberi hukuman?" Ye Kai kembali membentak.
"Tuan Besar." Para pelayan menjawab lagi.
"Bagus! Kalau begitu aku akan memberikan apa yang seharusnya kalian terima atas kelakuan kalian yang sangat membuatku malu!" kata Ye Kai lagi masih dengan kekesalan di hatinya.
__ADS_1
Para pelayan terdiam. Mereka sama sekali tidak berdaya jika Ye Kai sudah berkeputusan. Pelayan bertubuh sedang berkata, "Kami pasrah dengan hukuman apa pun yang akan Tuan Besar timpakan pada kami."
"Bagus! Kalian semua akan aku hukum dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatan kalian." Ye Kai tersenyum penuh misteri. Sepertinya, dia baru saja menemukan sebuah hukuman yang mungkin menyenangkan untuknya. Tapi apa?
"Tu-Tuan ... hukuman apakah yang akan kami terima?" bertanya pelayan bertubuh gempal dengan takut-takut.
"Satu!" Ye Kai berjalan mengurut barisan sambil menghitung dan menepuk bahu para pelayannya.
"Dua!"
"Tiga!"
"Empat!"
"Lima"
"Enam"
"Tujuh!
"Delapan!"
Ye Kai berhenti pada pria ke delapan, lalu memperhatikan semuanya dengan sorot mata aneh. "Bagus!"
"Bagus?" tanya para pelayan dalam hati dengan sangat tidak mengerti. Ye Kai terlalu bermisteri untuk hal ini.
"Tuan. Sebenarnya, hukuman apa yang akan Tuan berikan pada kami?" bertanya pria bertubuh jangkung. Meskipun dia tidak ikut memojokkan Jessey Liu, tetapi dia ikut termasuk ke dalam rombongan tersebut.
"Tidak makan nangka, tapi aku juga yang kena getahnya," gumam pria bertubuh jangkung dengan perasaan sedih.
Ye Kai tak menjawab pertanyaan dari pelayan bertubuh jangkung. Dia hanya mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. "Hello, Lu'er! Paman punya sesuatu yang cocok untuk bahan latihanmu."
"Bahan latihan?" Para pelayan pria terpekik dan saling berpandangan satu sama lain.
"Nona Lu'er?"
"Celaka!"
__ADS_1
...Bersambung...