Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PANGGILAN SAYANG


__ADS_3

Gadis itu memilih keluar taman untuk sekadar berjalan-jalan guna mencari hiburan. Sepi, hening di siang hari tanpa seorang pun kawan memang sangat membosankan. Zike memilih duduk pada rerumputan hijau tebal yang tumbuh subut di bawah pohon persik sintetis.


Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar dan menampakan sebuah nama pada nyala layar.


"Benarkah ini dia?" Zike mengucek matanya hingga beberapa kali dengan rasa tidak percaya.


Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu menerima panggilan yang sudah sejak lama dia nantikan dengan dada berdebaran. Hatinya pun bagai langsung dipenuhi oleh ribuan bunga-bunga bermekaran.


"Halo?"


Sialnya lagi, Baik Zike dan lawan bicaranya menyapa secara bersamaan. Wajah mereka memerah meski tanpa berhadapan hingga sama-sama saling tersenyum dan kembali membisu. Satu sama lain mengharap sang perindu kembali bersuara.


Lama terdiam justru membuat siksaan yang dalam bagi keduanya, hingga akhirnya Zike memberanikan diri bertanya, "A--apa kabar, Ale?"


"Zike!" Alexi bukannya menjawab, tapi balik bertanya, "Zike, benarkah ini kamu? Kamu masih menyimpan nomorku? Zike! Kamu di mana sekarang?"


Mendapat berondongan pertanyaan membuat gadis itu kebingungan. "A-aku ... iya, ini aku."


"Zikeeeeeee!" Suara Alexi benar-benar menyiratkan kebahagiaan yang nyata. "Zikeee! Aku sungguh kangen kamuuuu."


"Aku juga, Ale!" Zike tidak kalah terharunya, sampai-sampai ia meneteskan air mata. "Maaf, aku baru punya ponsel lagi. Karena ...."


"Aku sudah tahu." Alexi segera menyahut. "Gadis itu memang sangat keterlaluan!"


"Sudahlah, Ale! Aku ingin melupakannya." Zike tak ingin mengenang kembali kegetiran masa lalu.


"Oh, baiklah! Aku juga malas untuk mengingatnya. Gadis seperti itu sangat tidak layak untuk berteman denganmu!" Alexi mengerti mengerti akan kondisi gadisnya. "Kita bicara hal lain saja."


Keduanya pun lalu bercerita satu sama lain, hingga berjam-jam lamanya. Keduanya juga saling mengirimkan pesan gambar guna menetralkan kerinduan yang sudah menumpuk setinggi Puncak Himalaya.


Sebagai seorang tuan muda yang dimanja dan juga telah memiliki usaha sendiri, semua biaya kehidupannya tentu telah terjamin hingga ke kebutuhan yang tidak terlalu penting sekalipun. Biaya panggilan sebuah video call juga pastinya adalah hal yang mudah bagi Alexi Nata Praja.


"Ale, mengapa kamu mengirimiku banyak sekali pulsa?" bertanya Zike dengan mata terbelalak saat membaca notifikasi pengiriman pulsa hingga satu juta. "Pulsa sebanyak ini untuk apa?"


"Tentu saja itu untuk menghubungiku setiap hari. Ingat setiap hari!" Suara Alexi terdengar senang hingga tawanya pun terdengar.


"Setiap hari?"


"Ya. Dari bangun tidur sampai aku tidur lagi, kamu harus menghubungi dan mengingatkanku. Atau ... kau marahi saja aku setiap kau ingin marah." Di seberang sambungan telepon, Alexi bahkan mengatakannya tanpa berpikir apa pun. Dia adalah seorang yang sudah berkecukupan semenjak masih kecil, tentu saja tidak akan berpikir tentang susahnya sebagai orang di posisi Zike.


"Aku tidak bisa seperti itu, Aleeee. Aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupku." Zike memang lebih memilih berterus terang agar kekasihnya ini mengerti akan kesulitannya.


"Oh!" Alexi seperti baru saja tersadar akan hal yang dia lupakan. "Maaf, Sayaang!"


"Apa kamu bilang?" bertanya Zike demi mendengar sebutan terakhir.


Alexi menyahut, "Maafkan aku."


"Bukan yang ituuuuu!"

__ADS_1


"Lalu yang mana?" Alexi pura-pura bingung untuk mengerjai kekasihnya.


Zike dengan polosnya menjawab, "Yang terakhir kamu sebutkan tadi."


"Oh, maaf! Aku lupa yang mana." Alexi bahkan masih berpikiran untuk berpura-pura lupa.


"Ya sudah, lupakan!" Zike merasa kesal tentu saja.


Alexi tertawa sekali lagi, dia bahkan merasa sangat gemas melihat raut wajah kekasihnya yang terlihat kesal. Pemuda itu pun tiba-tiba mencium layar ponsel dengan keras.


"Aleeee! Kamu sedang apa?" Zike merasa heran dengan layar ponselnya yang secara mendadak bergoyang tak tentu arah, hingga dia mengira jikalau ponselnya sedang error.


"Aku menciummu tentu saja," sahut Alexi sambil tertawa.


"Mana ada? Kamu mencium layar ponsel dan itu artinya kamu sudah selingkuh darikuuuu!" Zike sengaja melepaskan tuduhan.


"Tapi itu kan gambarmuuu!" Alexi membela diri.


"Pokoknya aku tidak mau tahu!" Zike melototkan mata cantiknya. "Meski itu gambarku, tapi tetap saja bukan aku!"


Alexi kembali tertawa senang melihat kelucuan Zike hingga berseru dalam hati. "Lucu sekali dia!"


"Aleee!" Suara seorang wanita menyadarkannya seketika.


"Ya, Neeek!" Alexi menyahut dengan tanpa menutup speaker ponsel agar Zike tak mencurigainya.


"Eh, Zike! Maaf, nenek memanggilku. Kita bicara nanti lagi yaa?" Alexi dengan berat hati terpaksa berpamitan guna menyudahi panggilannya.


"Jangan gitu dong, Sayaaang! Senyum, pliiiiis!" Alexi merasa tidak tega melihat wajah gadis yang kini terlihat kecewa.


"Hiiiiii!" Zike meringiskan mulutnya hingga gigi-gigi cantik terlihat sempurna.


"Malah nakutin, iihhh!" Alexi menjadi semakin gemas. "Ya udah, bye dulu yaaa? I love you, muuuaachh!"


"Lebay ih!" gumam Zike sambil mengerucutkan mulutnya hingga terlihat lucu.


"Kak Ale! Aku mencarimu ke segala tempat dan ternyata Kakak ada di sini."


Suara seorang gadis membuat Zike tercekat. Rupanya, Alexi masih belum menutup panggilannya.


"Siapa dia?" tanya Zike dalam hati. Katanya nenek, tapi kok suaranya masih muda?"


"Sudahlah! Mungkin itu saudaranya." Zike mematikan sambungan video call sambil tersenyum.


"Akhirnyaaaa!"


Di tempat Dokter Agustin.


Pintu ruang perawatan tempat di mana Jessey Liu berada telah terbuka sempurna dan menampakan wajah Ye Kai beserta Heldevi yang segera mendatangi pria tampan itu dengan wajah cemas. Saat itu Jessey Liu sudah bisa duduk bersandar sambil memeluk lututnya seperti orang yang sedang kebingungan.

__ADS_1


"Sialan kamu, Jess!" Ye Kai tiba-tiba memukul lengan Jessey Liu seperti orang yang sedang sangat emosi hingga sampai beberapa kali. Jessey Liu sendiri membiarkan Ye Kai melampiaskan kekesalannya. Dia sangat tahu akan tabiat pria ini.


"Ye Kai!" Heldevi segera menangkap tubuh Ye Kai dan menahan pria itu agar tidak meneruskan tingkah lakunya. "Ye Kai tahaan!"


"Lepasiiiin! Gue bakal hajar diaaaa!" teriak Ye Kai dengan suara keras.


"Jessey, lu gak apa-apa, kan?" Heldevi bertanya sambil berusaha menahan Ye Kai yang masih memberontak.


Jessy Liu menggelengkan kepalanya. "Gak pa-pa."


"Gak pa-pa apanya, haaaa?" bertanya Ye Kai sambil melotot dan menunjuk ke kepala sahabatnya yang terbalut perban. "Ini yang kamu bilang gak pa-pa?"


"Ye Kai! Dia masih sakit, tapi udah lu main bentak-bentak aja!" Heldevi merasa sangat kesal atas sikap Ye Kai.


"Diem lu, Minggir!" Ye Kai menepis tangan Heldevi yang mencengkeram pinggangnya.


Akhirnya Heldevi menyingkir dari sisi Ye Kai dan beralih menghampiri Jessey Liu dan menyentuh perban yang membalut kepala kawannya. "Elu kok bisa sampe gini sih, Jess? Udah kayak Pendekar Naga Geni dua satu dua aja."


Jessey Liu ingin tertawa saat mendengar dirinya disamakan dengan tokoh novel legendaris tersebut. "Gue gak pa-pa kok, Vil. Cuma kegores pisau dikit doang."


"Syukurlah, kalian semua udah selamat. Gue lega," ujar Heldevi dengan perasaan lega.


Kini giliran Ye Kai yang mendekat dan duduk di tepi ranjang. "Jessey, jujur aku kecewa dengan adanya kejadian semalam."


"Kecewa?" Jessey Liu bertanya. "Mengapa?"


"Kecewa karena kamu bikin aku cemas setengah gila! Kenapa ada hal sebesar itu kamu tidak kasih kabar sama sekali?" Ye Kai melepaskan ganjalan di hatinya. "Jadi buat apa kamu melatih banyak orang untuk menjadi pasukan elit?"


"Jesseeeeeey! Sudah puas kamu bikin aku kebingungan?" Ye Kai menyambung ucapannya.


"Sudahlah, Ye Kai! Ini cuma luka gores kecil, tidak masalah," jawab Jessey Liu dengan tenang.


"Tapi, Jesseeeeey! Aku takut sekaliiiii!" Ye Kai tiba-tiba memeluk Jessey Liu dengan erat sambil menangis.


"Ye Kai ini! Ternyata cuma takut." Heldevi menggerutu dalam hati dan merasa kesal atas sikap Ye Kai. "Cih! Cengeng!"


"Dibandingkan nasib mereka yang mati dimakan oleh kawanan harimau putih." Jessey Liu bergumam dalam hati. Diam-diam hatinya merasa ngeri juga saat membayangkan ketakutan diterkam harimau dan kesakitan hingga mati akibat dicabik kuku runcing serta gigitan dua pasang taring.


"Ternyata aku bisa sekejam itu!" Jessey Liu tertegun dengan pandangan mata kosong. "Maafkanlah aku! Aku juga terpaksa demi menyelamatkan nyawa orang-orangku juga."


"Cuman luka gores aja lu bilang? Lalu, gimana sama orang-orang lu?" Heldevi melepaskan dekapan tangannya. Ia mendekat setelah Ye Kai sedikit lebih tenang.


"Iya. Meski hanya luka gores, tapi aku bingung kalau aku nanti pulang ke rumah," sahut Jessey Liu dengan suara lirih.


"Kalo begitu kamu tinggal saja dulu di tempatku, Jess. Bagaimana?" Ye Kai menawarlkan sebuah ide. "Itu kalau kamu ingin keadaanmu tidak diketahui oleh siapa pun."


"Kau benar juga, mungkin itu juga lebih baik. Aku hanya tidak ingin mama dan pengasuhku tahu kalau aku habis kecelakaan. Bisa ditutup sekteku dan mama tidak pernah kan mengijinkan aku mengikuti pertandingan apa pun." Jessey Liu tentu tak ingin hal menakutkan itu terjadi.


"Maka dari itu, aku tawarkan tempat untukmu. Kalau kamu tinggal di hotel atau apartemen juga nanti orang-orang mamamu tahu, kan?" tanya Ye Kai sambil mengupas buah jeruk dan memberikan isinya kepada Jessey Liu.

__ADS_1


"Bagaimana?"


__ADS_2