Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MARAH


__ADS_3

Abraham meski bertubuh tinggi besar namun jika sudah berhadapan dengan Alexi, maka dia pun bagaikan mati kutu. Pukulan itu memang seperti kibasan telapak tangan kiri yang biasa saja, akan tetapi jika Alexi dalam keadaan marah maka kekuatannya bisa menjadi tiga kali lebih besar. Hal tersebut dikarenakan tanda lahir Alexi berada di tangan kirinya dan jika terkena sesuatu yang bersifat panas pola bergurat keperakan itu akan memancarkan sinar serta kekuatan yang sangat kuat.


"Oh, silakan Tuan Muda ikuti saya!" Abraham tidak lagi membantah ucapan Alexi. Dia tahu secara pasti tuan mudanya ini dalam keadaan sangat marah. Tentu saja itu karena kecerobohan para pengikut Alexa.


Abraham memandu Alexi menuju ke ruangan di mana para anak buah Alexa berada dan kebetulan juga, Danny Hendrat, Jay dan Roy juga ada di sana meski di kamar yang berbeda. Demi melihat kedatangan Alexi, mereka serentak menoleh dan segera berdiri untuk memberi penghormatan kepada calon ketua mereka kelak.


"Tuan Muda Alexi!" Para anggota pasukan elit dari Sekte Sanca Perak menyapa secara bersamaan. Semuanya berdiri dengan sigap dan menundukan wajah masing-masing, tanpa satu pun yang berani menatap pada tuan muda mereka.


"Selamat pagi, Tuan Muda!" Danny Hendrat yang mengetahui suasana hati Alexi sedang tidak baik, langsung menyongsong dan menghampirinya.


Yang disapa bukannya menjawab, melainkan malah memarahi mereka semua. Tidak ada satu pun yang berani menyahut atau menyela setiap perkataa Alexi yang sedang dalam keadaan marah. Baik Danny Hendrat, maupun yang lainnya hanya bisa terdiam dan takut pada tuan mudanya ini.


"Maaf, Tuan Muda! Bukannya kami semua hendak menutupi tentang kejadian semalam. Kami pikir Nona Alexa telah memberitahukannya kepada Anda," ujar Danny Hendrat yang erusaha untuk mencoba menenangkan Alexi.


"Keterlaluan kalian semua!" Alexi membentak sembari berkacak pinggang sambil menempeleng kepala mereka satu-persatu.


"Ampun, Tuan Muda!" seru salah seorang dari mereka dengan suara agak bergetaran.


"Berani sekali memakai pukulan Tapak Racun Akar Hitam secara sembarangan! Itu adalah kesalahan fatal bagi kalian yang bisa mencemarkan sekte kita!" Alexi berkata dengan geram.


"Maaf sekali lagi, Tuan Muda!" seru salah seorang dari mereka..


"Sekarang apa kalian semua puas?" Alexi bertanya sembari berkacak pinggang di depan para anak buahnya. "Puas kalian?"

__ADS_1


Alexi mendongakkan wajah salah seorang anak buah Alexa dan menatapnya dengan mata melotot. "Kamu yang memulainya, bukan?"


"Mma-maafkan saya! Mohon maafkanlah saya, Tuan Mudaaa!" Pria itu merasa sangat ketakutan hingga tubuhnya melorot dan jatuh berlutut.


"Bodoh!" Alexi menendang dengan keras bagian atas dada anak buah Alexa yang menjadi pelaku tabrakan tersebut. Pria muda yang ditendangnya pun terpekik menahan sakit pada dadanya. Rasa sesak menyerangnya hingga matanya menjadi sedikit berkunang-kunang.


"Memalukan!" Alexi merasa semua anak buahnya sangat bodoh. Pemuda itu bekata dalam hati. "Sungguh memalukan murid-murid sekte pimpinan Nata Praja ini!"


Dua orang kawannya segera bergerak untuk menolong pria muda yang baru saja mendapat tendangan tersebut.


"Tuan Muda! Mohon tenangkan diri Anda!" Danny Hendrat dan Jay segera meraih tangan Alexi yang hampir saja memukul anak buahnya. Namun, rupanya tanda lahir di tangan kiri Alexi yang berupa pola ular sanca bergurat sedang mulai aktif. Kebetulan juga saat ini hanya Alexi memakai kaos berlengan pendek yang cukup bisa menampakan sebagian tanda lahirnya.


"Gawat!" seru Danny Hendrat yang merasakan keanehan pada tangan Alexi. Pria itu melihat cahaya perak merambati pola bergurat timbul pada lengan tuan mudanya.


"Apa ini?" Jay terpekik dalam hati dan menjadi sangat terkejut dengan perubahan dalam diri Alexi. "Inikah tanda lahir berpola ular sanca yang dikabarkan memiliki sebuah kekuatan dahsyat itu?"


"Minggir kalian!" Alexi yang sedang marah pun tak memedulikan kepada kedua orang yang sedang menahan tangannya. Secara refleks pula anak muda itu mengibaskan tangan kiri, hingga membuat Danny Hendrat terpental akibat terkena serangan kekuatan dari tanda lahir tersebut.


Tak ayal lagi, tubuh kedua orang itu terlempar hingga beberapa puluh langkah dan menimpa benda-benda yang ada di kamar tersebut. Danny Hendrat dan Jay meringis menahan sakit akibat tubuh mereka menghantam benda keras.


Jika Danny Hendrat jatuh menimpa beberapa orang anak buahnya hingga mereka pun ikut jatuh tumpang tindih, maka Jay lebih bernasib apes lagi. Tubuh Jay menimpa nakas yang di atasnya terdapat banyak barang-barang milik para penghuni kamar tersebut.


Keduanya terpekik dan membuat semua yang ada di sana terkejut hingga ada yang juga ikut berteriak, sedangkan Alexi sendirii pun tak kalah kaget atas apa yang terjadi pada dua orang kepercayaannya.

__ADS_1


Alexi menoleh ke arah Danny Hendrat yang tengah berusaha berdiri, disusul para anak buahnya yang juga sama-sama terjatuh. Alexi berteriak, "Danny!"


"Tuan Muda, Anda tenanglah!" Abraham segera menyambar lengan kanan Alexi yang secara refleks hendak berlari ke arah Danny Hendrat.


"Tuan Muda! Tuan Muda segera masukkan kembali kekuatan ituuu!" Abraham berseru agar Alexi tersadar. Dia sangat takut jika anak muda yang menjadi momongannya ini akan kehilangan kendali dan bisa menghancurkan apa saja.


Alexi yang dalam keadaan dalam kekuasaan kekuatan bawaan lahirnya memang cukup merepotkan, sehingga Abraham pun harus bersusah payah mengerahkan kekuatannya untuk menahan tubuh Alexi yang sekarang dia dekap erat agar tidak kembali melakukan hal yang lebih fatal lagi.


"Tuan Muda mohon sabarkan diri Anda!" Abraham berseru di sisi telinga Alexi Nata Praja. "Jika Tuan Muda tidak bisa mengendalikan diri, maka kekuatan martial soul Anda akan aktif dan bisa berakibat fatal!"


Abraham berbicara sambil menahan tubuh yang juga bagai ikut tersedot kekuatannya. Daya sengat dari dalam tubuh Alexi melalui kekuatan yang mengalir di lengannya, benar-benar membuat Abraham atau siapa saja akan mengalami sengatan-sengatan jika menyentuh tubuh Alexi.


"Tuan Mudaaaa! Aku tidak kua lagiiiiii!" Abraham berteriak dengan suara cukup keras. Tubuhnya mulai melemah akibat berusaha keras menahan tuan mudanya agar tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.


"Abraham?" Alexi menyebut nama itu saat mengenali suara dari asisten pribadinya ini.


Demi mendengar suara Abraham, Alexi berusaha meredakan sendiri amarah dan mengendalikan kekuatan ular sanca bawaan lahir miliknya. Secara perlahan pula, bias cahaya di lengannya berangsur-angsur mulai menghilang. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam dan memilih bersikap tenang.


"Apa?" Alexi seperti baru saja tersadar dari mimpi. "Apa yang terjadi? Apa yang baru saja aku lakukan?"


"Lihatlah sendiri, Tuan Muda!" Abraham melepaskan dekapannya setelah getaran pada tubuh Alexi menurun.


Alexi melihat ke arah para korban akibat dari kibasan tanganya. Ya! Hanya satu kali gerakan yang dia lakukan tapa disengaja itu, ternyata cukup berakibat fatal.

__ADS_1


"Apa yang sudah aku lakukan pada mereka?"


...Bersambung...


__ADS_2