
Panggilan Alexa membuat langkah Jessey Liu tertahan. "Maaf, Nona. Saya sedang sangat terburu-buru dan tidak bisa menghormati Anda."
Alexa terus berjalan mendekati Jessey Liu yang masih menahan Tygra dalam pelukannya. Gadis itu bergumam dalam hati. "Menarik!"
"Maaf, kalau boleh bertanya. Siapakah Anda ini?" bertanya Alexa Nata Praja sambil bersedekap dan memutari Jessey Liu yang berdiri gagah dan anggun di depan para pengikutnya. Meskipun dia belum melihat wajahnya, tetapi sudah bisa terlihat jika dia bukanlah orang yang biasa saja.
Jessey Liu terpaksa menolehkan sedikit wajahnya dan menjawab, "Aku adalah pemimpin dari rombongan ini. Tetapi jika ada hal yang sangat penting, Anda bisa menyampaikan kepada Erick Martin asistenku."
Alexa seketika merasa terpana saat melihat dengan sedikit jelas wajah Jessey Liu dalam timpaan cahaya lampu-lampu di tempat tersebut. Mau tidak mau gadis ini pun merasa sangat kagum akan pesona yang terpancar dari aura pria yang tidak dia kenal sama sekali.
"Ooh, jadi Anda adalah pemimpinnya?" ucap Alexa dengan sedikit merasa penasaran pada pria ini.
"Alangkah tampannya pria ini," bisik hati Alexa penuh kekaguman disertai rasa penasaran yang mulai merambati hatinya. Entah mengapa dia merasa sedikit tertantang kepada pria dingin yang baru dia jumpai sekali ini. "Dia bahkan berani tidak menatapku berlama-lama. Sepertinya dia bukanlah orang yang mudah ditundukkan."
"Oh ya, Nona. Kalau boleh aku tahu, jurus pukulan apakah yang telah anak buah Nona pergunakan untuk melawan dan melukai anak buahku?" bertanya Jessey Liu tanpa mengubah posisinya saat ini.
"Oh itu." Alexa merasa senang sekali karena akhirnya pria ini berbicara cukup panjang padanya. " Itu adalah jurus pukulan Tapak Racun Akar Hitam."
"Tapak Racun Akar Hitam?" Jessey Liu berpikir sejenak tentang ilmu yang baru dia ketahui. "Menarik!"
"Apakah Anda berminat untuk mengetahui tentang ilmu tersebut, Tuan?" tanya Alexa dengan harapan Jessey Liu akan membagi waktu bersamanya.
Jessey Liu memutar tubuhnya dan kini kedanya pun berhadapan. Alexa bisa melihat dengan sangat jelas wajah lawan bicaranya yang ternyata benar-benar sangat tampan. Gadis cantik ini biasanya membuat para pria terpesona dan tergila-gila, tapi kini menjadi terbalik dan dialah sekarang yang bagai menjadi bagai mati kutu di hadapan seorang Jessey Liu.
"Sejujurnya aku juga sangat ingin mengetahuinya, tapi tidak bisa untuk saat ini. Bayiku ini sedang merasa tidak nyaman dan aku harus segera mencari tempat yang tenang untuknya." Jessey Liu menjawab dengan tenang. "Namun jika Nona tidak keberatan, Anda bisa memberitahukan kepada asisten saya itu."
"Hmm ... alasan yang bagus!" gumam Alexa dalam hati yang merasa diabaikan oleh pria berbusana jas warna coklat kopi susu ini. "Baru sekali ini ada pria yang menghindariku."
__ADS_1
"Baiklah, Tuan." Alexa menyahut dengan suara dia buat tenang. Bagaimanapun juga dia harus tetap bersikap seolah dia tidak terlalu penasaran kepada pria dingin tersebut.
Jessey Liu pun akhirnya tetap berpamitan pada gadis yang masih terus menatapnya. "Maaf, Nona. Aku tidak bisa berlama-lama berada di sini. Permisi!"
Jessey Liu tak memerlukan persetujuan dari gadis yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia pun segera berbalik untuk kembali mencari Rubby yang ditugaskan memesan kamar untuk mereka semua.
"Baiklah. Selamat jalan, Tuan!" seru Alexa dengan masih memperhatikan punggung Jessey Liu yang kian menjauh dan menghilang di antara lalu lalang orang-orang.
"Hmmm ... aku ingin tahu. Siapa orang ini sebenarnya?" Alexa bertanya dalam hati. "Tak menyangka sama sekali, aku bisa bertemu dengan pria semenarik ini."
Di belakang Alexa Nata Praja, ada seseorang yang sedang dijejali oleh kecemburuan yang seketika berkobaran dalam hatinya. Panas itu terasa, meski tanpa ada nyala api yang membakarnya. Tak ada deraan, tak ada siksaan ataupu sayatan dari sebilah senjata tajam. Namun sakit itu nyata, meski tanpa darah yang mengalirinya.
"Tidak biasanya Nona Alexa seperti ini pada seorang pria." Roy membatin sambil terus ikut memperhatikan bayangan tubuh Jessey Liu yang berjalan dengan cepat diikuti oleh Chriss dan beberapa orang pengawal. "Sepertinya, kali ini nona sangat tertarik kepada laki-laki itu."
Jay seperti teringat akan suatu hal dengan nama yang baru saja dia dengar. "Siapalah mereka ini? Benar-benar membuatku penasaran."
"Mungkinkah benar itu adalah dia?" Jay masih terus berpikir dan mencoba mencari ingatan tentang seorang Jessey Liu.
Alexa Nata Praja sendiri seketika terbuai dalam khayalannya sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis yang sebenarnya sangat kesepian. Selama ini, tidak ada satu orang pun laki-laki yang berani mendekatinya selain daripada para pengawalnya.
Erick Martin tidak bisa terlalu lama menunggu gadis itu terus mematung di tengah keramaian, sedangkan tugas dari sang tuan harus segera diselesaikan secepatnya. Pria muda itu menghampiri Alexa yang dikawal oleh dua bodyguard gagah dengan sikapnya yang dingin menakutkan.
"Nona! Mari kita bicarakan masalah kita ini di dalam sana!" Erick Martin berseru dan membuat Alexa terkejut.
"Oh, baiklah!" Alexa menyetujui ajakan Erick Martin.
"Tapi, bukankah aku harus mencari kakakku terlebih dahulu?" pikir Alexa yang kembali teringat akan sang kakak. "Apakah tidak sebaiknya kakak saja yang menangani masalah ini?"
__ADS_1
"Nona. Apakah kita akan membicarakannya sekarang juga atau Anda mempertimbangkan hal lain?" Erick Martin merasa jikalau gadis di hadapannya tampak sedang memikirkan sesuatu. "Nona!"
Alexa menjadi sedikit tersentak dengan panggilan dari Erick Martin hingga. "Oh maaf, Tuan!"
"Bagaimana, Nona?" Erick Martin meminta kepastian dari gadis ini, karena dia ingin segera beristirahat setelah perjalann jauh.
"Mmh ... Tuan. Bagaimana kalau k ita bicarakan hal ini besok saja?" Alexa tiba-tiba berubah pikiran.
"Besok?" bertanya Erick Martin dengan nada heran.
"Ya. Besok saja kita bicarakan hal ini, karena aku masih ada urusan mencari seseorang yang juga sangat penting bagiku," ujar Alexa yang sudah memutuskan untuk bertemu dengan kakaknya untuk membicarakan perihal kecelakaan malam ini. "Dan untuk soal racun itu, Anda tidak usah khawatir."
"Racun?" Erick Martin merasa aneh dengan ucapan Alexa. "Racun apakah itu, Nona?"
"Roy, berikan penawar itu padanya!" perintah Alexa kepada sang asisten yang sejak tadi bersiaga menjaga sang nona.
Tanpa berbicara apa pun juga, Roy maju setelah mengambil beberapa kaplet pil berwarna merah darah dan memberikan semua benda itu kepada Erick Martin. Pria itu mengulurkan ke depan kaplet pil tersebut seraya berucap, "Terimalah ini, Tuan!"
"Ini?" Erick Martin menerima kaplet-kaplet pil pemberian dari Roy dengan perasaan heran.
"Bukankah tadi pimpinan Anda menanyakan tentang jurus pukulan yang digunakan oleh anak buahku?" Alexa bertanya. "Anda akan mengetahui tentang kegunaannya nanti. Anggap saja, ini adalah hadiah dariku untuk pimpinan kalian itu."
"Tampaknya nona memang tertarik dan menyukai pimpinan dari orang-orang ini." Roy dengan perasaan sedih bergumam dalam hati. "Mereka memang sepadan dan tampak sangat serasi."
"Tapi ... mengapa hatiku sakit sekali?" Roy merasakan sesuatu yang sangat menusuk perasaannya saat ini. "Apakah aku cemburu?"
"Terima kasih, Nona!" Erick Martin memang harus mengucapkan kepada sang pemberi hadiah.
__ADS_1
"Hadiah yang aneh," pikir Erick Martin sambil menimang-nimang kaplet obat dari Roy.
...Bersambung...